Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAWA BEKAL LEBIH,MALAH TERTINGGAL DI TEMPAT SINGGAH
Beberapa hari setelah kejadian membantu membersihkan bengkel, hubungan kami dengan Bang Rian terasa makin erat dan akrab. Sudah bukan lagi sekadar hubungan antara pemilik kendaraan dan tukang servis, melainkan sudah seperti tetangga dekat yang saling peduli.
Setiap kali lewat di depan bengkel, pasti ada saja obrolan singkat, tawa, atau sekadar bertanya kabar. Sari dan Rara pun sudah hafal lokasi, suasana, dan kebiasaan Bang Rian, jadi tidak ada lagi rasa asing atau penasaran berlebihan seperti saat pertama kali datang.
Hari itu sudah memasuki hari ke-25 bulan puasa. Waktu terasa berlalu sangat cepat, hanya tersisa beberapa hari lagi sebelum tibanya hari kemenangan Idul Fitri. Suasana di seluruh lingkungan desa terasa makin meriah. Banyak warga yang mulai sibuk membersihkan rumah, memperbaiki bagian yang rusak, memasak berbagai makanan khas, dan saling mengunjungi tetangga. Semangat berbagi juga terasa meningkat, hampir setiap sore ada saja yang membagikan takjil atau makanan buatan sendiri kepada siapa saja yang lewat.
Pagi itu, tepat setelah waktu sahur usai dan azan Subuh berkumandang, Ibu Bima sudah menyiapkan bekal untuk dibawa ke kantor. Karena tahu di hari-hari akhir puasa ini sering ada kegiatan berkumpul dan berbagi, beliau sengaja memasak dalam porsi yang jauh lebih banyak dari biasanya.
Selain nasi putih yang pulen, ada lauk ikan goreng bumbu kuning, sayur lodeh dengan kuah yang kental, sambal terasi buatan sendiri, serta seporsi kolak pisang hangat dan lima potong kue lapis yang baru saja matang dan masih mengeluarkan aroma harum.
“Ini Bim, bawa semuanya dengan hati-hati. Porsinya Ibu buat lebih banyak hari ini, nanti kalau ada teman yang ingin menambah atau berbagi, bisa dibagikan aja. Jangan sampai tergesa-gesa sampai lupa atau tertinggal di tempat singgah, ya,” pesan Ibu sambil memasukkan semua bungkusan ke dalam tas kain tebal yang cukup luas, lalu mengikatnya rapi agar isinya tidak tumpah.
“Siap Bu, bakal aku jaga baik-baik. tidak akan ada yang terlewatkan,” jawab Bima sambil mengangkat tas itu dan merasakan beratnya yang lumayan terasa, tapi tetap nyaman digendong.
Tidak lama kemudian, dari luar rumah terdengar suara teriakan ramah. “Bim! Sudah siap belum? Kita berangkat!” Itu suara Ojak yang sudah menunggu di depan pagar sambil membawa tas bekalnya sendiri.
Begitu bertemu, Ojak langsung melirik tas yang dibawa Bima, lalu matanya terbelalak sambil tersenyum lebar. “Wah, banyak sekali isinya hari ini! Dari baunya saja sudah terasa enak sekali. Ibu masak apa saja nih sampai sebanyak ini?”
“Iya, Ibu sengaja buat lebih banyak. Katanya di akhir puasa ini sering ada kesempatan berkumpul, jadi lebih baik membawa lebih dari cukup supaya bisa dibagi-bagi juga. Lumayan untuk teman-teman di kantor,” jawab Bima sambil melangkah beriringan dengan Ojak menuju jalan utama.
Baru saja berjalan sekitar lima menit, tiba-tiba Ojak berhenti sejenak seolah teringat sesuatu yang penting. “Eh Bim, tadi malam kita ngobrol dengan Bang Rian bukan? Dia bilang hari ini jadwalnya sangat padat. Ada dua orang pelanggan yang sudah menunggu sejak kemarin, motornya harus selesai diperbaiki sebelum siang nanti. Dia khawatir tidak sempat pulang sebentar untuk menyiapkan bekal atau sekadar beristirahat makan.”
Bima langsung mengangguk setuju. “Betul juga kamu ingat. Kalau begitu kita lewat jalan yang dekat bengkel saja ya? Singgah sebentar saja, tawarkan sebagian bekal kita ini. Tidak banyak, tapi cukup untuk mengganjal perutnya nanti kalau sudah sempat berhenti bekerja. Bukankah berbagi juga bagian dari amal di bulan puasa?”
“Setuju! Ayo kita lewat jalur itu saja, cuma tambah jarak sebentar, tidak akan terlambat sampai kantor kok,” jawab Ojak semangat.
Sesampainya di depan bengkel, pemandangan yang terlihat persis seperti yang dikatakan Bang Rian. Pintu bengkel sudah terbuka lebar sejak pagi buta, dan dia sudah terlihat sibuk membongkar bagian mesin sebuah sepeda motor yang cukup besar. Wajah, tangan, bahkan sebagian bajunya sudah terkena noda oli hitam, tapi matanya tetap fokus dan gerakannya terampil menyusun dan memeriksa satu per satu komponen mesin.
Begitu mendengar langkah kaki dan melihat kedatangan mereka, dia segera berhenti sejenak, meletakkan kunci inggrisnya, lalu menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang masih bersih sedikit.
“Wah, pagi-pagi sekali sudah lewat ke sini. Ada keperluan apa hari ini? Motor kantor bermasalah lagi?” tanya Bang Rian sambil tersenyum ramah, meskipun terlihat jelas dia sudah lelah sejak tadi pagi.
“Tidak ada kerusakan apa-apa kok Bang, semuanya masih bagus. Kami cuma lewat dan teringat pesanmu kemarin. Dengar-dengar hari ini jadwalnya sangat padat sampai tidak sempat pulang. Kami bawa bekal lebih banyak hari ini, jadi mau berikan sebagian untukmu saja. Tidak apa-apa kan kalau diterima?” kata Bima sambil meletakkan tas kainnya di atas meja kecil yang berada di sudut ruangan, jauh dari peralatan dan oli agar tidak kotor.
Mendengar penjelasan itu, Bang Rian terlihat terharu. Matanya sedikit melebar, lalu dia mengangguk berkali-kali.
“Wah, terima kasih banyak ya kalian. Sungguh tidak disangka kalian begitu perhatian. Memang hari ini saya harus selesaikan dua motor sekaligus, kalau tidak pelanggannya kecewa dan terganggu urusannya. Saya sempat bingung juga tadi mau makan apa nanti kalau sudah waktunya istirahat. Terima kasih sekali, ini sangat membantu sekali.”
Mereka pun mengobrol sebentar sekitar lima sampai tujuh menit saja, membahas sedikit kondisi motor yang sedang diperbaiki dan mengingatkan agar Bang Rian tidak terlalu memaksakan diri bekerja terus tanpa jeda. Setelah merasa cukup, Bima dan Ojak berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke kantor.
“Kami lanjut jalan dulu ya Bang, nanti bisa terlambat. Kalau sudah waktunya istirahat, segera makan bekal itu, jangan sampai lupa karena terlalu sibuk,” pesan Bima sambil melambaikan tangan.
“Siap, terima kasih lagi. Hati-hati di jalan ya!” jawab Bang Rian sambil melambaikan tangan balik, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sesampainya di kantor, suasana sudah mulai ramai seperti biasa. Pak Harun, Pak Joko, dan Kak Dedi sudah duduk di tempat masing-masing sambil membaca koran atau menyusun catatan. Tidak lama kemudian, dari arah jalan sebelah muncul Sari dan Rara yang baru saja pulang dari pasar membawa keranjang berisi sayuran dan kebutuhan dapur untuk persiapan buka puasa nanti.
“Selamat pagi semuanya! Hari ini rasanya makin terasa dekat hari raya ya, semangatnya bertambah terus,” sapa Rara dengan nada ceria khasnya.
“Selamat pagi juga! Benar sekali, tinggal hitungan hari saja lagi. Semoga kita semua bisa menyelesaikan puasa dan ibadah dengan baik sampai akhir bulan,” jawab Pak Harun sambil tersenyum.
Bima dan Ojak segera meletakkan tas dan barang bawaan mereka di sudut meja yang sudah disediakan. Namun baru saja duduk dan bersiap mengambil buku catatan, Bima tiba-tiba tertegun seolah mengingat sesuatu yang sangat penting.
Dia meraba punggungnya, melihat ke sisi kiri dan kanan, lalu menoleh ke tempat dia baru saja meletakkan barang. Wajahnya berubah menjadi bingung dan sedikit cemas.
“Jak… Jak, tunggu dulu. Tas bekal kita yang besar itu, mana ya?” tanya Bima dengan suara yang mulai terdengar khawatir.
Ojak langsung melihat ke sekeliling meja, lalu menoleh ke arah pintu masuk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lho, kan kamu yang bawa dan tadi katanya sudah ditaruh di sini? Apa mungkin saya yang salah lihat?”
Mereka berdua mulai memeriksa lagi dengan teliti, melihat ke bawah meja, di samping rak berkas, bahkan ke tempat penyimpanan alat tulis, tapi tidak ditemukan tas kain yang dimaksud. Wajah Bima makin pucat karena baru teringat dengan jelas.
“Ya ampun… aku ingat sekarang! Tadi saat singgah di bengkel, aku letakkan tas itu di meja kecil dekat pintu, lalu saat berpamitan, aku cuma bawa tas kecil yang berisi buku dan pena saja. Tas yang berisi bekal itu tertinggal begitu saja!” seru Bima sambil menepuk dahinya sendiri karena kelalaiannya.
Mendengar penjelasan itu, Ojak langsung melongo lalu tertawa kaget sekaligus geli. “Wkwkwkwk! Jadi begini ceritanya! Kita mau berbagi bekal ke Bang Rian, eh malah seluruh isinya tertinggal di sana. Maksud hati kasih sebagian, tapi yang ditinggal malah semuanya!”
Suara mereka yang agak keras menarik perhatian teman-teman lain yang langsung mendekat dan menanyakan apa yang terjadi. Begitu mendengar ceritanya, mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kejadian yang konyol itu.
“Wah, ini namanya niat baik tapi jalannya sedikit terbalik ya!” kata Pak Joko sambil menepuk bahu Bima pelan.
“Tapi tidak apa-apa, artinya rezekinya memang sudah ditetapkan untuk Bang Rian sepenuhnya.”
Sari dan Rara juga ikut tersenyum geli. “Untung saja isinya makanan, bukan dokumen penting atau barang berharga. Kalau yang lain bisa bingung, ini malah justru jadi rezeki tambahan buat Bang Rian hari ini,” kata Rara.
Setelah beristirahat sebentar dan mengurangi rasa malu karena kelalaiannya, Bima dan Ojak memutuskan untuk kembali ke bengkel sebentar saat waktu istirahat tiba. Mereka penasaran sekaligus ingin memastikan apakah tas itu sudah diketahui oleh Bang Rian atau masih tergeletak begitu saja.
Sekitar jam sebelas siang, saat pekerjaan di kantor sudah selesai untuk sementara waktu dan semua bisa beristirahat, Bima dan Ojak berjalan cepat menuju bengkel.
Sesampainya di sana, mereka melihat Bang Rian sedang duduk beristirahat di kursi dekat pintu, di hadapannya tergeletak tas kain yang tertinggal tadi pagi, dan di tangannya terlihat sedang menikmati nasi dan lauk yang sudah dibuka bungkusannya.
Begitu melihat kedatangan mereka, Bang Rian langsung tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. “Wah, datang juga kalian! Tadi aku sempat bingung, pas mau ambil air minum aku lihat tas ini masih ada di meja.Aku pikir kalian sengaja meninggalkannya sebagai tambahan, atau memang lupa bawa pulang?”
Bima langsung mendekat sambil tersenyum malu. “Maaf ya Bang, ternyata benar kami lupa. Maksud hati mau berikan sebagian saja, tapi karena tergesa-gesa dan terlalu banyak bicara, malah semuanya tertinggal. Jadinya bukan sebagian, tapi semuanya jadi milikmu hari ini.”
Bang Rian tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan itu sampai bahunya bergoyang. “Hahahahaha! Ini baru kejadian yang unik! Kalau diberi sebagian, rasanya sungkan. Kalau yang tertinggal seluruhnya, rasanya justru lebih pas dan cukup banyak. Terima kasih banyak ya, ini lebih dari cukup buat saya makan sampai nanti sore. Rasanya juga sangat enak sekali, masakan Ibu Bima memang tiada duanya!”
Dia kemudian membungkus sisa makanan yang belum dimakan dan menutup tasnya rapi kembali. “Jangan khawatir, sisanya akan saya habiskan nanti, tidak akan terbuang sia-sia. Ini memang rezeki yang dikirimkan dengan cara yang tidak terduga, tapi tetap sampai ke tujuannya.”
Mereka pun duduk sebentar mengobrol, dan Bang Rian bercerita bahwa dia sempat terkejut melihat tas itu masih ada, tapi kemudian merasa sangat beruntung karena isinya lebih dari cukup untuk menemaninya bekerja seharian. Bima dan Ojak pun merasa lega, karena meskipun tertinggal, tujuannya tetap tercapai dan bahkan lebih baik dari rencana semula.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Ojak terus menggoda Bima sambil tertawa. “Besok kalau mau berbagi lagi, pastikan dulu jumlahnya dan apa yang dibawa, jangan sampai semuanya ikut tertinggal lagi nanti. Kalau begini terus, nanti kita yang tidak makan apa-apa dan Bang Rian yang kenyang terus!”
Bima hanya bisa tersenyum malu sambil menggelengkan kepala. “Memang aku yang ceroboh, terlalu buru - buru sampai lupa barang sendiri. Tapi ambil saja sisi baiknya, niat kita sudah benar, makanan sampai ke orang yang tepat, dan tidak ada yang terbuang percuma. Itu yang paling penting.”
Begitu kembali ke kantor dan menceritakan kelanjutannya kepada teman-teman lain, mereka semua kembali tertawa mendengar akhir ceritanya.
“Lihat kan, kesalahan kecil kadang membawa hasil yang lebih baik. Kalau tadi hanya diberi sebagian, mungkin tidak akan terasa sepenuhnya bermanfaat seperti ini,” kata Pak Harun sambil mengangguk bijak.
Sore harinya, saat waktu berbuka tiba dan mereka semua berkumpul bersama lagi, Bima merenung dalam hatinya:
Hari ini aku belajar bahwa niat baik itu tidak akan pernah salah arah, meskipun caranya tidak sempurna dan kadang disertai kelalaian. Apa yang aku kira sebagai kesalahan, ternyata justru menjadi rezeki yang lebih lengkap untuk orang lain. Mungkin inilah cara Tuhan menyampaikan kebaikan, kadang lewat hal-hal yang konyol dan tidak terduga, tapi tetap sampai ke tempat yang paling tepat.
Sejak hari itu, kejadian ini menjadi salah satu cerita yang sering diceritakan kembali di antara mereka, menjadi pengingat agar selalu berhati-hati dan teliti, tapi juga tidak berkecil hati jika ada kesalahan, karena kebaikan tetap akan menemukan jalannya sendiri.