Ketika matahari menginginkan bulan, tetapi matahari harus tau sebatas mana dia harus berjuang (cz).
Sadar akan dirinya yang memiliki wajah dan penampilan yang kurang menarik, membuat Mia Faradillah harus membuang jauh-jauh harapannya untuk mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki yang mau menerima dirinya apa adanya.
Tetapi semua pendirian itu seakan goyah saat seorang kakak kelasnya yang cukup populer di sekolah itu, mencoba mendekatinya.
"Mengapa orang seperti kakak, mau berteman denganku ?" (Mia Faradillah).
"Habis kamu lucu sih, Jadi aku suka !" (Tio Martadinata).
Tapi kesalahpahaman terjadi sehingga membuat hubungan mereka merenggang dan menimbulkan kebencian di hati mereka masing-masing. Setelah beberapa tahun kemudian, mereka kembali di pertemukan dalam sebuah perjodohan.
Akankah perjodohan tersebut berjalan lancar ? Dapatkah mereka memperbaiki kesalahpahaman yang selama ini terjadi ?
Mari dibaca saja ya gaess.. Dan jangan lupa beri rating bintang limanya ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citoz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifat yang tersembunyi
Setelah mendapatkan lokasi keberadaan Kezia. Afkar langsung menghampiri Kezia di kantor polisi.
"Loh, kenapa kamu yang disini ? Dimana kak Tio ?" tanya Kezia saat melihat Afkar yang datang.
"Kakakmu sudah berangkat ke tempat kakekmu. Dia menyerahkan masalah ini kepadaku" ucap Afkar.
"Hah ? Yang benar saja. Aku tidak mau ! Aku mau kak Tio yang membantuku disini" ucap Kezia kesal.
"Apa kamu pikir aku mau ada disini ? Kalau saja ini bukan karena permintaan kakakmu aku tidak sudi ada disini untuk membantumu" ucap Afkar yang tak kalah kesal.
Polisi yang sedari tadi melihat pertikaian mereka, merasa lebih kesal dari mereka berdua.
"Bisakah kalian menyelesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah saja ? Banyak masalah yang lainnya yang sedang menunggu untuk saya urus sekarang" ucap Pak Polisi.
Dih, siapa yang mau berumah tangga dengannya.
Batin Kezia.
Akhirnya mereka menghentikan pertikaian mereka sekarang.
Afkar lalu mulai melakukan negosiasi terhadap masalah yang dialami Kezia sekarang. Dan setelah melakukan negosiasi yang panjang dan memakan waktu hampir satu jam setengah. Akhirnya, masalah Kezia dapat diselesaikan dengan damai.
foto : Afkar.
Afkar lalu menekan tombol remote mobilnya dan masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Kezia menyusul masuk ke dalam mobil Afkar dan duduk di sebelahnya.
"Ah, ribet banget masalah tadi. Untung sudah selesai" ucap Kezia yang mengipas-ngipaskan kertas tilang yang dia pegang ke arah wajahnya.
"Hei, kenapa kamu ikut masuk ke dalam mobilku ?" ucap Afkar terkejut.
"Aku sedang trauma membawa mobil akibat kejadian tadi. Jadi, kamu antar aku pulang ya sekarang. Bukankah Kak Tio sudah minta tolong padamu tadi" ucap Kezia.
"Dia hanya bilang meminta bantuanku untuk menyelesaikan masalahmu. Bukan untuk mengantarmu pulang. Turun sekarang juga !" ucap Afkar.
"Yaelah, sama aja kali. Menolong orang itu enggak boleh setengah-setengah. Ayo antar aku pulang" ucap Kezia.
"Jangan main-main. Ayo cepat turun !" ucap Afkar.
"Aku tidak mau !" ucap Kezia.
Afkar menghela nafas.
"Apa ada yang pernah berkata padamu, kalau kamu itu sangat menyebalkan ?" ucap Afkar.
"Hmm.. ada beberapa sih. Tapi, aku tidak peduli" ucap Kezia.
"Papaku bilang, tidak perlu memperdulikan orang yang tidak menyukai kita. Hanya karena segelintir orang tidak menyukai kita, bukan berarti semua orang di dunia ini sama seperti mereka. Yang harus di pedulikan itu orang yang menyukai kita" ucap Kezia.
Sungguh penyakit narsis tingkat kritis !
Batin Afkar.
Afkar tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Dia kelihatan pasrah dan mulai melajukan mobilnya.
foto : Kezia.
Belum ada dua puluh menit Afkar melajukan mobilnya, Kezia kembali membuat tensi darahnya naik kembali.
"Stop ! Tolong, berhenti ke pinggir itu sekarang" ucap Kezia tiba-tiba.
Afkar memberhentikan mobilnya dan menepi ke pinggir.
"Kamu mau turun disini ?" tanya Afkar.
"Tidak" ucap Kezia.
Afkar mengernyit.
"Tidak ? Lalu mengapa kamu memintaku untuk memberhentikan mobilku di sini ?" tanya Afkar.
"Iya, maksudku bukan 'aku' tetapi 'kita' yang akan turun disini" ucap Kezia.
Afkar melirik rumah makan yang berada di hadapan mobil mereka sekarang.
"Kamu mau ngapain disini ?" tanya Afkar.
"Ya, kalau di rumah makan, mau makanlah ! Masa' mau beli bahan bangunan" ucap Kezia seraya tertawa terbahak-bahak.
Afkar menatap Kezia sekarang.
Dia sendiri yang bicara, tetapi dia sendiri yang tertawa terbahak-bahak. Gadis aneh ! Tetapi, aku tidak menyangka sama sekali. Dia bisa tertawa dan tersenyum seperti ini juga ternyata. Aku kira dia hanya bisa mengomel saja.
Batin Afkar.
"Aku lapar. Dan aku tidak mau makan sendirian di rumah. Mama, Papa, Kakak ipar dan Kak Tio pasti sudah berada di tempat kakek sekarang. Dan aku tidak bisa ikut ke sana karena masalah tadi" ucap Kezia.
"Aku tidak mau tahu apa masalahmu sekarang. Sepertinya aku lebih baik makan dirumah sendirian, daripada harus menemanimu makan disini" ucap Afkar.
"Sekarang silahkan kamu turun dan jangan lupa telepon sopirmu atau pesan taksi kalau sudah selesai makan" ucap Afkar.
Namun, Afkar tidak tahu kalau tangan Kezia lebih cepat dari tangan pencopet di tanah abang.
Dengan gesitnya tangannya meraih kunci mobil afkar yang masih menggantung di setirnya. Dia lalu turun dan keluar dari mobil.
"Ayo, turun ! Temani aku makan. Aku tidak mau terlihat bodoh duduk sendirian di meja makan. Kamu tidak punya pilihan lain lagi sekarang !" ucap Kezia sambil memainkan kunci mobil Afkar di tangannya.
Afkar terperanga melihat kelakuan Kezia.
Dasar gadis bar-bar !
Batin Afkar.
********
Selama makan, Afkar dan Kezia jadi lebih banyak mengobrol sekarang. Tentu saja, Kezia yang memulai duluan bercerita panjang lebar. Apalagi, Kezia ahli dalam hal memancing orang untuk menjawab pertanyaannya. Afkar yang semula malas menanggapi ucapannya, ikut terpancing dan tenggelam bersama ceritanya.
Berkat makan bersama ini, Afkar jadi lebih mengenal orang seperti apa Kezia sebenarnya. Ternyata dibalik tingkahnya yang kekanakan-kanakan, Kezia juga memiliki sifat dewasa yang tersembunyi.
Dari cerita Kezia, Afkar jadi tahu bagaimana dia hidup mandiri selama kuliah di luar negeri dengan pengawasan pamannya yang sangat stringent. Dan satu hal yang mengejutkan lagi baginya, Dia melihat sendiri bagaimana Kezia sangat peduli pada orang yang tidak mampu. Kezia bahkan tidak segan membelikan beberapa makanan pada anak pengemis yang berada tidak jauh dari restoran tersebut, serta memberikan sedikit uangnya untuk pemulung di pinggir jalan yang mereka temui saat berpapasan menuju jalan pulang ke rumahnya.
Semuanya begitu mengejutkan bagi Afkar. Dia merasa kagum pada sifat Kezia sekarang.
"Oh, iya. Kalau kamu mau berkunjung ke panti asuhan yang aku ceritakan tadi, aku bisa menemanimu ke sana. Lumayan, bisa menambah donatur baru bagi panti asuhan tersebut" ucap Kezia.
Afkar tampak berpikir.
"Kenapa mesti mikir sih buat berbuat baik ? Kelamaan mikirnya !" ucap Kezia.
"Iya, boleh" ucap Afkar.
"Kalau begitu mana nomor ponselmu ?" ucap Afkar.
Kezia mengernyit.
"Untuk apa ?" tanya Kezia.
"Kamu bilang mau mengajakku ke panti asuhan. Jadi, aku perlu kontakmu kan, untuk mengabarimu kapan aku ada waktu untuk ke sana" ucap Afkar.
"Oh, iya benar juga ya" ucap Kezia yang terlihat salah tingkah.
Duh, Aku kira apa tadi. Sepertinya otakku nge-bug nih !
ucap Kezia.
Kezia lalu memberikan nomor ponselnya pada Afkar dan masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Afkar melaju pergi.
************
Sedangkan di sebuah Pedesaan yang masih asri. Mia yang baru saja selesai mandi merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia memandangi langit-langit kamarnya serta melihat ke sekeliling ruangan kamar yang dia tempati sekarang. Itu merupakan kebiasaan Mia saat berada di tempat yang baru saja dia kunjungi.
Baginya ruangan ini tidak jauh beda dengan ruangan kamar yang dia tempati bersama Tio di kediaman Martadinata. Bahkan, bangunan rumah ini juga hampir sama besarnya dengan rumah di kediaman Martadinata yang berada di kota. Hanya lebih di bagian halaman dan perkarangan saja.
Pantesan Kakek dan Nenek Tio betah berada disini. Semua fasilitas tetap sama lengkapnya seperti rumah mereka di kota. Ini sih sama saja seperti membangun istana di tengah desa.
Batin Mia.
Mia yang tampak sedikit lelah sehabis menempuh perjalanan selama tiga jam menuju ke desa ini. Sedang menikmati posisi rebahan yang dia lakukan sekarang. Apalagi, dia juga sudah mandi dan juga makan malam bersama kakek, nenek dan juga kedua orang tua Tio tadi.
Namun, dia harus beranjak dari posisinya tersebut saat Tio masuk ke dalam kamar, setelah barusan saja selesai mandi.
Tiba-tiba ponselnya Tio berdering. Tio membaca pesan masuk yang dikirim oleh Afkar padanya. Afkar memberi kabar pada Tio bahwa dia telah menyelesaikan masalah Kezia.
Sedangkan Mia langsung mengambil sikap duduk dan bersandar di ujung tempat tidur. Dia menatap tubuh tegap Tio yang sedang berdiri membaca pesan di ponselnya. Dia mengamati tubuh Tio yang hanya berbalut handuk di pinggangnya. Mia seakan takjub melihat tubuh Tio yang putih bersih. Apalagi saat Tio berbalik, dada bidangnya yang terbentuk sempurna tidak berlebihan sama sekali. Bahkan bahu Tio yang lebar juga menambah daya tarik baginya. Dan jangan lupakan rambut Tio yang basah sehabis mandi, membuatnya semakin terlihat menggoda.
Ah, sejak kapan aku mempunyai hobi mengamati Tio seperti ini ya ? Apa kepalaku terbentur di mobil saat menuju perjalanan ke sini tadi ?
Batin Mia.
Tio yang baru saja selesai membalas pesan Afkar, meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Sadar akan dirinya yang ditatap oleh Mia. Tio datang menghampiri Mia di atas tempat tidur sekarang.
"Sudah selesai melihatnya ?" tanya Tio.
Mia kaget bukan main mendapat pertanyaan dari Tio barusan.
"Aku.. aku tidak melihat apa-apa" ucap Mia berkilah.
Tio tersenyum melihat Mia yang sangat ketara kalau sedang berbohong.
"Apa kamu lelah karena melakukan perjalanan jauh ke sini ?" tanya Tio yang duduk bersebelahan dengan Mia.
"Tidak begitu. Kan selama di dalam mobil tadi kerjaanku cuma tidur saja. Pak Maman mungkin yang kelihatan lelah. Soalnya dia tadi yang menyetir mobil" ucap Mia.
"Tapi, apa kakak bisa memakai pakaian kakak terlebih dahulu saat kita mengobrol seperti ini ?" tanya Mia sambil menatap tubuh Tio.
"Kenapa aku harus memakai pakaian, kalau sebentar lagi juga akan dilepas" ucap Tio.
Deg !
Apa maksudnya ini..
Batin Mia.
"Kalau begitu, Kalau kamu tidak begitu lelah dan luka dikakimu juga sudah sembuh bagaimana kalau kita.." Tio tidak meneruskan ucapannya. Dan sebagai gantinya dia meneruskannya dengan tindakan.
Dia mulai menciumi bibir Mia sekarang. Setelah puas di sana, Tio mulai beralih pada leher Mia. Dia membuat kecupan yang cukup lama di sana, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di leher Mia.
"Kamu tidak tahu bagaimana aku tersiksa menahan diri selama ini tidur di sebelahmu. Kebiasaan tidurmu yang selalu memelukku membuatku gila" ucap Tio yang tangannya kini sudah bertengger di atas piyama tidur Mia dan bersiap-siap membuka kancing baju yang sedang dikenakan Mia sekarang.
Jangan lupa tekan like, komen, vote dan gift ya gaess..
adegan 21 + nya lanjut chapter berikutnya ya.. Othor takut batal puasa kalau di lanjut sekarang hohoho 🤭
Terima kasih utk karya Kak 🙏🏻 Semangat utk karya2 terbarunya 💪🏻🌷
PASTI RAHMA SBNARNYA GK TAU KLAKUAN SI ZIZIK MEDUSA..