Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Dua Kencur Ketemu Jenglot
Restoran yang menjadi markas 5 sekawan. Sabtu ini kembali ramai. Gimana, nggak? Karena ada mereka di sana lagi. Dan seperti biasa, mereka berbincang serasa Dunia milik mereka berlima. Yang lain ngontrak!
"Haha...," tawa mereka.
“Tapi meski sudah kamu bantu beresin rumah dan tanam, tanaman, Mur. Tetap saja anak kalian pasti kerepotan,” ujar Arya, ke Murni dan ke Adit.
"Ya, karena itu, aku ngerjain semua itu. Karena tahu, anakku pasti bukan ngurus si kecil saja, tapi juga yang gede.' Murni membalas sambil cengengesan.
“Duh, maaf nih! Ya, tahu sendirilah anakku manjanya nggak ketulungan."
Bimo jadi bicara dengan gak enak. Karena dia baru sadar, dan tadi kenapa juga dia main ketawa saja.
"Ho oh!" imbuh Wati.
“Ya, nggak apa-apa malah jadi seru tahu. Biar anakku keleyengan, dan sikap dinginnya jadi mencair," balas Murni.
“Iya, iya, iya. Haha...” Mereka jadi pada tertawa.
"Tapi sebenarnya saat ini sudah mendingan sih! Gak begitu dingin lagi," tambah Adit, mengingatkan.
"Iya sih!" angguk Murni.
“Nah! Minggu depan kita akan menjalani rencana berikutnya. Terus gimana nih? Serius, Minggu depan lagi kita break?” tanya Arya, mengganti topik.
“Iya, dari pada kita kecium mereka. Kita kan nggak tahu, mereka itu diam saja di rumah, atau keluar. Takutnya kita sial lagi kelihat mereka di luar. Sabtu kemarin saja mereka keluar loh!" ujar Adit, memberitahu.
Sesuai cerita sebelumnya ya. Kan, Sabtu kemarin sehabis Ken ngerjain Putri. Putri ada kabur keluar ketemu Boy, dan Ken pun keluar membereskan rumah dinasnya.
"Oh ya?" Yang lain mendelik, kecuali Murni.
"Iya."
“Tuh, kan... Ya sudah. Jangan sering-sering lah kita ketemu bahaya," ujar Wati.
"Iya," imbuh Bimo.
“Ya sudah. Terus masalah untuk rencana Minggu depan gimana?” tanya Arya.
“Siap dong,” jawab orang tua Putri, karena kali ini rencana di tangan mereka.
“Oke! Kalau gitu, nanti kita bantu bicara ke anak kita," ujar orang tua Ken.
“Oh ya! Kemarin ada teman Putri main ke rumah loh!” sambung Adit, memberi tahu.
“Siapa?” Wati dan Bimo terkesiap.
“Namanya, Boy.”
“Boy?” seru mereka lagi.
“Iya. Katanya, teman sekolah Putri," ujar Murni.
“Cowok?” tanya mereka lagi.
“Ya, namanya saja sudah Boy. Sudah pasti cowok. Kayaknya anak itu naksir deh sama Putri,” ujar Adit.
“Aduh... Kok bisa ya, anak itu tahu rumah kalian,” kesal Bimo.
“Sudah pasti tahu dari anak kita lah, Pi,” timpal Wati.
“Kalau masalah itu, kita nggak tahu ya. Tapi menurutku nggak apa-apa loh! Biar ada yang mancing anak kita ngomporin,” tukas Adit.
“Awalnya aku nggak setuju. Tapi pas suamiku jelasin. Yahhh... Menurutku ada benarnya. Harus ada orang ke tiga biar anak kita panas,” tambah Murni.
“Iya, benar itu!" setuju Arya.
“Tapi kalau anak kita sampai jatuh cinta dengan anak itu, gimana? Malah jadi runyam dong urusan kita,” protes Bimo.
“Iya, gimana?" tambah Wati.
“Kurasa kalian gak perlu cemas. Tahu sendirilah laki-laki dimana-mana mah kalau wanitanya direbut. Mau itu secara sadar, atau nggak merasa memiliki perasaan. Pasti bakal terusik.” tandas Adit.
“Iya, tenang saja. Aku yakin anak kita pasti bakal mempertahankan Putri. Kemarin saja, saat kita beri tahu ada cowok menemui Putri, anak kita sedikit kaget gitu. Ya, walau tidak terlihat jelas. Tapi intinya dia kaget," tambah Murni.
“Masa?” seru Arya.
“Iya! Terus kita lihat dia berdiri di depan kamarnya memandangi kamar Putri."
“Wah... Jelas itu. Anak kalian panas," respon Arya setelah dengar itu.
Meski dia belum tahu isi rumah orang tua Ken. Ya, karena memang dia belum ada ke sana.
“Makanya, kita pikir juga begitu. Meski kita gak bisa lihat ekspresinya karena kita lihat dari belakang. Tapi buat apa juga dia merhatiin kamar Putri.”
“Iya, benar," balas Arya.
Kemudian tiga orang terus bicara. Hanya Wati dan Bimo yang diam. Karena mereka masih kurang setuju atas ide tersebut. Tetap maunya rencana yang sudah mereka sepakati bersama. Biar mereka saja yang membuat dua orang itu jatuh cinta. Tanpa ada kehadiran orang lain.
Wajar mereka berbeda pendapat. Karena di sini faktor kendalanya ada di tangan Ken. Jadi yang dicemaskan orang tua Putri itu adalah... Bukannya Ken mempertahankan Putri, takutnya malah menyerah dengan keadaan, dan membiarkan Putri dengan cowok itu. Mengingat masa lalu cintanya yang pahit.
Tapi memang bisa jadi. Karena kita masih belum tahu apa sebenarnya yang ada di hati Ken.
**********
Ken membawa mobil sesuai alamat yang diberi tahu Putri. Lalu di persimpangan jalan dia menghentikan laju mobilnya. Karena lampu lalu lintas mengeluarkan warna merah.
Jadi hari ini adalah hari Minggu. Alias jadwal melukis dua piyik.
“Putri... Nanti pulang kita berdua saja ya." Ken mengajak bicara.
“Kenapa memang, Om?”
“Om mau ajak jalan,” alibi Ken, tentu karena nanti Mimi yang ngurus Awang.
“Kenapa Mimi nggak diajak saja, Om?”
“Kalau Mimi diajak, berarti kita bukan jalan berdua."
“Terus nanti Mimi pulang sama siapa?”
“Teman Om nanti yang antar Mimi pulang."
“Teman Om baik, nggak?”
“Jadi kamu kira teman Om jahat, gitu?” Ken malah balik bertanya, karena dia jadi agak tersinggung.
“Bukan gitu... Mimi soalnya kan sahabat Putri. Wajar dong Putri khawatir.”
“Tenang... Teman Om super baik kok! Malah nanti Mimi senang kenal sama teman Om. Nanti Mimi minta apa saja pasti diturutin.”
“Kayak Om ya?”
Mendelik. “Maksudnya?”
“Kan Putri minta apa saja selalu Om turutin.”
Baru disadarinya, dia telah buat kesalahan terlalu memanjakan anak ini.
“Putri, kamu tahu nggak...”
Saat Ken bicara, Putri memotong karena dia melihat lampu sudah berubah.
“Om, lampunya hijau!”
Ken menekan pedal gas, dan perlahan-lahan keluar dari lampu merah.
“Tadi Om bilang apa?” tanya Putri, untuk omongan Ken yang tadi jadi terputus.
"Nggak jadi." Ken menggeleng.
Ya! Percuma dia mengatakan. Karena dia juga belum tahu mereka ke depan nanti kayak gimana.
Jadi tadi pria itu mau membahas tentang kesiapan gadis itu jadi seorang istri tentara. Tahu sendiri lah menjadi istri tentara nggak boleh manja dan cengeng.
Selang sesaat, mobil tiba di rumah Mimi. Kemudian Putri turun menjemput Mimi sedangkan Ken menunggu di mobil. Nggak lama dua piyik itu keluar dari rumah, dan masuk mobil.
“Hallo, Om...,” sapa Mimi ceria.
“Hallo...," balas Ken, melihat kaca spion di kepala.
Tentu Mimi duduknya di belakang. Lalu mobil melaju. Di jalan, Mimi kembali bicara dengan memunculkan kepalanya di tengah di antara mereka.
“Om, pakai baju bebas kok tetap ganteng sih! Mimi tambah suka deh!”
Ken tersenyum. Putri? Tentu sewot dengar itu. Karena itu, dia jadi melampiaskan dengan mengajukan protes lewat posisi Mimi.
“Mimi jangan di situ! Elo ganggu Om gue nyetir tahu.”
“Ganggu apaan sih?! Orang gue nggak ada nyenggol Om Ken kok!”
“Udah sana," usir Putri lagi.
Namun yang diusirnya tetap saja gak mau bergerak. Putri jadi kesal dengan mendorong tubuh Mimi hingga jadi terjengkal ke bangku.
“Aduh... Sakit, Om... Mimi di dorong Putri nih!" Mimi mengadu-ngadu manja.
“Ayo, kalian jangan pada ribut." Ken malah menanggapi dengan menegur.
"Ugh!" kesal Mimi.
"Ugh!" balas Putri.
Sesaat kemudian, mobil tiba di tujuan. Ken parkir di dekat parkiran motor, dan kebetulan Awang sudah tiba 3 menit duluan dari pada Ken. Namun Awang tidak menyadari ada mobil di dekatnya. Lalu Awang membuka helmnya. Sedangkan Ken mematikan mesin mobilnya.
“Nah! Itu teman, Om."
"Yang mana, Om?”
Dua piyik itu melihat ke luar kaca memperhatikan sekitaran.
“Itu, yang di parkiran motor.” Ken menunjuk.
“Yang mana?” Mereka tetap masih bingung.
“Ya sudah. Ayo, kita keluar.”
Mereka semua membuka pintu, dan turun dari mobil. Ken berjalan memimpin di depan, dua piyik itu mengikuti di belakang.
“Yang mana teman, Om?’ tanya mereka lagi.
“Itu!"
Dua gadis itu langsung tercengang, setelah tahu siapa yang ditunjuk Ken.
“I-tu, i-tu, teman Om?” panik mereka.
“Iya."
Serentak dua gadis itu bulu kudunya merinding, dan langsung mengumpat di belakang tubuh Ken.
"Iiihhhh....," takut mereka.
“Kenapa kok pada ngumpet?”
“Seram amat sih teman Om," ujar Putri.
“Iya. Kok teman Om, beda jauh sih sama Om. Kok teman Om, kayak Genderuwo gitu sih!” tambah Mimi.
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya