NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Keesokan paginya, pancaran sinar matahari hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden Kamar 304.

Setelah merapikan diri dan mengganti pakaian dengan baju baru yang dibelikan Daniel semalam, keduanya memutuskan untuk segera kembali ke rumah.

Perjalanan pulang kali ini terasa sangat berbeda—tidak ada lagi keheningan yang mencekam, yang ada hanyalah jemari yang saling bertautan erat di atas kemudi.

Daniel dan Amira pulang ke rumah mewah mereka.

Begitu pintu utama terbuka, langkah kaki kecil terdengar berlari tergesa-gesa dari arah ruang tengah.

Sambutan Felia yang polos seketika memecah keheningan rumah.

Balita itu langsung berlari memeluk kaki Amira yang masih sedikit pincang, mendongak dengan mata bulat yang berkaca-kaca.

"Mama... Felia minta maaf..." cicit Felia dengan suara parau, mengira bahwa kepergian mamanya semalam adalah karena kesalahannya yang mengungkit soal gaun masa lalu.

Mendengar penuturan tulus sang putri, hati Amira berdesir hangat.

Ia segera berlutut dengan perlahan, lalu Amira memeluk tubuh Felia dengan sangat erat, mencium puncak kepala balita itu dengan penuh kasih sayang.

"Felia tidak punya salah apa-apa, Sayang. Mama kemarin cuma pergi cari obat," ucap Amira lembut, mengulang kebohongan yang Daniel katakan semalam demi menenangkan hati putrinya.

Felia melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Amira dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang polos.

"Obatnya sudah dapat, Ma?"

Mendengar pertanyaan itu, Amira melirik ke arah suaminya yang saat itu sedang berdiri di sampingnya sembari menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.

Mengingat kembali "obat" berupa pengakuan cinta dan kehangatan yang mereka lewatkan semalam di hotel, pipi Amira seketika merona merah.

"Sudah, Sayang," jawab Amira lembut sembari mengusap pipi Felia.

Amira kemudian bangkit berdiri, beralih menatap Daniel yang masih memandangnya dengan tatapan memuja.

Ia mencoba mencairkan suasana agar suaminya tidak terlambat.

"Mas, lekas ganti pakaian. Bukankah hari ini kamu sudah mulai masuk kerja?" tutur Amira perhatian, merapikan sedikit kerah kemeja kasual yang dikenakan Daniel.

Mendengar perhatian manis dan panggilan "Mas" yang keluar secara alami dari bibir istrinya di depan rumah mereka sendiri, rasa bahagia membuncah di dada sang CEO. Daniel menganggukkan kepalanya patuh.

"Iya, Sayang. Mas ganti baju dulu, ya," jawab Daniel lembut sebelum melangkah naik ke lantai atas dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya, meninggalkan Amira dan Felia yang kini kembali merajut kehangatan di ruang tengah.

Setelah Daniel melangkah naik ke lantai atas untuk berganti pakaian, Amira menuntun Felia menuju ruang tengah.

Rasa hangat kini sepenuhnya kembali ke dalam rumah mewah ini, mengusir dingin yang sempat mencekam semalam.

Amira kemudian memanggil bibi untuk menyiapkan sarapan pagi bagi mereka semua.

Meskipun kakinya masih terasa sedikit nyeri jika dipakai berjalan terlalu lama, Amira tidak ingin melewatkan momen untuk memanjakan putri kecilnya pagi ini.

Dengan langkah yang agak tertatih, Amira ke dapur membuat omelet kesukaan Felia.

Aroma mentega dan telur yang gurih seketika menguar, memenuhi sudut-sudut dapur yang biasanya sepi.

Tak lama kemudian, terdengar langkah sepatu pantofel yang berketuk tegas di lantai marmer.

Kedatangan Daniel yang sudah rapi dengan setelan jas kerja premiumnya langsung mengubah atmosfer dapur.

Pria itu tampak begitu gagah dan berwibawa, namun tatapan matanya melembut begitu menangkap sosok Amira yang sedang sibuk di balik kompor.

Daniel mendekat dari arah belakang, lalu mengulurkan sebuah kartu tipis berwarna hitam legam yang memancarkan kesan eksklusif ke hadapan istrinya.

"Sayang, ini black card untuk kamu belanja, dan jangan menolaknya," ucap Daniel dengan suara baritonnya yang mantap.

Ia tidak ingin Amira merasa rendah diri lagi atau kekurangan apa pun di rumah ini.

Semua kebutuhannya harus terpenuhi mulai hari ini.

Amira tertegun sejenak menatap kartu mewah di tangan suaminya.

Ia tahu nilai dari kartu tersebut, namun melihat kesungguhan di mata Daniel, ia tidak ingin merusak suasana hati suaminya.

Amira menerima kartu itu dengan senyuman tulus.

"Terima kasih, Mas," ucapnya lembut.

"Sama-sama, Sayang. Pakai itu untuk membeli apa pun yang kamu mau, ya," balas Daniel sembari mengecup singkat pelipis Amira.

Kemudian Amira mengajak ke ruang makan di mana Felia sudah duduk manis di kursinya, menunggu dengan tidak sabar.

Di atas meja, Bibi sudah menghidangkan beberapa menu sarapan, termasuk nasi goreng udang yang masih mengepulkan uap hangat.

Dengan telaten, Amira mengambil nasi goreng udang untuk suaminya, meletakkan seporsi penuh di atas piring Daniel sebelum menyiapkan omelet hangat di piring kecil Felia.

Perhatian kecil yang sederhana itu membuat dada Daniel berdesir penuh kebahagiaan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali merasakan apa artinya memiliki sebuah keluarga yang utuh dan hangat.

Selesai sarapan, Daniel berpamitan dengan Amira dan Felia.

Pria itu merapikan jam tangan dan jasnya, lalu berlutut sejenak untuk mengecup kening Felia yang masih belepotan saus omelet.

Felia tertawa geli sambil melambaikan tangan mungilnya.

Daniel kemudian bangkit berdiri, menatap Amira yang setia mendampinginya hingga ke dekat pintu depan.

Sorot mata elang pria itu kini sepenuhnya melunak, memancarkan rasa percaya yang begitu besar kepada wanita yang kini menjadi nyonya di rumahnya.

Daniel meraih jemari Amira, mengecup punggung tangannya dengan lembut sebelum berbisik,

"Jaga putri kita, ya."

Mendengar kata "putri kita" keluar dari bibir Daniel, hati Amira berdesir hebat.

Rasa haru sekaligus tanggung jawab yang besar menyelimuti dadanya.

Ia tidak lagi merasa sebagai orang asing atau sekadar pengasuh bayaran di rumah ini; Daniel telah memberinya tempat yang utuh sebagai seorang ibu.

Amira menganggukkan kepalanya dengan senyuman paling tulus yang ia miliki.

"Iya, Mas. Kamu tenang saja bekerja di kantor. Hati-hati di jalan," jawabnya lembut.

Daniel tersenyum puas, lalu melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah menunggu di lobi depan.

Amira dan Felia berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan mengiringi kepergian sang kepala keluarga yang kini membawa semangat baru untuk memulai harinya.

Setelah mobil mewah Daniel melesat membelah gerbang rumah, keheningan yang hangat kembali menyelimuti ruang tengah.

Amira menoleh ke arah Felia yang sedang asyik memainkan ujung sendoknya di meja makan. Sebuah ide melintas di benak Amira.

Ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan putri kecilnya, sekaligus mencari udara segar setelah badai semalam.

Amira mendekati kursi Felia, lalu berlutut perlahan agar sejajar dengan tinggi anaknya.

"Felia, setelah ini ayo kita jalan-jalan. Mama mau beli buku gambar," ajak Amira dengan suara lembut yang menenangkan.

Mendengar kata 'jalan-jalan' dan 'buku gambar', mata bulat Felia langsung berbinar cerah.

Ia meletakkan sendoknya dan menatap Amira dengan takjub.

"Mama mau menggambar?" tanya Felia polos.

Amira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis, membenarkan pertanyaan putrinya.

Felia langsung bertepuk tangan kecil dengan sangat gembira.

Dengan kepolosan khas anak-anak yang belum mengerti arti koma atau masa lalu, ia berteriak kagum, "Wah, Mama hebat! Sejak turun dari surga, Mama bisa menggambar!"

Deg.

Kalimat polos Felia sempat membuat dada Amira berdesir.

Bagi Felia, sosok ibunya yang sempat "hilang" dan kini kembali setelah koma panjang terasa seperti seorang malaikat yang baru saja turun dari surga dengan membawa bakat-bakat baru.

Namun, alih-alih merasa sedih seperti kemarin, ucapan jujur itu justru terdengar sangat menggemaskan di telinga Amira.

Rasa sayang yang membuncah membuat Amira yang gemas langsung mencium pipi putri kecilnya bertubi-tubi hingga Felia tertawa cekikikan kegelian.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!