NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Keputusan Pahit sang Dewi

Gemuruh petir di atas Gunung Han tidak lagi terdengar seperti fenomena alam biasa. Suaranya menggelegar dahsyat, memekakkan telinga, disusul oleh kilatan cahaya perak yang membelah langit malam setiap beberapa detik. Hujan turun dengan sangat lebat, menghantam atap bambu pondok kayu dengan suara berisik yang konsisten.

Di dalam dapur pondok yang remang-remang, hanya diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis, Shen Liya berdiri dengan tangan yang gemetar. Ia sedang memegang sebuah cangkir tanah liat berisi air hangat. Di atas cangkir tersebut, jemari lentiknya bergerak pelan, menggambar sebuah aksara kuno berdarah emas yang sangat halus di udara.

Itu adalah Mantra Penidur Sukma—sihir penenang tingkat rendah dari Alam Langit. Mantra ini tidak berbahaya bagi tubuh manusia, melainkan hanya akan memberikan tidur yang sangat lelap tanpa mimpi selama beberapa jam.

"Maafkan aku, Gu Jue..." bisik Shen Liya, air matanya menetes jatuh ke dalam air hangat tersebut, menciptakan riak kecil sebelum aksara emas itu larut sepenuhnya. "Aku harus melakukan ini. Jika aku tidak pergi malam ini, besok tempat ini akan menjadi lautan darah."

Shen Liya menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu berjalan keluar dari dapur menuju ruang tengah pondok.

Di sana, Gu Jue sedang duduk tenang di atas kursi kayu di samping tungku api yang menyala hangat. Pria itu tampak sedang membersihkan beberapa akar obat menggunakan pisau kecilnya, seolah badai supernatural yang sedang mengamuk di luar sama sekali tidak mengganggu ketenangannya. Pembawaannya yang selalu acuh tak acuh dan kokoh seperti batu gunung justru membuat hati Shen Liya semakin tersayat.

"Tuan Gu Jue," panggil Shen Liya lembut, melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sengaja dibuat seringan mungkin.

Gu Jue menghentikan gerakan tangan. Ia mendongak, menatap Shen Liya dengan sepasang mata sehitam tinta yang dalam. "Kau belum tidur?"

"Badai di luar terlalu berisik, aku tidak bisa memejamkan mata," dusta Shen Liya, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sangat rapuh di wajah pucatnya. Ia mengulurkan tangan, meletakkan cangkir tanah liat itu di atas meja kecil di samping Gu Jue. "Aku membuatkan ini untukmu. Kau sudah bekerja keras memotong kayu dan merawatku sepanjang hari. Minumlah air akar manis ini untuk menghangatkan tubuhmu sebelum tidur."

Gu Jue menatap cangkir tanah liat itu selama beberapa detik. Sebagai Raja Iblis dengan indra sensorik yang berada di puncak tertinggi tiga alam, ia tentu saja bisa merasakan riak energi sihir langit yang larut di dalam air tersebut. Ia tahu persis bahwa wanita di hadapannya ini baru saja menaruh mantra bius tidur untuknya.

Gu Jue juga tahu persis alasan di balik tindakan bodoh ini. Shen Liya ingin melarikan diri malam ini demi memancing radar musuh menjauh dari pondoknya. Dewi langit ini mengira dirinya hanyalah manusia mortal yang akan mati mengenaskan jika pasukan zirah emas datang menyerbu.

Sebuah emosi yang rumit bergejolak di dalam dada Mo Jue. Selama ribuan tahun hidup sebagai penguasa kegelapan, ia selalu dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang mencari perlindungannya atau mencoba mengkhianatinya demi kekuasaan. Belum pernah ada satu pun makhluk yang begitu mengkhawatirkan keselamatan nyawanya hingga rela membuang diri ke dalam bahaya demi melindunginya.

Kau benar-benar dewi yang paling bodoh di tiga alam, Shen Liya, batin Gu Jue, sekerat kelembutan yang asing merayap di hatinya yang sedingin es.

Demi menghormati pengorbanan dan sandiwara yang sedang dimainkan oleh wanitanya, Gu Jue memilih untuk mengalah. Ia mengangkat cangkir tanah liat itu, lalu meminum air akar manis tersebut hingga tandas di depan mata Shen Liya yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan kelegaan.

"Terima kasih," ujar Gu Jue rendah, meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas meja. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sejenak, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri di seberang ruangan. "Aku akan tidur duluan. Jika badai kian memburuk, kunci semua pintu dengan rapat."

"Baik... selamat tidur, Gu Jue," bisik Shen Liya, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.

Begitu pintu kamar Gu Jue tertutup, Shen Liya menunggu selama beberapa puluh menit dalam keheningan yang mencekam, hanya ditemani oleh suara gemuruh hujan di luar. Setelah yakin bahwa mantra penidurnya telah bekerja dan Gu Jue telah tertidur lelap, Shen Liya melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya sendiri.

Ia tidak membawa banyak barang. Di atas tempat tidur kayu yang telah menemaninya selama hampir tiga bulan ini, Shen Liya meletakkan sebuah selendang sutra putih tipis miliknya yang tertinggal saat pertama kali ia jatuh dari langit. Selendang itu memancarkan aroma wangi bunga Xian-Cao yang khas—sebuah kenangan terakhir yang sengaja ia tinggalkan agar pria itu tahu bahwa kehadirannya di hidup pria fana itu bukanlah sebuah mimpi di siang bolong.

Shen Liya berjalan menuju cermin perunggu kecil di sudut kamar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali. Ia mengenakan gaun katun fana berwarna biru muda pemberian Gu Jue. Tangan kanannya bergerak perlahan, mengelus perutnya yang masih rata dengan kelembutan seorang ibu.

"Gu Yu... mari kita pergi," bisik Shen Liya dengan tatapan mata yang mendadak mengeras, penuh tekad yang tidak tergoyahkan. "Ibu tidak akan membiarkan langit menghancurkan ayahmu, dan ibu tidak akan membiarkan langit menyentuh dirimu."

Shen Liya mempertebal segel pembatas di rahimnya sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun riak energi bayinya yang bocor keluar selama perjalanan nanti. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju pintu belakang pondok, membukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara, lalu melangkah keluar menembus derasnya hujan malam dan pekatnya kabut Hutan Bambu Ungu.

Derasnya air hujan langsung membasahi gaun katun biru mudanya dalam sekejap, membuat tubuhnya yang belum pulih total bergetar kaku karena kedinginan. Namun, Shen Liya mengabaikannya. Ia terus berjalan dengan cepat, menerobos semak-semak basah, membiarkan kakinya yang tanpa alas tergores oleh ranting-ranting tajam hutan fana. Ia memusatkan sisa kekuatan sucinya untuk melesat pergi menjauh dari area Gunung Han secepat mungkin.

Sementara itu, di dalam pondok kayu yang baru saja ditinggalkan.

Pintu kamar Gu Jue terbuka dengan sentakan pelan. Pria itu melangkah keluar dari kegelapan kamar, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk atau terpengaruh oleh mantra penidur langit milik Shen Liya. Bagaimana mungkin mantra tingkat rendah bisa memengaruhi kesadaran seorang Raja Iblis?

Gu Jue berjalan lambat menuju kamar Shen Liya yang kini telah kosong. Ia melangkah mendekati tempat tidur, lalu mengambil selendang sutra putih yang ditinggalkan oleh sang Dewi. Ia mendekatkan selendang itu ke wajahnya, menghirup aroma bunga murni yang menempel di sana, sebelum akhirnya mengepalkan tinjunya dengan erat hingga selendang itu meremas di dalam genggamannya.

Aura manusia fana di tubuh Gu Jue runtuh tak bersisa. Sepasang mata hitam pekatnya seketika berubah menjadi warna ungu menyala yang mengerikan. Dari balik punggungnya, sulur-sulur energi kegelapan sepekat malam melesat keluar, menari-nari liar di dalam ruangan, memancarkan tekanan intimidasi yang bisa membuat kultivator manusia mana pun mati lemas seketika.

"Bodoh," desis Mo Jue, suaranya bergaung rendah, bergetar bersama kemarahan besar yang tertahan di dadanya.

Ia teringat beberapa malam lalu, saat racun di tubuh Shen Liya melonjak dan memicu demam parah. Wanita itu mengigau histeris dalam tidurnya, menangis ketakutan sambil terus menyebut satu nama yang mengkhianatinya: Ling Cang. Igauan traumatis sang Dewi telah terekam sempurna di kepala Mo Jue. Nama dewa penguasa langit itu kini menjadi target utama murkanya.

"Ling Cang... kau mengira bisa menakuti wanitaku hingga ia ingin melarikan diri dariku?" desis Mo Jue, matanya yang ungu berkilat dingin menembus kabut hutan, memancarkan kebencian mendalam kepada sang antagonis langit. "Silakan sisir bumi ini sesukamu. Begitu wanitaku melangkah keluar, aku sendiri yang akan memastikan setiap helai pasukanmu mati di bawah tanah fana ini."

Mo Jue berjalan keluar ke halaman depan pondok. Hujan lebat yang mengguyur bumi anehnya langsung menguap menjadi asap tipis sebelum sempat menyentuh jubah rami abu-abunya, tertahan oleh lapisan tipis energi kegelapan yang membungkus tubuhnya.

Ia mengangkat tangan kanannya, menghentakkan dua jarinya ke udara.

Dari bawah tanah Hutan Bambu Ungu, bayangan hitam transparan raksasa yang merupakan bentuk dari Segel Penjerat Jiwa meledak keluar, lalu meluncur cepat menyusuri tanah hutan, mengikuti jejak kaki basah yang ditinggalkan oleh Shen Liya yang sedang berlari di kejauhan.

Mo Jue tidak bermaksud menghentikan pelarian sepihak wanitanya. Jika ia menyeret Shen Liya kembali sekarang, dewi itu hanya akan terus hidup dalam ketakutan dan tidak akan pernah mengerti seberapa kuat pria yang tidur di ruangan sebelahnya. Maka, ia akan membiarkan Shen Liya pergi. Ia akan membiarkan istrinya bersembunyi di sudut dunia fana yang ia inginkan demi menjaga kedamaian pikirannya.

"Feng Wu," panggil Mo Jue rendah pada kegelapan malam.

Dari balik bayangan pohon persik di halaman, sesosok pria berbaju zirah hitam legam dengan topeng perak yang menutupi setengah wajahnya mendadak muncul dan langsung berlutut dengan satu kaki di atas tanah yang basah. Itu adalah Pelindung Kanan, Feng Wu, sang ahli spionase tertinggi Alam Iblis.

"Hamba berada di sini, Yang Mulia," jawab Feng Wu dengan suara penuh rasa hormat yang teramat sangat.

"Kawal dia dari balik bayangan. Pastikan tidak ada satu pun serangga dari Alam Langit yang bisa mendekat dalam radius sepuluh mil dari posisinya," perintah Mo Jue. "Dan awasi pertumbuhan anak di dalam rahimnya. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa mereka... ratakan wilayah fana tempat mereka berada saat itu juga."

"Hamba menerima perintah, Yang Mulia!"

Selesai mengucapkan kalimat tersebut, tubuh Feng Wu meleleh menjadi asap hitam dan lenyap menyatu dengan kegelapan malam, melesat pergi untuk melaksanakan tugas pengawalan rahasia paling penting di dalam sejarah tiga alam.

Mo Jue berdiri sendirian di tengah halaman pondok obatnya yang kini telah kembali sunyi dan dingin. Ia menatap selendang sutra putih di genggamannya sekali lagi, lalu menyimpannya dengan hati-hati di balik jubah raminya.

"Delapan tahun, sepuluh tahun, atau bahkan ratusan tahun... bersembunyilah sesukamu, Liya," gumam Mo Jue, berbalik berjalan kembali masuk ke dalam pondok kayu miliknya. "Begitu kau lelah berlari dan menyadari bahwa dunia ini terlalu kejam untuk anak kita... aku sendiri yang akan menjemputmu kembali ke singgasanaku."

Pintu pondok kayu itu tertutup rapat, menyegel semua kebohongan dan rahasia besar di balik dinding-dinding bambunya, memulai babak baru berupa penantian panjang sang Raja Iblis selama delapan tahun lamanya di dalam kesunyian fana.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!