NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Pertanyaan yang Tak Terjawab

Ia duduk terdiam di lantai ruang tamu selama beberapa menit, mencoba menenangkan napasnya yang masih tersengal, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat, meski tahu betul itu tidak akan banyak membantu. Josh menatap pesan itu lama, jantungnya kembali berdegup kencang meski ancaman fisik sudah berlalu. Bagaimana mungkin Veron bermimpi tentang kejadian yang baru saja terjadi, tepat di waktu yang sama? Ia mengetik balasan dengan tangan gemetar, menceritakan secara singkat apa yang baru saja dialaminya.

Keesokan harinya, ia menunjukkan bekas memar di pergelangan tangannya kepada teman-temannya, yang langsung terdiam melihat buktinya secara langsung, wajah mereka pucat pasi.

"Ini... ini beneran serem,"

kata Brandon, suaranya bergetar menatap bekas memar berbentuk jari-jari itu, tangannya sendiri tanpa sadar mengusap tengkuknya lagi.

"Dan lo bilang lo ngerasain semacam ledakan energi pas hal itu terjadi?"

tanya Veron, mencatat detail itu dengan cermat di ponselnya, meski matanya sesekali melirik Josh dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara khawatir dan sesuatu yang lain, sesuatu yang mirip rasa bersalah.

"Iya," Josh mengangguk.

"Tapi ada yang lebih penting. Veron, lo kok bisa tahu gue hampir mati? Lo kirim pesan itu tepat pas kejadian."

Veron terdiam cukup lama, matanya menatap ke bawah, jari-jarinya meremas ujung baju seragamnya sendiri.

"Gue... sebenernya udah lama ngalamin hal kayak gini. Gue suka ngerasain sesuatu bakal terjadi, sebelum beneran terjadi. Kadang lewat mimpi, kadang cuma perasaan aja yang tiba-tiba nyelip di kepala gue. Gue nggak pernah cerita ke siapa-siapa karena takut dibilang aneh."

Ruangan hening sejenak, semua mata tertuju pada Veron yang kini terlihat begitu rapuh, jauh dari sosoknya yang biasanya tenang dan terkontrol.

"Terus gue juga,"

Brandon akhirnya buka suara, suaranya pelan namun jelas terdengar oleh semua. "Gue selalu ngerasa... kayak ada alarm di badan gue. Kalau ada sesuatu yang jahat atau berbahaya di deket gue, badan gue langsung bereaksi dingin, pusing, kadang sampe mual. Kayak yang kejadian di rumah tua kemarin."

Gibran menatap kedua sahabatnya bergantian, lalu menatap Josh dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Jadi... kita bertiga sama-sama punya sesuatu yang aneh? Selama ini?"

"Kayaknya iya,"

Josh menjawab pelan, pikirannya kembali ke kata yang ia dengar semalam di rumah tua. Bertiga. Kini semuanya mulai masuk akal, meski jawabannya justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada kepastian. Mereka memutuskan untuk mengunjungi Pak Ian, berharap penjelasan ilmiahnya bisa memberi sedikit pencerahan, meski kali ini mereka membawa bukti fisik berupa foto bekas memar di tangan Josh serta cerita lengkap tentang kemampuan Veron dan Brandon.

Pak Ian mengamati foto itu dengan saksama, keningnya berkerut semakin dalam seiring mendengar cerita mereka satu per satu.

"Ini... ini di luar hal yang bisa saya jelaskan dengan ilmu fisika biasa. Tapi kalian bertiga mengalami hal yang saling terhubung seperti ini... itu bukan kebetulan."

"Bapak pernah dengar kejadian serupa sebelumnya?"

tanya Veron hati-hati, matanya menatap tajam ke arah gurunya, seolah menangkap sesuatu yang disembunyikan. Pak Ian terdiam cukup lama, tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah, sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Saya... perlu waktu untuk memikirkan cara terbaik menjelaskan ini kepada kalian. Ada beberapa hal yang saya tahu, tapi belum saatnya saya ceritakan sekarang."

Jawaban itu, alih-alih menenangkan, justru membuat keempat siswa itu semakin gelisah. Sesuatu di mata Pak Ian, sesaat sebelum ia mengalihkan pandangan, terlihat seperti ketakutan yang telah lama dipendam ketakutan yang jauh lebih tua dari yang bisa mereka bayangkan. Mereka meninggalkan ruang guru dengan langkah berat, saling melempar pandangan yang penuh tanda tanya.

"Lo perhatiin nggak, tangan Pak Ian gemeteran terus dari tadi?"

bisik Gibran begitu mereka cukup jauh dari ruang guru. "Itu bukan reaksi orang yang cuma nggak tahu jawabannya. Itu reaksi orang yang tahu banget, tapi takut ngomong."

Josh mengangguk pelan, menyadari hal yang sama. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih lama tersembunyi di balik semua ini, dan Pak Ian tampaknya menjadi salah satu kunci untuk membukanya.

Sepanjang sisa hari itu, Josh tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pelajaran apa pun, pikirannya terus melayang pada raut wajah gurunya yang begitu berbeda dari biasanya. Ia bertukar pandang dengan Veron beberapa kali sepanjang jam pelajaran, seolah keduanya sepakat tanpa kata bahwa mereka harus mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban, entah dengan menyelidiki latar belakang Pak Ian sendiri atau mencari petunjuk lain yang mungkin masih tersembunyi di sekolah mereka.

Sepulang sekolah, saat Josh membuka kembali buku catatannya untuk menambahkan detail hari itu, ia mendapati sesuatu yang membuat tangannya membeku di udara satu baris tulisan asing di halaman terakhir, bukan tulisan tangannya sendiri, seolah ditulis oleh seseorang yang sempat membuka buku itu tanpa sepengetahuannya. Hanya tiga kata pendek, namun cukup untuk membuat seluruh tubuhnya merinding:

"Dia sudah tahu."

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!