Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biar Aku Bantu
Mendengar ucapan Dandi yang kurang ajar, suasana di bengkel yang pengap itu mendadak menjadi sedingin es. Daniel tidak memberikan peringatan verbal, ia hanya bergerak secepat kilat.
Dengan satu tangan yang masih berbalut sisa handwrap, ia menyambar kerah kaos singlet Dandi dan mendorongnya hingga membentur lemari perkakas besi dan beberapa kunci pas jatuh berserakan di lantai semen.
"Jaga mulut dan mata lo! Atau gue pastikan besok lo nggak bisa lihat mesin motor lagi," geram Daniel dengan suara rendah yang sangat mengancam.
Matanya yang merah karena pecahnya pembuluh darah akibat pukulan di arena tadi, kini berkilat penuh amarah, Dandi mengangkat kedua tangannya, wajahnya pucat pasi.
"Oke, oke! Ampun, El! Gue refleks, lagian... ya lo liat sendiri kondisinya!" ucap Dandi.
Rachel yang baru menyadari bahwa roknya tersingkap akibat posisi berlututnya tadi, langsung menarik kain tersebut dengan wajah yang merona merah padam, rasa malu dan marah campur aduk di dadanya.
"Masuk kamar sana," ucap Daniel.
"Oke, gue masuk," ucap Dandi lalu berlari masuk ke kamarnya.
Daniel kembali menghampiri Rachel, "Tunggu disini," ucap Daniel.
Daniel melangkah masuk ke kamar sempit di balik tumpukan ban, tempat ia dan Dandi biasanya beristirahat. Dandi yang masih gemetaran karena gertakan Daniel tadi, duduk di pinggir kasur tipisnya sambil memerhatikan Daniel yang membongkar isi lemari.
"El, lo serius? Cewek itu... dia beneran mau nginep di sini?" tanya Dandi pelan agar tidak terdengar ke depan.
Daniel tidak menjawab, ia menarik sebuah kaos hitam polos berukuran besar dan sebuah celana training yang masih cukup bersih. Dandi bangkit dan mendekati Daniel dengan senyum licik yang mulai kembali muncul, ia menyikut lengan Daniel yang penuh luka.
"Gue tahu dia cantik banget, El. Kulitnya... buset, bening bener. Lo kalau mau main sama dia malam ini, mending lo kalem dikit, kasih dia minum yang agak kuat, biar dia rileks. Tahu sendiri kan, cewek kayak gitu biasanya lebih berani kalau udah agak pusing," ucap Dandi sambil memberikan kedipan mata yang menjijikkan.
Daniel berhenti bergerak, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol. Tanpa peringatan, ia mencengkeram leher Dandi dan menekannya ke dinding kayu kamar tersebut.
"Satu kali lagi lo buka mulut soal dia dengan nada kayak gitu, gue nggak bakal cuma buat cacat tangan lo, Dan. Gue bakal usir lo dari bengkel ini sekarang juga," ancam Daniel, dengan suaranya yang sangat rendah hingga terdengar mengerikan.
Dandi mengangguk cepat dengan wajah ketakutan, Daniel melepaskannya dengan kasar lalu menyambar baju-baju itu dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan, di luar kamar. Rachel duduk di kursi plastik, tangannya saling bertautan di atas pangkuan, ia merasa sangat tidak nyaman di lingkungan yang penuh bau bensin dan perkakas ini. Namun, saat Daniel muncul, ketegangannya sedikit mereda.
"Ganti bajumu, kau nggak bisa pakai gaun kotor itu sepanjang malam," ucap Daniel sambil menyodorkan pakaian tadi.
"Di sana ada kamar mandi, pintunya bisa dikunci dari dalam, pakainya gerendel besi," lanjutnya.
Rachel menerima pakaian itu, "Terima kasih," jawab Rachel.
Saat Rachel masuk ke kamar mandi, Daniel menyandarkan punggungnya ke pintu gulung besi bengkel, ia memejamkan mata dan menahan rasa sakit di rusuknya yang mungkin retak.
Pikirannya kacau, ia tahu orang-orang berbaju jas itu bukan lawan sembarangan, mereka adalah orang-orang yang punya uang, kekuasaan dan senjata.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Rachel keluar dengan kaos hitam Daniel yang terlihat sangat besar di tubuhnya yang mungil. Celana training itu harus ia ikat kencang agar tidak melorot, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini dibiarkan tergerai acak-acakan.
Daniel membawa Rachel ke sebuah ruangan kecil di bagian paling belakang bengkel, ruangan itu tersembunyi di balik dinding triplek tebal yang disamarkan oleh deretan rak ban motor. Saat Daniel membuka pintunya, Rachel tertegun.
Berbeda dengan area bengkel yang penuh noda oli dan debu logam, kamar ini begitu kontras. Hanya ada sebuah tempat tidur kayu dengan seprai abu-abu yang terpasang rapi, sebuah meja kecil dengan tumpukan buku teknik mesin dan sebuah lampu meja yang memberikan cahaya kuning hangat. Tidak ada aroma bensin, yang ada hanyalah wangi samar sabun batangan dan kayu kering.
"Tidurlah di sini, ini kamarku dan aku jarang menempatinya," ucap Daniel singkat sambil meletakkan segelas air putih di meja kayu.
Rachel memperhatikan sekeliling dan merasa sedikit lebih tenang, "Kenapa kamarmu... sebersih ini? Aku pikir kamu tipe orang yang bisa tidur di mana aja," tanya Rachel.
Daniel terhenti di ambang pintu, tangannya masih memegang kusen kayu. "Hanya karena hidupku di jalanan, bukan berarti aku harus membiarkan tempatku beristirahat menjadi tempat sampah. Kamu butuh istirahat, Rachel. Besok pagi, aku akan memikirkan cara agar kamu bisa bertemu Om Brian tanpa diikuti orang-orang itu lagi," ucap Daniel.
"Daniel," panggil Rachel pelan saat pria itu hendak menutup pintu.
"Apa?" tanya Daniel.
"Terima kasih, untuk semuanya," ucap Rachel.
Daniel hanya mengangguk tanpa menoleh lalu menutup pintu dengan rapat dan membiarkan Rachel dalam kesunyian yang sedikit lebih bersahabat.
Pukul tiga dini hari, Rachel terbangun karena suara gemerincing kunci-kunci pas yang jatuh ke lantai semen di area depan. Ia bangkit dari kasur, jantungnya kembali berdegup kencang karena mengira orang-orang suruhan ibunya berhasil menemukan tempat itu. Dengan langkah pelan, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Di bawah lampu yang berkedip, ia melihat Daniel sedang duduk di lantai semen, bertelanjang dada. Pria itu tampak sedang berusaha mengobati luka di punggungnya sendiri dengan cermin kecil yang diletakkan di atas ban motor dan merintih pelan saat kapas beralkohol menyentuh luka robek akibat hantaman tongkat besi semalam.
Rachel tidak bisa hanya diam melihat hal itu, ia keluar dari kamar dan mendekat. "Biar aku bantu," ucap Rachel.
Daniel tersentak, hampir saja ia meraih kunci inggris di sampingnya sebagai senjata. "Aku bilang tidur, Rachel," ucap Daniel.
"Dan aku bilang biar aku yang bantu, kamu menyelamatkanku, setidaknya ini yang bisa kulakukan," balas Rachel dan mengambil alih kapas dari tangan Daniel.
Saat tangan Rachel yang halus menyentuh kulit punggung Daniel yang keras dan penuh otot, ia bisa merasakan panas tubuh pria itu. Ada begitu banyak bekas luka di sana, beberapa terlihat seperti bekas sayatan lama dan yang lainnya adalah lebam baru yang mulai membiru.
"Kenapa kamu harus bertarung di tempat seperti itu? Kamu punya bakat memperbaiki mesin, kenapa harus mempertaruhkan nyawa di sana?" tanya Rachel sambil menekan luka itu dengan lembut.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁