"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Tok! Tok! Tok!
Julian tersentak bangun. Seluruh badannya kaku dan pegal akibat semalaman tidur di lantai kayu yang dingin.
Tok! Tok!
"Julian! Yisla! Buka pintunya!"
Suara berat dan serak dari balik pintu itu seketika membuat bulu kuduk Julian berdiri tegak.
Mampus, Kak Vito sudah pulang!
Julian menoleh panik ke arah tungku api. Di sana, Yisla baru saja menyembul dari balik selimut dengan rambut yang berantakan. Begitu mata mereka beradu, memori tentang kejadian panas di atas pangkuan Julian semalam mendadak berputar kembali. Pipi Yisla langsung merona merah padam, buru-buru memalingkan mukanya karena salah tingkah.
Julian tidak kalah canggung, tapi situasi darurat ini tidak memberinya waktu untuk baper.
"Y-Yisla! Cepat rapiin selimut kamu! Jangan sampai Kak Vito tahu kita tidur di luar!" bisik Julian panik dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Yisla bergerak secepat tupai. Dengan gerakan kilat, ia menyambar selimutnya lalu melesat masuk ke kamar, tepat saat Julian membuka grendel pintu depan.
Cklek.
Pintu terbuka, menyemburkan uap dingin bersamaan dengan sosok tinggi Vito yang melangkah masuk. Mantel bulunya telah tertutupi oleh lapisan es, dan tangannya menenteng sebuah karung goni.
Vito menghentikan langkahnya begitu sampai di ambang pintu. Matanya langsung menyipit, memindai seisi ruangan yang anehnya... sangat rapi. Pandangannya kemudian terpaku pada meja makan kayu.
Di sana, sebilah pisau berburu miliknya tergeletak di samping busur panah. Dan yang paling mencolok ada lima belas koin perak tertumpuk rapi di atas meja.
Buk.
Vito menjatuhkan karung goninya ke lantai. Ia melepas sarung tangan, lalu berjalan perlahan mendekati meja. Diambilnya satu koin perak, ia lalu menimbangnya di telapak tangan, sebelum berbalik menatap Julian yang masih berdiri kaku dengan senyum kuda yang dipaksakan.
Aura intimidasi Vito pagi ini terasa tiga kali lipat lebih mencekam dari biasanya.
"Julian," panggil Vito datar. "Aku tahu persediaan makanan kita menipis, tapi seingatku, aku tidak meninggalkan koin perak sebanyak ini di rumah."
Vito maju satu langkah, kini ia mengunci tatapan Julian. "Dan aku juga yakin, pisau ini kemarin kusimpan di dalam kamar, bukan di atas meja dapur. Jelaskan padaku, dari mana koin-koin ini berasal, dan apa yang terjadi di rumah ini selama aku pergi?"
"I-itu, Kak... Anu... m-maksud saya..." Julian menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang bagai dikejar monster level bos.
Aduh, otakku kenapa mendadak nge-blank pas diinterogasi begini sih? jerit Astra frustrasi dalam hati.
Vito tidak bergeming. Ia masih menimang koin perak di tangannya, matanya mengunci pergerakan Julian, seolah menunggu penjelasan yang masuk akal dari pemuda di depannya.
"Itu... koinnya... K-kak... kemarin... ada... ada Yeti kurus, Kak! Eh, maksud saya—"
"Yeti?" potong Vito. Sebelah alisnya terangkat, seolah-olah memancarkan ekspresi tidak percaya dengan ucapan Julian. "Di desa ini?"
"B-bukan! Maksud saya... kemarin Bibi Petrisa datang!" ralat Julian buru-buru sebelum logikanya makin hancur. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
"D-dia... dia ke sini sama dua orang kekar bermantel bulu, Kak. Mereka mengacak-acak rumah kita buat nyari saya..."
Mendengar kata 'dua orang kekar', raut wajah Vito seketika berubah.
"Sindikat perdagangan orang itu? Lalu, kenapa rumah ini bisa rapi? Dan dari mana koin perak ini berasal?"
"M-mereka beneran ngacak-ngacak, Kak! S-sampai Yisla nangis lho..." Julian menjeda kalimatnya, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus.
"T-tapi setelah mereka pergi, saya sama Yisla beresin rumahnya lagi. Terus, soal koin perak dan pisau Kakak..."
Julian melirik sejenak ke arah pisau berburu di atas meja, lalu kembali menatap Vito dengan pasrah.
"S-saya... saya pinjam pisau Kakak buat melakukan kunjungan balasan yang elegan ke rumah Bibi Petrisa. Koin-koin itu... itu uang ganti rugi karena dia udah bikin Yisla nangis dan nyolong mangkuk peninggalan ibu kalian!" cerocos Julian dalam satu tarikan napas.
Vito terdiam. Ruangan itu mendadak sunyi senyap.
Tring!
Bunyi koin perak yang dilempar Vito ke atas meja membuat Julian tersentak.
"Kunjungan balasan yang elegan?" ulang Vito rendah. Langkah kakinya yang berat bergerak maju, memangkas jarak hingga Julian terpaksa mendongak.
Julian meneguk ludahnya.
Mampus, tamat riwayatku. Karakter buatanku sendiri bakal mengeksekusi Author-nya pagi ini! ratap Astra dalam hati.
Cklek!
Sebelum tinju Vito sempat melayang, pintu kamar Yisla terbuka. Yisla melesat keluar, menempatkan dirinya sebagai tameng di depan Julian dengan tangan terentang.
"Kak Vito, jangan marahi Julian!" bela Yisla setengah memohon. "Apa yang dikatakan Julian itu benar! Bibi Petrisa mendobrak pintu rumah kita, udah gitu menjarah mangkuk kayu peninggalan Ibu dan rajutan wolku!"
Yisla menunjuk ke arah meja makan. "Julian yang mengambilnya kembali. Dia melumpuhkan Bibi Petrisa di gudang tanpa membunuhnya. Koin-koin itu... Kemungkinan uang dari hasil memeras orang-orang desa!"
Sorot mata tajam Vito perlahan melunak saat menatap adiknya. Setelah memastikan Yisla benar-benar aman tanpa luka, sang pemburu mengembuskan napas panjang. Ia berbalik, lalu menyarungkan pisau berburunya ke pinggang.
"Lain kali, kalau kau ingin bertindak bodoh dan nekat lagi..." Vito menoleh sedikit, memberikan kerlingan dingin pada Julian yang masih syok.
"...pastikan kau mengasah pisaunya dengan benar. Pisau itu agak tumpul di bagian ujungnya."
Julian melongo. "H-hah?"
"Kakak nggak marah?" tanya Yisla dengan mata berbinar.
"Aku marah karena bajingan sindikat itu berani menginjakkan kaki di rumahku," sahut Vito datar, lalu meletakkan karung goninya di meja.
"Tapi untuk wanita tua serakah itu, dia memang pantas diberi pelajaran. Dan lima belas koin perak ini..."
Vito mendorong tumpukan koin itu ke arah Yisla.
"Gunakan untuk membeli pakaian hangat yang baru di pasar kota besok. Salju akan turun lebih lebat, mantel lamamu sudah terlalu tipis."
Yisla tersenyum lebar, ia menoleh ke arah Julian dengan tatapan penuh kemenangan.
Sementara Julian hanya bisa mengusap dadanya, bernapas lega luar biasa.
Wush...
Suhu ruangan mendadak turun di dekat tungku. Duo Hemisphere menyebalkan itu lagi-lagi muncul.
"Keluar dari zona bahaya dengan tingkat keberhasilan 85%," desis Animus datar sembari melipat gulungan kertasnya. "Kerja bagus, Author."
"Aww, Kakak ipar ternyata pengertian banget ya~" timpal Anima menangkup kedua pipinya dengan mata berbinar.
"Besok di pasar kota harus jadi kencan yang tidak terlupakan!"
Julian mendengus lirih, sembari mengibaskan jarinya di belakang punggung agar kedua entitas itu segera lenyap sebelum dia tidak sengaja membentak angin di depan Vito dan Yisla lagi.