Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. sisi lain tak terduga.
Setelah beberapa lama berdiam diri di balkon, Arjuna mematikan rokoknya dan membuang puntungnya ke tempat asbak. Pikiran yang terus melayang pada sosok Laila membuatnya gelisah rasanya tidak tenang kalau tidak melihat gadis itu malam ini juga.
Ia masuk kembali ke ruang inti dan menepuk pundak ketiga temannya. “Gue keluar sebentar. Mau keliling, sekalian periksa keadaan sekitar. Kalau ada apa-apa hubungi gue”
“Mau ke mana malam-malam begini, Bos?” tanya Bowo sambil masih memegang gitarnya.
“nggak jauh, cuma keliling doang...cari angin. Kalian tetap di sini jaga markas, jangan berisik,” jawab Arjuna santai sambil melangkah keluar.
Sesampainya di depan gerbang markas, ia menaiki motor sportnya dan melaju perlahan di bawah cahaya lampu jalan. Tanpa sadar, ia mengarahkan kendaraan itu ke arah yang kemarin sempat ia datangi...Kafe 28.
Sampai di depan kafe, Arjuna memarkirkan motornya agak menjauh, di tempat yang agak gelap agar tidak langsung terlihat dari dalam. Ia tidak masuk dulu, melainkan berdiri di balik pohon besar di pinggir jalan, mengintip dari balik kaca jendela.
Di dalam, suasana terlihat ramai namun tetap tertib. Matanya segera menangkap sosok yang dicarinya. Laila sedang sibuk melayani pelanggan dengan gerakan lincah dan cekatan, wajahnya yang biasanya datar kini terlihat lebih lembut, bahkan sesekali tersenyum tipis saat berbicara dengan pengunjung.
Arjuna menyandarkan punggungnya ke batang pohon, melipat kedua tangannya di dada, dan terus mengamati. Ia baru sadar selama ini ia hanya melihat sisi Laila yang jutek, tegas, dan berani melawannya, tapi tidak pernah melihat sisi ini.
Ia melihat bagaimana Laila berbicara dengan sopan, bagaimana ia sabar mendengarkan pesanan, bahkan membantu seorang kakek tua membawa pesanan ke meja dengan senyum yang tulus. Di saat sepi sebentar, ia melihat Laila duduk di sudut dapur sambil mengusap keringat di dahinya, lalu mengeluarkan sepotong roti kecil dan air putih sepertinya itu makan malamnya, sederhana sekali.
Hati Arjuna terasa sedikit terenyuh. Selama ini ia hidup berkecukupan, tidak pernah merasakan kekurangan, tapi gadis mungil di dalam sana harus berjuang sendiri, bekerja keras setelah sekolah.
Belum sempat ia melanjutkan pengamatannya, tiba-tiba muncul tiga orang pemuda asing yang masuk ke kafe dengan gaya tidak sopan. Mereka duduk di meja paling depan, berbicara keras dan mengganggu pengunjung lain.
Laila segera menghampiri mereka dengan tenang, mencatat pesanan. Namun salah satu pemuda itu sengaja meraih pergelangan tangan Laila dengan kasar.
“Wah, pelayannya cantik juga. Selain melayani makan, bisa melayani kita lebih lama nggak?” godanya dengan nada cabul.
Wajah Laila langsung berubah dingin. Ia menarik tangannya dengan kuat, menatap tajam tanpa takut. “Lepasin tangan gue! Kalau mau pesan, silakan sebutkan. Kalau cuma mencari keributan, silakan keluar dari sini.”
Pemuda itu justru marah, berdiri dan hendak mendorong bahu Laila. “Berani banget lo jawab ketus! Mau cari masalah hah?!”
Belum sempat tangannya menyentuh Laila, tiba-tiba tubuhnya terlempar mundur beberapa langkah dan jatuh ke lantai. Arjuna sudah berdiri di hadapan Laila, membelakanginya, dengan tatapan yang berubah menjadi sangat dingin dan mengerikan sisi yang jarang diperlihatkannya kepada orang luar.
“Siapa yang berani sentuh cewek gue?” suara Arjuna terdengar rendah tapi menusuk, membuat suasana seketika hening.
Dua temannya segera membantu pemuda itu berdiri, lalu melihat sosok Arjuna yang menjulang tinggi dengan tubuh kekar dan tatapan mematikan. Mereka langsung merasa ngeri, mengenali wajah itu sebagai ketua geng yang paling disegani di daerah itu.
“K-Kita nggak tau dia cewek abang… maaf, kami salah!” ucap mereka terbata-bata ketakutan.
“Kalau udah tahu , sana pergi sebelum gue berubah pikiran dan bikin kaki,tangan lo semua patah dengan tangan gue,” ancam Arjuna tanpa menaikkan nada bicaranya, tapi cukup membuat mereka gemetar.
Tanpa menunggu perintah kedua kali, ketiga pemuda itu langsung lari terbirit-birit keluar kafe.
Setelah mereka pergi, Arjuna memutar badannya menghadap Laila. Wajahnya kembali seperti biasa, sedikit santai tapi masih terlihat serius.
“Lo nggak apa-apa?” tanyanya singkat.
Laila masih tertegun, menatap Arjuna dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak menyangka laki-laki itu tiba-tiba datang dan membela dirinya. “Kok lo ada di sini?” tanyanya balik, nada bicaranya lebih lembut dari biasanya.
“Kebetulan lewat. sekalian mampir mau beli kopi, eh malah liat lo di gangguin” jawab Arjuna berbohong sambil menggaruk belakang lehernya. “Lagian, meskipun kita sering berantem , tetap aja cuma gue yang boleh ganggu cewek gue.”
Mendengar kalimat itu, Laila langsung mengerutkan kening. “cewek lo? Sejak kapan gue jadi cewek lo? gausah sembarangan kalo ngomong!”
Arjuna hanya menyeringai, melihat Laila kembali ke sikap biasanya justru membuatnya merasa lebih tenang. “Ya, anggap aja begitu. Mulai sekarang, nggak ada orang lain yang boleh ganggu lo selain gue sendiri. Paham?”
Laila memutar bola matanya malas, tapi kali ini tidak terlihat kesal sepenuhnya. “ terserah lo mau bilang apa. Tapi makasih udah nolongin gue tadi.”
Ucapan terima kasih itu membuat dada Arjuna terasa hangat, senyumnya makin melebar. “Gampang aja. Sebagai gantinya, lo traktir gue di sini ya? Lagian gue belum makan malam juga.”
Laila menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis kecil. “Yaudah. Mau pesan apa? Tapi ingat, ngga ada syarat aneh-aneh.”
Arjuna tertawa pelan. “Kali ini nggak ada syarat. Tenang aja, Gue mau pesan apa yang biasa lo makan.”
Malam itu, suasana terasa berbeda. Di balik perdebatan dan sikap saling menyindir, benih rasa yang tidak disadari mulai tumbuh perlahan di hati keduanya.