NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barang Murahan

Kinara terbangun dengan tubuh lelah. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menatap kosong ke arah langit-langit, mencoba mencerna keadaan dirinya.

Rasa sakit itu masih ada. Sisa dari apa yang terjadi semalam dan juga tadi masih melekat kuat di tubuhnya.

Bagaimana tidak? Renald—pria yang kini seperti bayangan hitam dalam hidupnya—tidak berhenti menyentuh dan menuntutnya selama berjam-jam.

Dengan langkah pelan, ia menuju kamar mandi. Air hangat mengalir dari pancuran, membasuh tubuh yang terasa lemah. Ia meremas ujung handuk, mencoba meyakinkan dirinya. Ini semua akan segera berakhir. Aku nggak boleh terus terjebak dalam lingkaran ini.

Namun setiap kali ia mencoba mengusir ingatan itu, wajah Renald kembali muncul. Tatapannya yang tajam, genggamannya yang kuat, dan kata-kata penuh tekanan yang membuat wanita tak mampu melawan.

Setelah membersihkan diri, Kinara mengenakan piyama sederhana lalu duduk di meja kecil di kamarnya. Sambil termenung, ia memutuskan untuk menuliskan daftar belanja kebutuhan untuk mengisi apartemen barunya. Satu per satu, ia mulai mencatat barang-barang yang harus dibelinya besok.

"Kayaknya besok aku harus izin pulang lebih awal." Gumamnya saat melihat daftar belanjaan yang sudah ia buat.

Selesai membuat daftar, Kinara memutuskan untuk menyiapkan pakaian kerjanya untuk esok pagi. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang.

Ponselnya ia letakkan begitu saja di atas nakas tanpa berniat memainkannya lagi. Baginya, tidur jauh lebih penting daripada menatap layar tanpa tujuan.

Namun, sebelum benar-benar memejamkan mata, ponselnya bergetar sebentar. Satu pesan masuk—bukan dari seseorang yang ia harapkan, hanya iklan dari provider. Kinara tersenyum miris sambil berbisik pada dirinya sendiri.

“Dulu, hampir tiap malam selalu ada yang nanya, ‘Kamu sudah makan?’ atau ‘Lagi apa?’” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.

“Sekarang...” Kinara tersenyum miris mengingat semua yang terjadi dalam hidupnya satu minggu ini.

Sesaat kemudian, ia pun menghela nafas panjang dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Perlahan, matanya akhirnya terpejam.

•••

Keesokan paginya, Kinara berdiri di depan cermin. Kemeja putih dengan kerah sedikit terbuka memperlihatkan leher jenjangnya.

Rok span selutut yang membalut kaki rampingnya menambah kesan anggun. Ia merapikan rambutnya dengan cepat, lalu mengambil tas dan kunci motor.

Di jalan, ia memilih untuk tetap setia dengan sepeda motornya. Hidup di kota besar berarti harus berhadapan dengan macet setiap hari, dan motor adalah pilihan paling efisien. Selain itu, kondisi keuangannya masih belum memungkinkan membeli mobil.

Berbeda dengan Diana—adik tirinya—yang pada ulang tahun lalu langsung mendapat hadiah sebuah Lexus UX dari orang tua. Kinara hanya bisa terdiam menyaksikannya.

Bukan karena iri, tapi ia tahu, bila meminta sesuatu yang besar, pasti ada saja ucapan tak sedap dari mama tirinya. Jadi ia memilih menghargai apa yang dimilikinya saat ini.

Sesampainya di kantor cabang perusahaan besar Merta Dirga, Kinara langsung menyalakan komputer. Pekerjaannya cukup menumpuk akibat ijin kemarin. Deadline dari kepala bagian perencanaan menunggu, dan ia tidak ingin terlihat lamban.

Meski hanya staf perencanaan di cabang, ia bersyukur bisa bekerja di perusahaan sebesar ini. Gaji, tunjangan, hingga uang tambahan saat mengawasi proyek di lapangan sudah cukup untuk menopang hidupnya.

Namun kini ada satu hal yang membuatnya resah: hubungannya yang terjebak dengan sang CEO, Renald. Apa jadinya jika orang-orang tahu? Tentu saja harga dirinya akan hancur.

Kinara hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Saat tabungannya cukup, ia berencana resign, melunasi hutangnya dan memulai hidup baru jauh dari semua ini.

Siang hari, ponselnya bergetar. Nomor asing muncul di layar. Kinara ragu-ragu, namun akhirnya mengangkatnya.

“Ke ruanganku sekarang.”

Suara itu membuat jantungnya berhenti sejenak. Renald.

Tangannya sedikit bergetar. Haruskah ia mengabaikan? Tapi bagaimana jika ada hal penting? Pada akhirnya, ia bangkit dari kursi dan melangkah ke ruang CEO.

Di depan pintu, sekretaris Renald meliriknya sinis. Tatapan itu tajam, seolah berkata bahwa ia tahu sesuatu. Kinara menunduk, mengabaikan rasa tidak nyaman di dadanya.

Begitu pintu ruangan terbuka, ia melangkah masuk.

Matanya langsung tertuju pada sudut ruangan, ke arah sebuah pintu yang sedikit terbuka dan ternyata mengarah ke kamar pribadi. Kinara tertegun. "Jadi, selama ini ada kamar tidur tersembunyi di balik rak buku itu?" Batinnya.

Sementara Renald yang kini sudah duduk santai di sofa, menatapnya dengan  datar. “Kemarilah.” Perintahnya ringan namun jelas mendominasi.

Kinara ragu. Namun sebelum ia sempat menolak, Renald sudah melangkah ke arahnya, meraih tangannya dan menariknya untuk duduk di sampingnya hingga tanpa menyisakan sedikitpun ruang di antara mereka.

“Pak… jangan begini. Kita di kantor.” Suaranya bergetar.

Renald mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Kinara. “Kenapa? Ini ruanganku! Tidak ada yang berani masuk kemari tanpa izinku.”

Kinara menoleh, berusaha menjaga jarak. Tapi genggaman Renald terlalu kuat.

“Lagi ya?” Bisiknya dengan nada nakal.

Wajah Kinara memerah. Ia mencoba melepaskan diri, namun tubuhnya terkunci oleh kekuatan Renald.

“Dengarkan aku, Kinara.” Suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan. “Banyak wanita di luar sana yang merayuku, memohon hanya untuk bisa menghabiskan waktu denganku. Tapi aku memilihmu. Seharusnya kau merasa beruntung.”

“Beruntung?” Kinara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Apa menurut Bapak, diperlakukan seperti ini sebuah keberuntungan?”

Renald terdiam sejenak. Tatapannya berubah lebih dalam. Tangannya perlahan membelai rambut Kinara, seolah ingin menenangkan.

“Aku tidak pernah membiarkan wanita lain sedekat ini denganku.” Katanya lagi.

Kinara menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan emosi. “Saya sudah memberikan apa yang saya punya pada Bapak. Kenapa masih memperlakukan saya seperti ini?”

“Panggil aku Renald saat kita berdua!” Ucapnya dengan nada tegas, hampir seperti perintah.

"Dan jangan lupakan syarat pinjaman itu. Dimanapun dan kapanpun aku menginginkanmu, kamu harus siap!" Bisik Renald mengingatkan dengan tajam.

Kata-kata itu menusuk. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kinara. Apakah ia memang hanya sebuah alat kepuasan bagi bosnya?

Lalu terdengar suara lain yang lebih mengejutkan. “Atau begini saja… setiap kali kau bersamaku, aku akan membayar setiap waktu yang kau habiskan denganku. Jadilah mainanku, Kinara.”

Kalimat itu langsung menghantam Kinara. Untuk pertama kalinya, Kinara benar-benar merasa dirinya tak lebih dari barang murahan di mata pria itu.

Ia berdiri tergesa, menyingkirkan tangan Renald lalu berjalan cepat keluar ruangan. Dadanya sesak, matanya panas.

Tak sanggup kembali ke ruang kerja, ia memilih masuk ke toilet. Di sana, akhirnya air matanya jatuh juga. Janji untuk tidak menangis lagi runtuh.

“Kenapa aku harus menghadapinya seperti ini…” bisiknya lirih di depan cermin.

Ia hancur mendengar seorang pria menganggapnya bisa dibayar hanya demi berada di sisinya.

Sementara itu, Renald duduk terdiam di ruangannya. Ia memandang pintu yang baru saja ditutup Kinara.

Apa aku terlalu kasar?

Ia menghela napas, meremas keningnya sendiri. Dalam pikirannya, ia merasa tidak salah. Bukankah banyak wanita yang menyukai uang? Bukankah Kinara seharusnya senang, karena selain materi, ia juga memberinya suatu kepuasan yang belum pernah ia bagi pada siapapun?

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!