Mikhaila Danya Bimantara, 28 tahun, wanita mandiri pemilik toko bunga istri dari Rain Bagaspati harus menerima kenyataan pahit saat suami yang di cintainya harus menikah dengan sahabatnya yang telah hamil.
Fabyan Alkandra Sadewa, 30 tahun pria lajang tampan, dingin seorang CEO, memilih melajang di usianya yang sudah matang, wanita baginya hanya sosok yang membuat hidupnya tidak fokus mencapai tujuannya menjadi pebisnis nomor satu.
Pertemuan tak di sengaja antara Mikha dan Alka di sebuah cafe membuat hal yang tak pernah mereka bayangkan terjadi.
Sebuah kisah percintaan antara wanita yang pernah kecewa dengan pria yang menganggap wanita terlalu banyak dramanya, akankah membuat mereka bersatu?
Yuk, ikuti kisah cinta antara Mikha, Rain, Alka, pastinya seru dan bikin terharu.
Salam hangat,
ariista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rafika ke Kantor Alka
Senin pagi saat matahari mulai bersinar membias ke isi semesta. Seorang lelaki tampan menggeliatkan tubuhnya di atas kasur. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.50, lelaki tersebut tersenyum sumringah menyambut pagi.
Dirinya merasa seperti mendapatkan moodbooster di setiap harinya. Ya, apalagi kalau bukan karena wanita yang sedang di dekatinya mau menjawab telpon dan pesannya.
Alka segera bangkit dari tidurnya masuk ke kamar mandi dan akan bersiap ke kantor.
Alka sempat-sempatnya mengirim pesan ke Mikha menanyakan apa sudah bangun atau belum.
Sambil bersenandung Alka mandi dengan segera waktu terus berjalan. Hari yang cerah bagi Alka, dengan semangat dirinya bersiap untuk ke kantor.
Alka dengan setelan kerjanya sudah tampak mempesona. Harum tubuhnya juga sisiran rambutnya yang klikis membuat siapa saja yang melihatnya seperti mendapatkan vitamin A.
Alka berjalan keluar kamar, dengan membawa tas laptopnya, Alka turun ke ruang makan, papi, mami, eyang sudah berada di kursinya masing-masing.
"Pagi semuanya,"
"Pagi, Al, ayo sarapan dulu Al," ucap mami.
"Iya, Mi,"
Eyang yang mau mogok makan hanya melirik sekilas aja ke cucu tampannya itu.
"Ingat ya Al, kamu harus menerima perjodohan dengan Rafika, titik," eyang bicara dengan tegas.
Mami melirik ke papi, papi hanya menarik bibirnya tipis.
Alka diam saja tidak menjawabnya.
"Sarapan dulu Mi," ucap papi Sadewa.
Alka hanya meminum susu yang sudah di sediakan di meja, dirinya tak selera mau sarapan.
"Kalo kamu menolak eyang akan mogok makan loh," ancam eyang yang merasa suaranya di cuekin oleh cucunya.
"Eyang gak boleh gitu, eyang harus tetap sehat katanya mau lihat cicit dari Alka," ucap Alka agar eyangnya tidak mengancam untuk mogok makan.
"Jadi kamu mau menerima Rafika?" Eyang tersenyum merasa cucunya mengikuti keinginannya.
"Alka harus segera ke kantor ini eyang, Alka pamit dulu ya, Pi, Mi, Eyang,"
"Loh, loh, kamu kan belum jawab Alka,"
"Mi, Alka harus bekerja, jangan mendesak Alka Mi," papi Sadewa mengingatkan maminya.
"Kamu itu selalu saja begitu, Dewa, bukan membujuk Alka biar setuju, mami gak mau tau pokoknya Alka harus menerima Rafika sebagai istrinya,"
"Mi, kita sarapan dulu ya, gak enak kalo udah dingin," mami Maura mencoba mengalihkan perhatian eyang Gayatri.
Karena perut eyang keroncongan akhirnya eyang mau juga sarapan pagi. Mogok makannya belum di mulainya.
Papi dan mami saling melirik satu sama lainnya. Papi mengedikkan bahunya.
***
Alka sudah sampai di kantornya. Dirinya sudah berada di ruangan, bersama Farzan sepupunya Alka membahas tentang kerjasama yang baru mengajukan proposal.
Pintu ruangan di ketuk dari luar.
"Masuk,"
Reena sekretaris Alka masuk, belum selesai Reena melapor, seorang gadis cantik menyusul di belakang Reena.
"Pagi, Alka," salam gadis tersebut tanpa mempedulikan Reena yang melihatnya dengan wajah melongo.
"Mba, mba, kenapa langsung ikut masuk," teriak Reena yang melihat gadis tersebut terus berjalan mendekati Alka.
Alka dan Farzan juga bengong.
Tiba-tiba saja gadis tersebut mengecup pipi Alka.
Alka kaget begitu juga Farzan dan Reena.
Alka langsung mengusapkan jari di pipinya menghapus bekas kecupan gadis tersebut.
"Reena, kenapa kamu biarkan gadis ini masuk!" bentak Alka ke sekretarisnya.
"Maaf Pak, nona ini yang terobos masuk Pak,"
"Alka, aku kesini mau ketemu kamu,"
"Maaf nona, saya sibuk, seharusnya anda masuk ke ruangan ini juga dengan etika nona," tegas Alka merasa terganggu dan tidak suka dengan gadis yang tiba-tiba saja mengecup pipinya.
"Nona, maaf Pak Alka sedang sibuk dan tidak ingin di ganggu,"
"Tapi saya ingin ketemu dan berbicara empat mata dengan Alka,"
"Maaf ya nona, saat ini Pak Alka sedang sibuk, saya minta pengertian nona sebelum saya memanggil security,"
"Alka, aku mohon, jangan usir aku, aku mau bicara dengan kamu," gadis cantik tersebut tetap aja kekeuh tidak mau pergi.
Wajah Alka sudah sangat keruh, hatinya semakin merasa kesal.
Alka beranjak dari kursinya.
"Saya keluar dulu Zan," Alka pergi begitu saja.
"Alka, Alka," teriak gadis cantik tersebut.
"Nona, maaf, tolong jangan di ganggu Pak Alkanya," ucap Farzan.
"Saya ini tunangannya Alka, jangan kamu macam-macam dengan saya ya," gadis tersebut menatap tajam ke Farzan.
"Tunangan?" tanya Farzan dan Reena saling menatap.
"Iya, kenalkan saya Rafika tunangan Alka," Rafika mengulurkan tangannya.
Farzan mau tak mau menerima uluran tangan Rafika.
"Sejak kapan Pak Alka bertunangan?" tanya Farzan lagi karena dirinya sebagai sepupu tidak tau sama sekali tentang perjodohan Alka sepupu sekaligus bosnya ini.
"Tanyakan saja dengan Alka, dia tau kok, saya permisi," Rafika dengan percaya dirinya pergi meninggalkan Farzan dan Reena yang bengong. Keduanya saling memandang.
"Memangnya Alka sudah tunangan? Kok kita gak tau ya?" tanya Farzan ke Reena.
"Saya juga tidak tau Pak, saya kembali ke meja saya ya Pak,"
"Okey, silahkan Reena, kemana lagi bos Alka ini, menghilang kemana lagi,"
Farzan kembali ke ruangannya. Alka sudah keluar entah kemana.
Alka melajukan mobilnya ke coffeshop yang tidak jauh dari kantornya. Ia sedang tidak ingin di ganggu oleh gadis yang tiba-tiba saja datang ke kantornya.
Alka duduk di kursi dan sudah memesan kopi latte yang disukainya.
Alka sedang fokus dengan ponselnya saat seseorang menyapanya.
"Al, kamu pagi-pagi sendiri sedang menunggu seseorang?" tanya seorang lelaki tampan yang ternyata Rain.
"Rain, kamu di sini?" tanya Alka balik.
"Ya, aku sedang menunggu seseorang Al,"
"Oh, duduklah, Rain,"
"Ya, sebelum datang klienku, kita bisa ngobrol sebentar, Al,"
Alka menganggukkan kepalanya.
Rain duduk di depan Alka.
Kopi pesanan Alka datang.
"Tambah satu lagi ya mba," ucap Alka.
"Baik Pak," pelayan pergi meninggalkan Alka dan Rain.
"Kebetulan kita bertemu di sini, Al, ada yang ingin aku tanyakan,"
"Tentang?" tanya Alka mengernyitkan alisnya.
"Aku ingin bertanya tentang kamu sama Mikha, Al?" Rain menatap Alka serius.
"Kenapa dengan Mikha?" Alka balik bertanya.
Suasana hening sejenak di antara mereka.
"Apakah kamu menyukai Mikha, Al?"
Alka mengernyitkan alisnya kembali.
"Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?" tanya Alka memicingkan sebelah matanya menatap ke Rain.
"Aku sebagai kakaknya berhak bertanya, Al, aku harap kamu mengerti kenapa aku menanyakan ini,"
"Aku sama sekali tidak mengerti Rain, mengapa kamu menanyakan hal ini kepadaku,"
"Jangan pura-pura tidak mengerti Alka, kamu tau Mikha seorang gadis yang baik, jika kamu serius dengannya aku harap kamu tidak akan menyakitinya," ucap Rain serius.
Alka mengernyitkan alisnya, ia masih belum bisa mencerna kemana arah pembicaraan Rain ini, menyakiti Mikha? Bukankah dirinya yang sudah menyakiti Mikha dengan menceraikannya.
"Apa aku tidak salah dengar Rain? Siapa yang menyakiti Mikha, Rain? Aku atau kamu?"
"Apa maksudmu Alka?!" Rain terpancing dengan pertanyaan Alka.
"Sudahlah Rain, aku tau kenapa kalian bercerai, jangan kamu mencoba menasihati aku,"
"Kamu tau kenapa kami bercerai? Apa Mikha yang cerita?" Rain mengeraskan rahangnya.
"Apa itu penting Rain? Aku tau dari siapa itu bukan urusanmu, lagian kalian sudah bercerai,"
"Sialan kamu Alka," Rain semakin terpancing emosinya, dirinya sudah akan berdiri dan menarik kerah kemeja Alka saat tiba-tiba terdengar suara seorang gadis menyapanya.
"Selamat pagi Pak Rain, itu bos saya sudah menunggu di meja sana Pak," ucap seorang gadis cantik ke Rain.
Rain dan Alka menatap ke gadis tersebut.
"Ohh iya, nona Melly, saya akan segera ke sana," Rain tersenyum tipis ke gadis cantik yang dipanggilnya Melly tersebut.
"Baiklah Pak, saya kembali ke meja bos saya," ucap Melly yang ternyata seorang sekretaris dari perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Rain.
"Baik, nona, silahkan,"
Melly pergi meninggalkan Rain dan Alka.
"Ingat Alka, kita belum selesai," ucap Rain tegas ke Alka.
Alka hanya mendengus saja, tidak terlalu menghiraukan ucapan Rain.
Ada apa dengan Rain, kenapa dia seperti itu, batin Alka.
Alka melanjutkan menyeruput kopinya.
"Apakah
"