"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTU DI BALIK BADAI YANG REDA
Langkah kaki Arga menggema tegas di sepanjang koridor VIP Rumah Sakit Medika Utama.
Tangan kekarnya menggenggam teramat erat jemari lentik Queen, seolah menyalurkan seluruh kekuatan dan perlindungan yang ia miliki.
Di belakang mereka, Alya mengekor dengan senyum kemenangan yang masih merekah lebar di wajahnya, merasa puas setelah menyaksikan topeng Keysha hancur lebur tanpa sisa.
Namun, semakin jauh mereka melangkah meninggalkan ruang rawat Keysha, langkah kaki Queen justru terasa semakin berat.
Gadis cegil yang biasanya ugal-ugalan, bar-bar, dan tidak tahu rasa takut itu, mendadak dilanda kegugupan yang teramat luar biasa.
Di ujung lorong, tepat di dekat ruang tunggu eksekutif, kedua orang tua Arga dan Keluarga Besar Dirgantara sudah berdiri menunggu bersama kuasa hukum mereka.
Aura wibawa yang memancar dari sosok Papa Arga yang merupakan pengusaha properti kelas atas, serta keanggunan berkelas dari sang Mama, bener-bener membuat nyali Queen menciut seketika.
Ia refleks meremas ujung kemeja Arga, menyembunyikan sebagian tubuh mungilnya di balik punggung tegap sang kekasih.
Arga yang merasakan perubahan drastis dari gadisnya itu menghentikan langkah.
Ia berbalik, menatap lekat-lekat wajah baby face Queen yang kini tampak merona kemerahan bercampur pucat karena gugup.
Sebuah senyuman tipis yang teramat lembut yang hanya ia tunjukkan khusus untuk Queen terukir di bibir tegasnya.
"Kenapa, Hem?Biasanya kamu sangat berani, bahkan berani menggoda saya di depan kelas," bisik Arga dengan suara baritonnya yang serak, sengaja menggoda untuk mencairkan ketegangan.
"Ih, Mas... itu kan beda cerita," cicit Queen manja dengan suara pelan.
"Itu di depan sana orang tua kamu, Mas.
Konglomerat.
Lah aku?
Cuma mahasiswi kamu yang hobi bikin onar.
Mana sekarang... aku lagi hamil anak kamu lagi.
Kalau mereka gak terima gimana?"
Arga tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia justru menundukkan wajahnya, mengecup kening Queen dengan lembut dan lama, membuat Alya yang melihatnya langsung berdehem keras karena salah fokus.
"Percayalah pada saya. Ada aku di sampingmu," ucap Arga tegas, kini mengubah panggilannya menjadi 'Aku-Kamu' seperti permintaan Queen tempo hari.
Arga kembali berbalik dan menuntun Queen mendekati kedua orang tuanya.
Begitu mereka sampai, Papa dan Mama Arga langsung mengalihkan pandangan tajam mereka dari berkas hukum ke arah sosok gadis muda yang dibawa oleh putra sulung mereka.
Suasana mendadak hening selama beberapa saat.
Ketegangan terasa begitu pekat di udara.
"Papa, Mama,"
Arga membuka suara, memecah keheningan dengan nada baritonnya yang mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Perkenalkan, ini Queen.
Mahasiswi di kampus saya, wanita yang selama ini berada di samping saya saat saya berada di titik terendah... dan dia adalah calon istri saya."
Mama Arga, Gayatri Dirgantara, melangkah maju satu langkah.
Matanya yang jeli meneliti penampilan Queen dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Queen yang ditatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepala, meremas jemarinya sendiri yang mendadak dingin.
"Kamu... gadis yang kemarin sempat disebut oleh Keysha?"
tanya Mama Gayatri dengan nada suara yang tenang namun sarat akan penekanan.
"I-iya, Tante... eh, Ibu," jawab Queen terbata-bata, kehilangan seluruh kosa kata bar-bar andalannya.
"Mama," potong Arga cepat, melangkah maju satu langkah untuk melindungi Queen.
"Ada satu hal lagi yang harus Papa dan Mama ketahui. Queen saat ini... sedang mengandung anak biologis saya. Darah daging Dirgantara yang sesungguhnya."
'Deg!'
Pernyataan Arga laksana bom kedua yang meledak di hari itu.
Papa Arga yang sejak tadi diam dengan wajah kaku seketika membelalakkan matanya, sementara Mama Gayatri menutup mulutnya karena terkejut.
Alya yang tidak ingin kakaknya berjuang sendirian langsung ikut nimbrung.
"Ma, Pa, apa yang dibilang Mas Arga itu bener!
Alya sendiri yang nemenin Queen cek pakai testpack tadi di mall dekat kampus, dan hasilnya positif dua garis tegas!
Queen gak bohong, dia gak kayak nenek sihir Keysha yang hobi nipu!"
Mama Gayatri menatap Queen kembali, namun kali ini sorot matanya yang semula dingin perlahan-lahan mencair, digantikan oleh binar keharuan yang mendalam.
Sebagai seorang ibu yang menyaksikan putra sulungnya menderita bertahun-tahun dalam pernikahan toksik tanpa keturunan yang jelas, kabar kehamilan Queen seolah menjadi oase di tengah gurun pasir bagi keluarga Dirgantara.
Mama Gayatri mendekat, lalu di luar dugaan Queen, wanita anggun itu justru meraih kedua tangan dingin Queen dan menggenggamnya dengan sangat hangat.
"Siapa namamu tadi, Nak?
Queen?" tanya Mama Gayatri lembut, sebuah senyuman keibuan yang tulus terukir di wajahnya.
"Iya, Tante..." sahut Queen dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca karena terharu menerima kehangatan yang tak terduga.
"Jangan panggil Tante, panggil Mama," ralat Mama Gayatri hangat.
Wanita itu mengusap lembut pipi pucat Queen.
"Terima kasih... terima kasih karena kamu sudah hadir di hidup Arga, dan terima kasih karena kamu sudah menjaga benih murni dari putraku.
Jangan takut, kami keluarga Dirgantara tidak akan pernah menolak darah daging kami sendiri."
Papa Arga ikut melangkah maju, menepuk pundak kokoh Arga dengan bangga.
"Selesaikan proses perceraianmu dengan Keysha secepatnya di pengadilan.
Setelah urusan hukum itu bersih, segera nikahi Queen secara sah.
Papa tidak ingin cucu pertama dari keluarga Dirgantara lahir tanpa status hukum yang jelas."
"Baik, Papa.
Terima kasih," jawab Arga dengan kelegaan yang luar biasa yang terpancar dari wajah tegasnya.
Queen yang mendengar restu mutlak dari kedua orang tua konglomerat itu seketika tidak bisa membendung air matanya lagi.
Tangis harunya pecah, dan ia langsung didekap hangat oleh Mama Gayatri.
Di dalam pelukan calon mertuanya, Queen melirik ke arah Arga yang juga sedang menatapnya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa cinta, kepemilikan, dan kebahagiaan yang sejati.
Alya yang menyaksikan pemandangan romantis dan mengharukan itu langsung tersenyum lebar seraya berkacak pinggang.
"Nah, sekarang semuanya udah beres kan!
Berhubung calon kakak ipar gue lagi hamil muda dan butuh banyak nutrisi, gimana kalau kita langsung pergi makan siang mewah buat merayakan kehancuran Keysha sekaligus menyambut keponakan baru gue?"
"Ide bagus, Alya.
Ayo, Queen, kamu harus makan yang banyak ya, Nak," ajak Mama Gayatri seraya melepaskan pelukannya dan beralih merangkul bahu Queen dengan sayang, mengabaikan Arga yang kini justru berjalan di belakang bersama Papa dan adiknya.
Melihat bagaimana Queen langsung bisa merebut hati ibunya dengan kepolosan dan ketulusannya, Arga hanya bisa mengembuskan napas panjang dengan senyuman miring yang terukir tampan di wajahnya.
Benteng es di hatinya kini telah mencair seutuhnya, digantikan oleh kehangatan baru yang dibawa oleh mahasiswi cegil-nya.
Drama dan penderitaan masa lalunya telah usai, dan kini saatnya mereka melangkah menuju masa depan baru yang dipenuhi oleh cinta yang nyata dan tanpa syarat.
recom lah pokoknyaa