Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15.
Staff Morgan's Kitchen. Berada di ruang Audit. Semua tampak tegang.
Jam 07.58. Miracle sudah duduk dari 15 menit yang lalu. Pakaian selalu rapi. Kemeja putih dan bawahan warna hitam. Dasi Morgan, sudah di lepas dan dilipat rapi di laci. Nanti kalau sedang berdua ia mau kembalikan.
Tentu Ia akan bertingkah biasa pura-pura tak terjadi apa-apa, antara dia dan Morgan. Jika Morgan menganggap serius ucapan iseng Miracle kemarin, berarti salahnya Morgan.
Setiap hari sikapnya dingin dan tak peduli, tapi sekali kasi harapan ke Morgan dianggap serius dia sampai merubah penampilan.
Pintu terbuka. Semua mata memandang ke satu titik, kedatangan CEO Morgan's Kitchen. Orangnya Tinggi, ganteng dan berkharisma. Jabatan yang hampir hilang. Syukurlah ada mantan istri yang membantunya, kalau tidak, nasibnya sudah ada di penjara.
Morgan yakin Miracle masih mencintainya dan setia menunggu. Mungkin ia perlu rujuk dan mencari waktu untuk pendekatan awal. Atau ia perlu membawa bucket bunga mawar merah seraya melamarnya lagi.
Morgan memasuki ruangan dengan outfitt kemeja biru muda, lengan digulung, rambut masih agak berantakan. Seperti orang yang buru-buru tapi maksa buat on time. Pakaian terlihat santai, semua mata memandangnya penuh selidik.
Karyawan memakai Jas dan sepatu kinclong, sedangkan Morgan hanya menakai sepatu kets. Ada apakah ini?
Staff lain pada bisik-bisik, bergosip tentang Pak CEO yang selingkuh dan ditinggalkan oleh istrinya. Karyawan berkomentar negatif, mengingat latar belakang CEO Morgan yang suka manipulation.
Morgan sengaja duduk di kursi paling ujung. Bukan di kursi kepala. Tujuannya supaya bisa duduk disamping Miracle. Ntah apa maksudnya.
"Audit dimulai." suaranya datar.
Sepanjang rapat dia tidak sekali pun melihat Miracle. Dia fokus ke laporan, bertanya data sambil mencatat.
Akhirnya selesai juga dan semua bubar. Tinggal mereka berdua.
"Sudah selesai pak CEO?"
"Sudah Nyonya M.W..." ucapnya tersenyum tipis.
Dulu mereka saling sayang, menyapa dengan kata mesra, sekarang kata-kata yang keluar dari mulut mereka, sangat formal dan sering saling sindir.
Morgan lalu membereskan semua berkas yang ada di atas meja. Hari ini ia bertekad mengajak Miracle ke Apartmentnya.
"Dasi ku apa dibawa.. makasih udah dijaga."
"Ada di laci, ntar ambil saja." ucap Miracle.
Hening 3 detik.
Morgan akhirnya menengok. Matanya terlihat capek tapi jujur.
"Mira..aku membeli Apartemen di lingkungan perumahan elite, kamu mau datang? aku mengundangmu untuk makan bersama teman kantor, kolega." ucap Morgan berharap supaya Miracle mau datang.
Miracle menatap Morgan dengan tajam. Ia tidak mengerti isi otak mantan suaminya. Baru di dekati sedikit langsung ngelunjak. Tidak mungkinlah dia mau datang kecuali matahari terbit dari barat.
"Aku janji buktiin kalau aku mampu berubah, Mira. Mulai dari hal kecil. Dateng tepat jam delapan."
Miracle menarik nafas panjang, kemudian berjalan ke pintu.
"Kita liat aja nanti, Pak CEO." dengus Miracle kesal.
Klik. Pintu tertutup.
Morgan tersenyum tipis. Akhirnya dia dipanggil "Pak CEO" lagi, bukan "kamu" yang nyakitin. Ohh.....
Morgan juga ikut pulang, ia sudah menjual rumah pengantinnya. tapi ia tidak bilang sama Miracle. Tentu ia takut dimintai bagian gono gini. Dibilang serakah tidak masalah.
Sebagian uang penjualan rumah ia belikan Apartment di dekat Apartmentnya Miracle, tujuannya untuk mendekati Miracle lagi.
Sampai jam sebelas malam Morgan menunggu Miracle, tapi mantan istrinya tidak datang. Padahal ia mengundang istrinya untuk makan malam, sekalian merayakan pertemuan mereka lagi.
Pukul. 23.14 WIB. Apartemen Miracle. Sunyi dan gelap. Lampu meja doang yang menyala.
Miracle duduk di lantai. Depannya ada kotak kecil. Isinya, dasi biru dongker punya Morgan. Sudah dicuci, disetrika dan wangi.
Tangannya ragu antara mau menyimpan atau dibuang. Selalu hatinya dalam persimpangan.
"Ngapain sih masih disimpan..." gumamnya membuka kotak dan mengambil dasi itu. Ia mau membuangnya, masa lalu harus dibuang dan dilupakan.
Tapi pas dasi itu dipegang terasa hangat. Ia ingat tangan Morgan mengikat rambutnya pelan-pelan. Takut rambutnya ketarik.
Kriinggg...Kriinggg
Hape Miracle berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal.
[Maaf mengganggu nyonya M.W. Apa dasinya ketinggalan di kantor? atau aku ke apartment mu untuk mengambilnya]
[Dasinya disini, maaf aku lupa memberimu, besok aku kembali kan. Malam ini aku tidak bisa nemuin kamu, sudah jam tidur]
Miracle bukan anak kecil, tentu saja ia tahu Morgan bohong. Mantan suaminya ingin bertemu, rujuk kembali. Lukanya masih menganga, ia tidak siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
Lima tahun sudah membuatnya jera untuk berumah tangga. Pengalaman masa lalu bikin dia membatasi diri bergaul. Intinya ia benci percintaan dan pernikahan.
Miracle nengambil hapenya dan mengirim foto dasi yang sudah rapi, ke Morgan.
[Dasinya aman. Besok saya balikin, tidak bakalan hilang] kirim.
Balasannya cepet banget. Mungkin Morgan mabtengin hapenya. Pasti pestanya masih. Ahh..gak peduli, itu urusannya. pikir Miracle.
[Jangan dibalikin pakai saja buat bantal. Biar mimpiin aku, sayank]
Miracle langsung membuang hapenya ke kasur. Mukanya merah seperti kepiting rebus.
"Br*ngsek beraninya dia memanggil "sayank" uhekk...muak ...Kurang ajar... Dasar mesum, tukang selingkuh. Jangan harap aku mau rujuk. CEO genit!!" teriak Miracle melempar dasinya dan dasinya nyangkut di bantal. Kotaknya gelinding jatuh.
Duk...
Kaki Miracle dengan kuat menendang kotak dasi. Sungguh ia tidak mengerti, kenapa perasaannya hampir linglung dengan sebuah dasi.
Miracle menjatuhkan bobot tubuhnya ke tempat tidur, ia berusaha memejamkan mata untuk melupakan ucapan Morgan. Dan tidak ingin luluh untuk menjadi budak cinta yang tersiksa. Sudah cukup lima tahun menjadi budak dan teraniaya.
Lebih baik ia memblokir nomer hape Morgan dan kembali bersikap dingin. Menghadapi Morgan seringkali ia salah perhitungan.
Morgan sekarang baik hati dan tak sombong, mungkin untuk menarik perhatiannya. Karena usahanya yang bangkrut, Morgan yang dulu arogan, sok paling ganteng sekarang mau sujud kepada Miracle. Dia merendahkan diri, membuang harga dirinya, tentu saja minta perlindungan Miracle. Siapa lagi yang bisa menggelontorkan dana lima miliar kepada perusahaan Morgan"s Kitchen?
Morgan bikin hatinya Emosional dan negatif thinking. Sudah berapa kali menolak telepon dan chatnya tetap aja Morgan menggagu.
Apartment Morgan.
Masih pagi tapi dia sudah bangun. Pertama yang dicari hapenya, melihat chat yang belum dibalas oleh Miracle padahal centang biru.
Morgan duduk sambil ngopi, berusaha sabar dan memaklumi kelakuan Miracle yang masih sakit hati.
"Progress 1%"
Morgan menarik nafas, ia berdoa dalam hati supaya Miracle mau rujuk dengannya.
"Kriinggg...Kriinggg.."
[Hallo...]
[Morgan sayank, kamu dimana aku di depan rumah mu, tapi akses masuk tidak bisa, apa kamu sudah merubah sandinya?]
Degg!
Itu suara Arini. Morgan buru-buru mematikan hapenya, ia takut kalau Arini datang dan kembali menindas Miracle.
*****
ARINI
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....