Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krisan putih dan kenangannya
Pagi di Bandungan menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan. Udara begitu segar, membawa aroma tanah basah dan wangi dedaunan yang tertimpa embun. Sekar terbangun dengan perasaan ringan yang jarang ia rasakan. Di sampingnya, Danu sudah terjaga, sedang berdiri di balkon kamar sambil menyesap kopi hitamnya, menatap hamparan lembah yang mulai tersingkap oleh cahaya matahari.
"Mas, sudah bangun dari tadi?" Tanya Sekar lembut sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Danu menoleh, senyum tipis tersungging di wajah dewasanya.
"Sudah. Ayo bersiap. Riana sudah tidak sabar ingin mengajakmu ke kebun bunga di bawah sana. Dia bilang krisannya sedang mekar sempurna"
Setelah sarapan bubur opak hangat, mereka bertiga berangkat menuju salah satu ladang bunga milik warga setempat yang memang dibuka untuk wisatawan. Jalanan menuju kebun itu cukup menanjak dan terbuat dari tatanan batu gunung yang tidak rata. Sisa hujan semalam membuat celah-celah batu itu menjadi licin karena lumut dan tanah merah yang basah.
Riana berjalan di depan dengan lincahnya, sesekali memotret pemandangan dengan ponselnya. Sementara itu, Danu berjalan di samping Sekar, tangannya selalu siaga memegang siku atau pinggang istrinya.
"Hati-hati, jalannya licin!" Peringat Danu dengan nada suara yang dalam dan penuh perlindungan.
Sekar mengangguk patuh. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, tangannya yang satu lagi memegang perutnya yang kini mulai terasa sedikit lebih berat. Namun, saat mereka hampir mencapai puncak bukit kecil tempat bunga krisan putih dan kuning terhampar, kaki Sekar terpeleset pada sebuah batu yang miring.
"Ah!" Sekar memekik kecil, tubuhnya limbung ke depan.
Dengan gerak refleks yang sangat cepat, Danu menangkap tubuh Sekar sebelum lutut istrinya menyentuh tanah. Ia mendekap Sekar erat ke dadanya yang bidang. Napas Danu memburu, bukan karena lelah, tapi karena rasa panik yang kembali menyerang.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" Tanya Danu cepat, matanya menelusuri wajah dan kaki Sekar.
"Tidak Mas, hanya kaget sedikit. Maaf, Sekar kurang hati-hati" Bisik Sekar dengan wajah memerah, malu karena merasa selalu merepotkan suaminya yang hebat itu.
Danu menatap jalanan di depan yang semakin menanjak dan tampak lebih licin karena aliran air kecil. Ia menghela napas panjang, lalu tanpa peringatan apa pun, ia berjongkok di depan Sekar, membelakangi istrinya.
"Naiklah ke punggungku!" Perintah Danu pendek namun tegas.
Sekar terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. "Mas jangan. Mas Danu pasti lelah. Sekar bisa jalan pelan-pelan kok"
Danu menoleh sedikit, menatap Sekar dengan pandangan berwibawa yang tak bisa dibantah.
"Mas tidak ingin mengambil risiko, Sekar. Kalau kamu jatuh lagi, itu berbahaya untukmu dan bayi kita. Naiklah. Mas masih sangat kuat untuk menggendongmu. Perutmu juga belum terlalu besar, jadi masih bisa Mas gendong!"
Riana yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung bersiul menggoda.
"Wah! Mas Danu jadi pahlawan lagi! Mbak Sekar, naik saja, otot Mas Danu itu lebih kuat dari besi di toko!"
Dengan rasa sungkan yang luar biasa bercampur kekaguman yang semakin memuncak, Sekar akhirnya melingkarkan lengannya di leher Danu. Danu dengan mudah mengangkat tubuh Sekar dalam gendongan belakang. Danu berdiri dengan tegak, seolah beban tubuh Sekar tidak ada artinya bagi kekuatannya.
Sekar membenamkan wajahnya di bahu Danu yang lebar. Ia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau sabun yang segar dari kemeja suaminya. Ia merasa sangat kecil, sangat terlindungi. Di usianya yang sekarang, ia merasa Danu adalah sosok raksasa yang tidak akan membiarkan badai apa pun menyentuhnya.
"Mas, apa Sekar berat?" Tanya Sekar lirih, hampir berupa bisikan di telinga Danu.
"Tidak. Kamu justru terlalu ringan, Sekar. Sepertinya porsi makanmu harus ditambah lagi nanti siang" Jawab Danu tenang sambil terus melangkah mantap melewati jalanan licin itu.
Setiap langkah Danu terasa begitu stabil. Sekar bisa merasakan otot-otot punggung Danu yang bekerja di bawah tangannya. Ia mengagumi betapa dewasanya Danu, pria ini tidak mengeluh, tidak menyalahkan Sekar karena tidak hati-hati, melainkan langsung memberikan perlindungan nyata. Baginya, Danu adalah definisi dari tanggung jawab seorang laki-laki.
Begitu sampai di hamparan kebun bunga krisan, Danu menurunkan Sekar dengan sangat perlahan di atas jalanan yang lebih datar dan kering. Mata Sekar berbinar melihat ribuan bunga krisan yang mekar indah dengan latar belakang Gunung Ungaran yang megah.
"Indah sekali Mas" Gumam Sekar takjub.
Danu berdiri di sampingnya, memasukkan tangannya ke saku celana. Ia tidak menatap bunga-bunga itu, ia justru menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum bahagia. Seperti sedang menggambarkan, kalau pemandangan Sekar yang tersenyum jauh lebih indah daripada hamparan krisan mana pun.
"Senang bisa membawamu ke sini" Ucap Danu pelan. Ia meraih tangan Sekar, menggenggamnya erat. Di pergelangan tangannya, jam tangan cokelat pemberian Sekar masih melingkar, tampak kontras namun sangat pas di tangan pria sehebat dia.
Riana datang menghampiri mereka dengan membawa dua ikat bunga krisan yang ia beli dari petani.
"Mbak Sekar, lihat! Aku belikan untuk Mbak. Wangi sekali!"
"Terima kasih, Riana" Ucap Sekar tulus.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Danu tidak sedetik pun melepaskan pengawasannya pada Sekar. Ia memastikan Sekar selalu berada di tempat yang teduh, memberinya air minum setiap beberapa menit, dan menjaganya dari kerumunan wisatawan lain.
Dalam diam, Sekar terus memuja suaminya. Ia merasa berutang banyak pada Tuhan karena meskipun ia melewati malam yang kelam, ia diberikan pria seperti Danu sebagai pelabuhan terakhirnya. Pria yang usianya delapan tahun lebih tua darinya itu tidak hanya menikahinya, tapi benar-benar menjadikannya wanita yang paling dijaga di dunia.
"Mas Danu!" Panggil Sekar saat mereka hendak kembali ke mobil.
"Ya?"
"Terima kasih sudah menggendong Sekar tadi. Mas Danu luar biasa baik" Ucap Sekar dengan tatapan mata yang penuh pengabdian.
Danu hanya mengusap kepala Sekar dengan lembut, sebuah gestur manis yang menjadi jawaban atas kekaguman istrinya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih sayang, Mas melakukan ini karena kamu istri Mas. Bukan hanya menggendong, apa pun akan Mas lakukan untuk kamu!"