NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Keesokan paginya, aroma bacon dan kopi murahan menyeruak dari arah dapur, menembus celah bawah pintu kamar Issabelle yang sempit.

Gadis itu sudah terbangun sejak pukul empat pagi—sebuah kebiasaan lama yang tertanam kuat akibat pelatihan kedisiplinan di mansion Reichenbach.

Ia telah merapikan tempat tidurnya hingga tak ada satu pun lipatan tersisa, lalu mengenakan seragam barunya: sebuah kemeja putih polos dan rok lipit berwarna biru tua yang untungnya tidak terlalu longgar di tubuhnya yang ramping.

Ketika Issabelle melangkah keluar dan menuju ruang makan, suasana di sana sudah cukup berisik.

Rumah sederhana keluarga Wadde’ ini memiliki ruang makan yang menyatu langsung dengan dapur, dipisahkan hanya oleh sebuah meja konter kayu yang catnya sudah mulai mengelupas.

Sumber kebisingan itu berasal dari seorang anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun yang duduk di salah satu kursi.

Ia mengenakan baju seragam junior high school (SMP) setempat.

Mulutnya sibuk mengunyah roti panggang sambil sesekali mengetukkan sendok ke atas meja, menciptakan ketukan yang konstan dan mengganggu.

Namun, hal yang paling menjengkelkan adalah bagaimana sejak tadi anak ingusan itu terus saja menatap Issabelle.

Sepasang matanya yang bulat dan penuh rasa ingin tahu yang lancang tidak lepas dari sosok Issabelle sejak gadis itu menginjakkan kaki di ruang makan.

"Toby, habiskan sarapanmu dan berhenti memukul-mukul meja," tegur Sloane dengan nada lelah.

Wajah wanita itu tampak lebih tua di bawah cahaya lampu dapur yang terang. Lingkar hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia tidak tidur nyenyak semalam.

Begitu menyadari kehadiran Issabelle, Sloane buru-buru meletakkan teko kopi dan mencoba mengulas senyum ramah, meski senyuman itu tampak sangat dipaksakan.

"Ah, Issabelle... kau sudah bangun. Kemari, duduklah. Ibu akan memperkenalkanmu pada saudara-saudarimu."

Harrison tidak ada di meja makan.

Pria itu tampaknya sudah berangkat ke bengkelnya sejak pagi buta, sebuah berkah kecil yang disyukuri Issabelle karena ia tidak perlu mendengar gonggongan pria itu sepagi ini.

Sloane menunjuk anak laki-laki yang masih terus menatap Issabelle dengan pandangan menyelidik.

"Ini Toby, adikmu. Dia baru kelas delapan." Toby hanya mendengus, tidak menyapa, namun matanya tetap terkunci pada Issabelle seolah-olah gadis itu adalah makhluk asing yang jatuh dari planet lain.

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berisik terdengar dari arah tangga kayu.

Dua orang gadis remaja turun dengan tergesa-gesa, membawa aura parfum menyengat yang langsung memenuhi ruangan kecil itu.

Mereka adalah si kembar, kakak tiri Issabelle yang berusia 18 tahun.

Issabelle memperhatikan mereka dengan saksama, dan sudut bibirnya hampir saja berkedut jika ia tidak pandai mengendalikan ekspresi wajahnya.

Salah satu dari si kembar—yang kemudian diketahui bernama Chloe Wade'—mengenakan seragam high school yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga terlihat sangat ketat dan bikin sesak napas.

Roknya dilipat beberapa kali di bagian pinggang agar terlihat sangat pendek, sementara kancing kemeja atasnya dibiarkan terbuka, memamerkan kalung perak murah.

Yang paling mengerikan adalah dandanannya. Untuk ukuran anak sekolah di pagi hari, riasan wajah Chloe benar-benar menor.

Maskaranya tebal menggumpal, perona pipinya terlalu merah, dan lipstiknya berwarna merah muda menyala yang sama sekali tidak cocok dengan warna kulitnya.

Melihat Chloe, Issabelle mendapati dirinya teringat pada badut kandang kuda di mansion mewah milik sang Daddy di Jerman.

Bahkan badut yang bertugas menghibur para tamu di festival tahunan keluarganya jauh lebih memiliki selera estetika ketimbang gadis remaja di depannya ini.

Chloe tampak seperti usaha gagal dari seorang gadis pinggiran yang ingin terlihat seperti sosialita Beverly Hills.

Berbeda terbalik dengan kembarannya, gadis yang satunya lagi—Claire—tampak terdiam saja.

Ia mengenakan seragamnya dengan rapi, tanpa modifikasi yang aneh-aneh.

Wajahnya polos tanpa riasan tebal, rambutnya hanya dikuncir kuda sederhana, dan penampilannya terlihat biasa saja.

Claire Wade' duduk di kursinya tanpa mengeluarkan suara, langsung mengambil sepotong roti dan menunduk, seolah mencoba menghapus eksistensinya sendiri dari meja makan yang bising itu.

"Dan ini Chloe dan Claire," ucap Sloane, memperkenalkan si kembar dengan nada cemas, matanya melirik Chloe yang sudah mulai memasang wajah masam.

"Mereka kakak tirimu. Mereka berada di tingkat akhir di high school tempatmu akan bersekolah mulai hari ini."

Chloe menghentakkan tas sekolahnya ke atas lantai, lalu menatap Issabelle dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.

"Jadi ini anak haram dari Jerman itu?" cetusnya tanpa tedeng aling-aling, suaranya melengking tinggi. "Kuharap dia tidak membuat malu nama keluarga kita di sekolah. Mom, pastikan dia tidak berjalan dekat-dekat denganku di koridor nanti."

Sloane memucat. "Chloe, jaga bahasamu..."

"Apa? Dad benar, kan? Dia cuma beban baru di rumah ini," sahut Chloe ketus sambil meraih sebotol jus jeruk dari kulkas.

Issabelle tidak menanggapi. Ia bahkan tidak menyentuh roti yang disodorkan Sloane ke piringnya. Ia hanya berdiri tegak, mengamati kedunguan yang terpampang nyata di depan matanya.

Di dunia Reichenbach, orang-orang seperti Chloe biasanya adalah tipe pertama yang akan dieksploitasi dan dihancurkan tanpa sisa karena kebodohan mereka yang terlalu vokal.

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi ketika mereka bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Mereka harus menunggu bus jemputan sekolah di halte yang terletak di dekat jalan utama, beberapa blok dari rumah sederhana mereka.

Sebelum melangkah keluar dari pintu depan, Issabelle sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan Toby, Chloe, dan Claire berjalan lebih dulu menyusuri halaman depan.

Sloane berdiri di ambang pintu, menatap putrinya dengan pandangan penuh harap dan rasa bersalah yang tak berkesudahan.

Wanita itu membuka mulutnya, mungkin hendak memberikan kata-kata motivasi atau nasihat keibuan yang klise.

Namun, sebelum Sloane sempat mengeluarkan satu patah kata pun, Issabelle berbalik.

Ia menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang telah melahirkannya itu.

Tatapan mata abu-abu Issabelle begitu dingin, tajam, dan menusuk, membuat kata-kata Sloane tercekat di tenggorokan.

Dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik namun penuh dengan penekanan yang mematikan, Issabelle berucap,

"Bagaimana mungkin kau menjadi wanita memuakkan selama bertahun-tahun?"

Singkat. Padat. Dan sangat menghancurkan.

Sloane terpaku, wajahnya seketika kehilangan seluruh rona darah. Ia menatap Issabelle dengan mata membelalak, air mata langsung menggenang di pelupuk matanya yang bergetar.

Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah vonis penghinaan tertinggi dari seorang anak kandung yang melihat ibunya hidup bagai budak tanpa harga diri demi seorang pria kelas pekerja yang kasar.

Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut atau tangisan dari ibunya, Issabelle berbalik dengan anggun. Ia membenarkan letak tali tas sekolahnya dan melangkah dengan tenang menuju jalan utama, bergabung bersama ketiga saudara tirinya yang berjalan beberapa meter di depannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Issabelle Reichenbach akan menggunakan bus umum—atau dalam hal ini, bus sekolah kuning yang ikonik di Amerika.

Di Jerman, ia selalu bepergian dengan limosin antipeluru berpenyejuk udara, dikawal oleh konvoi empat mobil SUV hitam yang diisi oleh para pengawal bersenjata lengkap.

Menunggu di tepi jalan bersama anak-anak remaja yang berisik dan menghirup asap knalpot adalah pengalaman baru yang cukup menguji tingkat toleransinya.

Sambil berdiri agak jauh dari si kembar dan Toby, Issabelle meraba saku roknya, memastikan ponsel pintarnya yang telah berada di sana.

Tadi malam, sebelum tidur, Martha—kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan ayahnya—sudah mengirimkan semua informasi penting mengenai sekolah barunya melalui saluran komunikasi rahasia.

Issabelle mengingat kembali data yang telah dihafalnya dengan cepat.

Sekolah yang akan dimasukinya adalah Oakridge High School.

Berdasarkan data yang dikirimkan Martha, sekolah itu ternyata adalah sebuah high school swasta bergengsi yang menampung anak-anak dari kalangan kaya raya di distrik tersebut.

Fasilitasnya nomor satu, dan mayoritas muridnya adalah anak-anak pengusaha, politikus lokal, dan selebritas pinggiran kota.

Hal yang membuat Issabelle merasa hal ini sangat gila adalah kenyataan bahwa Harrison—suami ibunya yang semalam berteriak-teriak kekurangan uang untuk makan—ternyata memaksakan diri untuk menyekolahkan semua anaknya di sekolah mahal tersebut.

Dari informasi tambahan yang digali Martha, Harrison melakukan hal itu semata-mata demi gengsi sosial yang semu.

Pria itu rela berutang dan memotong biaya hidup rumah tangga secara ekstrem hanya agar dua putri kembarnya bisa bergaul dengan anak-anak kelas atas dan meningkatkan status sosial keluarga mereka.

Sebuah keputusasaan kelas pekerja yang sangat menggelikan di mata Issabelle.

Dan dirinya sendiri? Harrison jelas tidak akan sudi mengeluarkan satu sen pun untuk membiayai sekolah "anak haram" istrinya.

Oleh karena itu, melalui koneksi bawah tanah dan manipulasi dokumen yang dilakukan oleh jaringan ayahnya di Jerman, Issabelle dimasukkan ke sekolah elit itu dengan status yang sangat kontras: jalur beasiswa akademik penuh.

Di sekolah yang dipenuhi oleh remaja-remaja kaya yang sombong dan gila merek, status sebagai "murid beasiswa" adalah target empuk untuk perundungan.

Namun, itulah yang diinginkan oleh ayahnya. Jangan terlihat menonjol. Tetaplah berada di bawah radar.

Status murid miskin berprestasi adalah topeng perlindungan terbaik untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai pewaris tunggal klan von Reichenbach.

TIIIT!

Suara klakson keras memecah lamunan Issabelle.

Bus sekolah berwarna kuning terang berhenti tepat di depan halte dengan derit rem yang memekakkan telinga.

Pintunya terbuka, memuntahkan hawa hangat dan kegaduhan dari dalam kabin yang sudah dipenuhi oleh puluhan murid.

Chloe langsung melompat naik dengan gaya centilnya, melambaikan tangan pada beberapa temannya yang berada di kursi belakang sambil tertawa keras—suara tawa yang kembali mengingatkan Issabelle pada derihan kuda di kandang mansionnya.

Claire mengikuti di belakangnya dengan tenang, sementara Toby berjalan menuju deretan kursi depan yang diisi oleh anak-anak junior high.

Issabelle melangkah naik paling akhir.

Saat kakinya menginjak lantai bus yang dilapisi karet hitam, ia bisa merasakan beberapa pasang mata mulai beralih menatapnya.

Sebagai murid baru di pertengahan semester, kehadirannya jelas memicu rasa ingin tahu.

Ditambah lagi dengan wajahnya yang memiliki garis keturunan Eropa klasik yang tegas, kulit putih pucat yang kontras, dan sepasang mata abu-abu sedalam lautan badai yang memancarkan ketenangan yang tidak biasa untuk remaja seusianya.

"Hei, siapa gadis baru itu?" samar-samar Issabelle mendengar bisikan dari kursi baris ketiga.

"Entahlah, tapi lihat sepatunya. Itu bukan barang bermerek," sahut yang lain, terkekeh pelan.

Issabelle mengabaikan bisikan-bisikan tidak bermutu itu. Ia berjalan menyusuri lorong bus yang sempit dengan langkah yang stabil dan punggung yang tetap tegak lurus.

Ia tidak mencari tempat duduk di dekat si kembar. Sebaliknya, ia memilih kursi kosong di baris paling belakang, tepat di sudut dekat jendela.

Begitu ia duduk, ia menatap keluar jendela, memperhatikan deretan rumah pinggiran kota Los Angeles yang mulai bergerak mundur saat bus mulai berjalan.

Di dalam kepalanya, kode-kode rekening bank Swiss kembali berputar, tersusun rapi bagai barisan tentara yang siap diperintah kapan saja.

Uang ratusan juta Euro miliknya sedang tertidur di sana, menanti saat yang tepat untuk dibangunkan.

Dua tahun. Hanya dua tahun ia harus berpura-pura menjadi gadis beasiswa yang malang, menerima pandangan merendahkan dari orang-orang bodoh seperti Chloe, dan menyaksikan drama domestik ibunya yang menyedihkan.

Bus sekolah itu terus melaju membelah jalanan aspal Amerika yang panas, membawa Issabelle Reichenbach menuju sarang serigala remaja yang mengira mereka menguasai dunia dengan uang orang tua mereka.

Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa di kursi paling belakang bus itu, sedang duduk seorang ratu yang sanggup membeli seluruh masa depan mereka jika ia mau.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!