NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 BERJALAN-JALAN DI MASA LALU IBUKU

"Ka-ka-kamu?" suaraku terbata-bata saat dengan jelas melihat sosok Sekar Arum di sebelahku.

"I-I-Ibuku mana?" tanyaku padanya.

Sekar Arum tak menjawabku. Ia malah tersenyum dengan sangat anggun dan cantik.

Menatap wajahku dengan kedua matanya yang memancarkan warna kuning keemasan.

"Ibuku mana? Kenapa malah kamu yang ada di sini?" tanyaku sekali lagi.

Dan Sekar Arum pun menjawabku.

"TENANGLAH... AKU MEMINJAM TUBUH IBUMU SEBENTAR SAJA..."

Aku tak mengerti apa maksudnya. Aku pun hanya menatap ke wajahnya yang terlihat sangat jelas ini.

"HARUM..." panggilnya.

"Ya?" responku singkat.

"APAKAH KAMU TAKUT DENGANKU?"

Aku pun menggelengkan kepala, sebagai jawaban bahwa aku tak takut sama sekali padanya.

"APAKAH KAMU MASIH INGAT, SAAT PERTAMA KALI KITA BERTEMU?"

Dan, aku pun menganggukkan kepala, sebagai jawaban jika aku masih mengingat momen itu. Pertemuanku untuk pertama kalinya dengan Sekar Arum, di rumah keluargaku yang lama, di Cirebon itu.

Sekar Arum pun tersenyum lagi. Sambil mengusap pipi kananku dengan penuh kelembutan. Usapan yang terasa sama persis dengan usapan tangan Ibuku.

Lalu...

Dengan sangat jelas...

Suasana di sekitar ruang tamu rumahku ini berubah seketika!

.....

.....

Aku tak mengerti sama sekali.

Aku tak paham sama sekali.

Aku, bersama Sekar Arum, sudah berpindah tempat.

Kami berdua sudah berada di sebuah halaman di depan satu rumah. Tapi, sedetik kemudian, aku tahu sesuatu.

Aku dan Sekar Arum, berada di halaman rumah Ustadzah Fatimah, pemilik pengajian anak-anak desaku tinggal sekarang bersama Nisa, Ibuku.

"Loh? Ini kan? Tempat aku ngaji sama temen-temen?" kataku.

"IYA HARUM, KAMU BENAR." jawab Sekar Arum.

"Kenapa kamu ajak aku kesini Sekar Arum?" tanyaku.

Sekar Arum tak menjawab. Ia malah mengangkat tangan kanannya. Menunjuk ke arah pendopo tempatku biasa mengaji, semenjak aku hidup bersama Nisa, Ibuku.

Aku pun jadi menoleh ke arah pendopo.

Akan tetapi, pendopo pengajianku itu bentuk dan suasananya sama sekali berbeda.

Seperti...

Pendopo itu seperti ada di masa lalu. Bentuk dindingnya masih berupa dinding kayu dan bambu.

"LIHATLAH KESANA HARUM..." kata Sekar Arum.

Dan, ternyata...

Di sana, di pendopo itu, ada Ibuku. Bersama dengan beberapa anak-anak desa yang masih kecil-kecil. Aku tak tahu siapa mereka.

"Loh? Ibu?" spontan aku berkata pelan.

"Ibu!! Aku disini Bu!!" teriakku padanya.

"IBUMU TAK AKAN MENDENGARMU HARUM..." kata Sekar Arum saat mendengarku berteriak memanggil Ibuku.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

"NANTI KAMU AKAN TAHU HARUM. SEKARANG PERHATIKAN SAJA IBUMU DISANA." jawabnya.

Aku pun memperhatikan Ibuku. Ternyata dia sedang mengajar mengaji anak-anak itu.

"Loh? Apakah Ibuku dulu jadi seorang guru ngaji?" tanyaku pada Sekar Arum.

Sekar Arum pun hanya mengangguk pelan, sebagai jawaban "Iya".

Lalu, tiba-tiba, aku melihat sebuah kejadian masa lalu Ibuku di pendopo itu, yang menurutku mengerikan.

Aku melihat Ibuku duduk di belakang anak-anak itu, dengan eskpresi wajahnya terlihat ketakutan.

Dan, yang membuat Ibuku takut adalah munculnya sesosok makhluk memakai mukena putih yang kotor.

Sosok itu mendekat, dan seperti ingin mencekik Ibuku!

Spontan, aku kembali berteriak padanya, "Ibu!! Awas!!"

Namun...

Seketika itu juga, aku dan Sekar Arum kembali berpindah tempat, secepat kilat.

.....

.....

Kini, aku dan Sekar Arum sudah berada di sebuah jalanan desa yang amat sangat gelap.

Di sisi kanan dan kiri kami berjajar rapat pohon-pohon besar.

Aku langsung bisa merasakan aura yang amat gelap disini.

Aku mulai merasa takut. Dan langsung saja, ku genggam tangan Sekar Arum di sebelahku.

Sambil terus memperhatikan sekitar dengan mataku yang kini bisa melihat, seketika itu juga aku kembali melihat Ibuku.

Dia berjalan di tengah gelapnya barisan pepohonan gelap dan mencekam itu. Seperti sedang mencari-cari seseorang.

Lalu, dengan jelas, aku mendengar suara Ibuku memanggil-manggil sebuah nama.

"Farhan!! Farhan!! Dimana kamu Nak?!" begitulah teriakan Ibuku.

Tapi, tunggu dulu...

Farhan???

Apakah yang dipanggil Ibuku itu adalah Farhan, temanku mengaji???

Jika memang benar, kenapa Ibuku mencari-cari Farhan di tengah gelapnya barisan pepohonan itu?

Dengan secepat kilat lagi, aku dan Sekar Arum kembali berpindah tempat.

.....

.....

Kini, kami berdua sudah berada di sebuah rumah yang jauh lebih mencekam auranya.

"LIHATLAH KESANA HARUM..." kata Sekar Arum kemudian, sambil menunjuk ke arah depan tangga menuju lantai dua rumah mencekam ini.

Dan kembali ku lihat ada Ibuku disana.

Ibuku sudah memakai sebuah selendang berwarna kuning keemasan yang bersinar di lehernya.

Dan, berikutnya, sangat membuatku ketakutan. Aku lihat sudah berdiri satu sosok tinggi besar. Berbulu hitam. Bermata merah menyala. Berdiri di depan Ibuku!

Dan, entah apa yang sebenarnya terjadi. Ibuku seperti melempar sosok mengerikan itu dengan sangat kuat.

Akan tetapi, sama sekali tanpa sentuhan dari Ibuku pada sosok mengerikan itu. Sosok mengerikan itu tiba-tiba saja terhempas jauh ke belakang, mengerang kesakitan, dan menghilang.

Lalu, Sekar Arum berkata padaku.

"ITU ADALAH SOSOK KUAT YANG PERTAMA KALI BISA DIKALAHKAN OLEH IBUMU... DAN HAMPIR SAJA JIWA IBUMU TAK SELAMAT MENGHADAPINYA..."

Aku pun bingung.

Aku tak memahami apa maksud perkataan Sekar Arum barusan.

Dan, dengan cepat, kami berdua kembali berpindah tempat.

.....

.....

Dan kali ini, aku langsung mengetahui tempat apa ini.

Karena...

Aku dan Sekar Arum berpindah ke sebuah tempat dimana ada satu pohon yang sudah sangat ku kenal sebelumnya dalam perjalanan hidupku.

Iya...

Tempat ini adalah tempat bersemayamnya sosok makhluk pesugihan mendiang kedua orang tua kandungku!

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!