Jatuh hati pada seorang kasir di salah satu cabang Marmart milik nya? Mungkin hal ini akan menjadi lelucon di kalangan kelas atas.
Tapi salahkan paras dan perilaku gadis mungil itu yang terlewat menggemaskan di mata seorang Marvin Cargius Adam's pria berkarisma serta berpendidikan yang harus menggunakan cara kotor nya demi mendapatkan gadis pujaan nya.
*Sequel dari "Don't Touch My Baby!". Jangan lupa baca season satu nya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri_923, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33. Surat Perjanjian
"Kemana Marvin akhir-akhir ini?" Tanya Barra pada asisten nya, Ric.
"Beberapa hari ini tuan muda menetap di rumah nya, dia tidak datang sama sekali ke perusahaan atau pun keluar dari rumah nya" Jelas Ric sopan.
Alis Barra bertaut, memang sengaja ia menyuruh beberapa bodyguard bayangan untuk mengawasi Marvin yang beruntung nya tidak di ketahui oleh anak pintar nya itu.
"Ada apa? Apa Marvin sakit?" Tanya tiba-tiba Queen yang datang bersama Marvel.
"Mereka melihat dokter perempuan datang ke rumah tuan muda kemarin pagi, namun mereka tidak tau dokter itu memeriksa siapa"
Mendengar itu Barra dan Queen pun saling bertatapan dengan wajah yang seketika berubah khawatir.
"Itu pasti dokter Ila" Tebak Marvel membuat kedua orang tua nya menatap diri nya.
Tak lama setelah itu Barra pun kembali menatap Ric. "Cepat hubungi dokter Ila dan tanya apa yang terjadi!"
"Baik tuan" Ric berlalu meninggalkan ruang kerja bos nya.
"Kita langsung ke sana aja yuk, Dad" Ajak Queen tak bisa tenang pada suami nya.
"Tenang dulu, Ric sedang menghubungi dokter Ila"
......................
Pagi hari nya surat perjanjian yang Olivia minta kini sudah berada di tangan wanita itu, diri nya tengah membaca isi dari surat yang ia minta.
Singkat nya di dalam surat itu terdapat keterangan dimana Marvin akan melepaskan Olivia dan tidak akan menganggu nya lagi.
Tetapi sebalik nya, jika Olivia tengah mengandung anak Marvin, maka di minggu berikut nya mereka harus menikah.
Membaca berulang kali surat yang sudah di tempel oleh materai itu hingga akhirnya Olivia menandatangani nya sebagai pihak kedua.
"Sudah, tanda tangani itu" Ujar Olivia menyodorkan kertas tersebut ke hadapan Marvin.
"Apa aku harus menandatangani nya? Bukan kah pada akhirnya surat ini tidak berguna?"
Olivia berdecak sebal mendengar itu. "Cepat tanda tangani jika ingin aku segera menggunakan testpack itu!"
"Haishh baiklah-baiklah"
Dengan malas-malasan Marvin pun membubuhkan tanda tangan nya di atas materai tersebut yang kemudian surat itu langsung di ambil oleh Olivia.
"Biar aku yang menyimpan nya!" Seru Olivia tak santai.
"Simpan lah sebagai kenang-kenangan karena kebodohan kamu yang tidak percaya dengan ucapan ku" Gemas Marvin mencubit pipi Olivia.
"Aaa sakit!" Olivia menampar punggung tangan Marvin hingga akhirnya cubitan pada pipi nya terlepas.
"Ayo" Ajak Marvin yang sudah berdiri.
"Kemana?" Tanya Olivia menerjab bingung.
Tuk!
Marvin mengetuk kening Olivia, memang otak wanita di hadapan nya terkadang suka lemot dan itu lah yang membuat nya jatuh hati hingga hampir gila, atau mungkin memang sudah gila.
"Jadi mau tes di sini?"
Olivia tersadar akan kebodohan nya, dengan cepat wanita itu berdiri dan meraih kasar beberapa testpack tersebut lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Namun langkah nya terhenti saat merasakan ada yang mengikuti nya, Olivia pun menoleh dan mata nya seketika di buat melotot saat melihat tubuh Marvin tepat di belakang nya.
"Kamu mau apa?!" Tanya sewot Olivia.
"Ikut lah, nanti kamu curang" Jawab santai Marvin.
Tak terukur berapa lebar nya kelopak mata Olivia yang terbuka saat mendengar ucapan Marvin dengan ekspresi menyebalkan nya.
"Jangan gila!" Sentak Olivia yang langsung melangkah masuk dan membanting pintu kamar mandi tepat di hadapan Marvin yang hendak ikut masuk ke dalam kamar mandi itu.
"Sayang buka!!" Teriak Marvin mendorong-dorong handle pintu tetapi sayang nya pintu tersebut telah di kunci.
"Diam di situ pria cabull!" Pekik Olivia yang terdengar begitu kesal.
Mendengar pekikan itu Marvin tak lagi memaksa, kini pria itu memilih untuk menunggu di depan kamar mandi dengan tubuh yang bersandar pada daun pintu nya.
Sudah hampir lima belas menit berlalu, tetapi Olivia tak kunjung keluar membuat diri nya tidak sabaran. Tangan nya pun mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Honey, apa belum selesai?" Tanya Marvin.
Tak ada sahutan selama beberapa saat membuat Marvin panik, dengan gerakan cepat nya pria itu hendak mendobrak pintu tetapi pintu tersebut langsung terbuka membuat Marvin menubruk tubuh Olivia.
Brugh!
Tubuh kedua nya terjatuh di lantai dengan posisi Olivia yang berada di atas tubuh Marvin karena sesaat sebelum jatuh pria itu berbalik agar tidak menindih pujaan hati nya.
"Shhh.." Ringis Olivia memegang kening nya yang terbentur dada Marvin.
"Are u okay?" Tanya panik Marvin mengangkat kepala Olivia hingga mata kedua nya bertemu. "Maaf aku terlalu panik" Lanjut nya mengusap-usap kening Olivia yang memerah.
"Dasar bodoh..!" Gerutu kesal Olivia yang baru sadar tersadar, dengan gerakan cepat diri nya langsung bangkit.
"Kamu nya sih ga mau nyahut bikin aku panik" Seru Marvin yang ikut bangkit dan merapihkan rambut berantakan Olivia.
"Aku malas bersuara" Sahut Olivia tanpa ekspresi. "Dan seperti nya kamu harus menepati janji mu di dalam surat perjanjian itu" Lanjut nya.
Kening Marvin berkerut, sebelum akhirnya mata nya menangkap beberapa testpack yang berserakan di lantai.
Dengan gerakan cepat Marvin mengumpulkan semua nya, setelah itu baru lah ia melihat hasil nya.
Negatif, negatif, negatif dan seperti itu selanjutnya hasil dari testpack tersebut yang artinya Olivia tidak sedang hamil.
"Kok bisa negatif?!" Pekik tidak terima Marvin yang membuat Olivia menutup telinga nya sejenak.
"Memang hasil nya negatif mau di apakan huh?!" Sahut kelas Olivia.
"Dokter Ila bilang, kamu--"
"Dia hanya memeriksa ku menggunakan metode lama yang bisa saja denyut nadi atau detak jantung ku yang lebih cepat dari biasa nya itu karena kamu menarik tubuh ku sebelum nya sampai aku kaget!"
"Tidak mungkin!" Elak kuat Marvin, wajah nya memerah dan rahang nya mengetat bersamaan patah nya testpack di tangan nya. "Dokter Ila tidak pernah dalam mendiagnosis dan aku yakin hasil menjadi negatif seperti ini karena kamu curang!"
Olivia yang awal nya tengah berjalan menuju lemari guna mengemasi barang-barang nya, kini langsung berbalik menatap tajam Marvin.
"Curang bagaimana maksud mu? Aku mengetes semua nya menggunakan urine ku!" Seru tak terima Olivia.
"Tidak, ini pasti salah!" Tolak tegak Marvin langsung berjalan ke arah pintu kamar nya lalu mencabut kunci yang menggantung itu.
"Hei jangan melanggar perjanjian mu ya!" Pekik Olivia berlari menuju pintu.
Namun sayang, pintu tersebut sudah di tutup ole Marvin dari luar lalu di kunci oleh pria itu membuat emosi Olivia meledak menit itu juga.
"Pria brengsek, buka!!"
"Jangan melanggar perjanjian yang baru saja kamu tanda tangani, sialan!"
"Buka!!"
Brak,, Brak,, Brak,,
Olivia memukuli pintu itu dengan emosi nya, air mata nya pun langsung menetes begitu saja saking emosi nya.
"Badebahh, brengsek, sialan, mati saja kau!"
...****************...
kalau marvin d biarin aja ,mau oliv mngumpat kyk gmn pun 🤣
krna dy tau, akan semarah apa dirinya jika agis anaknya
smua ayah pasti marah klo anaknya d hamili laki2 yg bkn suaminya
gk marvel , gak marvin
sm2 gila
lupa klo suaminya mudah tantrum
keenakan makan sm mantan yg lain d lupakan