Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : PERTEMUAN YANG MENYEBALKAN BAG. 2
**Dua hari kemudian**
Perjamuan di Istana Kekaisaran untuk hari kelahiran Ibu Suri akhirnya tiba. Suasana istana begitu ramai. Semua keluarga kekaisaran hadir, termasuk keluarga permaisuri dan para selir Kaisar. Tak ketinggalan pula, pejabat istana dari tingkat 1 - 9 beserta keluarga mereka, dan kalangan bangsawan lainnya yang memilik pengaruh di ibu kota, ikut memenuhi aula malam ini.
Karena hadiah awalnya telah dicuri oleh Zhilan, Ye Ning terpaksa membeli sebuah patung Buddha dari giok hijau yang berkilau untuk dipersembahkan kepada Ibu Suri. Ye Ning berangkat ke istana ditemani oleh Ah Yao. Namun, karena peraturan istana, Ah Yao hanya bisa menunggu di luar Kota Terlarang.
Saat dalam perjalanan menyusuri koridor menuju tempat pesta, Ye Ning berpapasan dengan Zhilan. Kemudian ia langsung memalingkan muka dan mempercepat langkahnya. Melihat itu, Zhilan hanya tersenyum kecil dan melanjutkan jalannya dengan santai.
Begitu tiba di aula megah tempat perjamuan, Ye Ning duduk bersama gadis-gadis bangsawan lainnya. Di sini, posisi duduk diatur ketat sesuai umur dan pangkat. Ayahnya duduk di barisan paling depan, Zhilan berada di barisan nomor dua, sedangkan Ye Ning berada di barisan nomor empat, menghadap meja panjang yang mengelilingi aula.
Tak lama kemudian, kepala kasim Istana mengumumkan kedatangan Kaisar dan Ibu Suri didampingi Permaisuri dan para selir pangkat tinggi. Seketika, semua orang di dalam aula berdiri. Para wanita menundukkan kepala, sementara para pria menundukkan bahu sambil melipat tangan di depan dada untuk memberikan salam hormat.
"Salam hormat Yang Mulia, hidup Kaisar! Panjang umur sepuluh ribu tahun, sepuluh ribu tahun, sepuluh ribu dari sepuluh ribu tahun!"
Kaisar, Ibu Suri, dan Permaisuri berjalan melewati barisan menuju tempat duduk mereka yang terletak di panggung utama yang agak tinggi. Kaisar duduk berdampingan dengan Permaisuri Wanhui, sedangkan Ibu Suri duduk sendiri dengan posisi yang sejajar. Di barisan bawahnya, barulah duduk Selir Mulia Yang (Guifei), Selir Murni Ming (Shufei), dan dua selir pangkat Fei lainnya.
"Duduk," ucap Kaisar Yuanzong tenang namun berwibawa.
Para hadirin pun kembali ke kursi masing-masing. Perjamuan akhirnya resmi dimulai. Aula langsung dimeriahkan oleh penampilan mempesona dari para penari tradisional yang diiringi musik instrumental yang nyaman di telinga. Semua tamu tampak menikmati suasana malam itu.
Hidangan yang disajikan pun sangat mewah, menggunakan bahan-bahan yang bahkan jarang bisa dinikmati oleh keluarga bangsawan biasa. Salah satunya adalah buah-buahan yang didatangkan langsung dari luar wilayah sebagai upeti atau hadiah persahabatan. Ada semangkuk ceri kecil dan leci segar yang disajikan sebagai hidangan pembuka. Biasanya, buah-buahan seperti ini hanya diberikan khusus untuk Kaisar, Ibu Suri, dan Permaisuri.
Namun kali ini, demi menghormati Ibu Suri, Kaisar menghidangkan buah-buahan langka tersebut kepada para tamu undangan. Ibu Suri tampak sangat senang dengan perhatian tersebut.
Setelah beberapa pertunjukan kesenian ditampilkan, acara berlanjut ke sesi penyerahan hadiah untuk Ibu Suri. Tentu saja yang pertama maju adalah Kaisar Yuanzong, diikuti oleh Permaisuri dan anggota keluarga kekaisaran lainnya.
Karena keterbatasan waktu, tidak semua tamu dipanggil untuk memberikan hadiah secara langsung. Namun tepat saat sesi pemberian hadiah akan berakhir, Zhilan beranjak dari kursinya. Pemuda itu maju ke tengah aula, lalu memberikan hormat yang sempurna kepada Kaisar dan Ibu Suri.
Meskipun Zhilan hanya seorang putra dari kediaman Adipati Zhao, namanya sudah cukup dikenal di Kota Terlarang karena aksi heroiknya. Di usia 10 tahun, ia nekat mengikuti kakek dari pihak ibunya—Jenderal Militer Wen Hao—untuk menjadi prajurit, dan baru kembali ke ibu kota pada usia 17 tahun.
"Hormat saya, Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri. Saya memberanikan diri untuk berbicara di sini tanpa diminta, karena sebenarnya kami juga memiliki hadiah lain untuk Yang Mulia Ibu Suri," ujar Zhilan.
Ibu Suri yang mendengarnya langsung penasaran. "Oh, benarkah? Hadiah apa itu?"
Zhilan menjawab, "Kami telah mempersiapkan pertunjukan seni Opera dari rombongan 'Mimpi Akhir Musim' yang didatangkan langsung dari Wilayah Utara."
Ibu Suri terkejut sekaligus sangat gembira, karena beliau memang sangat menyukai opera. Rombongan yang disebutkan Zhilan sudah sangat terkenal di mana-mana, bahkan Ibu Suri sendiri sudah lama mengagumi mereka meski hanya mendengarnya dari orang lain.
Saking tidak sabarnya, Ibu Suri ingin segera beralih ke area pertunjukan. Beliau menyarankan agar Kaisar dan para pejabat tetap berada di aula untuk mendiskusikan urusan mereka, sementara dirinya dan para wanita yang ingin menonton boleh langsung pindah ke lokasi yang disediakan.
"Zhilan, Aijia tidak pernah menyangka kalau kamu memiliki selera tentang hal-hal seperti ini," ujar Ibu Suri sambil tersenyum.
"Mohon ampun Yang Mulia, sebenarnya hadiah ini dipersiapkan khusus oleh Permaisuri Wanhui untuk Ibu Suri," ungkap Zhilan.
Mendengar hal itu, Ye Ning yang duduk di barisan belakang terkejut. Sekarang ia tahu alasan kenapa hadiah yang ia cari dengan susah payah direbut paksa dan dicurangi oleh Zhilan. Ternyata demi kelancaran menjilat permaisuri. Ye Ning menatap sinis ke arah Zhilan yang masih berada di tengah aula.
Mendengar itu, Ibu Suri terlihat sangat bahagia dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Permaisuri. Lalu Ibu Suri bersama rombongan wanita lainnya menuju area pertunjukan opera.
Meskipun Ye Ning masih kesal karena usahanya dicuri, rasa penasarannya mengalahkan egonya. Ia tetap pergi menonton pertunjukan tersebut.
Namun ia tertinggal dari rombongan karena sempat berbincang dengan Lu Wan sahabatnya, yang berpamitan untuk langsung pulang. Saat berjalan sendirian melewati area taman yang sepi dan koridor yang menghubungkan aula ke tempat pertunjukan, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah suara.
PLAAKKK!
Ye Ning berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Ia terkejut saat melihat Zhilan sedang berdiri bersama seorang wanita. Apakah itu kekasihnya? pikir Ye Ning. Namun jika diperhatikan, wanita itu mengenakan pakaian khas untuk wanita yang telah menikah dan penampilannya terlihat lebih tua. Ibunya?
"Kau berani menentangku! Bukannya membantuku, kau malah mendukung orang lain untuk menyenangkan Yang Mulia!" ucap wanita itu dengan nada penuh amarah.
Zhilan hanya diam. Alih-alih takut, ia justru menunjukkan senyuman mengejek yang dingin. Merasa dipermainkan oleh sikap Zhilan, wanita itu semakin marah dan mengangkat tangannya, bersiap untuk menamparnya lagi.
Melihat itu, Ye Ning yang tidak jauh dari sana refleks berlari maju. Ia langsung mencengkeram tangan wanita tersebut. Zhilan tertegun dan menoleh, sementara wanita itu juga terperangah menatap kehadiran Ye Ning yang tiba-tiba.
"Kau siapa? Beraninya ikut campur urusan keluargaku!" bentak wanita itu ketus.
"Keluarga? Berarti Anda ibunya?" balas Ye Ning dengan nada sarkastik.
"Ibu macam apa yang tega menampar anaknya sendiri sampai dua kali, bahkan di tempat umum seperti istana ini?"
Wanita paruh baya itu sebenarnya adalah Qin Su, ibu tiri Zhilan yang juga istri sah Adipati Zhao saat ini. Sadar bahwa teriakan Ye Ning bisa memancing perhatian orang lain atau penjaga istana, Qin Su terpaksa menelan kekesalannya.
Dengan tatapan tajam, ia akhirnya berbalik dan pergi. Zhilan berdiri terpaku, menatap Ye Ning dengan pandangan yang sulit diartikan. Baru kali ini ada seorang wanita yang muncul dan membelanya
Ye Ning yang masih kesal berkata pelan. "Huh, gara-gara kau, aku jadi kehilangan selera untuk menonton opera."
Ia berbalik untuk pergi, namun setelah berjalan beberapa langkah, Ye Ning menghentikan langkahnya sejenak dan berkata lagi, "Hei, lain kali jangan hanya diam saja saat dihina seperti itu. Kakekku akan malu kalau tahu punya murid sepertimu."
Setelah mengatakan hal itu, Ye Ning melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar istana untuk pulang. Zhilan tidak menahannya. Ia hanya berjalan pelan mengikuti Ye Ning dalam diam, sambil membatin dalam hati, 'Siapa bilang aku hanya diam saja? Tapi karena ajaran kakekmu yang melarangku untuk memukul wanita. Maka aku menggunakan cara lain.'
Pada akhirnya, malam perjamuan itu berakhir begitu saja. Anehnya, rasa kesal Ye Ning atas kecurangan yang dilakukan Zhilan perlahan-lahan hilang. Dan di hari-hari berikutnya, seolah takdir sengaja membawa mereka untuk terus berjalan di garis yang sama.