Bagian dari The fate of marriage
Memiliki paras yang nyaris sempurna, ternyata tidak menjamin Ivannia menerima sembarang lelaki untuk mengisi hatinya. Ivannia mengalami trauma terhadap lelaki hingga membuatnya bersikap dingin terhadap semua pria. Dia menolak dan menjauh jika hal itu terjadi.
Sementara Gavin dibesarkan keluarga sederhana yang penuh kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada orang lain kecuali Joevanka. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan ia menjadi pria yang susah jatuh cinta. Namun semenjak dia mengenal Ivannia yang memiliki sifat jutek dan dingin membuat Gavin penasaran dan semakin jatuh ke dalam jurang cinta.
Di sisi lain seorang pria juga mengagumi Ivannia. Dia adalah seorang asisten yang bekerja di perusahaan Donisius. Lelaki itu adalah Halbret, dia humoris dan suka tersenyum kepada siapa saja. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta dari Ivannia.
Bagaimanakah pertarungan cinta segitiga ini. Siapakah yang berhasil menahlukkan cinta Ivannia.
Ikuti kisah cinta mereka.
Whisper Of Love Season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta mengejutkan.
💌 Whisper of love season 2 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Di luar masih terlihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh hujan. Gavin mengusap kaca jendela untuk sekedar menghilangkan embun yang menutupi jendela untuk memandang ke arah luar kantornya. Ia melirik jam sekilas, ternyata sudah pukul lima sore. Ingin rasanya melarikan diri dan menghilang sejenak dari hingar-bingar kehidupan, tapi masih saja tertahan karena ada sesuatu yang selalu mengikat. Sesuatu yang benar-benar menghalangi untuk bebas melepas dalam artian yang sebenarnya.
Tanpa sadar, hal ini justru membuat dirinya semakin terbebani. Disaat permasalahan telah teratasi, munculah sesuatu yang selalu menghalangi untuk membuatnya selalu berpikir dan mencari tahu.
Gavin terdiam menatap keluar. Ia sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur. Sampai saat ini hatinya gelisah selalu memikirkan setiap penjelasan dari dokter. Ia begitu terkejut pada saat itu. Ada seseorang yang namanya dirahasiakan telah membantu biaya operasi ibunya. Gavin menghembuskan napas panjang. Biaya sebanyak itu, siapa yang berbaik hati membayarnya. Gavin sudah berusaha untuk mencari tahu. Setidaknya ia ingin mengucapkan terima kasih. Namun hasilnya selalu sia-sia. Dokter Elizabeth tidak mau memberikan tahu soal identitasnya yang membantu operasi ibunya.
Detik demi detik berlalu menciptakan menit-menit kelam yang penuh dengan kejenuhan. Ia berulang kali menghubungi dokter Elizabeth, tapi tidak diangkat. Perasaannya menjadi tidak tenang dan pikirannya menjadi kacau. Mungkin beberapa kata yang dapat mendeskripsikan atau seperti ruangan yang seluruh dinding nya dicat putih lalu ada satu kursi ditengah ruangan menjadi suram. Gavin merasa berutang budi dan ia ingin bertemu dengan orang tersebut.
Gavin mondar-mandir dengan gelisah di ruangannya. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu dan sesekali berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Ia sedari tadi tidak konsentrasi melakukan pekerjaannya.
Gavin ingin menginspirasi dan menjerit dalam hati meluruhkan benteng-benteng kelam dalam angan, walau hanya sesaat. Kondisi ini semakin membuatnya semrawut dan Berbelit-belit di dalam benaknya. Gavin tak bisa tidur semalaman perihal itu. Selalu memikirkan hal itu. Masih antara percaya dan tidak percaya. Gavin akhirnya memutuskan untuk menghubungi Valeno. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu masalah biaya operasi Ibunya.
Setelah satu helaan nafas panjang dan puluhan pertimbangan, Gavin mengambil ponselnya dan mencari nomor telepon Valeno. Sebelum menekan tombol panggil Gavin kembali melakukan ritualnya untuk menghembuskan napasnya. Cara yang biasa ia lakukan untuk menutupi rasa gugupnya. Gavin menatap ponselnya ketika panggilnya langsung diangkat.
"Hallo..?" jawabnya dari seberang.
Gavin terdiam beberapa saat. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.
"Saya..." Lagi-lagi Gavin terdiam sesaat.
"Siapa ini?" Tanya Valeno begitu dingin. Ia mulai curiga siapa yang menghubunginya.
"Uncle, saya Ga...." Belum juga Ia melanjutkan kata-katanya. Sebuah makian tajam langsung terdengar dari seberang.
"Kau lagi...Kau masih berani menghubungiku, heh? Cih.. Kau sama dengan ibumu tidak punya malu. Jangan harap kau dapat bantuan dari keluarga Axton. Ingat itu!" Bentaknya dan lalu...
TIT!
Panggilan langsung dimatikan. Gavin menurunkan handphonenya. Ia meremas layar pipih itu begitu kuat.
"Ahhhhh..." Gavin tertunduk bisu. Mendengar itu, seolah seluruh tenaganya lenyap dari tubuhnya. Gavin pun pasrah pada dinding di kantornya dengan menyenderkan punggungnya di sana. Ia tertunduk lesu dengan tatapan kosong di matanya. Lama sekali. Diam sesaat sampai hanya waktu yang peduli pada Gavin. Kekalutan hatinya kembali menggelayut.
"Jadi siapa dia? Apakah Joevanka?" Gavin menggeleng, Joevanka tidak mungkin melakukan itu. Karena Gavin tidak pernah memberitahu perihal mengenai operasi ibunya.
Kedua tangannya mengacak-acak rambutnya. Meluapkan segala rasa frustasinya. Gavin tidak akan bisa tenang selagi ia tidak mencari tahu mengenai orang yang membantu operasi ibunya. Tak lama Gavin pun mengusap wajahnya dengan kasar, pikirannya benar-benar kalut.Ya dalam sekejap, rasa lelah menjalar dan menjangkiti tubuhnya. Ia lelah berpikir. Gavin memejamkan mata. Tersadar, ia tidak bisa diam berpangku tangan. Ia bergegas meninggalkan ruanganya. Dengan sedikit terburu-buru, Gavin memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
Gavin melangkah untuk bertemu dengan Dokter Elizabeth. Ia tidak bisa diam seperti ini. Bukan Gavin namanya jika ia tidak mencari tahu. Ia tidak akan bisa tenang.
⭐⭐⭐⭐⭐
Matahari senja berhasil menyamarkan langit biru menjadi panggung berlatar tembaga. Sementara itu di depan panggung, burung-burung camar berbaris rapi pulang ke rumahnya. Jalan raya yang sejam lalu masih dilalui banyak kendaraan karena jamnya pekerja pulang kini melenggang. Sepi. Rasanya benar-benar senja yang indah. Gavin sudah tiba di rumah sakit dan berjalan di koridor.
"Dokter?" Panggil Gavin ketika melihat Dokter Elizabeth masuk ke dalam ruangan.
Dokter Elizabeth memutar tubuhnya dan melihat ke arah Gavin. Ia tersenyum menyambut kedatangannya keluarga dari pasiennya.
"Silakan masuk pak Gavin," Dokter ahli jantung itu masuk lebih dulu. Ia lalu mempersilakan tamunya duduk. "Ibu Veronica sudah lebih membaik. Dalam minggu-minggu ini beliau sudah bisa pulang." jelas dokter Elizabeth tersenyum di awal kalimatnya. Ia sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
"Terima kasih dokter, operasi ibu berjalan dengan baik. Tapi saya masih penasaran siapa yang membantu biaya operasi ibu. Saya mohon..."
"Maaf pak Gavin, saya tidak bisa memberi tahu masalah itu, saya sudah berjanji untuk tetap merahasiakannya sampai pengobatan ibu Veronica selesai. Sekarang kita pikirkan, bagaimana pengobatan ibu Veronica selanjutnya." ucapnya dengan seulas senyum di bibirnya.
"Saya mohon dokter." Wajah Gavin memelas penuh harap. "Setidaknya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu ibu saya. Dokter tahu sendiri, biaya operasi tidaklah sedikit. Saya tidak bisa tenang jika dokter tidak memberitahu saya. Biarkan saya mengetahuinya dokter. Saya sangat bersyukur dan sangat berutang budi kepadanya. Apa saya salah mengucapkan terima kasih kepada beliau,dokter?" ucap Gavin dengan wajah sendu.
Dokter Elizabeth menghela napas panjang. Ia melihat ke arah Gavin. Wajah kalut terlihat jelas di wajahnya. Dokter Elizabeth melarikan pandangannya. Menggigit bibir bawahnya dan memandang Gavin sekilas.
"Bagaimana saya mengatakan ini, Karena saya sudah terlanjur berjanji dengan wanita yang membantu pengobatan ibumu." Wajah dokter Elizabeth dengan ekspresi resah dan bingung sesungguhnya tugasnya harus bisa merahasiakannya karena sudah terlanjur berjanji.
Sementara Gavin mengernyitkan dahi. "Seorang wanita dokter? Katakan siapa wanita itu dokter?"
Wajah dokter meringis seakan tidak sanggup mengucapkan. Ia paling kuat memegang pendiriannya. Tapi wajah Gavin yang berharap banyak seakan meruntuhkan benteng hatinya.
Lagi-lagi dokter Elisabeth menarik napas dalam-dalam dan kembali menatap lekat-lekat ke arah Gavin.
"Sesungguhnya yang membantu seluruh biaya ibumu tidak mau anda berutang budi dan merasa terbebani atas bantuannya kepada keluargamu. Itulah beliau merahasiakannya."
"Saya hanya ingin berterima kasih Dokter, saya mohon bantu saya." Ucap Gavin kembali.
Ia berusaha menahan napas dan bersabar menunggu jawaban dari dokter Elisabeth. Ia memiringkan wajahnya menatap sendu ke arah dokter Elisabeth.
"Beliau adalah teman anda." Jawab Dokter Elizabeth akhirnya.
"Teman saya dokter?" Alis Gavin berkerut. Wajahnya tiba-tiba serius dan terlihat tegang." Apa maksud dokter Joevanka?" Tanyanya lagi.
Dokter Elizabeth menggeleng. "Bukan Joevanka," Ia menggeleng lagi. Soalnya ia masih mengingat nama yang memberi bantuan itu. "Yang memberi bantuan itu ibu Ivannia Donisius."
Gavin terbelalak, ia sangat terkejut dan sangat terkejut. Mulutnya membulat kaget. Wajahnya menegang. Ia terdiam dan tidak bersuara. Menelan salivanya berulang kali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dalam benaknya ia berpikir, bagaimana Ivannia tahu jika ia memerlukan biaya untuk operasi ibunya? Gavin mengusap wajahnya dengan kasar. Masih mencerna perkataan dokter Elisabeth dan memastikan kembali.
"Apa Ivannia sendiri datang ke sini Dokter?" Tanya Gavin sambil mengangkat alisnya.
Dokter Elizabeth tersenyum lembut sambil menggeleng. "Ibu Ivannia menghubungiku dan langsung mengatakan untuk melakukan operasi secepatnya. Untuk biaya operasi, ibu Ivannia menanggung semua sampai ibu Veronica benar-benar pulih."
Heeehh Gavin menarik napas, lalu mendesah terbata-bata. Ia mengeluarkan napasnya secara cepat dan tidak beraturan dari mulut. Jantungnya ikut berdebar kencang. Gavin kebingungan dan belum dapat memahami apa yang terjadi. Bagaimana Ivannia mengetahui semua ini dan seperti kata dokter Elisabeth, Ivannia langsung menghubungi langsung ke rumah sakit.
"Pak Gavin?" Panggil dokter Elizabeth berusaha memecahkan keheningan.
Gavin tersentak dan memandang dokter Elizabeth dengan pandangan nanar. Matanya berubah sayu. Ia melihat ke arah tangannya yang gemetar. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Debaran jantungnya masih berdetak kencang.
"Lanjut dokter! Tolong jelaskan secara rinci." ucap Gavin.
"Seperti yang saya katakan tadi, ibu Ivannia meminta saya melakukan operasi secepatnya. Tapi sebelumnya ia meminta saya menjelaskan operasi apa yang apa yang tepat untuk ibu Veronica dan beliau meminta saya untuk melakukan operasi secepatnya. Soal biaya, ibu Ivannia langsung mentransfer semua biaya sampai untuk pemulihan ibu Veronica."
Gavin menutup mata dan menahan napasnya sejenak. Ia masih belum mengerti kenapa Ivannia membantu biaya operasi ibunya. "Apakah dia mengatakan saya ada temannya dokter?"
"Ehmm, dia mengatakan bahwa pak Gavin adalah teman dari ibu Ivannia." Jawab dokter Elizabeth. "Kenapa pak Gavin, apa ada yang salah?" Alisnya mengerut melihat raut wajah Gavin.
"Tidak, semua sudah cukup Dokter. Terimakasih atas penjelasannya." Kata Gavin tersenyum. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dokter Elizabeth. lalu bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan ruangan dokter.
Gavin berjalan tegap di hadapan dokter Elizabeth. Namun setelah pintu ia tutup dari luar. Gavin memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan memegang dada. Ia masih shock dengan semua penjelasan dokter yang menangani ibunya itu. Ia seakan masih mencerna semuanya. Masih mencoba mengerti. Masih mencoba memahami. Lalu
Gavin melangkah sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya. Ia mencari kontak dan melakukan panggilan buat Ivannia.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Ivannia masih berada diruang rapat. Rapat berjalan dengan baik. Tangannya berpangku pada meja dengan letter U tersebut. Ia menghembuskan napas panjang dengan kepala tertunduk.
Sementara Jessica masih membereskan berkas-berkas yang masih ada di atas meja.
Valeno pun tidak langsung keluar dari ruangan rapat. Ia melihat ke arah Ivannia dan tersenyum simpul sambil mendekati ke arah Ivannia. Ia bangga kepada direktur operasional itu.
Ivannia mengerjap, menyadari sosok yang ada di samping. Ia lalu bangkit dan tersenyum menyapa direktur utama itu. Valeno memegang bahu Ivannia dengan lembut.
"Kamu memang luar biasa Ivannia, " Puji Valeno dengan mengangkat jempol tangannya dengan senyum bangga.
Ivannia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Namun dalam hati ia mengumpat Valeno. Manusia yang tidak mempunyai hati nurani.
"Terima kasih pak." Ucapnya seramah mungkin.
"Saya tinggal dulu ibu Ivannia." Kata Valeno menepuk lengan Ivannia dan tersenyum meninggalkan ruang rapat.
Ia hanya tersenyum mengangguk. Membiarkan pak direktur utama meninggalkan mereka. Saat hendak duduk tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing. Ia menatap Jessica sejenak, napasnya mulai berhembus tidak stabil. Wajahnya terlihat pucat pasi, matanya berubah sayu. Dan tiba-tiba...
BRUKKKKKK!
Tubuh Ivannia oleng dan terjatuh. Jessica kaget dan langsung berteriak meminta pertolongan.
"Ibu Ivannia..ibu Ivannia? " Panggil Jessica berulang-ulang sambil menepuk-nepuk pipi Ivannia yang sudah tidak sadarkan diri.
BERSAMBUNG
.
.
❣️ Maafkan author ya sayang sayangku lama up lagi 🤭 Selamat liburan buat kita semua 😘 Tetap mengikuti protokol kesehatan ya 🤗 Salam sehat 😊
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU 💌
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu