Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sebelum Lamaran Itu Datang
Kedua remaja itu masih terus bergosip, tak menyadari keberadaan Mirna.
"Kemungkinan besar begitu. Hartato bakal lamar Vira. Lagian siapa yang nolak Vira?"
"Iya juga. Cantik, punya usaha, rumah sendiri. Cocok banget jadi menantu Pak Kades."
"Iya, Vira emang lebih cocok sama Hartato. Dia punya penghasilan sendiri. Nggak manja meski anak kepala desa dan keluarganya berkecukupan. Gak kayak itu tuh si Daril. Lulusan sarjana tapi pengangguran. Kerja pilih-pilih. Malah ngandelin Vira."
"Bener. Kalau aku jadi Vira, aku juga bakal mutusin dia."
"Aku juga. Daril itu tampangnya doang yang oke. Mana bisa bikin kenyang dan ngobatin capek?"
"Kamu tahu gak sebutan apa yang cocok buat cowok kayak Daril?"
"Apa?"
"Mokondo."
Kedua remaja itu tertawa kecil.
Sementara itu, jantung Mirna mendadak berdebar lebih cepat. Bukan hanya karena anaknya yang dihina dua gadis itu. Tapi juga karena kabar tentang Hartato.
Kalau Hartato benar-benar melamar Vira... Lalu bagaimana dengan mereka? Siapa yang akan membantu biaya hidupnya? Siapa yang akan memberi beras, minyak, atau uang saat mereka kepepet?
Rahang Mirna mengeras.
"Nggak bisa."
Tangannya mencengkeram kantong plastik hingga berbunyi gemerisik.
"Itu gak boleh sampai terjadi."
Jika Vira menikah dengan Hartato, maka peluang Daril untuk kembali mendapatkan gadis itu akan semakin kecil. Dan yang lebih menakutkan... Mungkin akan hilang selamanya.
Mirna segera mempercepat langkah menuju rumah. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan Daril. Sesuatu yang tidak bisa ditunda lagi.
-
Tak lama kemudian, Mirna tiba di rumah. Ia langsung mendorong pintu dengan wajah pucat.
"Daril!"
Suara itu menggema ke seluruh rumah.
"Kita dalam masalah besar."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Daril yang baru saja menyesap kopi langsung tersedak. Ia buru-buru mengelap mulutnya, lalu menatap ibunya.
"Ada apa sih, Bu? Heboh banget. Memangnya ada masalah besar apa lagi?" tanyanya kesal karena ulah Mirna membuatnya tersedak.
"Vira akan dilamar Hartato!" ucap Mirna cepat sambil menjatuhkan tubuhnya di samping putranya.
Mata Daril langsung membulat. "Apa?! Dari mana Ibu tahu?"
"Ibu dengar sendiri dari dua remaja yang lagi ngobrol di pos ronda."
Daril mengembuskan napas panjang.
"Mungkin cuma gosip, Bu," ujarnya, entah sedang menenangkan ibunya atau justru dirinya sendiri.
"Gosip atau bukan, kamu harus bertindak, Ril!" tegas Mirna. "Kamu harus deketin Vira lagi."
"Bu." Daril mengusap wajahnya frustrasi. "Dia sudah nolak aku mentah-mentah. Gimana lagi caranya aku deketin dia?"
"Dia berubah karena kamu masih pengangguran." Mirna menatap putranya lekat. "Coba cari kerja. Begitu kamu punya kerjaan yang bagus, Ibu yakin Vira bakal luluh lagi."
Daril mendengus. "Ibu pikir cari kerja itu semudah membalik telapak tangan?"
"Ibu tahu itu gak mudah. Tapi kalau gak dicari, mana mungkin datang sendiri?"
Daril terdiam sesaat sebelum berkata lirih, "Kalau benar Vira dilamar Hartato, bisa-bisa dia keburu nikah sebelum aku dapat kerja, Bu."
Mirna berdecak kesal. "Kalau begitu, cari cara lain. Bagaimanapun juga, Vira harus jadi istrimu."
Daril menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memijat pelipisnya. Bayangan wajah Vira saat memutuskan hubungan mereka kembali terlintas di benaknya.
Sorot mata gadis itu begitu dingin
"Aku gak mau menikah sama kamu."
"Selama ini aku hanya membalas budi. Karena dulu kamu pernah menyelamatkan nyawaku. Jadi mulai hari ini, kita gak saling berutang apa pun lagi."
"Dan menurutku... Balas budi itu sudah lunas."
"Kita akhiri semuanya. Tolong jangan datang lagi dengan urusan apa pun."
"Aku gak mau lagi memiliki hubungan apa pun sama kamu."
Ucapan itu masih terngiang jelas di telinganya. Daril mengepalkan tangan.
"Tapi... gimana caranya?" gumamnya frustrasi. "Dia bahkan sudah gak mau ngasih aku kesempatan buat bicara."
***
Di tempat lain, mobil pick up milik Vira baru saja berhenti di halaman rumahnya, tepat di depan toko.
Arvin langsung turun dari mobil. Tanpa disuruh, ia segera menurunkan barang-barang belanjaan dari bak pick up.
"Ra," panggilnya. "Aku gak tahu barang-barang ini harus ditaruh di mana. Bilang aja, nanti aku yang masukin."
"Iya," jawab Vira sambil membuka rolling door toko.
Tanpa banyak bicara, Arvin mengangkat satu per satu kardus dari mobil. Setiap kali Vira menunjukkan tempatnya, ia langsung menyusunnya dengan rapi. Tak butuh waktu lama, seluruh barang sudah tertata di dalam toko.
"Akhirnya selesai juga," ujar Vira sambil menepuk-nepuk kedua tangannya untuk menghilangkan debu.
"Masih ada lagi yang harus aku kerjain gak?" tanya Arvin.
"Udah beres."
Vira berjalan ke salah satu rak, mengambil sebuah kantong plastik, lalu mulai memasukkan beberapa barang ke dalamnya. Gula, kopi, minyak goreng kemasan, mi instan, beras, dan beberapa butir telur.
Setelah penuh, ia menyodorkan kantong itu kepada Arvin. "Ini."
Arvin menerimanya sambil mengernyit bingung. "Ini... gajiku?" tanyanya.
"Kenapa? Kurang?" goda Vira sambil mengulum senyum.
Arvin buru-buru menggeleng. "Bukan begitu."
Ia melirik isi kantong itu sekali lagi. Jika dihitung-hitung, nilainya pasti hampir seratus ribu rupiah. Menurutnya, itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula mereka hanya belanja selama beberapa jam.
"Terima kasih, Ra," ucapnya tulus dengan senyum lebar.
Vira malah terkekeh pelan.
"Kenapa ketawa?" tanya Arvin bingung.
"Kamu beneran ngira itu gajimu?"
Arvin mengangguk polos. "Malah menurutku kebanyakan."
Vira menggeleng sambil tersenyum. "Itu cuma bonus."
"Bonus?"
"Iya. Aku puas sama cara kerjamu."
Vira kemudian membuka dompetnya, mengambil selembar uang seratus ribu rupiah, lalu menyodorkannya kepada Arvin.
"Nah, kalau ini baru gajimu."
Mata Arvin langsung membelalak.
"Nanti kalau stok toko habis, bantu aku belanja lagi, ya."
Arvin buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Aku gak bisa nerima ini, Ra."
"Kenapa?"
"Yang di kantong itu aja udah banyak. Kalau aku kerja di tempat lain, belum tentu dapat sebanyak ini."
Vira tersenyum tipis. "Itu 'kan di tempat lain."
Ia tetap menyodorkan uang itu.
"Aku ngasih segini karena kamu kerja dengan baik. Kamu langsung tanggap tanpa harus disuruh. Waktuku jadi lebih efisien, pekerjaanku lebih ringan, dan itu membuatku senang."
"Ra..."
"Jadi jangan ditolak."
Arvin masih ragu.
Melihat itu, Vira menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Kalau kamu tetap nolak, lain kali aku gak jadi ngajak kamu belanja lagi."
Arvin langsung panik. "Jangan begitu."
"Terus?"
Arvin akhirnya mengangguk pelan. "Ya udah... aku terima."
Senyum Vira kembali mengembang. Tanpa menunggu Arvin berubah pikiran, ia langsung menyelipkan uang itu ke saku kemeja lusuh yang dikenakan pemuda tersebut.
"Nah, gitu dong."
Arvin menunduk sambil tersenyum kecil. "Terima kasih, Ra."
Di dalam hati, ia tahu dirinya tak pantas berharap lebih kepada Vira. Namun, bisa berada di dekat gadis itu, membantu pekerjaannya, dan mendapatkan kepercayaan darinya saja sudah menjadi kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Sama-sama." Vira tersenyum. "Sekarang pulang sana. Aku juga mau istirahat."
Arvin mengangguk. "Aku pulang dulu."
Ia berbalik melangkah meninggalkan halaman rumah Vira dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya.
Vira memandangi punggung Arvin yang semakin menjauh, lalu mengembuskan napas pelan.
"Semoga ini bisa sedikit membantu mengubah hidupmu," gumamnya lirih.
***
Di rumah kepala desa, seorang pria paruh baya baru saja menyesap kopinya.
"Hartato."
Pemuda itu menoleh. "Apa, Pak?"
Sang kepala desa menatap putranya beberapa saat sebelum berkata, "Kalau memang serius sama Vira, jangan terlalu lama."
Hartato mengernyit.
"Bapak sudah bicara dengan ibumu." Pria itu meletakkan cangkirnya perlahan. "Kalau perlu, bulan depan kita datang melamar."
Deg!
Mata Hartato membelalak.
...✨"Seseorang yang benar-benar menghargaimu tidak hanya melihat siapa dirimu hari ini, tetapi juga percaya pada siapa dirimu di masa depan."...
..."Takdir mulai berubah ketika kita berhenti mengejar orang yang salah dan mulai memberi kesempatan kepada orang yang tepat."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.