NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepanikan di Hari Pertama

Ia segera menghampiri meja Murni di lobi depan dengan langkah tergesa. "Murni, apakah kamu melihat Pak Khatyr keluar dari ruangan dalam sepuluh menit terakhir?"

Murni mendongak dari komputernya, wajahnya langsung memucat. "A-aduh, Mbak Aulia... tadi sekitar jam sepuluh lewat sepuluh, saya melihat Pak Khatyr menyelinap keluar lewat pintu darurat di belakang lift eksekutif. Beliau memakai topi bisbol hitam dan membawa bantal leher ayam jagonya."

"Pintu darurat? Ke mana arah tangga darurat itu?" tanya Aulia cepat.

"Tangga itu menembus ke semua lantai, Mbak. Tapi biasanya... oh tidak, beliau pasti pergi ke 'zona hitam'. Tempat-tempat tersembunyi yang tidak terdeteksi oleh kamera pengawas karena keterbatasan sudut atau ruang mati," bisik Murni dengan nada panik. "Asisten yang dulu selalu menyerah di tahap ini karena gedung ini memiliki 45 lantai dan ribuan ruangan!"

Aulia mengerutkan dahinya. "Khatyr adalah orang yang sangat malas. Dia tidak akan mau berjalan terlalu jauh atau menuruni tangga terlalu banyak jika itu membutuhkan usaha fisik yang besar. Dia pasti mencari tempat terdekat yang sunyi, dingin, dan nyaman untuk tidur."

Aulia menganalisis struktur gedung Kalumperri Corp yang sempat ia pelajari semalam. Lantai eksekutif berada di lantai 42. Tepat di bawahnya, lantai 41, adalah ruang arsip digital dan server yang suhunya sangat dingin, namun bising karena suara kipas komputer. Khatyr yang sensitif terhadap suara bising pasti menghindari tempat itu.

Lantai 43 adalah area taman atap ruangan (sky garden), namun saat ini cuaca Jakarta sedang cukup terik. Khatyr yang membenci keringat tidak akan pergi ke sana.

Lalu, di mana tempat terdekat yang sunyi, sejuk, dan tidak banyak dikunjungi orang di sekitar lantai eksekutif?

Mata Aulia tiba-tiba berbinar saat ia mengingat satu tempat yang tertulis di peta evakuasi darurat gedung: Ruang Galeri Sejarah Kalumperri di Lantai 40.

Ruang galeri itu adalah museum mini yang berisi foto-foto pendiri perusahaan, replika meja kerja pertama sang kakek, dan beberapa artefak sejarah awal berdirinya Kalumperri Corp. Tempat itu sangat jarang dikunjungi staf karena letaknya yang terpencil di ujung koridor lantai 40 dan suasananya yang dianggap terlalu formal serta sepi. Yang paling penting, galeri itu ber-AC penuh dan dilengkapi dengan replika sofa kulit klasik tahun 1970-an yang sangat empuk.

"Aku tahu dia di mana," gumam Aulia dengan senyum kemenangan yang tipis.

"Mbak Aulia! Rapatnya sepuluh menit lagi!" teriak Murni cemas saat melihat Aulia berlari menuju pintu tangga darurat.

"Tenang, Murni! Hubungi Pak Haryo, katakan padanya kami akan tiba di ruang rapat tepat waktu!" sahut Aulia tanpa menghentikan langkahnya.

Aulia mendorong pintu tangga darurat dan berlari menuruni anak tangga menuju lantai 40 dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran seorang wanita yang mengenakan sepatu hak setinggi tujuh sentimeter. Begitu tiba di lantai 40, ia mendorong pintu darurat, berbelok ke arah koridor sunyi di ujung kiri, dan berdiri di depan pintu kaca ganda bertuliskan Kalumperri History Gallery.

Aulia mendorong pintu galeri perlahan agar tidak menimbulkan suara. Di dalam, pencahayaannya sangat temaram untuk menjaga kualitas foto-foto sejarah di dinding. Suhu udaranya sangat sejuk, dan keheningan di tempat itu begitu menenangkan.

Aulia melangkah perlahan melewati replika mesin ketik tua, menelusuri ruangan hingga ke sudut paling belakang yang menampilkan replika ruang kerja pendiri Kalumperri Corp.

Dan di sanalah dia.

Di atas sebuah sofa kulit klasik berwarna cokelat tua yang tampak sangat empuk, Khatyr Ali Fatih sedang berbaring dengan posisi miring yang sangat santai. Topi bisbol hitamnya diletakkan di atas wajahnya untuk menghalau cahaya temaram ruangan, sementara bantal leher ayam jagonya terpasang manis di lehernya. Napasnya terdengar teratur, menandakan ia sudah terlelap dengan sangat sukses hanya dalam waktu lima belas menit sejak melarikan diri.

Aulia menghela napas panjang, berkacak pinggang di depan sofa. Ada rasa gemas sekaligus kesal yang membuncah di dadanya. Pria ini memimpin sebuah imperium bisnis bernilai triliunan rupiah, namun kelakuannya tidak lebih dari seorang siswa sekolah yang bolos kelas matematika demi tidur di UKS.

Aulia melirik jam tangannya. Pukul 10.26 WIB. Empat menit lagi rapat dimulai.

Aulia tidak membawa botol esensial kopi vanilanya kali ini karena ia terburu-buru. Ia harus menggunakan cara lain yang lebih langsung. Ia membungkuk, lalu dengan gerakan cepat, ia menarik topi bisbol hitam yang menutupi wajah Khatyr.

Cahaya temaram galeri langsung menerpa wajah tampan Khatyr, membuatnya mengerutkan dahi dengan tidak nyaman. Ia mengerang pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan.

"Aulia...?" gumam Khatyr dengan suara serak yang khas, matanya yang sayu menatap sekretarisnya dengan pandangan terkejut sekaligus bingung. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa kamu menemukanku di sini?"

"Selamat pagi menjelang siang, Pak Khatyr," ujar Aulia dengan senyum manis yang dipaksakan dan nada suara yang sangat dingin. "Ruang rapat sudah siap. Direktur Keuangan sudah duduk manis di kursinya, dan waktu Anda tinggal tiga menit lagi."

Khatyr meratapi nasibnya dengan meletakkan lengan kanannya di dahi. "Aulia, kumohon... beri aku waktu sepuluh menit lagi saja. Aku baru saja bermimpi mengalahkan bos terakhir di game-ku. Kepalaku pening sekali karena kurang tidur semalam."

"Tidak ada sepuluh menit, Pak," jawab Aulia tegas. Ia meraih lengan kanan Khatyr dan menariknya dengan tenaga yang cukup kuat untuk memaksa sang CEO setengah terduduk di sofa. "Jika Anda tidak berdiri sekarang, saya akan menelepon Ibu Besar saat ini juga dan mengaktifkan mode pengeras suara di depan Anda."

Khatyr langsung membelalakkan matanya, kantuknya seketika hilang mendengar ancaman maut tersebut. "Kamu benar-benar kejam! Kamu tahu ibuku bisa menceramahiku selama tiga jam tanpa henti jika tahu aku tidur di galeri sejarah kakek!"

"Maka dari itu, berdiri sekarang, Pak," ujar Aulia seraya mengulurkan sisir kecil dan cermin yang selalu ia bawa di saku blazernya. "Rapikan rambut Anda, kancingkan blazer Anda, dan mari kita tunjukkan pada Direktur Keuangan bahwa Anda adalah CEO yang kompeten."

Khatyr mengembuskan napas pasrah, merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan sisir pemberian Aulia sambil terus bergumam kesal tentang betapa kejamnya asisten barunya ini.

Dua menit kemudian, tepat pukul 10.30 WIB, pintu ruang rapat utama Kalumperri Corp terbuka.

Pak Haryo dan Direktur Keuangan, Pak Bambang, yang sudah mulai menunjukkan wajah skeptis dan siap mengomel, langsung terdiam ketika melihat Khatyr Ali Fatih melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegap, wajah yang segar (meski sebenarnya terpaksa), dan setelan pakaian yang sangat rapi.

Di belakangnya, Aulia Putri menyusul dengan langkah anggun, membawa map dokumen kulit hitam dengan senyum profesional yang tak tergoyahkan.

"Selamat pagi, semuanya. Maaf membuat Anda semua menunggu beberapa detik," ujar Khatyr dengan karisma alaminya yang memikat saat ia duduk di kursi utama pimpinan rapat. Ia menatap tajam ke arah dokumen analisis di depannya. "Mari kita mulai pembahasannya. Pak Bambang, mengenai pemangkasan anggaran lima belas persen pada sektor distribusi yang saya instruksikan di sistem kemarin, mari saya jelaskan mengapa analisis algoritme saya jauh lebih efisien daripada metode konvensional Anda."

Aulia yang berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bosnya yang kini sedang berbicara dengan sangat lancar, logis, dan penuh kejeniusan di depan para direktur yang terpukau.

Di balik kemalasannya yang luar biasa, Khatyr Ali Fatih memang seorang monster bisnis yang sangat menakutkan jika ia mau menggunakan otaknya. Dan tugas Aulia, mulai hari ini dan seterusnya, adalah memastikan monster pemalas ini selalu bangun dari tidurnya untuk menghadapi dunia.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!