NovelToon NovelToon
Janji Om Jangan Ngomong

Janji Om Jangan Ngomong

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Ryri

Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.

Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Atas Meja Dosen Killer

“Pak Adrian sudah selesai?” tanya senior Rina saat gadis itu gandeng pengusaha kaya itu keluar ruang VIP.

“Mmm! Sudah, aku akan kasih kamu tips tapi ijinkan gadis ini pulang bareng saya, ya.” Adrian meletakkan uang 300 ribu di atas meja kasih lalu melirik senior Rina yang paham maksud dari tarikan tangan Adrian.

“Oh, iya, Pak Adrian. Silahkan. Jam kerja Rina emang udah selesai,” dustanya sambil meraih lembaran uang pemberian Adrian.

“Bagus, kalau gitu saya pulang dulu. Ayo, siapa tadi namamu?”

“Rina, Om,” jawab Rina sambil menunduk.

“Ya, Rina. Ayo ikut om,”

“Terima kasih Pak, semoga datang kembali,” ucap senior Rina sambil menatap Rina yang begitu lugu masuk ke dalam mobil Adrian.

Mereka lalu sampai di penthouse milik Adrian dini hari.

Rina langsung membersihkan tubuhnya sebelum melangkah tidur. Sedang Adrian memilih untuk membaca pesan-pesan yang dia terima malam ini.

“Kamu sudah ngantuk?” tanya Adrian dengan tatapan malas.

“Iya, Om. Saya tidur di mana,”

“Di sana,” tunjuk Adrian dan Rina menurut patuh.

Malam itu memang malam yang melelahkan untuk Adrian. Dia baru saja kalah tender tapi dan istrinya marah karena kabar itu.

Karenanya dia tidak mau pulang, dia lebih memilih tinggal di rumah mewah ini dengan mainan barunya yang terlihat sangat mudah dikendalikan.

Keesokan paginya, Rina terbangun di sebuah kamar penthouse mewah dengan pemandangan kota.

Di atas meja rias terdapat sebuah kartu kredit hitam dan pesan singkat bertuliskan, "Gunakan ini untuk semua kebutuhanmu. Apartemen ini milikmu sekarang. Aku akan menghubungimu nanti. — Adrian."

Semua masalah finansialnya lenyap dalam satu malam. Namun, hati Rina terasa kosong dan kotor.

Ia mandi membersihkan tubuhnya yang masih menyisakan rasa linu dan tanda kemerahan di leher akibat perbuatan intens Adrian semalam.

Berusaha melupakan rasa bersalahnya, Rina mengenakan pakaian tertutup dan bergegas ke kampus.

Hari ini ia ada jadwal bimbingan bab analisis skripsi yang krusial.

Rina melangkah menyusuri koridor gedung Fakultas Hukum dengan perasaan was-was. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kayu jati dengan plang nama bernuansa emas: Prof. Dr. Eliza, SH., MH.

Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat mahasiswa gemetar.

Profesor Eliza adalah dosen killer nomor satu. Wanita berusia kepala empat itu terkenal sangat dingin, sangat perfeksionis dan memiliki mata sedetil elang yang bisa menggagalkan draft skripsi mahasiswa hanya karena salah meletakkan spasi atau kutipan.

Dengan tangan gemetar Rina mengetuk pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

"Masuk," terdengar suara bernada datar, tegas dan berwibawa dari dalam.

Rina mendorong pintu perlahan.

Di balik meja kerja besar yang rapi, duduk Profesor Eliza. Wanita itu tampak sangat anggun dengan setelan blazer formal berwarna marun dengan kacamata berbingkai hitam dan rambut yang disanggul rapi tanpa cela.

Tatapannya dingin langsung tertuju pada Rina saat gadis itu duduk di hadapannya.

"Rina. Saya dengar dari bagian keuangan kampus bahwa seluruh administrasi dan tunggakan kuliahmu tiba-tiba lunas pagi ini," ujar Profesor Eliza melipat kedua tangannya di atas meja.

Tatapannya seolah bisa menembus langsung ke dalam rahasia terdalam Rina. "Baguslah. Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk terlambat bimbingan skripsi."

"Baik, Bu. Terima kasih. Ini draf revisi Bab 4 saya," kata Rina dengan suara mencicit, menyerahkan bundel kertas tebal itu dengan tangan gemetar.

Ia sengaja memakai syal untuk menutupi tanda kepemilikan yang ditinggalkan Adrian di lehernya semalam.

Profesor Eliza mengambil draf tersebut, lalu mulai membacanya lembar demi lembar dengan keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara gesekan kertas dan ketukan pulpen bolpoin merah milik Eliza di atas meja.

Untuk mengurangi rasa gugupnya, pandangan Rina tanpa sengaja bergeser ke sudut kanan meja kerja Profesor Eliza. Di sana, terletak sebuah bingkai foto perak eksklusif.

Rina memicingkan mata melihat foto di dalam bingkai tersebut. Detik itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Rina seolah tersedot habis.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Seluruh tubuhnya mendadak kaku.

Di dalam foto itu, Profesor Eliza mengenakan kebaya formal berdiri dengan senyum tipis di samping seorang pria tampan berjas hitam yang merangkul pinggangnya dengan mesra. Pria dengan rahang tegas, tatapan mata yang dominan dan senyuman menawan yang semalam baru saja menjelajahi seluruh inci tubuh Rina di sofa klub malam.

Pria itu... Adrian. Pria yang membelinya sebagai istri simpanan adalah suami sah dari dosen killer-nya sendiri!

"Rina? Rina!"

Suara bentakan Profesor Eliza memecah lamunan Rina.

Rina tersentak hebat. Tanpa sengaja tangannya menyenggol tumpukan buku di tepi meja hingga jatuh berhamburan ke lantai.

"M-maaf, Bu! Maaf!" Rina langsung berlutut di lantai untuk memunguti buku-buku itu.

Seketika wajahnya mendadak pucat pasi.

Profesor Eliza berdiri dari kursinya sambil menatap mahasiswanya dari atas dengan mata menyipit penuh selidik. "Ada apa denganmu, Rina? Sejak tadi kamu tidak fokus lagian kenapa kamu menatap foto suami saya seperti ngeliat hantu?"

Rina menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. "S-saya... saya hanya sedikit pusing, Bu. Kurang tidur karena mengerjakan revisi."

"Hmph. Jaga kesehatanmu. Dan ingat satu hal, Rina," Profesor Eliza kembali duduk lalu menatap Rina dengan pandangan mengintimidasi. "Saya tidak suka mahasiswa yang membawa masalah pribadi ke ruang akademik. Jika sampai draf skripsimu berantakan lagi, saya tidak akan segan-segan menunda kelulusanmu sampai tahun depan. Kamu paham?"

"P-paham, Bu..." jawab Rina lirih lalu melangkah meninggalkan dosen killernya.

“Gila, ternyata Ibu Eliza istrinya Adrian. Hah, bisa-bisanya aku jadi madu dari dosen killerku!” Rina tersentak kaget tapi dia sudah terlanjur jatuh dalam pelukan Adrian.

Dia sudah tidak punya pilihan.

Kring!

Ponsel Rina berdering dan matanya segera melirik nama penelepon. “Om Adrian,” bisik Rina menyadari kalau dia harus lari agar Ibu Eliza tidak mendengar percakapannya.

Lama tak mendapat jawaban Adrian akhirnya mengirimkan pesan pada Rina.

“Kenapa tidak dijawab, Sayang. Nanti malam kita ketemu, ya. Aku kangen,”

Kangen?

Kepala Rina menggeleng cepat. “Bisa-bisanya dia seret aku ke dalam badai besar. Aduh bagaimana kalau sampai Prof Eliza tau aku tidur dengan suaminya, matilah aku!”

1
Raudhatul Zannah
Rina Jangan sampai ketahuan ya kamu..
Cilia
Waduh, gimana tuh kalau ketauan si Rina??
mbak Shaka
mati aja
mbak Shaka
awal ceritanya bikin kasihan sama prof Eliza tp ternyata justru prof Eliza menunjukkan taringnya dia tidak lemah
Raudhatul Zannah
waduh jebakan..
Cilia
Sugar daddy ternyata si adrian wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!