Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28- Kepastian
Beberapa saat kemudian...
Sisa-sisa tawa Alena perlahan mereda, meninggalkan keheningan di antara deretan kelopak bunga.
Meski situasi tadi terasa lucu karena pembawaan Max yang mendadak melodramatis, tapi Alena tau, ia tidak boleh membiarkan momen ini berlalu begitu saja sebagai lelucon.
Alena mengenal Max. Di balik sikapnya yang acuh tak acuh dan gaya bicaranya yang terkadang berlebihan, pria itu baru saja mengutarakan sesuatu yang serius dari dalam hatinya.
Alena tidak ingin memberi harapan palsu. Ia tidak ingin Max salah paham dan terus menaruh ekspektasi yang kelak justru akan melukainya lebih dalam.
Alena lalu meletakkan gunting dahan yang dipegangnya ke atas meja. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Max yang masih berdiri kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
"Max," panggil Alena. Nada suaranya berubah dan tidak ada lagi sisa tawa. Suara itu terdengar lembut dan tenang.
Max berhenti menggaruk kepalanya. Ia kemudian menegakkan tubuhnya karena merasa dadanya berdesir aneh saat melihat perubahan ekspresi Alena.
Sementara di sudut ruangan, Bara pun menghentikan kegiatannya menata vas. Pria tegap itu berdiri diam dan menyimak dengan seksama, memberikan ruang penuh bagi Alena untuk menyelesaikan urusannya.
"Terima kasih untuk niat baikmu. Aku menghargai keberanianmu malam ini," kata Alena, dengan menatap langsung ke dalam manik mata Max, dan berusaha menjaga perasaan pria itu sebaik mungkin.
"Tapi, Max... ada hal yang harus aku katakan jujur padamu agar tidak ada garis yang salah di antara kita."
Max menarik napas sejenak, seolah menyiapkan diri. "Hal apa?"
Alena melirik Bara sekilas dengan sebuah tatapan yang penuh penegasan dan kembali menatap Max. "Aku dan Bara... kami sudah menjalin hubungan. Kami sekarang sepasang kekasih, Max. Dan kami serius dengan hubungan ini."
Deg!
Meskipun Max sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tangan Alena dan Bara saling menggenggam erat saat menyebrang jalan tadi, mendengar pengakuan itu meluncur langsung dari bibir Alena memberikan hantaman yang berbeda.
Rasanya seperti sebuah vonis mutlak yang meruntuhkan seluruh harapan yang ia bawa sepanjang perjalanan pulang.
Kini, Max mendapatkan kepastian itu. Kepastian bahwa ia telah ditolak, bukan karena Alena menganggap lamarannya sebuah candaan, melainkan karena hati wanita itu sudah tertambat pada pria lain. Pada Bara.
Namun, Max adalah pria dengan harga diri yang setinggi langit. Ia menolak untuk terlihat menyedihkan atau mengemis cinta di depan wanita yang dikaguminya, apalagi di hadapan Bara yang berdiri tak jauh dari sana.
Lima detik kemudian, Max memaksakan sebuah tawa hambar, lalu mengibaskan tangannya di udara dengan gestur meremehkan yang biasa ia lakukan.
Ia membusungkan dadanya dan mencoba menguasai keadaan dengan sikapnya yang sok legowo.
"Ah... jadi begitu?" Max mendengus, seolah informasi itu hanyalah angin lalu yang tidak memengaruhi hidupnya.
"Pantas saja tadi si kaku ini berani menahan tanganku. Ternyata pengawalmu ini sudah naik jabatan, ya?" lanjutnya.
Max lalu berjalan mendekati meja kasir dan mengetukkan jarinya di sana dengan gaya santai yang dipaksakan. "Ya... tidak apa-apa. Lagipula, aku hanya menawarkan pilihan terbaik. Kalau kau lebih memilih pria yang pelit bicara seperti dia, aku bisa apa? Selera orang memang beda-beda."
Alena menatap Max dan pandangannya pun melembut. Ia tau betul Max hanya sedang mengaktifkan mekanisme pertahanan dirinya agar tidak terlihat hancur.
Di balik kata-katanya yang terkesan enteng dan lapang dada, Alena bisa melihat kilat kekecewaan yang mendalam di dasar mata Max. Bahu pria itu tidak sebersit biasanya, dan senyumannya pun tidak sampai ke mata.
"Aku harap kita tetap bisa berteman baik seperti dulu, Max. Kamu tetap Max yang aku kenal," ucap Alena tulus, memberikan jembatan agar harga diri Max tidak sepenuhnya jatuh.
Max terdiam sejenak, lalu menatap Alena cukup lama dan akhirnya mengangguk pelan. "Tentu saja. Memangnya siapa yang mau memusuhi penjual bunga galak sepertimu?" ujarnya.
Max kemudian membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar. Ia merasa suasana di dalam toko ini sudah terlalu menyesakkan untuk paru-parunya.
"Sudahlah, aku pergi dulu. Lagipula uang hasil proyekku ini terlalu banyak kalau cuma dipakai diam di toko bunga ini. Aku mau mencari tempat hiburan lain," seru Max tanpa menoleh lagi.
Ia melambaikan tangannya di udara saat melangkah keluar pintu dan membiarkan lonceng kecil di atas pintu berdenting untuk terakhir kalinya malam itu.
Begitu pintu tertutup dan sosok Max menghilang di kegelapan malam, bahu tegap Bara tampak melemas. Lalu, ia berjalan mendekati Alena yang masih menatap ke arah pintu.
"Alena... apa kamu baik-baik saja?" tanya Bara, untuk memastikan perasaan kekasihnya itu.
Alena membalikkan badannya dan menatap Bara lalu mengulas senyum hangat yang menenangkan.
Kemudian ia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Bara. "Aku baik-baik saja, Bara. Justru ini yang terbaik untuk kita semua. Tidak ada lagi rahasia, dan tidak ada lagi harapan yang salah."
_____
__________
Malam beranjak semakin larut ketika lonceng di atas pintu *Alena’s Floral Boutique* berdenting untuk terakhir kalinya.
Max melangkah keluar ke trotoar yang dingin. Angin malam langsung menerpa wajahnya, membawa serta aroma sisa hujan dan getah mawar yang samar-samar masih tertinggal di ujung jaket kulitnya.
Ia menghentikan langkahnya tepat di bawah temaram tiang lampu jalan. Max tidak langsung berjalan pergi, namun ia menoleh ke belakang dan menatap siluet toko bunga dari balik kaca yang mulai mengembun.
Di dalam sana, ia bisa melihat pantulan bayangan dua orang yang berdiri berdampingan. Sangat serasi dan sangat melengkapi.
Max menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan hingga membentuk uap tipis di udara malam yang dingin.
Anehnya, tidak ada rasa marah yang membakar dadanya. Tidak ada pula dendam yang biasanya menyulut ego lelakinya yang tinggi.
Rasa sesak dan kecewa itu tentu saja ada, meremas ulu hatinya dengan begitu nyata. Namun, entah mengapa, malam ini ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, sekaligus ada sesuatu yang baru yang tumbuh menggantikannya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Max tidak ingin mengamuk atau bersikap kekanak-kanakan.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang kali ini terasa tulus, tanpa ada topeng narsis yang biasa ia agungkan.
Max telah menyadari satu hal yang sangat mendasar, jika Alena berhak bahagia, dan kebahagiaan itu memang bukan ada pada dirinya.
Melainkan pada Bara, dengan segala ketenangan dan ketulusannya, adalah jangkar yang dibutuhkan wanita sehebat Alena. Sementara dirinya sendiri? Ia masih seperti angin yang berembus liar tanpa arah.
"Mungkin memang belum saatnya," gumam Max.
Kini, langkah kaki Max kembali bergerak, membelah trotoar jalan yang sepi.
Malam ini, penolakan Alena tidak membuatnya hancur. Penolakan itu justru bertindak seperti sebuah cermin besar yang dipaksa berdiri di hadapannya.
Cermin yang memperlihatkan segala kekurangannya selama ini. Sikapnya yang tidak sabaran, caranya yang kekanak-kanakan dalam menyelesaikan masalah, dan egonya yang selalu ingin terlihat unggul.
Jika ia ingin dicintai oleh wanita yang hebat suatu hari nanti, maka ia harus memulainya dengan menjadi pria yang hebat terlebih dahulu. Ia harus belajar bagaimana cara melindungi tanpa harus memamerkan, dan bagaimana cara menyayangi tanpa harus menuntut.
Max lalu mendongak, menatap taburan bintang yang samar di langit malam kota. Dengan tekad barunya, uang hasil proyek kemarin tidak akan ia hamburkan untuk kesenangan sesaat lagi, tapi ia akan menggunakannya untuk menata masa depan.
Sambil terus berjalan menjauh, Max tersenyum lebih lebar. "Tunggu saja, Alena, suatu hari nanti, saat kita bertemu lagi, kamu akan melihat Max yang baru. Pria dewasa yang layak mendapatkan cinta sejatinya sendiri."
Bersambung...