Jauh-jauh Arumi kuliah keluar negeri untuk belajar sekaligus melupakan mantan kekasihnya, namun takdir malah mempertemukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Nur Shaviera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Donor Darah 2
"Apa sudah selesai?"tanya Arumi yang diberi anggukan pada Kaivan.
"Sudah, sekarang giliranmu"ucap Kaivan yang membuat Arumi memasuki ruangan itu seorang diri dengan santainya.
"Apa aku tidak bisa menemaninya?"tanya Kenan.
"Memangnya kamu akan melakukan USG bayi, kita tuh mau donor darah harus butuh ruangan yang steril"ucap Kaivan yang hanya mampu membuat Kenan meliriknya saja.
...✴️...
"Selamat pagi nona Arumi"sapa Alina dengan senyum diwajahnya.
"Pagi dokter"ucap Arumi.
Arumipun duduk untuk diukur tensi darahnya serta diambil beberapa sample darahnya yang keluar dari jarinya dan ternyata semua berjalan dengan sangat baik.
Bahkan Alina tidak direpotkan dengan Arumi yang sangat patuh melakukan apapun yang dia minta, apalagi Arumi bukanlah tipe wanita yang berisik dan sangat bawel meminta banyak permintaan kepada dokter.
Setelah beberapa menit, semua berjalan dengan sangat lancar dan Arumi tentu diperbolehkan keluar ruangan oleh Alina, sungguh Alina sangat senang bila adik dari Kaivan itu adalah Arumi sebab wanita itu tidak ribet dari wanita-wanita yang butuh perhatian dari Kaivan.
"Kenan, aku sudah selesai"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.
"Apakah sakit?"tanya Kenan dengan khawatir melihat wajah Arumi, namun wanita itu hanya membalas dengan gelengan kepalanya.
"Tidak sakit kok, sekarang giliran kamu masuk"ucap Arumi yang mengingatkan laki-laki itu, Kenan yang diingatkan itu membuat wajahnya sedikit gusar dan Arumi tau itu.
"Ayo aku temani"ucap Arumi yang menggapai tangan Kenan dan masuk ke ruangan itu, Kaivan yang melihat dua pasangan sejoli itupun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Selamat pagi Pak Kenan"sapa Alina dengan senyum cantik diwajahnya.
Kaivan yang melihat wajah cantik Alina tersenyum pada Kenan merasa sangat tidak terima dan bahkan ada perasaan kesal, tidak suka pada Alina. Namun dirinya hanya diam saja, bersikap dingin seperti biasa oleh wanita itu.
"Pagi"ucap Kenan singkat.
"Apa saya ga apa-apa menemaninya untuk donor darah?"tanya Arumi pada sang dokter.
"Tentu boleh, pasti Pak Kenan akan butuh penyemangat yang cantik disisinya"ucap Alina.
Akhirnya Alinapun melakukan tugasnya layaknya dokter untuk mengecek kondisi pasien terlebih dahulu sebelum melakukan pengambilan darah untuk Kenan Abraham.
Saat pengambilan darah, tidak henti-hentinya Kenan bersembunyi dalam pelukan Arumi saat tertidur dikasur layaknya rumah sakit yang sudah disiapkan, bahkan Kenan tidak sama sekali berani melihat darahnya yang terus keluar dari tubuhnya.
Sedangkan Arumi hanya bisa menenangkan Kenan untuk selalu disamping laki-laki itu yang sangat terlihat takut namun dipaksakan untuk berani dihadapan seorang Kaivan Alvaro Gerald.
"Sudah selesai"ucap Alina yang sudah membereskan semuanya dengan telaten dan cekatan.
"Terima kasih dokter"ucap Arumi dengan tersenyum.
"Sama-sama"ucap Alina.
Setelah selesai melakukan pengambilan donor darah, akhirnya Kaivan memutuskan untuk mengantarkan Kenan dan Arumi untuk sampai didepan gedung perusahaannya yang sangat besar dan mewah.
"Baiklah, terima kasih Nona Arumi dan pak Kenan telah ikut serta dalam acara perusahaan Gerald"ucap Kaivan dengan ramah.
"Tidak perlu pak, saya juga senang kok kalau bisa membantu"ucap Arumi dengan senyum diwajanya.
...✴️...
Setelah kepergian Kenan dan Arumi, Kaivanpun kembali berjalan ke ruangan khusus itu untuk bertemu dengan Alina, mengecek apa semuanya sesuai rencananya.
"Alina"panggil Kaivan yang membuat Alina tersenyum padanya.
"Ada apa?"tanya Alina.
"Apa semuanya lancar?"tanya Kaivan.
"Alhamdulillah lancar, dan aku akan kembali ke Rumah Sakit sekarang untuk mengecek hasil darah kamu dengan Arumi"ucap Alina.
"Baiklah, aku akan mengantarmu biar aku bisa tenang"ucap Kaivan yang membuat hati Alina bersorak, walaupun Alina sangat tau bahwa Kaivan baik padanya hanya semata-mata karena darah Arumi dan Kaivan yang sangat ingin diketahui segera.
"Baiklah, aku beresin barangku lebih dulu dan juga biarkan para suster melakukan pekerjaannya untuk melakukan donor darah pada karyawanmu"ucap Alina sambil membereskan barang-barangnya dimeja.
"Iya"ucap Kaivan.
"Ayo barangku sudah selesai, dan aku sudah membawa darah kalian"ucap Alina yang berjalan disamping Kaivan.
Kaivanpun berjalan dengan Alina ke parkiran gedung perusahaannya untuk mengendarai mobil milik Kaivan menuju rumah sakit tempat Alina bekerja.
"Duduklah disampingku, aku bukan supir"perintah Kaivan yang membuat Alina duduk disamping laki-laki dingin itu.
Kaivanpun segera menancapkan gas mobilnya dan berjalan keluar dari gedung pencakar langit perusahaannya yang sangat besar itu, mengabaikan pekerjaannya untuk hari ini.
"Apakah kamu tidak merasa sakit membawa mobil seperti itu?"tanya Alina yang khawatir dengan tangan Kaivan yang baru saja diambil darahnya, namun laki-laki itu diam dan tidak sama sekali menjawab pertanyaannya.
Entahlah sudah berapa lama Alina bertahan dengan sikap dingin dan acuh Kaivan pada dirinya dan sudah berapa kali juga Alina merasakan sakit hati yabg luar biasa mendengar kabar gosip-gosip diluar sana tentang Kaivan dan wanita-wanita lain, namun laki-laki itu sama sekali tidak memberikan jawaban dari mulutnya.
"Oh iya, tadi aku sempat bercerita selama pengambilan darah dengan Arumi, bahwa dia kuliah diluar negeri dengan beasiswa full. Mungkin benar dia adalah adikmu, soalnya otak kalian sama-sama cerdas"oceh Alina membahas Arumi, namun Kaivan sama sekali tidak menggubris ucapan wanita itu.
Semenjak kecurigaan Kaivan pada Arumi, Kaivan meminta orang suruhannya mencari tau tentang latar belakang Arumi secara menyeluruh untuk tau kehidupan apa yang sudah dilalui wanita itu. Ternyata hidup Arumi cukup menyedihkan, dan dia sangat tidak bisa membayangkan bahwa Arumi adalah adiknya, dia mungkin akan terus merasa bersalah dengan kondisi hidup yang adiknya lalui untuk sejauh ini, apalagi mendengar keluarga Abraham yang sangat menentang hubungan Kenan dan Arumi.
Bahkan Kaivan sudah berjanji pada dirinya sendiri jika Arumi memang benar adiknya yang telah lama hilang, dan sikap orang-orang yang masih menghina Aruni terus menerus akan dibalasnya dengan seribu kali lipat dengan air mata yang dikeluarkan adiknya.
'Tidak akan aku biarkan adikku menangis disisiku, dan aku akan terus menjaganya sampai titik darah penghambisan'batin Kaivan yang mengingat lika liku kehidupan Arumi.
"Kaivan, kita kelewatan"ucap Alina yang mengingatkan Kaivan bahwa mereka sudah lewat dari rumah sakit Medika Gerald tempatnya bekerja.
"Maaf"ucap Kaivan yang langsung memutarkan mobilnya untuk menuju rumah sakit.
"Apa kamu memikirkan adikmu?"tanya Alina yang diberikan anggukan pada Kaivan. "Tenang saja, pasti adikmu akan bangga dan merasa disayangi punya abang sepertimu"
"Terima kasih"ucap Kaivan yang kembali mengingat ucapan Alina yang sama persis dengan yang Arumi katakan saat mereka rapat di perusahaan Abraham untuk membahas rumah impian adik perempuannya yang entah kemana berada.
*****
Jangan lupa untuk dukung novel ini terus ya! 😊
JANGAN LUPA KLIK LIKE YA! 🙏
JANGAN LUPA KLIK FAVOURITE! ❤
JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA!
TERIMA KASIH! 🤗
Lanjut thor