NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan

Hawa panas yang menguar di ruang keluarga berdinding tanah liat itu belum juga reda. Setelah mendengar deklarasi penuh keberanian dari teman-teman putrinya, Yoto masih terpaku di atas kursi kayunya. Rentetan frasa heroik itu terus berputar-putar di kepalanya.

'Niat membantu, berjuang bersama dalam satu tim, dan bersungguh-sungguh...' batin pria paruh baya itu. Sesaat, ia merasa kagum, namun realita kehidupannya terlalu pahit untuk diserahkan pada bahu remaja.

"Bukan aku tidak mengizinkan kalian untuk membantu," tuturnya lembut memecah keheningan. Perlahan, Yoto bangkit dari duduknya, tangannya meraih jagung rebus di atas meja untuk menutupi rasa canggung. "Kalian masih anak-anak, tidak akan mengerti urusan orang dewasa."

"Aku rasa ucapanmu itu salah, Paman Yoto."

Bantahan itu datang dari Cate. Gadis yang beberapa menit lalu menangis sesenggukan itu kini telah menguasai dirinya kembali.

Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Vyora, lalu berpindah hingga berdiri tegak di samping kanan sahabatnya.

Matanya menatap lurus dengan sorot kesal ke arah wajah Yoto, menolak mentah-mentah cap 'anak kecil' yang disematkan pada komplotan mereka.

"Umur kami memang terlihat masih anak kecil, tapi pola pikir kami sudah melebihi orang dewasa."

"Buktikan!"

Satu kata balasan dari Yoto meluncur tajam dan tegas. Alih-alih menciut, tantangan itu justru masuk tepat ke dalam perangkap rencana yang sudah Cate susun di kepalanya.

Dalam sepersekian detik, ia memutar lehernya ke belakang, menatap penuh harap ke arah pemuda yang masih duduk diam.

"Hei, Genius—"

Panggilan Cate terpotong cepat. Takahiro tiba-tiba bergumam sendiri, menimpal kalimat Cate dengan ekspresi orang yang sedang diinterogasi.

"Takahiro Yuki— ah tidak... aku tidak ingin menggunakan nama itu lagi."

Seolah lupa pada ketegangan di ruangan itu, Takahiro justru tenggelam dalam kebimbangannya sendiri.

Matanya menatap langit-langit atap, jemarinya mengetuk dagu, berusaha keras mencari nama alias yang terdengar keren untuk kehidupan barunya di dunia ini.

"Gimana kalau King...?" gumamnya polos.

Suasana tegang yang sempat terbangun seketika runtuh. Vyora, Cate, Uchi, beserta kedua orang tua Vyora menoleh serempak, menatap pemuda plin-plan itu dengan ekspresi blank dan tak habis pikir.

"Ah! Tidak cocok juga—"

Kesabaran Cate habis. Rasa kesalnya meledak melihat tingkah laku absurd Takahiro yang salah tempat dan waktu.

Wajah Cate seketika mengeras, berubah garang layaknya predator mematikan yang siap menerkam mangsa. Ia menunjuk tepat ke wajah pemuda itu dengan urat leher menonjol, dan suaranya naik satu oktaf.

"Kau!" gerutunya meledak. "Ini bukan saatnya memilih nama yang bagus atau tidaknya. Kalau kau ingin jadi ketua tim ini, ubahlah sikapmu yang kekanakan."

Yoto tak bisa menahan tawanya. Pria paruh baya itu terkekeh kecil, merasa sangat terhibur melihat pertunjukan dadakan antara Takahiro dan Cate.

Sementara itu, Vyora dan Uchi hanya bisa memijat pangkal hidung sambil menghela napas panjang meratapi kelakuan "ketua tim" mereka.

Sadar dirinya baru saja merusak suasana, Takahiro menampilkan cengiran canggung. Ia meminta maaf berkali-kali sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal.

Namun, hanya butuh hitungan detik bagi pemuda itu untuk membalik keadaan. Cengiran canggungnya lenyap, digantikan oleh sorot mata setajam pisau. Tanpa aba-aba atau perintah dari siapa pun, Takahiro bangkit dari tempatnya duduk.

Perlahan dan tenang, ia berjalan mendekati meja tempat Yoto baru saja meletakkan kembali sisa tongkol jagung rebusnya di sebelah cangkir teh.

Setibanya di sana, tangan Takahiro merogoh saku belakang celananya—meninggalkan noda lumpur basah yang tak disadari oleh Cate, Uchi, maupun Vyora sebelumnya. Ia menarik keluar sesuatu dari sana.

"Lihat ini," katanya serius. Ia meletakkan seuntai benih padi yang layu dan kotor itu tepat di hadapan Yoto. "Benih padi ini mati saat berpindah tempat. Apa kau tahu penyebabnya?"

Pertanyaan bernada menguji itu membuat Yoto tertegun. Pria itu meraih benih padi tersebut dengan jari-jari yang sedikit gemetar.

Ia mengamatinya cukup lama, memutar-mutarnya di bawah cahaya temaram ruangan, sebelum akhirnya mendongak menatap wajah Takahiro dengan raut buntu.

Karena tak ada jawaban yang keluar dari mulut pria paruh baya itu, Takahiro tak membuang waktu. Ia kembali menyambung penjelasannya yang sengaja ia gantung, menarik kembali atensi seluruh ruangan.

"Ada pembusukan yang menyebabkan akar padi ini mati. Dan dari yang aku lihat, ini bukan kejadian yang alami, melainkan seperti ada orang yang sengaja menaruh bahan kimia di atas tanah."

Di tempatnya berdiri, dahi Vyora berkerut tajam. Ia masih ingat jelas istilah itu saat mereka berada di area persawahan tadi. Namun, ada frasa baru yang membuatnya merasa sangat janggal.

Pembusukan akar akibat bahan kimia.

Kata-kata itu terus berputar-putar di otaknya, namun sebagai petani tradisional, konsep "bahan kimia" sangat sulit untuk ia visualisasikan.

"Coba kamu perhatikan baik-baik di bagian akarnya," perintah Takahiro santai, menunjuk bagian bawah benih di tangan Yoto. "Dari situ kau bisa lihat, kalau warna akarnya yang semula putih cerah, sekarang berubah jadi kecokelatan."

Yoto menyipitkan mata, memfokuskan pandangannya pada objek berukuran kecil tersebut. Saat warna tak wajar itu akhirnya tertangkap oleh penglihatannya, ia bergumam menyambung kalimat Takahiro.

"Kamu benar, warna akarnya bukan lagi putih cerah."

Melihat ayahnya dan Takahiro berdiskusi dengan lancar, Vyora merasa otaknya tertinggal jauh di belakang. Kepalanya mulai berdenyut pusing karena terus memaksa mencerna setiap analisis modern yang diucapkan pemuda itu.

Menyerah pada kebingungannya, Vyora melangkah mendekati ayahnya dan menatap Takahiro.

"Jika akarnya kecokelatan, itu tandanya kenapa?"

Mendengar pertanyaan polos itu, Takahiro merespons cepat tanpa basa-basi.

"Vyora-san, aku tidak ingin menjelaskan yang ketiga kalinya. Lebih baik kamu ingat-ingat sendiri apa yang pernah kukatakan sebelumnya."

Vyora memutar bola matanya, mencoba menggali ingatannya. "Aku masih ingat. Pembusukan akar."

"Ya, tepat sekali!"

Sementara itu, di sudut lincak, Uchi yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia akhirnya merasa terpanggil untuk ikut campur.

Ia perlahan bangkit dari duduknya. Baru saja mulutnya terbuka untuk menyuarakan rasa penasarannya yang tertahan, sebuah suara dari arah depan mendahuluinya.

"Aku masih tidak mengerti, kenapa akar bisa membusuk di dalam tanah?" tanya Cate dengan nada polos yang luar biasa, memotong timing Uchi tanpa sadar.

Takahiro menoleh ke arah gadis berambut merah itu, membalas tatapan keingintahuannya.

"Sebenarnya banyak penyebab pembusukan akar, tapi yang bisa aku lihat sekarang, pembusukannya terlihat tidak biasa. Bisa jadi ada faktor yang memperparah kerusakan akarnya."

"Jelaskan padaku semuanya," sambung Cate cepat, bersendekap dada.

Nada Cate yang terdengar seperti sebuah tantangan mutlak itu justru membuat sudut bibir Takahiro tertarik ke atas. Ia menyukai situasi saat dirinya memegang kendali atas ketidaktahuan orang lain. Tanpa perlu didesak lebih jauh, ia memaparkan analisisnya dengan penuh percaya diri.

"Akan kuambil yang dapat kalian pahami. Genangan yang dibiarkan terlalu lama, tanah yang buruk, atau penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan."

Kata 'Pupuk' yang terlontar dari mulut Takahiro seolah menjadi pemicu sebuah sakelar di kepala Yoto. Pria paruh baya itu tersentak pelan. Ingatannya melayang pada kegiatan bercocok tanam sore tadi, tepat sebelum putri bungsunya menyusul ke sawah.

"Seingatku, aku sama sekali tidak pernah merasa terlalu berlebihan saat memberi pupuk." Kalimat Yoto terucap sangat lirih, berbaur dengan kebingungan saat ia mencoba memutar ulang setiap tindakannya di ladang hari ini.

Mendengar sangkalan Yoto yang terkesan jujur dan kebingungan, firasat Takahiro makin mengeras menjadi kepastian. Benang merahnya mulai terhubung. Jelas ada seseorang di luar keluarga ini yang dengan sengaja menyabotase ladang agar hasil panen mereka hancur lebur.

"Sudah kuputuskan!" tegas Takahiro, suaranya dipenuhi keyakinan. Sudut bibirnya kembali terangkat, membentuk senyum menantang layaknya seseorang yang sudah mencium aroma kemenangan di depan mata. "Besok pagi, kita akan bedah teka-teki ini bersama. Siapa dalang dibalik kehancuran semua ini."

Udara di ruang keluarga itu tak lagi terasa mencekam oleh perselisihan, melainkan padat oleh tekad yang sama.

Secara serempak, tanpa perlu bertukar kata, Uchi, Vyora, dan Cate menganggukkan kepala mantap tepat setelah Takahiro menyelesaikan kalimatnya.

Persetujuan dalam diam itu menjadi deklarasi mutlak. Besok, mereka akan bergerak bersama membongkar akar kejahatan di lahan keluarga Vyora.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!