"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
...Jakarta, 14 Juni 2025...
06.00 WIB
Samuel terbangun oleh gemuruh suara hujan yang menghantam jendela. Hari ini, ia harus melangkah menuju pemakaman rekan-rekan kerjanya. Bagi Samuel, sekadar membuka mata dan bangkit dari tempat tidur bukan lagi sebuah perkara mudah. Namun, ia harus memaksa tubuhnya bergerak; jarak dari Jakarta Pusat menuju San Diego Hills terhitung cukup jauh.
Ding dong!
Suara bel hotel memotong paksa keheningan, memaksa Samuel berdiri meninggalkan kasurnya. Ia melangkah perlahan lalu mengintip dari lubang pintu. Di luar, tampak Mas Dimas berdiri tegak mengenakan pakaian dinas lengkap, dibalut sepotong blazer hitam yang sangat kontras dengan seragam utamanya.
Klek!
Pintu terbuka. Dimas langsung menyunggingkan senyum tipis kepada Samuel. "Pagi, Sam! Cepat mandi, kita mau berangkat."
Samuel sama sekali tidak memberikan ekspresi apa pun di wajahnya. "Mengapa seorang pejabat menunggu saya?"
Mata Samuel tertuju dingin pada papan nama di dada Dimas, menatap lencana prestasi yang mereka raih bersama selama bertugas di Makassar dulu. Dimas hanya bisa menghela napas berat. "Udah, mandi aja dulu," ucapnya dengan nada yang sangat lembut. Samuel akhirnya menurut dan segera bersiap.
06.30 WIB
Samuel telah rapi dengan setelan dukanya. Ketika keluar, ia mendapati Dimas sedang terbaring santai di atas kasur hotel. Samuel kembali melontarkan pertanyaan yang sama dengan nada datar, "Kenapa seorang pejabat BPI menjemput saya?"
Dimas bangkit, memperhatikan lekat-lekat wajah Samuel yang tampak kosong dan kehilangan gairah hidup. "Tidak ada alasan khusus, Sam. Ayo turun, Dina sudah menunggu di bawah."
Samuel tidak berniat melanjutkan percakapan. Ia menyambar blazer hitam serta topinya, lalu melangkah mengekor di belakang Dimas.
Di lobi hotel, Dina—Wakil Kepala BPI—sudah duduk menunggu. Wanita itu berpakaian sangat rapi dengan setelan yang senada dengan milik Dimas dan Samuel.
Perjalanan menuju San Diego Hills kemudian ditempuh dalam keheningan yang mencekat. Hanya ada deru mesin Toyota Camry dan suara rintik hujan yang turun membasahi jalanan Jakarta. Samuel melemparkan pandangannya keluar jendela, menatap aspal yang basah sembari bergumam lirih di dalam hati, 'Aku sudah capek.'
Dina yang fokus mengemudikan mobil akhirnya memecah keheningan. "Sam! Kenapa kau tidak datang ibadah kemarin?" tanyanya tanpa menoleh. Samuel berada di kursi penumpang belakang, sementara Dimas duduk di kursi kiri depan.
Mendengar pertanyaan Dina, Samuel menjawab pelan, "Aku kelupaan. Maaf."
"Oh," respons Dina singkat. Di depan, Dimas hanya diam sibuk memainkan ponselnya.
San Diego Hills, 07.43 WIB
Setibanya di kompleks pemakaman mewah itu, Samuel sebenarnya hanya ingin duduk diam menunggu prosesi ibadah dimulai. Namun, Dimas justru memaksanya untuk berjalan melihat jasad rekan-rekannya yang telah terbujur kaku di dalam peti—kecuali jasad Rizki dan Riza yang petinya sengaja ditutup rapat. Di area ini pula, para saksi kunci dari kalangan warga sipil dimakamkan.
Samuel melangkah dengan kaki berat menelusuri deretan peti di depannya.
Peti pertama yang dilihatnya adalah milik Wisnu. Sahabatnya itu mati mengenaskan akibat tertembak di bagian perut dan kehabisan darah. Peti berikutnya berisi jasad Yogi, yang mati dengan tubuh dipenuhi luka tembak. Di dekatnya, peti Riza sang saksi kunci berdiri membisu; petinya terkunci rapat karena ia tewas dengan kondisi kepala yang pecah.
Selanjutnya, Samuel mendatangi peti Agus, sang penyelidik pertama. Ia tewas setelah mengonsumsi racun yang sama persis dengan yang ditelan oleh Ahmad. Terakhir, Samuel tiba di depan peti Ahmad. Di samping kanan peti tersebut, istri Ahmad sedang menangis histeris meratapi jenazah suaminya. Begitu wanita itu mendongak dan menyadari kehadiran Samuel, atmosfer duka di tempat itu mendadak berubah tegang.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Samuel.
"Pasti anda Samuel! Pasti anda yang menyeret suami saya ke dalam kasus bajingan ini! Kau iri sama suami saya kan, Samuel?!" teriak istri Ahmad murka.
Beberapa staf BPI dengan sigap langsung maju untuk menenangkan dan memegangi wanita yang sedang emosional tersebut.
"Samuel! Jawab aku!" teriaknya lagi sembari meronta. "Kau iri kan sama Ahmad?! Lepaskan aku!"
Istri Ahmad akhirnya dibawa paksa menjauh dari lokasi. Dina yang menyaksikan kejadian itu langsung mendekati Samuel dengan raut wajah penuh kecemasan. "Samuel, anda tidak apa-apa?"
Samuel hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Tidak, aku tidak apa-apa kok."
Namun, di dalam lubuk hatinya, Samuel berbisik dengan rasa bersalah yang menusuk, 'Anda benar... ini salah saya... Ini semua salah saya.'
Samuel melanjutkan langkahnya, menyadari bahwa kini dirinya telah menjadi pusat perhatian dari seluruh pelayat yang hadir. Dina tetap setia berjalan mengawal di sampingnya.
Kini, ia berdiri di depan jenazah terakhir: anak buahnya sendiri, Rizki. Anak muda itu mati dengan keadaan yang paling tidak manusiawi; tubuhnya dimutilasi secara brutal dengan kepala dan kaki yang tidak lagi terhubung dengan badan.
Samuel menatap tanda pangkat di peti anak buahnya tersebut, dan seketika sekotak kenangan lama berputar di kepalanya. Ia ingat betul suatu hari Rizki pernah berkata dengan penuh ambisi, "Saya akan menjadi penyelidik terbaik dan mendorong anda, Tuan Samuel, ke puncak!"
Kala itu, Samuel hanya tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "MUHAHAHA! Buat apa aku ke puncak? Aku sudah di puncak kehidupan ku sekarang."
Rizki sempat terkejut melihat betapa realistisnya sang bos, sebelum akhirnya mengubah kalimatnya, "Kalau begitu, aku akan melampaui jabatan mu!" dan ingatan itu diakhiri dengan memori hangat saat Samuel menjitak kepala anak muda itu karena dianggap tidak sopan kepada atasan.
Kini, Samuel melihat tanda pangkat baru yang tersemat di sana. Pangkat mereka sudah sama: "Penyelidik Utama", pangkat tertinggi di dalam struktur BPI.
'Pangkat kita sudah sama... Namun peringkatmu belum mengalahkan ku,' batin Samuel getir.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Samuel terjatuh berlutut sambil mencengkeram erat bagian jantungnya.
"Sam!" teriak Dina panik. Ia langsung menahan tubuh Samuel agar tidak ambruk ke tanah. "Medis! Medis!!" teriak Dina histeris ke arah petugas.
Wajah Samuel memucat pasrah, tangannya masih enggan melepas cengkeraman di dada. Beruntung, setelah beberapa saat, kondisinya berangsur membaik tepat ketika tim medis tiba di lokasi. Samuel menolak pemeriksaan lebih lanjut dan hanya meminta segelas air gula.
Dina menatapnya dengan pandangan menginterogasi, sangat khawatir. "Anda tidak makan kemarin, ya?"
Samuel mencoba mengelak, "Makan kok, makan."
Namun, salah satu petugas medis di depannya tidak bisa diajak kompromi. "Kalau anda makan, kenapa tubuh anda sangat lemas, Tuan Sam?"
Samuel refleks mendongak, menatap wajah petugas medis yang baru saja berbicara. Detik itu juga, mata Samuel melotot tajam karena terkejut. Ada sesuatu dari sosok itu yang memicu alarm di kepalanya. Sadar akan reaksinya, Samuel segera membuang muka dengan cepat, lalu berjalan kembali menuju barisan kursi pelayat, disusul oleh Dina yang kebingungan. Samuel membuka ponselnya, mendapati rentetan pesan penuh kekhawatiran dari kakaknya yang sengaja ia abaikan.
Ibadah selesai, kini memasuki prosesi pemakaman. Banyak pelayat yang memutuskan pulang karena hujan yang kian menderu, namun Samuel memilih bertahan di bawah guyuran air.
Satu per satu peti mati diturunkan ke liang lahat. Saat peti Riza mulai diturunkan, Samuel menyadari tidak ada satu pun kerabat atau keluarga yang datang untuk wanita itu. Hanya dia, satu-satunya orang di dunia ini yang mengenal persis siapa Riza sebenarnya.
"Sam?" panggil Dina pelan, menyadari perubahan raut wajah rekannya.
Samuel mencoba tegar. Ia menarik topinya ke bawah untuk menyembunyikan wajahnya, lalu mendongak menatap langit yang kelam. "Hari yang buruk untuk hujan, kan?"
Dina hanya bisa mengangguk pelan dalam simpati.
Di liang lahat yang lain, pemakaman Ahmad diiringi oleh amukan histeris istrinya yang belum merelakan kepergian sang suami. Sementara itu, di pemakaman Rizki, suasana terasa begitu sunyi dan menyayat hati; satu-satunya orang yang mengantarkan jasad anak muda itu hanyalah ibunya seorang.
Samuel kembali teringat momen saat ia pertama kali merekrut Rizki. Anak itu adalah seorang pekerja keras yang rela melakukan apa saja demi membiayai pengobatan ibunya. Kini, ibunya telah sembuh total, namun sang buah hati justru pergi mendahuluinya ke liang kubur.
Samuel tidak lagi sanggup menatap peti Rizki yang perlahan ditutup tanah. Ia berbalik membelakangi makam. "Dina, aku pulang duluan. Kasih tahu Pak Dimas, ya."
15.47 WIB
Acara pemakaman kedinasan telah sepenuhnya selesai. Mobil dinas Dimas sudah bertolak pergi, diikuti oleh para anggota BPI dan keluarga korban lainnya. Area pemakaman luas itu kini sepi, menyisakan para staf pemakaman dan Samuel yang masih bertahan.
Melihat situasi sudah benar-benar lengang, Samuel melangkah kaki sejauh 2 kilometer menyusuri area San Diego Hills, menuju titik di mana orang-orang berharganya dimakamkan secara berdampingan. Di tangannya tergenggam beberapa kaleng bir yang sempat ia beli dari minimarket terdekat.
Hujan tidak turun dengan deras, namun intensitasnya cukup untuk membasahi seluruh pakaian dan tubuh Samuel. Selama berjalan, kepalanya memutar ulang semua kenangan masa lalu bersama rekan-rekannya—bersama Ahmad, bersama Agus, bersama Rizki, dan bersama Riza.
Sesampainya di kompleks kuburan mereka, Samuel mengedarkan pandangan lalu bergumam sinis, "Banyak juga dana yang dikeluarkan Mas Dimas..."
Samuel kemudian terduduk di atas rumput yang basah. Ajaibnya, wajahnya kini tampak jauh lebih hidup dan memiliki emosi ketimbang beberapa jam lalu. Ia mengambil posisi duduk tepat di samping makam Riza, lalu mulai berbicara, menceritakan banyak hal seolah wanita itu masih ada di depannya.
17.00 WIB
Samuel berpindah posisi, kini duduk di depan makam Ahmad. Di bawah guyuran hujan yang konstan, Samuel tiba-tiba tertawa. Tawa yang mulanya pelan, perlahan berubah menjadi tawa keras yang menggema liar di antara deretan nisan.
"MUHAHAHA!! AKU... AKU KENAPA KETAWA?!"
Setelah berhasil menenangkan gejolak histeria di dalam dirinya, Samuel kembali melanjutkan ceritanya ke gundukan tanah Ahmad, membiarkan tubuhnya terus dibasahi air hujan.
19.00 WIB
Hujan turun semakin deras. Waktu yang tersisa bagi Samuel untuk melompat kembali ke masa lalu kini hanya tinggal 30 menit lagi. Ia bergeser, mendatangi makam terakhir: tempat peristirahatan Rizki.
"Bro, aku udah tahu pelakunya," bisik Samuel dengan tatapan tajam mengunci batu nisan Rizki. "Namun aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku harus kembali lagi, merasakan rasa sakit ini lagi... Aku sudah tahu semuanya. Aku akan menyelamatkan kalian semua."
Samuel terus berbicara di depan makam anak buahnya, menumpahkan seluruh strategi dan sisa waktu yang ia miliki.
19.30 WIB
Samuel melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Waktunya telah tiba. Ia bangkit berdiri, menegakkan tubuhnya di antara barisan makam untuk menyampaikan pidato terakhir kalinya di lini masa terkutuk ini.
"Aku sudah capek. Begitu awalnya..." Samuel menjeda kalimatnya, kilatan amarah yang dingin mendadak memenuhi bola matanya. "Tapi, saat aku melihat pihak medis tadi... aku sekarang tahu, kalau BPI terlibat dalam kasus ini. Aku akan menyelamatkan kalian semua!"
Samuel mengangkat kedua tangannya, mempertemukan kedua telapak tangannya dalam pose memohon yang khusyuk. Bibirnya merapalkan kata kunci mutlak miliknya:
"Aku akan mengubah takdir ini."
Perlahan, Samuel membuka kembali kedua telapak tangannya. Detik itu juga, sebuah lubang hitam mini (mini black hole) muncul memecah ruang, berputar distorsif di sela jemarinya. Samuel menarik sebuah senyuman puas.
Tepat sebelum kesadarannya terhisap masuk, di dalam ruangan hampa yang serba putih, sebuah suara dingin yang misterius bergema, mengguncang isi kepalanya:
"Kau terlalu iri, Samuel."
Zzzztt—
......Jakarta, 7 Juni 2025......