NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Areksa yang mesum

Pagi hari di kediaman Valerius tidak pernah diawali dengan ketenangan. Sebelum matahari sepenuhnya naik, seorang kurir khusus dari firma hukum milik Arthur Vareksa telah mengantarkan dokumen tebal bersampul kulit hitam. Draf perjanjian pranikah.

Zevanna duduk di meja makan kecil di sudut kamarnya, mengabaikan sarapan mewah yang diantarkan pelayan. Matanya terfokus pada lembar demi lembar klausul yang tertulis di sana. Sebagian besar berisi tentang pemisahan aset yang ketat, hal yang wajar dalam pernikahan bisnis. Namun, ada satu poin tambahan di lembar terakhir yang ditulis dengan ketikan berbeda.

“Pihak Kedua (Zevanna Valerius) wajib tinggal di kediaman pribadi Pihak Kesatu (Areksa Vareksa) segera setelah pernikahan dilakukan, tanpa ada batasan waktu, dan wajib mematuhi seluruh peraturan yang ditentukan oleh Pihak Kesatu.”

Zevanna mendengus sinis. "Aturan? Dia pikir dia lagi menyewa kepala pelayan apa?" gumamnya ketus.

Tok, tok!

Pintu kamarnya diketuk dengan tidak sabar. Belum sempat Zevanna menyahut, pintu itu sudah terbuka lebar. Valerie berdiri di sana dengan gaun rumah sutra berwarna merah muda, menatap dokumen di tangan Zevanna dengan pandangan menyelidik yang sarat akan kedengkian.

"Jadi, surat kontrak dari pangeran esmu sudah sampai?" Valerie melangkah masuk tanpa diundang, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Jangan keburu senang dulu, Zevanna. Kau pikir Areksa benar-benar menginginkanmu? Dia cuma butuh stempel dari Kakek. Begitu urusan ini selesai, kau bakal dibuang seperti sampah, persis seperti waktu pertama kali kau datang ke rumah ini."

Zevanna menutup dokumen itu dengan ketukan pelan namun tegas di atas meja. Ia berdiri, melangkah mendekati sepupunya dengan tatapan mata yang tenang namun menusuk. "Kalau aku memang bakal dibuang, kenapa kau yang kelihatan sibuk dan frustrasi begitu, Valerie? Bukankah harusnya kau senang?"

"Siapa yang frustrasi!" pekik Valerie, suaranya naik satu oktav. "Aku cuma kasihan saja padamu. Kau itu nggak tahu siapa Areksa yang sebenarnya. Dia pria yang berbahaya. Dulu, waktu kami masih sering ketemu di pesta-pesta privat, dia itu liar banget. Kau cuma cewek panti asuhan yang polos, kau nggak bakal sanggup menghadapi dia—baik di atas ranjang maupun di dunia nyata."

Zevanna menaikkan sebelah alisnya. Ia hampir saja tertawa mendengar bualan sepupunya itu. Valerie tidak tahu saja bahwa jauh sebelum Areksa menjadi CEO dingin seperti sekarang, Zevanna-lah yang sudah memegang kendali dan mencicipi setiap sisi dari pria itu, baik manis maupun pahitnya.

"Terima kasih ya atas perhatianmu yang sama sekali nggak berguna itu, Valerie," balas Zevanna santai namun dingin. "Sekarang, mending kau keluar dari kamarku sebelum aku makin malas makan dan melaporkan kelakuanmu ini ke Kakek."

Valerie menghentakkan kakinya dengan kesal, berbalik dan pergi sambil membanting pintu kamar Zevanna keras-keras.

...

Sore harinya, sesuai dengan jadwal yang telah disepakati oleh kedua keluarga, Zevanna diminta datang ke butik desainer khusus di kawasan Menteng untuk melakukan pengukuran gaun pengantin. Tuan Danuel tidak bisa mendampinginya karena kondisi kesehatannya yang tiba-tiba menurun, sehingga Zevanna terpaksa pergi sendiri diantar sopir keluarga.

Butik megah bernuansa putih klasik itu tampak lengang karena telah dipesan secara privat. Saat Zevanna melangkah masuk, keharuman bunga melati dan lavender menyambutnya. Namun, bukan asisten butik yang pertama kali menarik perhatiannya, melainkan sosok pria bertubuh jangkung yang berdiri membelakanginya di dekat jendela besar.

Areksa Vareksa.

Pria itu mengenakan kemeja hitam kasual dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan garis lengan yang kokoh dan arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, Areksa berbalik lambat. Matanya yang kelam langsung mengunci sosok Zevanna seketika.

"Bisa tinggalkan kami sebentar? Nanti saya panggil lagi," perintah Areksa santai namun tegas kepada dua desainer yang berdiri di dekatnya.

Para pegawai butik itu membungkuk hormat dan segera menarik diri ke ruang belakang, meninggalkan Areksa dan Zevanna berdua saja di ruang tengah yang luas.

Zevanna menegakkan punggungnya, mencoba mengabaikan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Aku nggak tahu kau bakal datang, Tuan Vareksa. Kupikir pria sibuk sepertimu nggak punya waktu buat urusan sepele begini."

Areksa melangkah mendekat. Setiap langkah kakinya terasa mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Zevanna, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga Zevanna bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi tembakau tipis dari tubuh pria itu.

"Ini bukan urusan sepele, Calon Istri," bisik Areksa, suaranya berat dan terkesan menggoda. Pandangannya perlahan turun dari mata Zevanna, menyusuri leher jenjangnya yang putih, lalu berhenti tepat di belahan dada gaun kasual yang dikenakan Zevanna. Kilat jahil yang dulu sangat akrab bagi Zevanna tiba-tiba muncul di balik mata es itu. "Aku cuma mau memastikan gaun yang kau pakai nanti nggak terlalu tertutup... atau terlalu gampang buat kurobek."

Zevanna tersentak, wajahnya seketika memerah padam karena marah sekaligus malu. "Kau... dasar mesum! Sifat brengsekmu itu ternyata nggak pernah hilang ya!"

Zevanna mencoba mundur, namun dengan gerakan refleks yang sangat cepat, tangan kekar Areksa melingkar di pinggang ramping Zevanna, menarik tubuh gadis itu hingga menempel erat pada dada bidangnya. Sentuhan itu begitu mendadak dan intim, membuat napas Zevanna langsung tercekat.

"Lepaskan aku, Areksa!" desis Zevanna, tangannya memukul dada bidang Areksa yang keras bagai batu.

"Kenapa? Dulu kau suka banget kalau kupeluk begini, Nana," bisik Areksa tepat di depan bibir Zevanna. Ibu jarinya perlahan naik, mengusap bibir bawah Zevanna dengan lembut namun menuntut, sementara matanya menatap bibir itu intens. "Bibirmu masih sama hangatnya. Dan tubuhmu... makin pas aja di pelukanku."

Zevanna menggigit bibir bawahnya, menahan rasa gugup yang hampir menguasai dirinya akibat sentuhan Areksa. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan menatap Areksa dengan mata yang memerah karena emosi yang memuncak. "Kau egois, Areksa. Kau kasar. Kau pikir setelah apa yang kau lakukan dulu, kau bisa enaknya memperlakukanku kayak gini lagi?!"

Areksa tertegun melihat kilatan luka dan emosi di mata indah Zevanna. Cengkeraman tangannya di pinggang Zevanna perlahan melonggar, meski ia tidak melepaskannya sepenuhnya.

Pandangan Areksa yang semula sarat godaan kini sedikit meredup. Tanpa disadari oleh Zevanna, tangan kiri Areksa yang bebas bergerak ke belakang punggung Zevanna, menarik pelan ritsleting gaun kasual Zevanna yang ternyata sedikit melorot di bagian atas—sebuah detail kecil yang sejak tadi membuat Areksa tidak nyaman karena tidak ingin kulit punggung gadis itu terlihat oleh orang lain.

"Pakai baju yang bener kalau keluar rumah," gumam Areksa tiba-tiba dengan nada ketus, mengalihkan pandangannya dari wajah Zevanna. Ia menarik tangannya kembali, melangkah mundur satu langkah dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Aku nggak suka milikku jadi tontonan orang."

Zevanna merapikan gaunnya dengan tangan sedikit gemetar, menatap Areksa dengan bingung sekaligus kesal. Pria ini begitu menyebalkan, namun tindakan kecilnya barusan membetulkan pakaiannya agar tidak terekspos menunjukkan perhatian tersembunyi yang membuat pertahanan di hati Zevanna sedikit goyah.

"Aku bukan milikmu, Areksa," sahut Zevanna dengan suara tegas.

Areksa berbalik membelakangi Zevanna, berpura-pura menatap deretan gaun pengantin yang terpajang di dinding butik. "Untuk sekarang kau boleh ngomong gitu. Tapi setelah acara pernikahan nanti... kau nggak punya pilihan lain selain nurut sama aku."

Ia melirik ke arah pintu belakang, lalu memanggil desainer butik untuk kembali masuk. Sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang ukur, Areksa sempat berhenti tepat di samping Zevanna, membisikkan satu kalimat santai yang sukses membuat jantung Zevanna berdegup kencang seharian.

"Pilih gaun yang bahannya paling tipis ya. Aku mau lihat seberapa indahnya lekuk tubuhmu di malam pertama kita nanti."

"Areksa Mesum!" teriak Zevanna kesal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!