Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Memesan Cincin & ke Butik
Diandra dan Damar sudah berada di mall, mereka akan mencari cincin pernikahan sebelum nantinya ke butik langganan maminya Damar untuk memilih gaun pengantin dan jas pernikahan.
Mama Rengganis & Mama Mikha akan datang juga ke butik untuk memesan gaun keluarga mereka untuk acara pernikahan.
Damar yang tidak ingin berjauhan dari calon istrinya itu menggenggam tangan Diandra. Awalnya Diandra menarik tangannya yang di raih oleh Damar, tetapi Damar tidak menyerah ia kembali meraih tangan Diandra.
"Jangan di lepas, Sayang, aku ingin dunia tau siapa wanita yang ada di sampingku ini,"
Diandra merotasi kan kedua bola matanya mendengar ucapan Damar.
Jago banget ngegombal, batin Diandra.
"Jangan mengumpatku, Sayang," Damar berjalan tetap tenang tanpa menoleh ke Diandra.
Diandra kaget matanya semakin membulat.
Kok tau sih, cenayang apa ya Kak Damar, batin Diandra lagi.
"Aku selalu tau apa yang kamu pikirkan Sayang,"
"Hah?" Diandra semakin kaget.
"Kita sudah sampai, Sayang, ayo masuk," Damar mengajak Diandra masuk ke outlet Cute Jewellery.
"Selamat Tuan dan Nona, apa ada yang bisa Saya bantu?" tanya seorang wanita muda yang berpakaian seragam rapi dan di cepol rambutnya.
"Saya dan tunangan saya mau memesan cincin pernikahan," Damar berbicara dengan suara dingin.
"Baik, silahkan ikut Saya," wanita muda tersebut memimpin di depan di ikuti oleh Damar dan Diandra.
"Ada apa Merry?" tanya seorang wanita tinggi langsing yang merupakan manager di outlet tersebut.
"Ini, Nona Risella ada yang mau memesan cincin pernikahan," jawab wanita muda tersebut.
"Oke tinggalkan kami, kamu boleh kembali ke tempatmu,"
Manager cantik tersebut tersenyum ramah dan mengajak Damar dan Diandra untuk duduk di sofa yang ada di pojok ruangan.
"Silahkan duduk, Saya akan bawakan contoh cincin dan beberapa set perhiasan untuk Tuan dan Nona lihat terlebih dahulu sebelum memesan modelnya,"
Manager tersebut meninggalkan kedua orang tersebut di sofa.
"Bagus pelayanannya," Damar mengedarkan pandangannya ke ruangan outlet yang tampak elegan dan nyaman.
Diandra hanya menganggukkan kepalanya.
Saat keduanya sedang memilih-milih cincin dan perhiasan yang akan mereka pesan, di luar toko tampak dua orang laki-laki bertubuh tegap sedang memantau pergerakan sepasang calon pengantin tersebut.
Kedua orang tersebut tidak mengetahui jika gerak mereka juga sedang di perhatikan beberapa orang bertubuh tegap yang merupakan pengawal bayangan dari papa Alka maupun dari pengawal pribadi Damar.
Salah seorang laki-laki bertubuh tegap yang mengamati Damar dan Diandra sedang menerima telpon di telinganya.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mulai bertindak?"
"Belum Nona, target sedang bersama tunangannya di dalam toko perhiasan,"
"Kenapa kalian lambat sekali bertindak hah? Aku mau kalian menangkap wanita itu, jangan ada alasan aku menunggu laporan dari kalian,"
"Baik Nona, kami akan segera lakukan perintah Nona," laki-laki tersebut segera mematikan ponselnya.
"Ada apa?" tanya temannya yang mendekat ke arah laki-laki yang menerima telpon.
"Kita harus segera bertindak, tapi bagaimana caranya? wanita itu selalu saja bersama dengan laki-laki itu,"
Temannya coba berpikir keras, "Apa kita tunggu saja wanita itu lengah atau jika laki-laki itu meninggalkan wanita itu kita langsung bertindak,"
"Ya, kita tunggu saja,"
Pergerakan kedua laki-laki tersebut dicurigai oleh pengawal pribadi juga pengawal dari papa Alka.
Hampir satu jam Damar dan Diandra memilih dan memesan cincin dan perhiasan untuk acara pernikahan mereka.
Akhirnya keduanya keluar dari outlet toko perhiasan tersebut.
Ponsel Damar berbunyi. Damar melihat siapa yang menelpon.
Mama is calling..
"Sayang, sebentar ya ini mama menelpon," Damar mengangkat telpon dari mamanya.
"Kak, aku ke toko di depan itu dulu ya ada yang mau aku cari,"
Damar mengangguk sambil berbicara di telpon.
Kedua lelaki yang sedang mengawasi Diandra segera tersenyum, akhirnya mereka punya kesempatan untuk mendekati target mereka.
Pergerakan keduanya juga tidak luput dari pengawasan pengawal pribadi Damar dan papa Alka.
Diandra berjalan dengan tenang kedua laki-laki bertubuh gempal tersebut mengikuti dari belakang. Mereka berjalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri tangannya di masukkan ke dalam saku.
Saat keduanya mendekati Diandra dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dua orang pengawal pribadi dan seorang pengawal dari papa Alka segera mendekati kedua laki-laki tersebut dan menodongkan senjata mereka di pinggul belakang keduanya.
"Apa yang kalian lakukan, hmm?" bisik salah satu pengawal pribadi Damar.
"Jangan coba-coba mencelakai Nona muda Kami," bisik salah satu pengawal lainnya di telinga salah satu laki-laki tersebut.
Kedua laki-laki tersebut kaget bukan main, wajahnya menegang. Mereka tidak menyangka bukannya mereka yang mengancam wanita yang sudah berjalan memasuki ke toko baju tersebut, malah mereka yang kena ancaman.
Damar yang mengikuti calon istri ke toko seberang menyadari apa yang sedang terjadi.
Damar mendekati pengawal pribadinya.
"Ada apa Joe?" Damar mengamati dua orang laki-laki yang tampak gugup dan menunduk.
"Biasa Tuan, kroco-kroco ini ingin bermain bersama Kami, Tuan tenang saja akan Kami bereskan.
Damar memandang ke arah pengawal Papa Alka dirinya mengernyitkan alisnya.
"Selamat siang Tuan, Saya Jery pengawal Nona Diandra atas perintah Tuan Alka," pengawal tersebut menunduk hormat ke Damar.
Damar menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Saya akan menemui Diandra kalian bawa kedua laki-laki ini ke markas, jangan sampai mereka lepas," Damar memerintahkan anggotanya untuk membawa kedua laki-laki yang mecoba mendekati Diandra ke markas tempat biasanya Damar dan para pengawalnya berkumpul.
Kedua laki-laki tersebut tampak pucat pasi.
"Tuan mau dibawa kemana Kami, apa salah Kami, lepaskan, jangan coba-coba kalian membawa Kami," seorang laki-laki bertubuh gempal berontak saat tangan mereka di cekal di belakang tubuh mereka.
"Diamlah, dasar tak berguna beraninya kalian mencoba mendekati calon istri Tuan Kami, apa kalian sudah bosan hidup hah?" Joe dan temannya membawa kedua orang tersebut menjauh dari toko Diandra dan Damar dan akan membawanya ke markas.
Jery menganggukkan kepalanya saat kedua pengawal pribadi Damar izin untuk pergi dari lokasi membawa kedua orang tersebut.
Jery segera melaporkan kejadian di mall hari ini ke Tuan Alka, papanya Diandra.
Diandra membeli beberapa baju santai untuk di rumah dirinya juga membelikan beberapa celana pendek cargo dan kaos polo berkerah berwarna navy dan biru untuk Damar
Tentu saja Damar senang dengan pemberian dari calon istrinya itu.
"Kamu beli ini untuk Aku? Genandra gak kamu belikan juga?" tanya Damar.
Diandra mengerutkan keningnya menoleh ke arah Damar.
"Ganendra sudah ada Amara yang perhatian, kenapa aku harus belikan Ganendra," jawab Diandra datar sambil terus berjalan.
"Jadi ini artinya Kamu perhatian sama Aku ya?" tanya Damar yang membuat Diandra merotasikan kedua bola matanya.
Damar yang tidak melepaskan genggaman tangannya menarik ke atas dan mencium punggung tangan Diandra.
"Kak, apaan sih? Banyak yang lihatin tau!" galak Diandra.
"Kenapa emang? Biarin aja mereka lihatin, biar semua orang tau kalau Kamu itu wanita istimewa untuk Aku,"
Diandra diam saja tanpa menoleh lagi ke laki-laki tampan di sebelahnya ini.
Setaunya Damar sahabat kembarannya itu dingin dengan para wanita tetapi dengan dirinya kenapa kebalikannya. Diandra heran sendiri.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤