Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19. Sah
Setengah jam kemudian, Ubay dan Nadia sudah duduk di ruang tamu rumah Pak RT yang sederhana. Aroma kopi dan pajangan dinding bernuansa warga hias memenuhi ruangan. Pak RT, duduk di hadapan mereka sembari membetulkan posisi kacamatanya setelah mendengar penjelasan singkat dari Ubay.
Ubay sengaja memotong cerita. Ia tidak menceritakan soal kelakuan bejat Axel di rumah megah itu, demi menjaga kerahasiaan trauma Nadia. Ubay hanya mengatakan bahwa karena sering bertemu, mereka jatuh cinta. Kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena sama-sama sendiri, jadi mereka harus segera menikah secara resmi di KUA setempat tanpa perayaan besar-besaran karena alasan personal.
Pak RT tersenyum simpul mendengar penjelasan Ubay sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kayu, lalu menatap Ubay yang selama ini ia kenal sebagai pemuda gondrong jalanan yang urakan namun tidak pernah membuat onar di lingkungan RT-nya. Kemudian pandangannya beralih pada Nadia yang menunduk dalam dengan wajah pucat.
"Jadi begitu, ya.." Pak RT menghembuskan napas panjang. "Bapak selaku RT di sini sebenarnya senang kalau kamu akhirnya mau melepas masa lajang dan berniat baik membina rumah tangga di rumah peninggalan nenekmu. Menikah di KUA itu sah, bagus, bapak dukung daripada terjadi fitnah."
Pak RT memajukan badannya sedikit, nadanya berubah menjadi lebih serius selaku orang tua di kampung.
"Tapi begini, Bay, Mbak Nadia... karena kalian ini tinggal di lingkungan sosial, setelah ijab kabul di KUA nanti selesai dan berkasnya masuk ke bapak, bapak minta kalian bikin acara syukuran kecil-kecilan. ndak usah mewah. Cukup undang tiga atau empat tetangga kanan-kiri yang paling dekat, sama perangkat RT buat doa bersama dan makan tumpeng. Kenapa? Biar warga sekitar sini ngeh dan tahu kalau kalian berdua sudah sah suami-istri."
Pak RT kembali tersenyum tipis. "Zaman sekarang ini, kalau orang nikah ndak kelihatan ketuk palunya oleh tetangga, nanti pas si Mbak Nadia ini hamil atau kalian keluar-masuk rumah berdua, malah jadi gunjingan yang ndak-ndak. Bapak ndak mau warga bapak malah saling curiga. Paham kan maksud Bapak?"
Ubay melirik Nadia sekilas, lalu mengangguk mantap ke arah Pak RT. "Paham, Pak RT. Saya ikuti aturan kampung sini. Yang penting urusan berkas pengantar dari RT bisa segera dibantu."
"Oh, kalau soal berkas administrasi, pasti bapak bantu secepatnya. Asal syarat-syarat fotokopi KTP dan surat keterangan dari daerah asal Nduk Nadia segera disiapkan," sahut Pak RT ramah, merasa lega karena Ubay yang terkenal keras kepala di jalanan ternyata masih menghormati hukum adat kampung.
Nadia akhirnya bisa bernapas sedikit lega di balik remasan tangannya. Jalan menuju perlindungan itu perlahan-lahan mulai terbuka, meskipun ia tahu, sandiwara besar ini baru saja resmi dimulai.
**
Satu minggu berlalu dengan cepat. Di hari Jumat pagi yang sejuk, sebuah prosesi sakral namun teramat sederhana berlangsung di aula kantor KUA kecamatan. Karena Nadia adalah seorang yatim piatu yang sebatang kara di kota ini, dan paman dari pihak suami bibinya di kampung tidak memenuhi syarat secara nasab, maka atas persetujuan kepala KUA, posisi wali nikah diambil alih oleh Wali Hakim.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Anastasia binti almarhum Hasan Syafii. dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Dengan satu tarikan napas yang mantap dan suara berat khas jalanannya, Ubay mengucapkan kalimat kabul itu dengan lancar. Kata "Sah" dari para saksi bergemuruh pelan, menutup status lajang sang preman jalanan dan meresmikan Nadia sebagai istri sahnya di mata hukum dan agama. Ada rasa haru yang menyelip di dada Nadia saat ia mencium punggung tangan kasar Ubay, pria yang enam minggu lalu hanya seorang asing, kini telah menjadi pelindungnya dari badai dunia.
Sesuai dengan kesepakatan dan anjuran Pak RT, sore harinya teras rumah besar peninggalan nenek Ubay disulap menjadi tempat syukuran kecil-kecilan. Tidak ada pelaminan megah atau tenda besar seperti pesta pertunangan Axel dan Larasati sebulan lalu. Ubay hanya menggelar beberapa lembar karpet panjang di teras dan ruang tamu.
Warga yang diundang pun sangat terbatas. Pak RT, Pak RW, lima orang tokoh masyarakat, serta tetangga kanan-kiri yang rumahnya berdempetan. Totalnya tak lebih dari lima belas orang. Untuk urusan konsumsi, Ubay tidak mau repot. Ia memesan lima belas nasi kotak ayam bakar komplit dari warung nasi padang langganannya di pasar.
Setelah doa bersama yang dipimpin oleh Pak Ustad selesai, suasana tegang bin sakral itu perlahan mencair menjadi hangat dan penuh dengan candaan khas warga kampung. Sembari membuka nasi kotak masing-masing, godaan dari para tetangga mulai dialamatkan kepada Ubay yang sore itu tampak klimis dengan baju koko putih dan rambut gondrong yang diikat rapi.
"Wah, pinter bener kamu ya, Bay! Diam-diam menghanyutkan!" goda Pak RT sembari terkekeh, menyenggol lengan Ubay yang duduk di sebelahnya. "Pantesan sebulan ini pos ronda sepi dari kamu, jebulnya kamu lagi PDKT sama anak kos di paviliun belakang rumah toh?"
"Iya nih, si Ubay!" sahut Cak Hari, tetangga sebelah rumah yang jualan martabak. "Kita-kita nih kecolongan. Tahu-tahu dapet info Ubay mau nikah di KUA. Lah, pas nanya sama Pak RT, calonnya ternyata mbak-mbak mahasiswi yang ngekos di belakang. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba, Bay! Jaga rumah nenek, dapet bonus istri cantik!"
Nadia yang duduk di dekat pintu pembatas ruang dalam bersama ibu-ibu sekitar hanya bisa menunduk dengan wajah merona kemerahan, mencoba tersenyum tipis menyembunyikan debaran jantungnya yang masih gugup.
"Ah, bisa aja sampeyan, Cak," balas Ubay lempeng, walau sudut bibirnya sedikit terangkat menerima godaan itu. Ia tetap bersikap tenang seperti biasanya.
Meskipun Ubay kerap digoda karena statusnya yang dikenal sebagai preman jalanan atau penguasa pangkalan pasar, warga sekitar sebenarnya tidak ada yang menaruh sentimen negatif. Mereka tahu betul, walau tampang Ubay urakan, rambutnya gondrong, dan badannya tegap menakutkan, Ubay tidak pernah sekalipun membuat onar di kampung. Dia tidak pernah mabuk-mabukan di gang, tidak pernah neko-neko, dan justru sering membantu warga jika ada kerja bakti atau pos ronda yang kekurangan orang.
"Tapi yo wis bener jalannya kamu itu, Le," celetuk Mbah Citro, tokoh masyarakat paling sepuh di RT tersebut sembari mengunyah kerupuknya. "Daripada kamu kelayapan di jalanan terus ndak jelas juntrungannya, mending sekarang wis ada yang ngurusin. Ada yang masakin, ada yang bikinin kopi. Tampang preman pasar, tapi kalau di rumah sekarang harus jadi suami yang bener, ya!"
"Iya, Mbah. Insya Allah," jawab Ubay singkat namun sarat akan keseriusan.
Di sudut teras, di sela-sela tawa lepas para tetangga yang menikmati nasi kotak sederhana itu, Ubay melirik ke arah Nadia. Tatapan mereka sempat beradu selama beberapa detik. Ada rasa lega yang amat sangat terpancar dari mata pias Nadia. Tembok perlindungan pertama telah berhasil dibangun, dan mulai malam ini, tidak akan ada satupun warga kampung yang bisa mengusik atau memfitnah keberadaan janin di dalam kandungannya kelak.
**