Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pillow Talk With Love
Hujan cukup deras masih mengguyur kota Jakarta malam itu.
Clara menaruh handphone nya di nakas samping ranjangnya yang berukuran queen bed, setelah selesai membaca pesan dari sahabatnya.
Clara
Matanya kembali menatap televisi yang sedang menyala di kamar itu, namun pikirannya melayang entah ke mana.
"Sexy amat sih Nyonya Ararya malam ini.." ucap Arya sambil merangkak naik ke atas ranjang lalu mengecup pundaknya.
"Nggak usah macam-macam deh, ganti baju lagi nih aku !" balasnya sambil melirik tajam ke pemilik hatinya saat ini.
Arya terkekeh melihat tingkahnya. Pasalnya Clara tadi mengurungkan niatnya untuk memakai baju tidurnya kali ini.
Ia membawa dress piyama satin berwarna olive tanpa lengan, karena ia berpikir teman tidurnya malam ini bukan kekasihnya, melainkan Ayu.
Namun takdir berkata lain, ia sekarang malah tidur dengan lelaki yang selalu menggoda dan menjahilinya setiap saat.
Awalnya ia memilih untuk memakai celana pendek nya dan mengenakan kembali kaos yang telah ia pakai sepanjang hari.
Tetapi hal itu ia urungkan karena Arya orang pertama yang protes, Arya paling tidak bisa melihat orang tidur dengan pakaian yang sudah melekat seharian.
Ia tak punya pilihan lain, karena baju lain yang ia bawa juga kemeja santai berbahan kain, yang ada dirinya pasti semakin diketawain sama kekasihnya itu
"Yang..?" ucapnya sambil menyandarkan setengah badannya pada headboard.
"Iyaa.." jawab Arya, sambil mengecek beberapa email masuk dari handphone nya.
"Menurut sudut pandang kamu sebagai lelaki, Bagas itu emang tukang selingkuh nggak?" tanya Clara yang sudah menoleh ke arahnya.
"Tukang selingkuh? Yang kamu maksud tukang selingkuh itu gimana? Selingkuh itu ada dua, pakai rasa, yang satunya cuma pakai nafsu." jawab Arya sambil menaruh handphone nya kembali.
Clara mengerjap-ngerjapkan matanya, ia bingung, memang selingkuh ada macam-macamnya? Karena baginya selama ini selingkuh ya selingkuh.
"Bagas bukan tipe cowok yang cuma pakai nafsu." tegas Arya lagi.
"Gitu? Darimana kamu tahu?" tanyanya sambil membayangkan wajah Bagas.
"Lihat aku.."
Seketika ia memandang kekasihnya itu.
"Lihat Ardhana, lihat Rendra..Kita bukan sepenuhnya goodboy yang suci , bersih, seperti yang ada di cerita-cerita. Kita juga punya pengalaman, tapi kita nggak pernah jajan sembarangan. Begitu juga Bagas, aku tahu karena aku juga kenal dia bertahun-tahun kan." ucap Arya yang saat ini sudah duduk menatap dirinya.
"Jadi kalau gitu, maksud kamu Bagas ada hubungan yang lebih hanya dari sekedar nafsu sama Geya?" tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Ya, seperti itu. Mungkin Geya bagian dari masa lalu Bagas yang sudah selesai atau belum selesai atau nggak mau diselesaikan." ucap Arya sambil mengangkat bahu.
"Tapi bukannya cowok bisa main tanpa ada rasa sayang? Mungkin aja Geya cuma pernah jadi teman kencannya semalam."
Arya tertawa pelan mendengar pertanyaan Clara saat ini.
"Ya nggak semua cowok seperti itu dan banyak yang nggak seperti itu. Gini deh, katakanlah Bagas pernah one night stand sama Geya, tapi kalau berlanjut berarti mereka pakai perasaan dong, walaupun bukan rasa sayang, tapi pasti ada rasa tertarik." jelas Arya sambil menatap wajah kekasihnya yang sedang mengorek dirinya sebagai seorang lelaki.
"Yang, kalau aku nih ya, main juga harus pakai perasaan, paling nggak rasa tertarik dulu. Ya kali, nggak tertarik, terus aku cium tu cewek dan main berkali-kali lagi. It's bullshit for me ! Kalau ada, ya berarti emang maniak aja tu orang. Dan Bagas bukan cowok kayak gitu, aku yakin !" ucapnya yakin.
"Halahh, bullshit..bullshit.. tapi kalau digoda terus juga turn on kan?!" tegas Clara sambil memutar bola matanya.
"Heii..ini bahas apa sih? Ya namanya cowok normal, emang selama ini kalau aku dekat sama kamu terus aku nggak turn on? Tapi terus apa aku langsung ngapa-ngapain kamu? Kan nggak, kita cowok kalau mau ngelakuin juga pasti dalam keadaan sadar, omong kosong kalau mereka bilang nggak sadar. Hangover nggak, ngakunya nggak sadar, khilaf. Enak amat." jawab Arya panjang lebar.
Clara langsung membelalakan matanya, mencerna semua kata yang kekasihnya bicarakan.
"Jadi kamu selama ini nafsu kalau dekat sama aku?" tanyanya sok bodoh.
"Emang nggak kerasa ada yang berubah tiap kita ciuman lama?" jawab Arya malas, sambil melirik malas ke arahnya.
Dirinya menahan tawa dengan senyum tipisnya.
Arya sudah membaringkan tubuhnya, ia juga ikut merebahkan tubuhnya dan mematikan lampu tidurnya.
Ia mendekatkan badannya dan memeluk kekasihnya itu. Pelukan itu disambut hangat oleh Arya.
"Yang, kamu jangan seperti Bagas ya. Jaga kepercayaan aku. Aku takut kamu gitu sama Citra." ucapnya sambil memeluk erat Arya.
"Kok Citra?"
"Ya kan tadi kamu bilang kamu nggak bisa main kalau nggak ada perasaan, terus kalau besok-besok Citra godain kamu dan rasa kamu yang pernah ada tumbuh lagi, kan bisa aja." Clara bergidik ngeri membayangkan hal itu.
"Berarti kalau nggak sama Citra boleh dong?" goda Arya.
"Ya nggak gitu juga konsepnya !" protesnya sambil mencubit perut Arya.
"Aduuhhh ! kamu nih yaa..ssshhh.." desis Arya sambil mengelus bekas cubitannya tadi.
"Makanya aku cerita awal semuanya sama kamu dan aku bakal cerita semua sama kamu selamanya, itulah juga kenapa aku nggak pernah mau nyamperin mantan-mantan aku atau orang yang dulu pernah aku suka, kalau aku udah nggak punya niat sama mereka. Pastiin nyamperin sama disamperin itu beda !" tegas Arya.
Dirinya paham dengan jawaban dan cara pandang Arya. Lalu ia mengecup dada Arya. Setelah itu mengelus perut Arya yang ia cubit tadi.
Arya
"Nggak usah mancing deh..tadi protes sekarang mancing-mancing.." gerutunya sambil mencubit pelan pipi kekasihnya itu.
"Dikit...mau nggak?" perempuan yang berbaju sexy itu justru menggodanya.
Dirinya yang dari tadi sudah menahan diri, bagaikan seperti diberi angin segar. Walaupun ia sadar, ia tidak akan melakukan lebih.
Ia langsung mencium bibir perempuan itu dengan pelan namun semakin dalam.
Tangannya mulai menari-nari di tubuh Clara dan membawa mereka menembus nirwana.
Dress Clara sudah menyingkap separuh dari badannya. Ia langsung menghentikan permainannya itu, ia ingin membuktikan kepada kekasihnya itu bahwa ia melakukannya secara sadar.
"Udah yaa..pelukan aja.." ucapnya sambil menyeka bibir perempuan itu dengan jarinya.
"Kamu nafsuan juga ahh..udah yukk nikah aja, pulang dari sini ketemu Pak Darma ya..kalau bisa kurang dari setahun kita nyiapin nikah, aku seneng.." ucapnya lagi sambil memeluk erat tubuh perempuan itu.
"Ngurus buat gereja dulu yang penting, masih perlu kursus.." jelas Clara yang masih menggelayut manja di pelukannya.
"Ya nggak lama kan itu."
"Oiya yang, after married kita pindah ke Bali mau nggak? Aku ada tanah di sana, di dekat kantorku yang di sana. Cuma aku belum bangun rumah, karena aku pengin bangun rumah di sana sesuai keinginan aku dan istri aku. Ehh..ternyata kamunya nerima lamaran aku, ya jadi biar kamu aja yang desain.."
Clara terdiam dengan mulut menganga, membangun rumah sesuai keinginannya bersama suaminya adalah cita-citanya dan Tuhan mengabulkannya lewat Arya.
"Mau..mau..mau..aku suka Bali..!" jawab Clara antusias.
"Yaudah kalau gitu, bener ya kita goodbye dari Yogya after married..?" selidik Arya, karena Clara adalah anak tunggal yang tidak pernah jauh dari kedua orangtuanya.
"Nggak masalah, Yogya udah punya cerita banyak tentang aku, kamu, dan kita.." ucapnya sambil memeluk erat Arya dan mulai memejamkan matanya.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜