Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan—Kedai Teh Tuan Kedua Chen
Kediaman Jenderal Besar Gu sedang memanas akibat perselisihan mas kawin. Selir Lin tengah sibuk mengatur mas kawin Gu Lian dalam jumlah besar yang sama sekali tidak semestinya. Penolakan keras dari Gu Mingyue untuk menyerahkan harta mas kawin peninggalan mendiang ibunya menjadi tamparan telak yang mematikan bagi selir itu.
Karena lelah berdebat dengan wanita serakah tersebut, Gu Mingyue memutuskan untuk keluar menyegarkan pikiran sesaat.
Ia berniat membeli bahan-bahan kantong wangi dan benang sulaman di Pasar Xue. Di dekat Jembatan Xue, terdapat sebuah tempat minum teh paling terkenal di ibu kota dengan nama Kedai Teh Tuan Kedua Chen.
Mingyue melangkah memasuki bangunan kayu yang cukup ramai oleh orang-orang yang sedang asyik berbincang itu. Ia memilih salah satu tempat duduk di lantai atas, tepat di samping jendela yang terbuka. Dari sini, pemandangan keramaian Pasar Xue tampak membentang jelas, dengan suara riuh rendah para pedagang yang kian bersahut-sahutan.
"Nona, saya rasa Selir Lin kian lama kian keterlaluan!" cetus Fan Li'er kesal sambil menuangkan teh krisan yang baru saja dipesannya ke dalam cangkir.
"Sudah lama," sahut Gu Mingyue tenang.
"Berani-beraninya dia ingin memakai mas kawin mendiang Nyonya Besar, itu sudah sangat kurang ajar! Mengapa dia tidak memakai harta mas kawin miliknya sendiri saja?"
Gu Mingyue terkekeh pelan, menganggap kemarahan pelayannya sebagai hiburan. "Sepotong kain sutra dengan sulaman yang bukan benang emas? Hanya bermodal beberapa keping perak? Kurasa itu hanya akan menjadi bahan tertawaan yang memalukan untuk Gu Lian di Kediaman Zhao kelak."
Gu Mingyue menyesap tehnya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu membasahi kerongkongannya. "Apalagi, jika seluruh kota tahu bahwa pernikahan ini terjadi akibat sebuah skandal memalukan."
Tak berselang lama, dua pria datang beriringan dan mengambil tempat duduk tak jauh dari meja mereka. Dari pakaian mewah yang mereka kenakan, terlihat jelas bahwa keduanya adalah pedagang saudagar sukses.
"Sudahkah kau mendengar bahwa Kediaman Zhao akan segera mengadakan pernikahan?" tanya salah seorang pria dengan perut buncit yang menyembul di balik kain wol mahalnya.
"Benarkah? Dengan putri sulung Keluarga Gu?" tanya lawan bicaranya—seorang pria kurus dengan tinggi badan yang kontras.
"Bukan, melainkan dengan putri kedua Keluarga Gu."
"Bukankah dia anak selir? Bagaimana bisa menikahi putra utama Keluarga Zhao?"
"Betul!"
Decakan pelan terdengar dari pria kurus itu. "Benar-benar beruntung, putri itu langsung naik kasta."
"Tidak juga. Kudengar, dia sengaja menggoda calon tunangan kakaknya sendiri semalam."
Mendengar hal itu, Gu Mingyue mengangkat sudut bibirnya tipis. Bahkan sebelum upacara pernikahan digelar, nama Gu Lian sudah menjadi bahan pembicaraan dan cemoohan di seluruh penjuru kota.
Sementara itu, Fan Li'er berusaha keras menahan tawa di seberang meja. "Nona, kurasa jika mereka tahu kejadian yang sebenarnya, rumor ini pasti akan jauh lebih membakar."
Gu Mingyue tersenyum misterius, lalu mengangkat telunjuknya tepat di depan bibir. "Lebih baik kita membiarkannya mengalir seperti ini."
Fan Li'er segera menganggukkan kepala paham.
Gu Mingyue kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela, mengamati Jembatan Xue yang berdiri kokoh di atas aliran sungai. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok tegap seseorang yang memang sedang dicarinya. Jenderal Agung Shen Mufeng tampak sedang berjalan melintasi jembatan dengan pakaian bangsawannya yang berwarna biru tua. Langkah kakinya tegap dan cepat, diiringi oleh seorang pengawal setia di belakangnya.
Hanya berselang beberapa saat, pria itu tampaknya merasakan ketajaman sebuah tatapan hingga ia mendadak menghentikan langkah dan mendongak. Seketika itu juga, sepasang netra mereka bersiborok di udara.
Hanya beberapa detik kontak mata itu bertahan, sebelum akhirnya Shen Mufeng kembali melangkah ke arah berlawanan tanpa menoleh lagi ke arahnya. Gu Mingyue tersenyum samar. Pria itu jelas jauh lebih misterius dan menarik daripada pria dangkal sekelas Zhao Yuchen.
Gadis itu kembali menyesap teh krisannya perlahan, menikmati kue manis yang dipesannya hingga hanya menyisakan beberapa potong di atas piring. Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki kokoh yang mendekat ke arah meja mereka. Gu Mingyue mendongak dan langsung mengenali pria itu sebagai pengawal setia Shen Mufeng.
"Nona Besar Gu," pria itu menunduk memberi hormat dengan khidmat.
Dua saudagar bertubuh gendut dan kurus di sebelah meja mereka seketika menoleh dengan cepat. Tatapan mereka menyiratkan keterkejutan, seolah baru saja menyadari identitas asli gadis cantik yang duduk di dekat jendela tersebut.
Pengawal Shen Mufeng segera menyerahkan secarik kertas rahasia ke tangan Gu Mingyuel sebelum melangkah mundur. Dengan gerakan tenang namun cepat, Mingyue membuka lipatan kertas tersebut.
Ikuti pengawalku, kau akan menemukan jawaban.
Gadis itu menahan senyuman yang nyaris terbit di bibirnya. Ia segera melipat kembali kertas itu dan menyembunyikannya di balik lengan baju.
"Mari, Li'er. Ada sesuatu yang mendesak," ucap Gu Mingyue sambil bangkit berdiri.
Gadis itu menuruni tangga kayu perlahan, keluar dari kedai teh tersebut mengikuti langkah mantap pengawal Shen Mufeng. Langkah mereka menyusuri jalanan hingga sampai ke sebuah restoran besar yang memiliki papan nama Kedai Mie Xue.
Mingyue melangkah masuk melewati lorong kayu tempat pintu-pintu penyekat ruangan berjejer rapi—area khusus bagi tamu VIP. Mereka berjalan hingga tiba di ujung lorong. Begitu pintu geser dibuka, sebuah pembatas ruangan berdiri di sana, menghalangi pandangan langsung dari luar.
"Nona, masuklah," ucap pengawal itu mempersilakan.
Gu Mingyue menganggukkan kepala. Ia menatap Fan Li'er seraya menyunggingkan senyuman tipis. "Tunggulah di sini."
Langkah kaki Gu Mingyue mengetuk pelan di atas lantai kayu. Ia melewati pembatas ruangan, dan di sanalah pria itu berada, sedang duduk di atas kursi lesehan berbantalkan kain sutra tebal berisi kapas. Di hadapannya, meja makan telah terisi penuh dengan tumisan daging yang beraroma harum, lengkap dengan sayuran pendamping, satu set teko teh, serta dua mangkuk nasi yang masih mengepul hangat.
"Saya pikir Anda memesan mie hangat," ucap Gu Mingyue tanpa sadar, mengingat papan nama kedai di bawah tadi. "Salam, Jenderal Agung Shen."
Pria itu tetap diam. Ia lebih dulu meraih sumpit dan mulai mengambil lauk dengan gerakan yang sangat tenang. "Duduklah dan makanlah."
Gu Mingyue menurut. Ia mengambil tempat duduk tepat di seberang Shen Mufeng, mengambil lauk dengan sumpitnya, lalu mulai menikmati tumisan semur daging yang terasa begitu lembut di lidah.
"Terima kasih atas bantuan Anda," ucap Gu Mingyue di sela kunyahannya.
Pria itu tetap tidak bergeming, terus menikmati makanannya dengan santai seolah tidak mendengar apa pun.
"Untuk penyusup itu," sambung Gu Mingyue lagi.
Mendengar kalimat tersebut, Shen Mufeng akhirnya mengangkat pandangan. Ia memberikan ekspresi dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.
Sebagai jawaban, Gu Mingyue mengeluarkan sesuatu dari balik lengan bajunya, lalu menyerahkan plakat pengenal kayu itu ke atas meja di hadapan Shen Mufeng.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya