Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*6
"Hmz ... tapi dia bikin aku penasaran, La. Ada urusan apa dia nyariin Asha. Apa Asha utang barang sama dia?" Kali ini giliran Cindi yang menerka.
"Hush. Apaan sih? Kamu pikir Asha sangat kekurangan dana apa sampai harus utang sana sini. Utang sama dia lagi. Nggak mungkin kok. Sangat-sangat enggak mungkin."
"Lalu apa?"
"Ya mana aku tahu, Cindi .... Aku kan juga penasaran. Kenapa si gemulai fakultas ekonomi ini bisa datang nyariin teman kita. Aku juga ingin tau tahu?"
Hening sesaat. Kemudian, Cindi akhirnya tersenyum dengan penuh semangat.
"Ah, aku tahu. Dari pada bingung gak karuan kek gini gara-gara ulah si gemulai yang tiba-tiba nongol buat nyariin teman kita. Lebih baik aku tanya langsung aja sama orangnya. Kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai harus nyariin dia ke kelas kita."
"Hm. Kamu benar. Lakukan sekarang juga. Chat Asha."
"Oke tunggu."
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pesan singkat itu terkirim. Saat pesan singkat itu masuk, Sha sedang berbaring dengan hati yang gelisah di kamarnya.
Think!
Bunyi pesan yang langsung mengusik pikiran Asha. Dengan malah tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakal.
*Sha. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan.*
Begitulah bunyi pesan singkat yang baru saja masuk ke ponsel tersebut. Namun, belum sempat Asha membalas pesan itu, pesan susulan datang.
*Kamu ada bikin salah gak sih sama seseorang?*
Asha langsung menaikkan alisnya. Dia yang awalnya berbaring, sekarang bangun dengan cepat.
"Bikin salah? Apa-apaan sih nih anak? Aku bikin salah sama siapa coba? Aku kan nggak senakal itu mau bikin salah sama seseorang."
Kesal Asha sambil terus menatap layar ponsel.
Lalu, pesan balasan iya kirimkan.
*Ngomong apa sih? Aku bikin salah sama siapa coba sampai kamu harus nanya kek gitu. Aku nggak senakal itu sampai ada bikin salah sama orang tapi gak minta maat, tau?*
*Kamu yakin, Sha?*
"Astaga. Cindi ini kenapa sih?" Sha berucap agak kesal saat balasan itu ia baca.
*Kamu kenapa sih? Salah minum obat ya? Aku ini udah pusing, tau gak sih? Kenapa kamu tambah lagi beban pikiran untuk kepala ini, Cindi?*
Emoji tertawa Cindi kirimkan. Kemudian, pesan berikutnya menyusul.
*Tau nggak? Tadi, Irza anak fakultas ekonomi datang ke kelas kita. Dia nyariin kamu, Sha.*
Deg. Jantung Asha tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya. 'Irza?' Batinnya bertanya. 'Kenapa dia datang? Mau bikin semua kampus tahu tentang perjodohan ini?'
Lalu, pesan singkat dari Cindi datang lagi setelah beberapa saat Asha tidak membalas pesan yang ia kirimkan.
*Sha. Kamu kenal Irza kan? Anak fakultas ekonomi yang gemulai itu lho.*
Asha melepas napas berat. Bibirnya berucap cepat seolah temannya ada di depannya sekarang. "Siapa yang gak kenal dia? Aku rasa gak ada. Di kampus, orang yang paling terkenal itukan dia. Gak ada yang gak kenal Irza Rahardi ... Cindi."
Dengusan kasar pun Asha lepaskan.
"Lalu sekarang, dia bukan hanya akan aku temui di kampus saja. Dia juga akan muncul di rumah ku. Di hidupku yang awalnya baik-baik saja."
"Takdir. Apakah selama ini hidupku terlalu mulus sampai kamu harus kirimkan orang yang salah ke dalam hidupku? Padahal aku rasa, hidupku tidak terlalu berjalan datar sebelumnya. Hidupku juga penuh dengan gelombang. Asrama yang aku jalani juga tak ubah naik roller coaster saja. Baru juga naik sesaat, tapi malah udah turun bebas."
"Ya Tuhan .... "
*Asha.*
Pesan singkat dari Cindi datang lagi. Kali ini hanya untuk memanggil Sha biar menjawab pesan saja.
*Iya. Aku kenal dia. Siapa yang gak kenal sama Irza coba?*
*Bagus kamu kenal, Sha. Sekarang jawab aku, kamu punya masalah apa sama dia sampai dia harus nyariin kamu ke kelas kita.*
Sha tidak langsung menjawab. Butuh beberapa waktu lamanya ia menatap pesan itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Aku salah apa?"
"Nggak. Aku gak salah apa-apa sama dia. Karena yang salah itu dia, bukan aku."
*Aku gak punya salah, Cindi. Mana mungkin. Berurusan dengan dia aja nggak. Lalu kenapa tiba-tiba aku bikin saja, coba?*
*Benar juga. Kamu kan selalu berusaha menghindar tuh dari pria itu. Tapi, kenapa dia bisa tiba-tiba nyariin kamu, Sha. Bikin penasaran banget tau gak sih?*
*Ya mana aku tahu.*
Jujur saja, jawaban itu bohong. Karena saat ini, hubungannya dengan Irza sudah cukup terikat. Dijodohkan. Sungguh, memikirkannya saja sudah hampir membuat Sha kehilangan semangat hidup. Bagaimana dengan menjalaninya? Jawabnya saja Sha tidak punya. Karena ia sangat-sangat tidak sanggup untuk membayangkannya.
"Dunia ini terlalu kejam. Sangat kejam," gumam Asha dengan raut wajah kesal.
Di sisi lain, Irza sudah pun duduk manis di dalam mobil. "Pulang, pak." Pria itu berucap pelan tanpa semangat sedikitpun.
Pak Kamil melirik tuan mudanya beberapa detik, setelahnya, barulah menjawab sambil menghidupkan mesin mobil.
"Baik, tuan muda."
Lagi, Irza mengulangi hal yang sama seperti yang ia lakukan tadi pagi. Menatap layar ponsel tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
'Apakah ... aku beneran harus menghubunginya?' Irza bertanya dalam hati pada dirinya sendiri.
'Tapi ... apa yang harus aku katakan ketika kami sudah terhubung?'
Pada akhirnya, Irza masih tidak punya keberanian untuk memulai percakapan lewat udara dengan Asha. Dia masih tidak tahu harus bicara apa. Padahal sesungguhnya, ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi pikirannya langsung menutupi semua itu saat tangannya ingin memulai.
"Tuan muda sepertinya sedang punya masalah besar ya?" Pak sopir itu akhirnya angkat bicara.
Irza langsung mengangkat wajah untuk melihat ke depan. "Iya ... iya begitu deh."
"Kalo mau berbagi, boleh kok berbagi masalahnya dengan bapak. Mungkin bapak memang tidak bisa memberi solusi, tapi setidaknya, bisa jadi pendengar yang baik atas keluh kesah yang tuan muda rasakan saat ini."
"Mm .... " Irza terlihat berpikir. Maklum, dia adalah jenis manusia yang lebih tertutup. Jarang bicara hal pribadi pada orang lain. Selalu bisa menyembunyikan masalahnya sendirian.
"Itu ... terima kasih banyak, pak. Mungkin lain kali saya akan bicara. Untuk saat ini, belum."
"Baiklah, tuan muda. Tapi bapak punya sedikit saran untuk tuan muda. Jangan sering menyimpan semuanya sendiri. Karena itu gak baik. Manusia butuh teman untuk saling berbagi."
"Sayangnya aku gak punya teman, Pak. Gak punya tempat untuk berbagi apapun."
"Teman kan bukan hanya orang yang dari seumuran saja. Bisa dari mana saja, tuan muda."
Irza terdiam sesaat. Benaknya membenarkan apa yang pak sopirnya katakan. Sayang, dia sudah terbiasa akan terpisah dari dunia luar akibat perbedaan yang ia miliki. Ia berbeda. Terlalu berbeda sampai sering menerima hinaan dan cemoohan dari orang lain. Karena itu, dia lebih memilih untuk sendiri saja dari pada membuka diri untuk berteman. Sendiri lebih baik menurutnya.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi