Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembar Prestasi dan Api Cemburu Jennie
Waktu bergerak laksana putaran roda yang cepat. Beberapa bulan telah berlalu sejak insiden mistis di Hutan Sangker yang mengubah garis hidup seorang Zenix. Musim berganti, dan atmosfer kampus metropolitan kini berada di puncak ketegangan tertinggi: minggu ujian akhir semester. Bagi sebagian besar mahasiswa, momen ini adalah momok yang mengerikan. Namun bagi Zenix, ini adalah medan pertempuran yang sudah ia tunggu-tunggu untuk membuktikan kelayakannya di hadapan takdir.
Tekad bulat yang tertanam di dalam dada putra sulung keluarga Wang itu tidak pernah luntur barang sedikit pun. Setiap bait kata dalam surat-surat Anisa yang rutin datang dua minggu sekali lewat bantuan Kang Maman telah menjadi bahan bakar spiritual yang membakar semangatnya. Zenix yang dulunya lebih sering menghabiskan malam di kelab malam atau balapan liar, kini bertransformasi menjadi penghuni tetap perpustakaan kota hingga larut malam. Ia membedah tebalnya buku-buku manajemen, akuntansi, dan hukum bisnis dengan konsentrasi penuh, mengabaikan rasa kantuk dan lelah yang mendera tubuhnya.
Hingga akhirnya, setelah melewati satu minggu ujian yang menguras energi batin dan pikiran, hari pengumuman hasil akademis pun tiba.
Papan pengumuman digital di aula utama kampus berganti memuat daftar nilai berstandar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Nama yang berada di urutan paling atas, dicetak dengan huruf tebal berlapis warna emas, seketika membuat gempar seluruh jagat universitas Zenix Dirgantara – IPK 4.00 (Sempurna).
Tidak hanya sekadar meraih nilai tertinggi di angkatannya, Zenix bahkan memecahkan rekor dengan menempati predikat nilai terbaik sepanjang sejarah berdirinya kampus elite tersebut. Lembar demi lembar jawaban ujiannya dinilai oleh dewan penguji sebagai analisis paling tajam dan visioner yang pernah dibuat oleh seorang mahasiswa.
Mungkin ini semua adalah buah manis dari kombinasi yang sempurna perjuangan Zenix yang pantang menyerah di dunia nyata, serta ketukan pintu langit dari mukjizat doa subuh seorang gadis suci bernama Anisa yang tak pernah putus bergaung dari sebuah pondok bambu di tepi hutan terjauh.
Di ruang rapat utama gedung rektorat, jajaran dosen dan dekanat berkumpul. Mereka saling melempar pandangan takjub seolah tidak percaya dengan laporan akademis di tangan mereka.
"Luar biasa. Saya benar-benar tidak menyangka," ujar Profesor Pramono, dosen senior yang terkenal paling killer dan pelit memberikan nilai. Beliau membetulkan letak kacamata tebalnya. "Dulu, Zenix adalah mahasiswa yang paling membuat saya pusing. Dia nakal, arogan, berpakaian semena-mena, dan pembangkang nomor satu. Tapi beberapa bulan belakangan ini? Dia menjadi orang pertama yang hadir di kelas saya, menyimak dengan khusyuk, dan tata krama sopan santunnya sekarang sangat luar biasa santun."
"Betul, Profesor," timpal Dekan Fakultas Bisnis dengan senyuman bangga. "Perubahannya sangat drastis. Penampilannya luarnya memang masih terlihat seperti berandalan bad boy dengan anting hitamnya, tapi pembawaannya kini sangat tenang, dewasa, dan penuh rasa hormat. Dia telah menjadi aset terbaik yang dimiliki universitas kita saat ini."
Sementara itu, di koridor luar, suasana tidak kalah riuh. Keempat sahabat Zenix Deandra, Jovanka, Sasti, dan Susan berdiri mengelilingi Zenix dengan wajah yang memancarkan binar kebanggaan yang luar biasa.
Jovanka langsung memukul pundak tegap Zenix dengan heboh hingga menimbulkan suara berdebum kecil. "Gila lu, Zen! Jenius kesurupan apa lu beberapa bulan ini? IPK sempurna! Gua yang belajar sampai muntah darah aja cuma dapat tiga koma lima!" seru Jovanka dengan tawa menggelegar.
Deandra tersenyum lebar, menepuk-nepuk lengan kemeja Dylan. "Gua tahu lu pintar, Zen. Tapi rekor sejarah kampus ini benar-benar gila. Usaha lu memantaskan diri demi jemput Neng Anisa emang enggak main-main ya efeknya."
Sasti dan Susan pun ikut menimpali dengan nada kagum. "Keren banget, Zenix. Kami berempat benar-benar bangga punya ketua geng kayak kamu sekarang. Berubah total jadi cowok idaman!" puji Susan tulus.
Zenix yang berdiri di tengah lingkaran sahabatnya hanya menanggapi semua pujian itu dengan senyuman tipis yang sangat tenang. Tangan kanannya mengusap perlahan permukaan cincin perak di jari tengahnya. Di dalam hatinya, ia membisikkan satu nama dengan penuh rasa syukur Anisa, ini kemenangan pertama kita.
Namun, momen perayaan kecil itu mendadak terganggu ketika kerumunan mahasiswa di koridor perlahan terbelah, memberikan jalan bagi sosok gadis yang berjalan dengan langkah angkuh bersepatu hak tinggi. Siapa lagi jika bukan Jennie, sang ketua geng cewek paling populer, yang datang didampingi oleh Bella dan Lucy di kanan kirinya.
Hari ini Jennie tampil sangat jor-joran dengan gaun pendek desainer berwarna merah menyala, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Begitu melihat Zenix, wajahnya yang penuh riasan tebal langsung memancarkan binar pemujaan yang mendalam. Ia melangkah maju, memotong obrolan para sahabat Zenix, lalu berdiri tepat di depan dada bidang pemuda itu.
"Zenix... oh my God, selamat ya!" ucap Jennie dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, terdengar sangat manja dan manis di telinga. Mata pirang madunya menatap lekat garis rahang tegap Dylan. "Aku bangga banget sama kamu, Sayang. Nilai kamu terbaik se kampus! Aku tahu dari dulu kamu itu emang spesial. Sebagai perayaan, malam ini kamu harus ikut aku makan malam romantis di restoran hotel bintang lima, ya? Aku yang traktir semua. Kamu enggak boleh menolak kali ini..."
Jennie memajukan tubuhnya, mencoba meraih jemari tangan Zenix, memperlihatkan gestur bahwa ia berharap lebih dari sekadar teman ia ingin seluruh kampus tahu bahwa Zenix Dirgantara adalah miliknya.
Namun, reaksi yang diberikan Zenix kembali menjatuhkan harga diri Jennie ke titik terendah.
Zenix tidak mengabaikannya secara total seperti hari pertama kuliah, karena kini ia memiliki tata krama yang lebih baik. Namun, tanggapan yang ia berikan terasa sangat dingin, hambar, dan berjarak. Zenix dengan halus menarik tangannya ke belakang sebelum sempat disentuh oleh Jennie.
"Terima kasih atas ucapannya, Jennie," jawab Zenix dengan nada suara berat yang datar, tanpa ekspresi manis sedikit pun di wajah tampannya. "Tapi maaf, malam ini aku tidak bisa. Aku ada urusan keluarga yang sangat penting."
Setelah mengucapkan kalimat penolakan yang singkat namun telak itu, Zenix membalikkan badannya, memberikan kode kepada Deandra dan Jovanka untuk segera bergerak pergi menuju ruang administrasi di ujung koridor.
"Ayo duluan, Jen," pamit Jovanka dengan senyuman menyindir yang membuat dada Jennie bergemuruh menahan kesal. Rombongan kelima sahabat itu pun mulai melangkah menjauh, meninggalkan Jennie yang berdiri kaku dengan napas yang mulai memburu karena merasa dihempaskan kembali oleh sang Pangeran Es.
Namun, takdir tampaknya memiliki cara yang ganjil untuk membuka sebuah rahasia besar sore itu.
Saat Zenix membalikkan badannya dengan cepat dan menggendong tas ransel hitamnya ke sebelah pundak, ia tidak menyadari bahwa ritsleting bagian samping tas ranselnya sedikit terbuka akibat tergeser tumpukan buku-buku tebal di dalam. Ditambah lagi langkah kakinya yang lebar dan tegas membuat guncangan pada tas tersebut semakin kuat.
SREEEKK...
Sebuah benda tipis berwarna cokelat muda terselip keluar dari dalam tas Zenix. Benda itu adalah salah satu pucuk surat balasan dari Anisa yang selalu Zenix bawa ke mana pun ia pergi sebagai jimat penyemangat belajarnya. Surat itu jatuh meluncur ke atas lantai koridor yang bersih tanpa menimbulkan suara, tepat beberapa langkah di depan tempat Jennie berdiri mematung. Zenix dan keempat sahabatnya terus berjalan menjauh tanpa menyadari jatuhnya surat tersebut.
Mata tajam Jennie yang awalnya menatap punggung Zenix dengan sisa-sisa kekesalan, mendadak menangkap objek amplop cokelat kecil yang tergeletak di lantai. Dahi Jennie mengernyit. Rasa penasarannya yang tinggi bergejolak hebat.
Dengan gerakan cepat sebelum mahasiswa lain menyadarinya, Jennie melangkah maju, membungkuk, dan memungut amplop cokelat tersebut. Ia membolak-balikkan amplop itu di tangannya. Bau harum alami bunga melati desa yang khas dan menenangkan langsung tercium oleh indra penciumannya bau yang sangat asing bagi hidung gadis kota yang terbiasa dengan parfum mahal berbahan kimia.
Di sudut depan amplop, terdapat tulisan tangan yang sangat anggun dan rapi, membentuk untaian nama. Untuk: Mas Zenix. Dan di bagian pengirim, tertulis nama singkat: Anisa.
Jantung Jennie mendadak berdegup kencang, dipenuhi oleh firasat buruk yang membakar dada. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa kepo dan emosi yang meluap, Jennie buru-buru menarik Bella dan Lucy untuk bersembunyi di balik pilar koridor yang sepi. Tanpa memedulikan etika, Jennie merobek ujung amplop itu dengan kuku panjangnya dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya.
Mata pirangnya membaca baris demi baris tulisan di dalam kertas tersebut dengan cepat.
> “...Keteguhan Mas zenix dalam menjaga diri dan menghormati komitmen kita di tengah ramainya kota adalah bukti nyata dari ketulusan hati Mas yang sesungguhnya... doa subuh saya tidak akan pernah putus untukmu, Mas... Tetaplah fokus pada kuliahmu di sana, aku akan setia menantimu di pondok tepi hutan ini. Dari: Anisa.”
>
Begitu selesai membaca kalimat terakhir, tubuh Jennie mendadak kaku. Surat itu menjadi bukti fisik yang tidak terbantahkan bahwa Zenix pria yang ia gilai selama bertahun-tahun, pria yang selalu bersikap sedingin es pada setiap wanita kota ternyata telah memiliki tambatan hati lain. Seorang gadis yang memanggil putranya dengan sebutan 'Mas', seorang gadis yang menunggunya di seberang sana.
Seketika itu juga, hati Jennie bagai dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala-nyala dengan sangat hebat. Rasa cemburu yang teramat ekstrem, bercampur dengan rasa terhina dan amarah yang meledak-ledak, membuat wajah cantiknya memerah padam dan mengeras karena murka. Jarinya mencengkeram kertas surat itu hingga sedikit kusut.
"Anisa..." desis Jennie dengan nada suara yang bergetar tajam, penuh dengan racun kebencian yang mendalam. Kedua matanya menyipit, memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. "Jadi... ini alasan kamu selalu nolak aku, Zenix? Karena cewek udik bernama Anisa ini?!"
Bella dan Lucy yang ikut membaca sekilas surat itu dari balik pundak Jennie langsung menutup mulut mereka dengan histeris. "Gila, Jen! Zenix pacaran sama anak kampung? Kok seleranya turun drastis sih?!" kompor Bella, memanaskan suasana.
Jennie tidak mendengarkan ucapan sahabatnya. Pikirannya saat ini sudah dikuasai oleh obsesi hitam. Api cemburu telah membakar seluruh logikanya. Ia meremas amplop cokelat itu ke dalam genggamannya dengan sangat erat.
"Aku tidak peduli siapa dia, dan di lubang hutan mana dia bersembunyi," ancam Jennie dengan senyuman sinis yang menakutkan, menatap tajam ke arah ujung koridor tempat Zenix menghilang. "Aku harus tahu siapa sebenarnya Anisa ini. Tidak ada satu pun cewek di dunia ini yang boleh merebut Zenix dari tangan seorang Jennie!"