NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma yang tidak terlihat

Sudah lewat beberapa hari dan Luka Shiro telah sembuh sepenuhnya, dan rutinitas mereka pun kembali seperti sediakala. Pagi hari, mengerjakan pekerjaan rumah, membaca berkas email dan bermain bersama shiro, Sore nya Keiko berangkat ke Aoyama FM, dan malam hari, ia pulang ke rooftop kecil yang selalu menyisakan satu jendela terbuka—di mana Shiro selalu menjadi yang pertama menyambutnya.

Sore itu, Keiko tiba lebih awal di kantor. Masih ada beberapa naskah iklan yang harus diselesaikan sebelum siaran malam dimulai.

"Keiko," sapa seorang rekan kerjanya. "Klien sudah menyetujui konsep yang kemarin."

"Syukurlah," Keiko mengembuskan napas lega. "Berarti tinggal rekaman."

"Iya, tapi nanti kamu yang baca. Kamu yang paling cocok."

Keiko hanya tertawa kecil. "Baiklah."

Saat Keiko hendak menuju studio rekaman, seseorang memanggilnya, "Rajin sekali." Ia menoleh. Renji berdiri di sana sambil membawa segelas kopi. "Hari ini juga datang lebih awal."

Keiko mengangkat map di tangannya. "Masih ada revisi naskah iklan."

Renji melirik tumpukan berkas itu. "Hm. Semangat sekali."

Keiko tersenyum. "Daripada menumpuk, lebih baik diselesaikan sekarang."

Renji mengangguk kecil setuju

"Duh... yang mau cuti beberapa hari lagi malah masih sempat mengomentari orang lain." Keiko terkekeh, dan Renji ikut tersenyum tipis. "Pekerjaanku juga sudah hampir selesai."

"Memangnya mau ke mana, Renji-san?"

"Ada urusan keluarga." Jawabannya singkat.

"Oh..." Keiko mengangguk. "Semoga menyenangkan."

"Semoga," jawab Renji tenang. "Lagipula, aku sudah lama tidak pulang."

"Wah, pantas ambil cuti agak panjang. Semoga lancar, ya."

"Terima kasih."

Keiko mengangkat mapnya kembali. "Aku ke studio dulu. Sampai nanti saat siaran."

"Sampai nanti."

Keiko pamit berjalan menuju studio rekaman diujung lorong, Renji memperhatikan punggung Keiko yang semakin menjauh. Tatapannya kemudian bergeser—bukan kepada gadis itu, melainkan ke ruang kosong beberapa langkah di belakangnya.

"......"

Tak ada siapa pun di sana. Tetapi ada jejak aroma Bakeneko yang mengikutinya

Renji mEngembuskan napas pelan. "Laporan dia ternyata benar."

"...Masih terlalu cepat." Ia terdiam beberapa saat

Jejak aroma Bakeneko sebanyak itu...

Seharusnya belum muncul sebelum bulan purnama. Bukan sekarang..

Renji menyesap kopinya pelan. "...Apa yang sebenarnya terjadi?"

***

"Renji-san"

Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Renji menoleh.."AH, maaf."

"Giliranmu memeriksa peralatan studio."

"Baik."

Renji berdiri seperti biasa. Ekspresinya kembali datar, seolah tidak pernah memikirkan apa pun. Namun, sesaat sebelum melangkah pergi, tatapannya kembali tertuju pada koridor yang baru saja dilewati Keiko.

"......."

*Semoga saja aku terlambat mengambil kesimpulan,* pikirnya dalam hati. Renji pun melangkah menuju ruang operator.

***

Di studio rekaman, Lampu merah menyala, menandakan rekaman dimulai. Keiko mulai membaca naskah, lembar per lembar, hingga take suara untuk iklan selesai samoai keiko tidak sadar proses rekaman utu menghabiskan waktu dua jam. Staf di operator memberi kode. "Bagus, take sudah oke."

Keiko mengembuskan napas lega. "Syukurlah." Ia melepas headphone , merapikan berkas,,Namun tiba tiba gadis itu terdiam "Hm.....?"

Ia merasa mencium aroma bunga yang samar. Harum, lembut, tapi terasa asing. Keiko menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari sumbernya. Ia menarik napas dalam-dalam, tapi wangi itu sudah hilang.

"Aneh..." gumamnya pelan

"Oke, iklan selesai. Terima kasih, keiko-san," ujar salah satu staf.

"Sama-sama," jawab Keiko sambil meregangkan tubuh. "Ah, untung selesai sekali take."

Staf itu tertawa kecil. "Kalau semua pengisi suara seperti kamu, kerjaan kami jadi jauh lebih ringan."

Keiko ikut tertawa. "Jangan dipuji terus, nanti aku jadi besar kepala."

Suasana studio kembali riuh oleh canda tawa. Namun, tak jauh dari sana, Renji yang sedang memeriksa panel audio hanya melirik sekilas ke arah Keiko.

"..."

Tak ada yang aneh. Keiko masih tersenyum, masih bercanda dengan rekan-rekannya, seolah tak menyadari bahwa dirinya telah menjadi pembicaraan di "dunia lain".

Renji kembali mengalihkan pandangannya ke arah panel. Untuk saat ini, mungkin memang lebih baik Keiko tidak tahu apa-apa.

***

Keiko merapikan kursi ia tersenyum lega. "Kalau ada revisi, kabari saja, ya."

"Tentu."

Setelah berpamitan, Keiko melangkah keluar dari ruang rekaman. Lorong Aoyama FM masih cukup ramai dengan staf yang lalu-lalang membawa berkas. Ia melirik jam dinding, "...Masih lama."

Acara Night Letter baru dimulai sekitar satu setengah jam lagi. Daripada kembali ke meja kerja, ia memilih menuju pantry. Ruangan itu tampak lengang. Keiko meletakkan map di atas meja, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Ah..."

Baru saja ia menyandarkan punggung, pintu pantry terbuka.

"Keiko-san," sapa seorang staf yang masuk membawa segelas kopi. "Acaramu masih satu setengah jam lagi, kan?"

"Iya."

"Kami mau ke kafe sebentar. Mau ikut?"

Keiko tersenyum kecil lalu menggeleng. "Ah, tidak usah. Kalian duluan saja, aku ingin istirahat sebentar."

"Baiklah, sampai nanti."

"Sampai nanti."

Pintu kembali tertutup, meninggalkan pantry dalam kesunyian. Keiko menyandarkan kepalanya ke sofa. "...Tidur sebentar sepertinya tidak apa-apa."

Perlahan, matanya mulai terpejam, sesat terbuka lagi.... masih menatap langit-langit ruangan pantry lalu memejamkan lagi ..

"Ayolah..tidur... " ia berbicara pada dirinya sendiri

Saat ia membuka mata, Keiko mendapati dirinya sudah berada di sebuah ruangan yang asing.

Tubuhnya terasa begitu berat saat ia berbaring di atas futon yang terlapisi selimut tebal. Pintu-pintu geser di hadapannya terbuka lebar, menampilkan pemandangan taman sakura yang tenang di luar sana. Angin berembus pelan, menerbangkan beberapa kelopak bunga masuk ke dalam ruangan.

Keiko mengerjap perlahan. Entah mengapa, dadanya terasa sesak..Tenggorokan nya terasa saat perih, ia mencoba memanggil seseorang tapi tidak ada suara apa pun yang keluar..

"Apa yang terjadi?? "

Di ambang pintu, seorang pria berkimono putih berjalan menjauh. Setiap langkahnya terasa semakin berat. Keiko ingin memanggilnya. Hanya mampu menggerakkan jarinya berusaha meraih sosok pria itu.

"jangan pergi..."

Pria itu berhenti melangkah. Perlahan, ia mulai menoleh.

Air mata mengalir di pipi Keiko tanpa disadari. Ia mencoba menggapai lebih jauh lagi. "Jika kau pergi sekarang..."

Tepat saat wajah pria itu hampir terlihat, kilatan cahaya putih memenuhi pandangannya.

...

Keiko tersentak terbangun.

"Hah..." Napasnya sedikit memburu.

"Keiko-san."

Suara itu membuatnya menoleh. ReNji berdiri tepat di ambang pintu pantry. "Apa aku mengagetkanmu?"

"E-eh?" Keiko berkedip beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Renji-san..."

Renji terdiam, tatapannya lekat tertuju pada wajah Keiko. Meski udara di dalam pantry terasa sejuk, butiran keringat tampak membasahi pelipis gadis itu.

"Kau baik-baik saja?"

Keiko refleks mengusap pelipisnya. Saat merasakan kelembapan di sana, ia baru menyadari bahwa ia berkeringat. "Eh... aku... sepertinya ketiduran."

Renji mengangguk pelan. "Mimpi buruk?"

Keiko terdiam sejenak. "...Mungkin. Tapi... aneh. Rasanya seperti pernah mengalaminya."

Renji tidak menjawab. Tatapannya berubah sesaat, namun hanya sedetik sebelum ia kembali datar. "Acaramu dimulai dua puluh menit lagi. Aku datang untuk memberitahumu."

"Ah," Keiko tersenyum canggung. "Maaf, aku benar-benar tertidur."

"Tidak apa." Renji berbalik. "Aku menunggumu di studio."

"Baik."

Renji pun keluar dari pantry dan menutup pintu. Keiko mengembuskan napas panjang.

"...Mimpi itu lagi." gumamnya tanpa sadar.

Ia menatap kosong ke depan. Mimpi tadi jelas merupakan lanjutan dari mimpi-mimpi sebelumnya. Tanpa membuang waktu, ia segera meraih ponsel dan membuka aplikasi catatan. Di sana, sudah ada sebuah daftar sederhana:

Mimpi

"Jangan..."

"Jangan pergi..."

Keiko menarik napas pelan, lalu mengetik kalimat yang baru saja terngiang di kepalanya:

"Jika kau pergi sekarang..."

Ia menatap ketiga kalimat itu selama beberapa saat, lalu mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi.

"Teka-teki apa sih ini..."

Ia meraih botol air mineral di atas meja dan meneguknya perlahan.

"Lain kali..."

"Aku pasti menemukan jawabannya."

Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia berdiri, merapikan rambut, lalu mengambil map naskah siaran dan melangkah keluar menuju studio.

***

Beberapa menit kemudian, Keiko dan Renji sudah berada di ruang siaran. Keiko duduk di kursinya, sementara Renji mulai memeriksa peralatan audio seperti biasa.

"Mic, aman. Headphone, aman," gumam Renji sambil menggeser beberapa tombol pada audio mixer. Musik pembuka terdengar pelan melalui monitor.

"Tes," suara Keiko terdengar jernih. "Satu... dua... tiga..."

Renji mengangguk pelan. "Sudah."

"Terima kasih." Keiko tersenyum. Renji kembali duduk di balik konsol.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Keiko membuka naskah siarannya, sesekali memberi tanda dengan pena. Di balik kaca, Renji tanpa sadar melirik ke arahnya. Keiko tampak sama seperti biasanya—tenang, sesekali tersenyum sendiri saat membaca surat dari para pendengar. Namun entah mengapa, bayangan Keiko yang berkeringat dingin di pantry tadi masih terus terlintas di benak Renji.

"Renji," suara produser membuyarkan lamunannya. "Dua menit lagi."

Renji mengangguk, tangannya bergerak menyiapkan musik pembuka. Lampu merah di atas pintu studio mulai berkedip, lalu menyala mantap: ON AIR.

Renji memberi isyarat. Keiko menarik napas pelan, senyumnya kembali mengembang dengan sempurna.

"Malam memang selalu punya cerita. Hai... hai... haiii..." sapa Keiko dengan nada yang hangat. "Apa kabar, Night Lovers? Aku Okiek. Senang sekali akhirnya bisa kembali menemani kalian hingga larut malam nanti."

Ia memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Seperti biasa, selama dua jam ke depan, mari kita berbagi cerita, tawa, dan mungkin... sedikit air mata. Karena setiap surat selalu menyimpan sebuah kisah."

Keiko menatap ke arah mikrofon, lalu tersenyum manis. "Nah, sudah siap? Kalau begitu, mari kita mulai Night Letter malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!