Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Jebakan Yang Manis
Minimarket itu tidak terlalu ramai. Hanya ada dua orang kasir dan satu pelanggan lain yang sedang memilih mie instan.
Sreeettt
Suara tarikan tangan membuat Keenan menoleh cepat. Refleksnya langsung kaku.
"Clara..." pekiknya tertahan.
Clara. Wanita dengan rambut sebahu, bibir merah, dan tubuh ramping yang selalu tahu cara berpakaian seksi. Mantan sahabat Netha. Sekarang musuh bebuyutan Netha. Dan sekarang, kekasih gelap Keenan.
Tanpa basa-basi, Clara menarik pergelangan tangan Keenan dan membawanya keluar dari minimarket, menuju gang kecil di samping toko yang agak sepi.
Keenan langsung menyentak tangannya. "Lepas."
Ia celingukan ke kiri dan kanan. Matanya waspada. Memastikan tidak ada orang yang kenal dengannya. Satu kesalahan kecil saja bisa hancur semuanya kalau sampai berita ini sampai ke telinga Netha.
"Auh, kasar banget sih kamu, Keen," protes Clara sambil menggosok pergelangannya. "Sakit tau."
Keenan menghela napas kesal. "Kamu itu yang apa-apaan? Tiba-tiba narik aku di depan umum. Kalau sampai ada yang lihat bisa hancur semuanya, tau nggak!"
Entah kenapa, bertemu Clara di saat seperti ini malah membuatnya semakin kesal. Satu masalah dengan Netha belum selesai. Urusan kontrak, ultimatum, Queen. Sekarang Clara muncul seperti bom waktu. Kalau ada kerabat atau kenalan yang lihat mereka berdua, urusannya bisa panjang.
Clara memajukan bibirnya. Wajahnya langsung berubah sedih. "Kamu ini kenapa sih, sayang? Kok jadi marah-marah gini sama aku? Kamu udah nggak cinta lagi sama aku?"
"Ckkk... aku nggak bermaksud seperti itu, Ra," jawab Keenan. Suaranya lebih pelan, tapi matanya tetap melirik ke kanan-kiri seperti maling. "Aku hanya takut kalau ada seseorang yang kenal sama kita dan lihat kita lagi bersama. Terus ngadu ke Netha. Bisa runyam urusannya."
Clara mencebik. "Oh, jadi kamu takut ketahuan sama istri kamu gitu? Iya?"
"Ya jelas lah, Ra," sentak Keenan. "Kamu tahu kan, beberapa bulan ini aku lagi bangun hubungan baik lagi sama Netha. Kalau sampai dia tahu aku masih menjalin hubungan sama kamu, bisa-bisa dia ngamuk dan marah besar sama aku."
Clara menyilangkan tangan di dada. "Aku nggak peduli, ya, Keen. Mau istrimu ngamuk, mau istrimu marah, aku benar-benar nggak peduli. Sekarang yang aku mau, kamu nikahin aku. Sekarang juga."
Keenan tergelak. Tapi gelak itu kering. "Apa?"
"Iya, nikahin aku sekarang juga," ulang Clara tegas. "Aku nggak peduli kamu udah cerai sama istrimu atau belum. Pokoknya kamu harus cepat-cepat nikahin aku. Titik."
"Jangan gila kamu, Ra," kelakar Keenan sambil menggeleng. "Mana mungkin aku nikahin kamu, sementara aku masih punya istri dan belum cerai sama Netha."
Clara tersenyum miring. Senyumnya licik. "Karena aku hamil anak kamu. Di rahimku ada darah dagingmu, Keenan Jeremi."
Keheningan.
Satu detik. Dua detik.
"Ha... hamil?!" pekik Keenan. Matanya terbelalak. Bibirnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.
"Iya, aku hamil, Keen," jawab Clara sambil senyum merekah. "Dan aku minta secepatnya kamu nikahin aku sebelum perutku makin besar."
Keenan menggeleng. Ia menatap perut rata Clara dengan tidak percaya. "Ka... kamu nggak sedang bercanda kan, Ra? Kamu nggak sedang ngeprank aku kan?"
Clara menggeleng cepat. Ia menggenggam tangan Keenan dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku serius, Keen. Aku hamil anak kamu. Tadi pagi aku periksa ke dokter kandungan. Positif. Hamil anak kamu, sayang."
Keenan memejamkan mata. Napasnya berat. Rasa bersalah dan panik datang bersamaan. Ia membuka mata lagi, menatap wajah Clara yang cantik karena hasil oplas itu.
"Ini... ini nggak mungkin," lirihnya.
"Kok kamu ngomongnya kayak gitu, sih, sayang?" cerca Clara. "Kamu nggak senang dengar kabar kehamilanku? Kamu nggak bahagia karena sebentar lagi aku bakal kasih kamu anak yang lahir dari rahimku?"
"Masalahnya aku masih punya istri, Ra," jawab Keenan jujur. "Statusku masih suami orang. Dan kita... kita cuma sebatas kekasih."
"Apaa?!" Clara melot. "Lalu apa masalahnya kalau kamu masih suami wanita lain dan status kita cuma sebatas kekasih, hah?"
"Ya jelas masalah lah," jawab Keenan spontan. "Nggak segampang itu aku nikahin kamu, Ra. Aku harus izin sama istri aku."
Clara langsung naik darah. Dadanya naik-turun. "Pas kamu selingkuh sama aku, kenapa nggak izin sekalian sama istri kamu itu, Keen?! Kenapa cuma perkara nikah buat tanggung jawab atas kehamilanku harus minta izin sama istri kamu?! Aku benar-benar nggak habis pikir sama jalan pikiran kamu! Kamu egois!"
Argghh... Pusing," desis Keenan sambil mengusap wajahnya kasar.
Clara sudah kepalang cinta. Ia harus dapat Keenan seutuhnya. Apalagi ada anak di rahimnya. Itu kartu truf terbaik. Ia akan rela jadi istri kedua dulu. Setelah itu, ia akan cari cara menyingkirkan Netha.
"Kamu nggak usah khawatir," kata Clara pelan. Air matanya jatuh. "Aku bersedia kok jadi istri kedua kamu. Meski nikahin aku secara siri nggak apa-apa. Setidaknya ada kejelasan status buat bayi yang sedang aku kandung. Aku mohon, Keen."
Keenan tipe pria yang tidak tahan lihat wanita menangis. Hatinya luluh sedikit demi sedikit. Bagaimanapun, ia juga sayang Clara. Dialah yang merenggut keperawanan Clara. Mau tidak mau, ia harus tanggung jawab.
Keenan menangkup wajah Clara. Jempolnya mengusap air mata di pipi gadis itu. "Maafin aku, ya. Aku tadi bukan bermaksud nyakitin kamu."
"Hiks... hiks..."
"Ssstt, udah jangan nangis lagi, sayang," bisik Keenan lembut. Ia menarik Clara ke dalam pelukannya. "Aku akan tanggung jawab. Aku janji secepatnya akan segera menikahimu."
Clara langsung membenamkan wajah di dada Keenan. Tapi di balik pelukan itu, sudut bibirnya terangkat. Senyum kemenangan.
'Yess... selangkah lagi kamu jadi milikku seutuhnya, Keenan. Seutuhnya,' batin Clara.
Di sisi lain kota, di lokasi syuting, suasana tidak jauh lebih tenang.
"Uhuk... uhuk... uhuk..."
Netha tersedak. Roti bakar yang baru digigitnya nyangkut di tenggorokan.
"Pelan-pelan, Tha," ujar Inka sambil buru-buru menuang air putih ke gelas dan menyodorkannya.
Netha meneguk sampai habis. Napasnya lega. "Thanks, Ka."
Inka duduk di sebelahnya. "Lo kenapa sih, Tha? Dari tadi gue liat nggak fokus. Salah terus pas take."
Netha menggeleng. "Entahlah, Ka. Tiba-tiba aja perasaan gue nggak enak."
"Kenapa? Masih mikirin masalah laki lo yang edan itu?" tanya Inka dengan tatapan selidik.
Netha diam. Pandangannya kosong. Pikirannya semrawut. Sejak pagi ia disuruh Keenan berhenti kerja. Diancam cerai. Diancam dibawa pergi Queen. Di kamar tadi pagi ia masih bisa menahan tangis. Sekarang, di lokasi, semuanya numpuk.
Inka menghela napas. "Udahlah, Tha. Masalah itu kita pikirin nanti. Sekarang lo harus fokus. Ingat, lo pemeran utama di film ini. Lo harus kasih yang terbaik. Lo udah di titik ini karena kerja keras lo sendiri. Lo salah satu artis papan atas yang kariernya cemerlang. Jangan sampai ngecewain penggemar dan orang-orang di sekitar lo. Gue yakin lo pasti nemu jalan keluarnya."
Netha tersenyum kecut. Tapi ada energi baru di matanya. "Thanks, ya, Ka. Kamu selalu ada buat gue. Pokoknya kamu yang terbaik."
Inka menepuk bahu Netha. "Sudah, sekarang gue temenin lo balik ke set. Satu take lagi. Kalau salah lagi, gue yang traktir makan malam."
Netha tertawa kecil. "Deal."
Mereka berjalan ke arah kru. Tapi sebelum Netha melangkah, ponselnya bergetar. Nama Keenan muncul di layar.
Jantung Netha langsung berdegup kencang. Ia menatap layar itu selama tiga detik sebelum akhirnya menekan tombol hijau.
"Halo, Mas?" suaranya hati-hati.
Di seberang sana, Keenan diam dua detik. "Kita ketemu malam ini. Di rumah. Aku mau bicara penting."
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak lembut. Tapi justru itu yang membuat Netha semakin takut.
"Baik, Mas," jawab Netha pelan sebelum panggilan terputus.
Inka menatapnya. "Siapa?"
"Keenan," jawab Netha. "Dia mau bicara malam ini."
Inka langsung mengerutkan kening. "Hati-hati, Tha. Jangan pulang sendirian kalau bisa. Gue anterin ya nanti."
Netha mengangguk. Tapi dalam hati, ia tidak tahu apa yang akan menantinya di rumah.
Malam tiba lebih cepat dari biasanya. Langit ibukota Jakarta terlihat mendung. Angin berembus dingin.
Netha pulang dengan diantar Inka. Ia berdiri di depan pintu rumahnya selama hampir satu menit sebelum akhirnya memutar kunci.
Keenan sudah duduk di sofa. Lampu temaram. Di meja ada dua gelas air putih. Tapi tidak ada Queen. Rumah terasa terlalu sunyi.
"Queen di mana, Mas?" tanya Netha begitu masuk.
"Dibawa Mama," jawab Keenan singkat tanpa menoleh. "Biar kita bisa bicara berdua."
Netha menutup pintu. Jantungnya berdebar. "Mau bicara apa?"
Keenan menoleh. Wajahnya sulit dibaca. "Duduk."
Netha duduk di ujung sofa, menjaga jarak. Ia mengepalkan tangan di pangkuannya.
Keenan menarik napas panjang. "Aku... aku minta maaf soal pagi tadi. Aku emosi. Aku nggak seharusnya ngancam kamu."
Netha mengangkat wajahnya. Kaget. Ini pertama kalinya Keenan minta maaf dengan tulus.
"Tapi," lanjut Keenan. "Aku tetap mau kamu berhenti kerja. Alasannya bukan cuma Queen. Ada hal lain."
Netha mengerutkan kening. "Hal lain apa?"
Keenan diam. Ia menatap lantai. Jemarinya saling bertaut. Setelah beberapa detik, ia bicara dengan suara pelan.
"Aku... aku punya masalah, Tha. Masalah besar. Dan kalau kamu tetap kerja, masalah itu bisa nyeret kamu juga. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."
Netha bingung. "Masalah apa? Utang? Atau... apa kamu selingkuh lagi, Mas?"
Pertanyaan terakhir itu keluar tanpa sadar. Dan begitu keluar, udara di ruangan itu langsung membeku.
Keenan menatap Netha tajam. "Jangan nuduh kalau kamu nggak punya bukti."
Netha berdiri. "Karena setiap kali Mas marah kayak gini, ujung-ujungnya Mas punya rahasia yang disembunyiin dari aku!"
"Jaga bicara kamu!" bentak Keenan. Ia juga berdiri.
Netha tidak mundur. "Aku cuma mau jujur, Mas. Kalau ada masalah, kita selesaikan bareng. Bukan dengan cara ngancem aku atau nyuruh aku berhenti kerja."
Keenan terdiam. Rahangnya mengeras. Ia berjalan ke jendela dan membuka tirai. Menatap keluar.
"Aku nggak bisa cerita sekarang," katanya akhirnya. "Tapi percaya sama aku. Sekali ini aja. Berhenti kerja. Demi kamu. Demi Queen. Demi aku."
Netha menatap punggung suaminya. Pria yang dulu ia cintai. Pria yang pernah menyakitinya. Pria yang sekarang minta dipercaya lagi.
Air matanya jatuh tanpa suara.
"Baik, Mas," bisiknya. "Aku akan pikirkan."
Keenan tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya di gagang tirai.
Dan di luar sana, di balik pepohonan gelap, ada bayangan seseorang yang sedang memotret mereka dari kejauhan.
Kamera berklik pelan.
TBC