Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33.
Arya mencari jalan lain masuk ke dalam bangunan tersebut. Baru saja dia akan masuk seseorang memperhatikannya dan memanggilnya.
"Hei, kamu antarkan makanan ini pada tawanan di lantai dua," perintah seorang koki kepada Arya, yang di sangka seorang penjaga.
Arya terdiam sejenak memikirkan cara agar tidak diketahui oleh orang itu. Ia teringat beberapa penjaga menggunakan masker warna hitam semua dengan cepat memakai masker dan berbalik menghampiri koki meraih nampan dan pergi masuk ke dalam bangunan tersebut.
Sementara koki kembali ke dapur tanpa merasa curiga sama sekali. Arya berjalan dengan langkah tegap seperti penjaga lainnya, karena postur tubuhnya hampir sama dengan penjaga jadi tidak ada yang mengenalinya. Merasa aman Arya berjalan lebih cepat dan mencari kamar tempat tawanan.
Di lantai dua ada beberapa kamar, Arya sampai kebingungan mencari kamar tawanan. Ia mendengar pembicaraan seseorang di salah satu kamar, menempelkan telinganya agar lebih jelas.
"Aku sudah menyuruh pelayan memasak masakan untuk tawanan seperti yang anda minta dengan memberi sedikit ramuan," kata orang suruhan.
"Bagus, aku yakin sebentar lagi tubuhnya akan mengalami pengeroposan," kata Citra tatapannya dingin, tangannya mengepal sangat kuat.
Mendengar perkataan Citra dada Arya bergemuruh segera pergi mengganti makanan tersebut sebelum ketahuan. Dengan gerak cepat Arya membuang makanan dan pergi ke dapur. Secara kebetulan dapur nampak sepi tak ada satu orang pun di sana, memudahkan Arya meracik makanan persisi seperti yang ia bawa tadi dan secepatnya membawa ke lantai dua.
Sampai di lantai dua Arya mencari kamar dan setiap kamar nampak kosong hingga sampai kamar paling ujung. Ia membuka pintu perlahan pandangannya langsung tertuju pada perempuan dengan keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Ketika Arya mendekat perempuan tak lain Salindra menyadari kedatangan seseorang, waspada.
Salindra mencium aroma masakan perutnya berbunyi dan tenggorokannya kering. Ia menelan ludah dengan susah. Telinganya menangkap suara langkah seseorang membuat jantungnya berdegup sangat cepat, dan perasaanya mendadak takut.
Salindra takut kalau sampai orang tersebut memberi racun pada makanan tersebut. Ia berusaha melepaskan ikatannya tapi sayangnya ikatan itu sangat kuat membuat tangannya sakit. Matanya tertutup kain juga sangat kuat sedangkan mulut di tutup lakban. Berontak pun percuma dan sia-sia, akhirnya pasrah dengan keadaannya sekarang.
Arya membuka ikatan yang menutupi mata Salindra kemudian membuka lakban yang menutupi mulutnya. Pandangan Salindra buram semakin lama terlihat jelas, ia melihat Arya ada di depannya terkejut matanya melebar sempurna. Salindra berpikir kalau Arya bagian dari mereka hendak mengumpat, dengan cepat Arya menutup mulut Salindra menggunakan tangannya agar Salindra diam dan tidak berteriak.
“Salindra, dengarkan aku. Jangan berpikir kalau aku bagian dari mereka. Aku ke sini akan menolongmu, jadi nurut sama aku. Aku akan membantumu keluar dari tempat ini," bisik Arya sambil melihat ke arah pintu.
Deg
Jantung Salindra semakin berdegup sangat cepat mendengar bisikan Arya di telinganya, napas Arya menyapu lehernya membuat tubuhnya merinding. Salindra tidak bisa menghindar dari Arya, bagaimanapun juga dirinya membutuhkan bantuannya.
Arya dengan sigap membantu Salindra melepaskan ikatan tangan, kemudian menyuruh Salindra makan sampai habis. Salindra merasa ragu saat akan memakan makanan itu hanya menatap, takut sesuatu ada di dalam sana dan dirinya pingsan atau mati.
Arya tahu apa yang sedang dipikirkan Salindra tanpa membuang waktu menyuapkan ke mulut Salindra. Tanpa sadar Salindra membuka mulut dan mengunyah makanannya. Arya tersenyum tipis minat Salindra memakannya.
Makanan dilahap sampai habis tak bersisa membuat perut Salindra kenyang. Setelah selesai makan Salindra berdiri melepaskan ikatan di kakinya. Arya melihat keluar ruangan nampak sepi, ia keluar perlahan memastikan keadaan aman untuk melarikan diri.
Begitu situasi aman Arya mengajak Salindra keluar dengan mengendap-endap, mereka berjalan dengan menunduk menuju lantai bawah. Tidak ada orang yang melintas ataupun berbagai entah pergi kemana mereka semua.
Dari jauh Arya melihat serombongan orang berjalan masuk ke area bangunan, ia mengajak Salindra berjalan ke arah samping ruangan dan bersembunyi di balik dinding beton tinggi.
Salindra melihat dengan jelas Citra ada di antara mereka, ia juga melihat Patih bergabung dengan mereka wajah nampak senang, entah apa yang dipikirkannya. Mereka semua masuk ke dalam bangunan menuju ruangan di sebelah tangga. Melihat kesempatan itu Arya dan Salindra menyelinap keluar dari bangunan.
Arya dan Salindra melihat beberapa penjaga di luar rumah membuat mereka susah melarikan diri. Arya berpikir keras lalu melihat Salindra dengan rasa kasihan. Kedua mata saling beradu dan mengunci seperti ada sesuatu yang ingin diungkapkan, kemudian Arya memberi arahan, Salindra mengangguk paham apa yang harus dilakukan selanjutnya.
“Kamu ke pintu itu, setelah aku kasih kode, nanti kamu berlari ke arah belakang di sana ada mobilku kamu masuk dan kunci mobil jangan pergi kemana-mana," perintah Arya.
Salindra menatap wajah Arya dari jarak cukup dekat, jantung keduanya berdegup cepat. Salindra menggeleng cepat tubuhnya bergeming diam di tempat tidak mau pergi. Salindra takut jika Arya tertangkap oleh mereka dan tidak selamat.
Arya menangkupkan tangannya ke wajah Salindra, berkata, " Jangan khawatir, aku akan segera menyusul. Oke."
Awalnya Salindra ragu tapi setelah Arya meyakinkan dirinya. Arya memancing para penjaga agar menjauh dari pintu samping. Melihat kesempatan itu Salindra melangkah pergi dengan gerakan cepat tanpa diketahui penjaga. Melihat hal itu Arya terkejut dan nyaris tak percaya. "Apa aku salah lihat?" batin Arya merasa kagum, bibirnya tersenyum.
Tanpa menunggu lama Arya bergegas pergi menyusul Salindra dan mengabaikan keadaan di dalam bangunan tersebut. Mereka berlari ke arah mobil yang terparkir di belakang bangunan. Arya dan Salindra masuk dengan napas memburu. Keduanya mengatur napas hingga merasa lega, Arya langsung menyalakan mesin dan meninggalkan area tersebut.
Salah satu penjaga sedang berjalan untuk melihat situasi di luar melihat ada mobil dari jarak jauh meninggalkan area bangunan merasa curiga. Segera melaporkan kepada bosnya.
"Apa? Segera kejar mobil itu jangan sampai lengah," perintah Citra, lalu mematikan panggilan.
“Ada apa?" tanya Patih mengerutkan alisnya melihat sikap Citra yang terkejut.
“Ada mobil di area sini, kira-kira siapa yang berani ke sini?" jawab Citra sambil mengepalkan tangannya.
"Ada mobil, apa jangan-jangan ada orang tahu kita di sini," ucap Patih dengan perasaan tidak enak.
Citra teringat tawanannya segera keluar dari ruangan berjalan dengan langkah terburu-buru naik tangga menuju kamar tawanan di mana tempat Salindra di kurung. Patih dan beberapa orang mengikuti dari belakang.
Begitu sampai di depan kamar Citra membuka dengan kasar, matanya membulat melihat Salindra tidak ada di dalam sana, tali yang mengikat Salindra terlepas. pandangannya beralih ke nampak di tempat tak jauh dari kursi, Citra berjalan mendekat memeriksa makanan tersebut.
"Sial," umpatnya.
"Siapa yang berani membebaskan Salindra?" gumamnya sambil melempar nampan tersebut ke segala arah.
"Cari dan temukan mereka sampai dapat, dan jangan kembali sebelum kalian mendapatkan mereka," teriak Citra dengan suara menggema di seluruh bangunan tersebut.
Beberapa penjaga menuruti perintah Citra. Patih merasa kecewa dengan keadaan saat ini, keinginannya mendapatkan Salindra gagal untuk kesekian kalinya. Ia berjalan keluar dengan langkah lebar.
Citra memperhatikan Patih merasa curiga, ia mengikutinya. Kemudian menelpon seseorang.
“Cari tahu tentang Patih, aku ingin data lengkap tanpa ada kekurangan satupun," perintah Citra lalu mematikan panggilan sepihak dan berhenti mengikuti langkah Patih.