Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kaca dan Kilatan Kamera
Dinginnya gelas kristal di genggaman Ajo mulai mencair, membasahi jemarinya tanpa pernah tersentuh bibir. Matanya tertuju pada pemandangan malam Jakarta dari lantai tiga puluh enam. Di bawah sana, lampu kendaraan menjalar seperti urat emas yang bergerak lambat, menebar kilau semu di atas beton-beton kota. Kontras dengan keheningan yang menyesakkan di dalam ruang kerjanya—keheningan yang sengaja ia ciptakan agar tak ada celah bagi kenangan lama untuk menyusup.
Di atas meja jati, tergeletak berkas skenario Cinta Dua Batas. Proyek ini bukan sekadar bisnis; ini adalah benteng pertahanan terakhir Ajo. Setahun berlalu sejak perceraiannya berantakan di hadapan media, mengubah kehidupan pribadinya menjadi santapan publik. Nama Ajo dicap dingin, sinis, dan tak berhati—narasi yang sengaja ia biarkan meliar, sebab menjadi 'pria tak berperasaan' jauh lebih aman daripada mengakui betapa remuknya ia di dalam.
Ajo mengalihkan pandangannya ke berkas profil pemeran utama wanita. Sebuah foto cetak menampilkan wajah yang tak asing lagi di penjuru negeri.
Elsa.
Dunia menjulukinya "Sang Dewi." Parasnya sempurna, lekuk senyumnya memikat, dan setiap geraknya dipuja bagai karya seni. Namun, saat Ajo meneliti manik mata Elsa dalam foto tersebut, dada Ajo mendadak berdenyut samar. Ada sesuatu di sana—bukan binar kejayaan, melainkan tatapan kosong seseorang yang lelah berpura-pura hidup. Tatapan dari jiwa yang diam-diam sekarat di balik sorot lampu panggung.
Beberapa kilometer dari sana, kilatan blitz kamera memecah kegelapan malam lobi hotel bintang lima, menyengat mata seperti letupan api kecil yang tak henti-hentinya menyiksa.
"Elsa! Lihat ke kanan sedikit!"
"Elsa, gaun zamrud ini luar biasa! Apakah rumor proyek barumu dengan Ajo itu benar?"
Elsa mempertahankan lengkung bibirnya. Setiap sudut wajahnya bergerak sesuai hafalan puluhan tahun: bahu sedikit ditarik ke belakang, senyum meliuk lembut, tangan melambaikan keanggunan yang terkontrol. Di depan kamera, Elsa adalah kepunyaan publik—sebuah objek fantasi yang sempurna dan tak terjangkau.
Namun, begitu pintu berlapis kedap suara dari limosin itu tertutup klak, kehampaan menghantamnya seketika.
Senyum di wajah Elsa luruh total, meninggalkan raut pucat yang letih. Ia menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot perlahan. Menjadi Sang Dewi adalah kutukan halus: ia dipuja jutaan orang, tetapi tak ada satu pun yang benar-benar tahu nama aslinya saat lampu padam. Setiap sapuan makelar gaya, setiap tawa di acara karpet merah, hanyalah transkripsi dari nilai kontrak.
Ia membuka tasnya, menarik keluar naskah Cinta Dua Batas. Nama Ajo tercetak tebal di sampulnya. Rumor menyebut Ajo sebagai pria arogan bertangan dingin yang membenci roman. Pria yang sudah mati rasa, pikir Elsa. Dan anehnya, untuk pertama kali setelah sekian lama, Elsa merasa tidak perlu berpura-pura anggun di depan pria seperti itu. Pria yang terluka biasanya bisa mencium bau kepura-puraan dari jarak jauh. Pagi di lantai dua rumah produksi itu bergetar oleh kecemasan. Suara hentakan sepatu tumit tinggi, gesekan kertas, dan dering telepon menciptakan simfoni panik. Namun, di dalam ruang pertemuan utama, Ajo duduk tenang di ujung meja oval. Setelan jas abu-abu gelapnya membungkus tubuhnya dengan presisi yang kaku—sebuah zirah rapat agar tak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.