SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Simpul Kedua
Bab 8: Penjaga Simpul Kedua
Cahaya keemasan dari koin tembaga menyelimuti tubuh Ethan seperti selubung tipis yang berdenyut pelan. Hangat, namun menyimpan kekuatan yang tidak biasa. Qi hitam yang memancar dari pusaran di tengah kolam seolah enggan mendekat, menciptakan lingkaran kosong berdiameter beberapa meter di sekitar dirinya.
Pria tua itu memandang koin di tangannya dengan mata membelalak.
"Itu... akhirnya memilih pemilik baru."
Ethan tidak sempat bertanya.
Sosok yang keluar dari pusaran telah berdiri sepenuhnya di atas permukaan air. Tingginya hampir dua meter, tubuhnya dibalut rantai-rantai hitam yang dipenuhi simbol kuno. Setiap kali ia bergerak, rantai itu bergemerincing pelan, tetapi suara yang dihasilkan membuat udara di sekitarnya bergetar.
Yang paling mengerikan bukanlah penampilannya.
Melainkan wajahnya.
Separuh wajahnya masih menyerupai manusia, sementara separuh lainnya telah berubah menjadi batu hitam yang dipenuhi retakan merah menyala.
Makhluk itu perlahan mengangkat kepala.
Tatapan matanya yang kosong langsung tertuju pada Ethan.
"...Pemegang... Kunci..."
Suara seraknya terdengar seperti dua batu yang saling bergesekan.
Ethan menyipitkan mata.
"Ia masih memiliki kesadaran."
Ini berbeda dengan Binatang Bayangan yang ditemuinya sebelumnya. Aura makhluk ini jauh lebih stabil. Energi Yin memang mendominasi tubuhnya, tetapi tidak sepenuhnya menghapus jiwanya.
Pria tua melangkah satu langkah ke depan.
"Hati-hati. Itu bukan monster biasa."
"Aku tahu."
"Itu Penjaga Simpul."
Ethan menoleh sekilas.
"Penjaga?"
Pria tua mengangguk pelan.
"Dahulu mereka adalah kultivator yang secara sukarela menjaga segel. Namun ketika segel mulai rusak, Qi Yin perlahan menggerogoti tubuh mereka. Mereka hidup... tetapi juga bukan manusia lagi."
Tatapan Ethan kembali tertuju pada sosok di kolam.
Kalau begitu...
Musuh sebenarnya bukan Penjaga itu.
Melainkan sesuatu yang merusaknya dari dalam.
Penjaga Simpul melangkah turun dari permukaan air.
Setiap langkahnya membuat rumput di sekitarnya mengering.
Kabut hitam merayap di atas tanah seperti ular.
"Ethan."
Pria tua berbicara tanpa mengalihkan pandangan.
"Jangan membunuhnya kalau masih ada pilihan lain."
"Aku tidak berniat membunuh orang yang masih bisa diselamatkan."
Jawaban Ethan singkat.
Ia mengambil napas panjang.
Qi di meridiannya masih belum pulih sepenuhnya setelah pertarungan sebelumnya. Saat ini ia masih berada di Alam Pemurnian Tubuh Bintang 2. Menghadapi makhluk di depannya secara langsung adalah keputusan yang sangat berisiko.
Karena aura Penjaga itu setidaknya setara Alam Pemurnian Tubuh Bintang 5.
Selisih tiga bintang mungkin tampak kecil.
Namun bagi kultivator tahap awal, itu adalah jurang.
Penjaga Simpul tiba-tiba menghilang.
Tanah di depan Ethan meledak.
Rantai hitam melesat seperti cambuk menuju lehernya.
Ethan memiringkan tubuh beberapa sentimeter.
Swish!
Rantai itu melintas begitu dekat hingga ujung rambutnya terpotong.
Belum sempat ia menarik napas, serangan kedua datang dari arah samping.
Ethan menendang bangku taman.
Bangku kayu itu menghantam rantai, memperlambat lajunya sesaat.
Kesempatan itu cukup baginya untuk mundur.
Namun lengan kirinya tetap terkena ujung rantai.
Brak!
Tubuh Ethan terdorong beberapa meter.
Punggungnya menghantam pohon.
Rasa nyeri menjalar hingga ke dada.
Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
Pria tua mengepalkan tangan.
"Qi kutukan..."
Ethan menghapus darah di bibirnya.
Ekspresinya tetap tenang.
"Bukan kekuatan yang berbahaya..."
"Melainkan energi yang menempel pada rantai."
Jika terkena terlalu banyak, meridiannya akan tercemar.
Penjaga Simpul kembali menyerang.
Kali ini Ethan tidak mundur.
Ia justru bergerak maju.
Langkahnya ringan.
Efisien.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Setiap ayunan rantai dihindari dengan selisih beberapa sentimeter.
Pengalaman lima ratus tahun bertarung membuatnya mampu membaca ritme lawan jauh sebelum serangan berikutnya dilepaskan.
Pria tua memperhatikan dengan takjub.
"Anak itu..."
"Bagaimana mungkin..."
Ethan tiba-tiba menyentuh salah satu rantai dengan dua jarinya.
Bukan untuk menahannya.
Melainkan merasakan aliran Qi di dalamnya.
Matanya sedikit berbinar.
"Ada inti formasi."
Semua rantai ternyata terhubung pada satu titik.
Di dada Penjaga.
Sebuah simbol hitam berbentuk lingkaran.
Bukan organ tubuh.
Melainkan segel.
Selama simbol itu tetap utuh, energi Yin akan terus mengendalikan Penjaga.
"Aku mengerti."
Ethan bergumam pelan.
Ia mengubah pola langkahnya.
Tidak lagi sekadar menghindar.
Melainkan sengaja memancing Penjaga mengayunkan rantai dari sudut tertentu.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tanpa sadar, Penjaga bergerak sesuai pola yang diinginkan Ethan.
Pria tua akhirnya memahami.
"Dia sedang membangun posisi."
Benar.
Ethan sedang menciptakan jalur lurus menuju simbol di dada lawan.
Namun Penjaga juga bukan petarung bodoh.
Tiba-tiba ia menghentikan seluruh serangan.
Matanya yang kosong memandang Ethan.
"Kau..."
"...pernah bertarung..."
"...melawan mereka..."
Ethan tidak menjawab.
Penjaga melanjutkan dengan suara yang lebih lirih.
"Jangan..."
"...buka..."
"...Gerbang..."
Kalimat itu membuat Ethan membeku sesaat.
Penjaga itu...
Masih berusaha memperingatkannya.
Kesempatan itu dimanfaatkan energi Yin.
Kabut hitam mendadak menyelimuti kepala Penjaga.
Matanya berubah merah.
Suara lain keluar dari mulutnya.
Jauh lebih dalam.
Lebih dingin.
"Diam."
"Kau hanyalah wadah."
Tubuh Penjaga langsung bergerak jauh lebih cepat.
Rantai-rantai hitam berputar membentuk pusaran.
Ethan menyadari perubahan itu.
"Kesadaran lain mengambil alih."
Ia tidak lagi menahan diri.
Qi tipis mengalir menuju kedua kakinya.
Tubuhnya melesat.
Dalam satu tarikan napas ia telah berada tepat di depan Penjaga.
Dua jari tangan kanannya menusuk ke arah simbol hitam.
Namun tepat sebelum menyentuhnya...
Sebuah penghalang tak kasat mata memantulkannya.
Boom!
Ethan terpental beberapa meter.
Dadanya terasa sesak.
Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Pria tua langsung menghampiri.
"Kau tidak apa-apa?"
Ethan mengangguk pelan.
"Ada lapisan kedua."
"Lapisan kedua?"
"Bukan segel biasa."
"Siapa pun yang membuatnya..."
"...jauh lebih kuat daripada Penjaga."
Tatapan Ethan berubah serius.
Ini bukan pekerjaan kultivator biasa.
Tiba-tiba sirene kendaraan terdengar dari kejauhan.
Beberapa mobil hitam memasuki taman.
Kapten Arga turun bersama belasan anggota Divisi Khusus.
Namun kali ini mereka tidak datang sendirian.
Bersama mereka berdiri tiga orang berjubah putih dengan lambang matahari emas di dada.
Aura mereka jauh lebih tenang dibanding anggota Divisi.
Begitu melihat Penjaga Simpul, salah seorang berjubah putih langsung mengangkat alis.
"Segel benar-benar mulai runtuh."
Kapten Arga menoleh.
"Master Raka?"
Pria berjubah putih itu mengangguk.
"Kami akan mengambil alih."
Tatapan Ethan sedikit berubah.
"Kultivator."
Meski aura mereka disembunyikan dengan baik, ia tetap bisa merasakannya.
Ketiganya telah mencapai Alam Pengumpulan Qi Bintang 1.
Jauh lebih kuat daripada dirinya saat ini.
Namun...
Salah seorang di antara mereka diam-diam melirik Ethan dengan sorot mata penuh penilaian.
Bukan rasa ingin tahu.
Melainkan...
Keserakahan.
Tatapan itu hanya berlangsung sesaat.
Tetapi Ethan tidak mungkin melewatkannya.
Master Raka mengangkat sebuah cermin perunggu.
Permukaannya memancarkan cahaya putih.
Penjaga Simpul meraung kesakitan.
Kabut hitam di tubuhnya mulai menguap.
Pria tua menghela napas lega.
"Syukurlah."
Namun Ethan justru menggeleng pelan.
"Terlambat."
"Apa maksudmu?"
"Mereka memilih cara yang salah."
Belum selesai kalimatnya...
Simbol hitam di dada Penjaga tiba-tiba retak.
Retakan merah menyebar cepat.
Master Raka membelalak.
"Mundur!"
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Dari dalam tubuh Penjaga terdengar suara tawa pelan.
Bukan suara Penjaga.
Bukan pula suara monster.
Melainkan suara seseorang yang selama ini bersembunyi di balik segel.
"Terima kasih..."
"...kalian telah membukakan pintunya."
Simbol hitam itu hancur berkeping-keping.
Kabut pekat membubung ke langit, membentuk sosok raksasa tanpa wajah.
Seluruh lampu taman padam dalam sekejap.
Udara berubah sedingin es.
Semua orang, termasuk para kultivator berjubah putih, merasakan tekanan yang membuat napas mereka sesak.
Di tengah kabut hitam itu perlahan terbuka sepasang mata emas.
Tatapan mata tersebut langsung terkunci pada Ethan.
Lalu sebuah suara tua bergema ke seluruh taman.
"Akhirnya... pewaris Kaisar Bayangan telah kutemukan."