Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hani Adisa Putri menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila di dalam rongga dada. Ia merapikan blazer hitamnya yang pas di badan, lalu memastikan rok span formalnya berada di posisi yang tepat. Di depan cermin toilet lantai dasar gedung Baskara Group, ia menatap pantulan dirinya.
Perempuan di dalam cermin itu bukan lagi Hani yang dulu. Tidak ada lagi kacamata berbingkai tebal yang buram, rambut singa yang kusam karena jarang dirawat, atau seragam kedodoran.
Kini, Hani berdiri dengan rambut hitam legam yang jatuh bergelombang dengan indah, riasan wajah yang natural namun memikat, serta aura elegan yang memancar kuat. Kepercayaan diri yang ia bangun dengan darah dan air mata selama kuliah kini menjadi perisainya.
Diterima bekerja di Baskara Group, salah satu perusahaan konglomerat terbesar di ibu kota adalah impian terbesarnya. Dan hari ini, ia selangkah lebih dekat menuju impian itu.
"Peserta nomor urut lima belas, Hani Adisa Putri. Silakan memasuki ruang interview utama di lantai empat," suara interkom di ruang tunggu membuyarkan lamunannya beberapa menit kemudian.
Hani berdiri, melempar senyum tipis pada peserta lain, lalu melangkah mantap menuju ruangan yang ditunjuk. Begitu jemarinya mendorong pintu kaca buram tersebut, embusan AC yang dingin langsung menyambutnya.
Namun, bukan hawa dingin itu yang membuat tubuh Hani mendadak kaku, melainkan sosok pria yang duduk di balik meja kerja marmer yang megah.
Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam. Begitu Hani melangkah masuk, pria itu mendongak.
Seketika, napas Hani tercekat. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap begitu saja.
Reza Baskara.
Nama itu, wajah itu, bahkan cara pria itu menatapnya, langsung menarik paksa memori Hani ke masa-masa paling kelam dalam hidupnya.
Reza adalah definisi dari mimpi buruknya. Cowok nakal, arogan, ketua geng sekolah yang hobi menjadikannya bahan olok-olok setiap hari hanya untuk kesenangan pribadi. Dan sekarang, logo 'Baskara Group' di dinding ruangan memperjelas segalanya. Reza bukan sekadar pewawancara, dia adalah anak pemilik tempat ini.
Sementara itu, di balik mejanya, Reza sempat terpaku selama beberapa detik. Matanya tidak berkedip menatap wanita yang baru saja masuk.
Bagi Reza, wanita di depannya ini sangat memikat. Kecantikannya tidak berlebihan, namun ada daya tarik magis yang membuat Reza enggan mengalihkan pandangan. Sikapnya yang tenang dan pembawaannya yang anggun langsung mencuri perhatian Reza sejak detik pertama.
"Silakan duduk," ujar Reza, berusaha menjaga suaranya tetap profesional, walau ada debaran aneh yang mendadak muncul di dadanya.
Hani menata hatinya yang berantakan. Ia menolak untuk terlihat lemah. Dengan dagu terangkat, ia berjalan dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Reza. "Terima kasih, Pak," jawab Hani, suaranya terdengar dingin dan formal.
Reza tersenyum tipis, lalu menarik map berisi berkas CV milik pelamar di depannya. "Baik, bisa kita mulai? Saya ingin tahu lebih banyak tentang..." kalimat Reza menggantung di udara saat matanya membaca baris pertama di lembar kertas putih tersebut.
Nama Lengkap: Hani Adisa Putri.
Asal Sekolah: SMA Wijaya Kusuma.
Reza mengerutkan keningnya. Ia menatap nama itu, lalu beralih menatap wajah Hani dengan dahi berkerut. Otaknya berputar cepat, menggali memori delapan tahun lalu yang sengaja ia kubur. Nama yang sama. Asal sekolah yang sama. Tapi... visualnya sangat berbeda.
Reza memperhatikan detail wajah Hani lebih jeli. Bentuk matanya, tahi lalat kecil di dekat telinga kirinya.
Deg.
Jantung Reza serasa berhenti berdetak. "Hani? Hani si kutu buku?" bisik Reza tanpa sadar. Suaranya bergetar, separuh tidak percaya, separuh lagi dihantam rasa terkejut yang luar biasa.
Hani tidak mengonfirmasi, namun kilatan kebencian dan luka yang terpancar dari sepasang mata indah itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Reza. Itu memang Hani. Gadis yang dulu sering ia panggil 'si buruk rupa', gadis yang mejanya sering ia coret-coret, dan gadis yang menangis di pojok kelas karena ulah usilnya.
Rasa bersalah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dada Reza seperti godam besar. Ditambah lagi, melihat Hani yang sekarang tumbuh menjadi wanita yang begitu luar biasa, ego Reza runtuh seketika. Mengapa dulu ia sebodoh itu?
Reza berdehem, mencoba menguasai dirinya yang mendadak gemetar. Ia menutup map CV Hani dengan cepat. "Kamu... lolos," ucap Reza lugas.
Hani mengernyitkan alisnya. "Maaf?"
"Kamu saya terima di perusahaan ini. Tanpa pertanyaan lebih lanjut. Kamu bisa mulai bekerja senin depan sebagai staf administrasi utama di divisi saya," kata Reza cepat.
Matanya menatap Hani dengan pandangan yang tidak lagi arogan, melainkan penuh permohonan dan rasa bersalah yang tersirat. Reza bertekad di dalam hatinya, ini adalah kesempatannya untuk menebus semua dosa masa lalunya pada Hani.
Namun, respons Hani sama sekali di luar ekspektasi Reza. Tidak ada binar bahagia, tidak ada ucapan terima kasih yang histeris. Hani justru menarik napas pendek, lalu tersenyum sinis.
"Terima kasih atas waktunya, Pak Reza yang terhormat. Tapi, saya menyatakan mengundurkan diri dari proses seleksi ini," ucap Hani dengan suara lantang dan tegas. Ia langsung berdiri, meraih tas tangannya, dan berbalik menuju pintu tanpa sudi menatap Reza lagi.
"Hani, tunggu!" Reza panik. Ia langsung bangkit dari kursinya dan mengejar Hani, ikut keluar dari ruang interview.
Di koridor luar ruangan yang cukup luas, langkah Hani terhenti secara mendadak. Bukan karena panggilan Reza, melainkan karena kehadiran seorang pria paruh baya berstelan jas sangat mahal yang baru saja keluar dari lift, didampingi oleh dua orang sekretaris. Pria itu adalah Narendra Baskara, pemilik tunggal Baskara Group sekaligus ayah kandung Reza.
"Reza? Ada apa ini? Kenapa kamu berteriak di koridor?" suara berat Narendra menggelegar, membuat beberapa staf yang lewat langsung menunduk hormat.
Reza menghentikan langkahnya tepat di samping Hani. Wajahnya tampak frustrasi, kontras dengan wajah ayahnya yang menatap penuh selidik. Narendra kemudian memandang Hani, menyadari aura ketegangan yang pekat di antara dua anak muda ini.
"Siapa wanita ini, Reza? Apakah dia salah satu kandidat pelamar?" tanya Narendra tegas.
Reza menatap ayahnya, lalu beralih menatap punggung Hani yang masih berdiri membelakanginya dengan tubuh tegang. Reza tahu ia harus menjelaskan situasi ini agar ayahnya tidak salah paham, sekaligus berharap ada keajaiban yang menahan Hani.
"Iya, Pah. Dia Hani Adisa Putri, kandidat terbaik untuk posisi administrasi. Tapi..." Reza menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.
"Tapi kenapa?" desak Narendra, tidak sabar dengan keraguan putranya.
Reza menunduk separuh layu, suaranya merendah penuh penyesalan yang nyata. "Hani ingin langsung mengundurkan diri begitu tahu kalau Reza yang menginterview-nya, Pah. Dia... dia menolak bekerja di sini karena Reza."
Narendra mengernyitkan dahi, menatap tajam ke arah putranya. "Kenapa bisa begitu? Kalian saling kenal sebelumnya?"
Reza mengangguk pelan, tidak berani menatap mata ayahnya. "Kami sekelas waktu SMA. Dan... dulu Reza sering mengejek dan membully Hani di sekolah. Karena kesalahan masa lalu Reza itu, dia lebih memilih mengundurkan diri dari perusahaan ini daripada harus melihat muka Reza lagi."
Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari mulut Reza di hadapan publik dan ayahnya sendiri, Hani tetap bergeming. Cengkeramannya pada tali tasnya semakin mengerat, sementara Narendra menatap putranya dengan kilatan amarah yang mulai menyala.