Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama tanpa cahaya tanpa teman
Aku bangkit perlahan, pandanganku menyapu seluruh ruangan: dinding batu halus yang berkilau lembut, lampu yang memancarkan cahaya hangat namun terasa jauh, hiasan-hiasan indah yang tak pernah kulihat atau ketahui namanya saat masih di desa. Lalu duduk kembali di kursi bulat itu, merasakan betapa empuknya alasnya — sangat berbeda dengan bangku kayu keras yang biasa kugunakan seumur hidup.
Kembali berdiri dan berjalan perlahan ke jendela besar, menyentuh kaca yang dingin namun sangat halus di bawah ujung jariku. Dari sini terlihat jelas pepohonan tinggi yang rimbun, halaman luas yang tertata rapi tanpa sehelai daun kering, siluet kota yang berkilau samar di kejauhan seolah bintang yang jatuh ke bumi. Bergumam nyaris tak terdengar, suaraku hilang di keheningan ruangan itu: “Sungguh besar dan indah… bagaimana orang bisa hidup semewah ini? Apakah benar kamar ini untukku? Mungkinkah pelayan salah memberi kamar? Jauh sekali bedanya dengan rumah kecil kami di desa…”
Senyum tipis perlahan lenyap, berganti kesedihan mendalam. Duduk di tepi kasur, peluk bantal erat di dada. Bayangan Ayah, Ibu, dan Aslan terlintas jelas — hati makin sesak berat. Mengapa sendirian di tempat asing mewah ini, sementara mereka entah di mana?
“Ayah… Ibu… apakah kalian masih mendengar doaku?” suaraku pecah, air mata tumpah tanpa bisa kutahan, “Apakah kalian bahagia di sana? Aku rindu sekali… rindu sekali pada kalian…”
Air mata membasahi pipi hingga menetes dan meresap ke sarung bantal yang lembut dan mahal ini. Memeluknya makin erat, seolah kain ini bisa menggantikan pelukan hangat orang tua yang tak akan pernah kurasakan lagi. Tubuhku lelah seharian memikul beban yang tak terbayangkan, hatiku perih dan kosong melompong. Perlahan mataku terasa berat, tangis mereda menjadi isak pelan, napas mulai tenang, dan tanpa sadar aku terlelap — sendirian — dalam keheningan asing yang menyelimuti tempat ini.
Sadar kembali, mata berat dibuka perlahan, pandangan kabur sebentar lalu jelas. Bangkit duduk mengerjap berkali-kali. Lihat jendela, langit sudah gelap pekat. “Sudah malam ternyata…”
Belum turun dari kasur, perut melilit perih — lapar tajam menusuk seluruh tubuh. Usap mata pedih sisa tangis, suara serak lemah: “Lapar sekali… hampir dua hari tak makan. Jam berapa sekarang?”
Lihat jam di meja samping: tepat pukul sembilan malam. Hembus napas berat, bahu lemas tak bertenaga. “Tidur begitu lama ya…”
Turun dari kasur, langkah pelan ke pintu, putar gagang dingin lalu keluar ke lorong luas. Lampu terang benderang hingga lantai bawah terlihat jelas. Namun aneh — sunyi senyap, seolah tak ada makhluk hidup di bangunan besar ini. Turun tangga hati-hati, kiri kanan pandang tapi tak ada pelayan di mana pun. Hening sempurna. Akhirnya diam di tengah tangga, bingung tak tahu ke mana atau siapa dicari.
Belum tenang, tiba-tiba hujan deras memukul atap dan daun, disusul guntur dari jauh. Belum terlalu keras, tapi jantungku berdegup kencang — sejak kecil takut sekali guntur dan kilat. Baru melangkah beberapa langkah, semua lampu padam serentak, tenggelam dalam gelap pekat sempurna.
Jantung berpacu hebat hingga sesak. Rumah yang tadi megah terang indah, kini sunyi, gelap, dingin, dan menakutkan. Menyadari benar-benar sendirian di tempat seluas ini membuat gelisah dan bingung meluap tak tertahan.
Berlari tergesa ke pintu utama, buka dengan tangan gemetar hebat. Hujan di luar seolah tak berhenti, halaman basah, pemandangan jauh kabur samar. Penjaga jas hitam berdiri siaga berjejer rapi di teras terlindung air. Salah satu segera perhatikan kehadiranku, langkah mendekat tegap tinggi kekar. Jantung berdegup takut, kaki mundur refleks — sosoknya besar, wajah tegas serius, membuatku makin kecil ciut di hadapannya.
Pria itu membungkuk hormat sedikit, suaranya terdengar berat namun sengaja diperhalus agar tak menakuti:
“Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Nyonya Zara. Tuan Sekretaris pesan sebelum pergi bahwa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, sampaikan langsung kepada saya.”
Ia diam sejenak lalu melanjutkan: “Kepala Pelayan juga menitipkan pesan. Melihat Nyonya tidur begitu pulas tadi, beliau tak tega membangunkan Nyonya.”
Menatapku sejenak dengan tatapan penuh pengertian: “Semua staf diberi cuti mendadak untuk sementara waktu. Beliau tidak tahu sampai kapan. Jadi untuk saat ini, Nyonya harus mengurus keperluan sendiri di rumah ini.”
Aku terpaku diam, tangan genggam erat bingkai pintu dingin. Cuti? Semua pergi? Kenapa tak ajak berkeliling dulu? Tak tahu susunan ruangan atau aturan sama sekali… Hati makin berat, tempat ini makin sunyi, asing, jauh dari apa yang kukenal.
Suaraku terbata-bata dan bergetar karena takut: “Terima kasih… Di dalam gelap sekali. Apakah ada lilin atau lampu cadangan? Aku agak…” Aku terhenti sejenak, tapi memutuskan untuk jujur — benar-benar takut. Sendirian dalam gelap pekat di rumah yang seluas ini sungguh mengerikan.
Penjaga itu memahami, menjawab dengan sopan: “Maaf, Nyonya, tidak ada persediaan seperti itu. Rumah ini jarang ditinggali dalam waktu lama oleh Tuan Adrian. Jika izin, saya akan membelinya sekarang.” Ia melangkah menuju kendaraan, lalu berhenti dan kembali dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf sekali lagi, Nyonya. Semua kendaraan sedang dipakai Tuan, sinyal pun hilang karena hujan buruk. Tempat ini jauh dari pemukiman, hujan sangat deras — perjalanan akan lama dan berbahaya. Tapi jika Nyonya tetap menginginkannya, saya berangkat sekarang.”
Belum sempat pergi, guntur menggelegar jauh lebih keras: “DUAARRR!!” Langit seolah terbelah. Takut yang ditahan meluap, teriak hentikan langkahnya: “Jangan! Tolong jangan pergi!”
Ia berhenti, ambil ponsel dari saku jas ulurkan padaku. “Baik Nyonya, saya mengerti. Silakan pakai ini penerangan sementara sampai keadaan membaik.”
Ingin menolak, tapi tak ada alat lain, akhirnya terima dengan tangan gemetar. “Terima kasih banyak… terima kasih.”
“Sama-sama Nyonya. Butuh apa pun, panggil saja dari sini,” jawab sopan lalu kembali berdiri tegap di tempatnya.