“Aku mencintai Kak Zaky.” Ucap Naya pada sosok laki-laki yang berstatus sebagai kakaknya.
Air mata Naya tidak bisa ditahan lagi dan keluar begitu saja saat mengetahui kenyataan bahwa hari ini adalah hari pertunangan Zaky, yang tak lain adalah kakaknya. Atau lebih tepatnya kakak angkat.
“Kamu ini sedang mengigau ya, Nay? Kakak baru saja bertunangan. Lagipula kita ini bersaudara.” Ucap Zaky sambil meperlihatkan jari manisnya yang sudah tersemat cincin pertunangan.
“Aku berkata jujur, Kak. Dan tidak sedang mengigau. Apakah salah kalau aku mencintai Kak Zaky? Kita bahkan tidak ada ikatan darah sama sekali.” Tekan Naya sambil mengusap air matanya, lalu pergi meninggalkan Zaky yang masih diam membisu.
Yuk simak awal mula dan kelanjutan kisah cinta mereka🤗🤗
Happy Reading!😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 33 ~ Menyesakkan
Saat ini Zaky sudah berada di rumah. ia segera mencari informasi mengenai keluarga Nevan. Tidak sulit baginya untuk menemukan siapa sosok pria yang menjadi kakak ipar Nevan sekaligus suami dari wanita yang tadi bersama Nevan.
Jika pasangan normal pada umumnya akan menemani sang suami jika sedang dirawat di rumah sakit. Namun hal itu tidak dilakukan oleh wanita yang bernama Stella. Jadi kuat dugaan Zaky di dalam ruangan Aksa tadi Reva sedang melancarkan perselingkuhannya dengan pria beristri.
“Dasar wanita murahan!” gumam Zaky.
Malam ini Zaky cukup puas mendapatkan titik terang tentang Reva. Kemudian ia akan melaksanakan rencana selanjutnya.
Kini Zaky sudah tiduran di atas ranjangnya. Tiba-tiba ia sangat merindukan Naya. Padahal belum ada sehari ia ditinggal pergi oleh gadis itu, tapi sudah membuatnya rindu berat.
Zaky mencoba mengirim pesan pada Naya hanya untuk menanyakan apakah dia sudah tidur apa belum. Ternyata Naya langsung membalas pesan Zaky dengan cepat. Akhirnya Zaky menghubungi Naya via video call.
“Hai kesayanganku!” sapa Zaky seketika membuat Naya tersipu malu.
“Ngapain Kak Zaky belum tidur?” tanya Naya.
“Aku nggak bisa tidur. Di rumah sepi sekali, kangen sama kamu, Nay.” Jawab Zaky.
“Kalau kangen, kenapa tidak ikut saja ke rumah eyang?” tanya Naya dengan nada cemberut. Pasalnya alasan Zaky tidak ikut pergi karena ingin menghabiskan waktu bersama Reva. Meskpun kakaknya tidak berkata jujur, tapi itu berhasil membuat Naya kesal.
“Jangan cemberut gitu dong, Nay. Ya sudah sekarang aku ke rumah eyang. Tunggu aku ya?” ucap Zaky dan segera mengakhiri panggilan itu.
Zaky segera bersiap pergi ke rumah eyangnya. Tidak peduli jarak rumahnya dengan rumah eyangnya jauh, yang penting malam ini ia bisa bertemu dengan Naya.
Perjalanan kurang lebih selama empat puluh menit akhirnya membawa Zaky sampai ke rumah eyangnya. Suasana rumah sudah tampak sepi, karena memang saat ini sudah pukul sebelas malam. semua orang juga sepertinya sedang beristirahat di kamarnya masing-masing.
Naya tidak menyangka kalau kakaknya akan nekat datang setelah mengakhiri panggilannya tadi. gadis itu segera menyambut Zaky yang baru saja keluar dari mobil.
“Kak Zaky seriusan datang? ini sudah malam loh, Kak.” Ucap Naya tak percaya.
“Iya. demi bisa melihat kamu. Ya sudah ayo masuk!” ajak Zaky kemudian.
Zaky tidak langsung beristirahat. Ia bersantai sejenak di ruang tengah, karena Naya sedang membuatkan minuman.
“Nih, Kak minum dulu mumpung masih hangat.” Ucap Naya menyodorkan segelas coklat hangat.
“Terima kasih. Apa Eyang sudah tidur? Bagaimana kabarnya? Apa mereka tidak marah saat tahu aku tidak ikut kesini tadi?” tanya Zaky berbasa-basi.
“Iya. apalagi Eyang putri yang sangat merindukan Kak Zaky. tapi setelah itu Papa yang bilang kalau Kak Zaky sedang ada acara penting.”
Zaky hanya mengangguk. Ia kembali meminum coklat hangat itu. tanpa sadar coklat itu meninggalkan bekas di bibir Zaky. dan Naya melihatnya hanya terkekeh.
“Kak Zaky kayak anak kecil saja. minum gini sampai belepotan.” Ucap Naya lalu tangannya terulur membersihkan bekas coklat di bibir Zaky.
Zaky memegang tangan Naya. Sontak saja Naya menghentikan kegiatannya. Kedua pasang netra itu saling menatap begitu dalam. Rasa rindu yang menggebu sejak tadi membuat Zaky tidak tahan ingin mencium bibir Naya yang sudah membuatnya candu.
Zaky semakin merapatkan tubuhnya dan wajah mereka juga semakin terkikis. Perlahan namun pasti, Zaky menempelkan bibirnya ke bibir Naya. Sejenak bibir Zaky masih diam. dia ingin merasakan hembusan hangat nafas Naya yang begitu segar dan memabukkan.
Cukup lama Zaky mendiamkan bibirnya. setelah itu ia mulai menyapu lembut bibir Naya yang begitu manis. Naya yang sejak tadi juga merindukan Zaky, dia menerima ciuman yang Zaky berikan. Perlahan Naya juga sudah mulai terbiasa menyeimbangi paguttan itu. dia juga merasakan kecanduan jika tidak mendapatkan ciuman dari Zaky.
Posisi mereka sangat intim di ruang tengah dengan cahaya lampu yang agak temaram. Zaky meminimalisir bunyi decapan bibirnya agar tidak menimbulkan suara. Begitu pun juga Naya. Ia mencoba untuk tidak mengeluarkan suara saat sedang asyik bercumbu.
Sementara itu seseorang yang sedang berdiri di atas tangga, sangat terkejut melihat pemandangan yang menyesakkan itu. Senja menutup mulut dengan telapak tangannya. bahkan air matanya mengalir begitu deras.
“Tidak mungkin mereka melakukan itu.” batinnya semakin teriris.
Tubuh Senja hampir saja limbung kalau tidak berpegangan pada dinding di belakangnya. Akhirnya wanita itu memutuskan kembali ke kamar dan tidak jadi mengambil air minum.
**
Keesokan harinya Naya yang baru saja keluar dari kamarnya, langsung bergegas menuju dapur untuk membantu Mamanya memasak. Sedangkan Papanya sedang di taman belakang menemani Eyangnya.
“Mama masak apa sih, baunya enak banget?” tanya Naya dengan wajah berbinar.
Namun sayangnya Senja tidak menjawab pertanyaan anak gadisnya. Wanita itu sangat marah setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang apa yang dilakukan kedua anaknya semalam. Tapi Senja tidak sanggup untuk memarahi Naya dan Zaky secara langsung. bahkan suaminya saja belum ia beritahu tentang kejadian semalam.
“Mama sakit?” tanya Naya saat melihat Mamanya tampak diam.
“Nggak. Ya sudah, kamu buatkan Papa dan Eyang kamu teh dulu.” Ucap Senja dengan suara datar.
“Baiklah, Ma. Oh iya, semalam Kak Zaky datang Ma. Tapi sekarang sepertinya dia masih tidur.” Naya memberitahu Mamanya. Namun sayangnya Senja tak menanggapi ucapan Naya sama sekali.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️