Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Melamar Kerja
Keesokan harinya...
Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika Dara sudah berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Ia mengenakan kemeja putih yang sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya sedikit pudar. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya terdapat map berisi beberapa lembar CV yang sudah dicetak semalam.
Dara menatap bayangannya sendiri. "Semangat..." bisiknya pelan.
Meski matanya masih menyimpan lelah dan kecemasan, ia memaksa tersenyum. Hari ini adalah hari pertama perjuangannya. Pukul delapan pagi, Dara sudah berada di sebuah perusahaan distribusi yang membuka lowongan administrasi.
Di ruang tunggu, belasan pelamar lain duduk dengan rapi.
Namanya dipanggil sekitar tiga puluh menit kemudian. Interview berjalan cukup baik.
Dara menjawab semua pertanyaan dengan tenang. Pengalaman kerjanya selama tiga tahun membuatnya cukup percaya diri.
"Baik, Nona Dara. Nanti kami kabari hasilnya maksimal tiga hari kerja."
Kalimat itu membuat senyumnya sedikit memudar. Tetap saja, ia mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak."
Dari sana Dara langsung menuju tempat kedua. Lalu tempat ketiga, keempat. Sepanjang hari ia berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya.
Kakinya pegal, perutnya bahkan hanya terisi roti murah yang dibelinya di warung pinggir jalan. Namun Dara tetap berjalan. Karena ia tidak punya pilihan.
Malam harinya...
Dara baru sampai di kos dengan tubuh nyaris tumbang. Ponselnya berbunyi, matanya langsung berbinar. Nomor tidak dikenal. Jantungnya berdegup kencang.
"Halo?" ucapnya cepat.
"Selamat malam. Apakah ini Nona Dara?"
"Iya, benar."
"Kami dari PT Sejahtera Logistik."
Dara langsung berdiri. Harapan memenuhi dadanya.
"Baik, Nona. Setelah mempertimbangkan hasil interview hari ini..."
Dara menahan napas.
"Kami memutuskan untuk melanjutkan kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan."
Seketika harapan itu runtuh.
"Oh..."
"Terima kasih atas waktunya."
Sambungan terputus.
Dara menatap layar ponselnya lama. Lalu perlahan duduk kembali. Ditolak.
Hari kedua...
Dara kembali keluar sejak pagi. Kali ini ia mendapat dua panggilan interview sekaligus..Ia berusaha tampil sebaik mungkin. Menjawab dengan sopan, tersenyum, dan menjelaskan pengalamannya.
Bahkan salah satu pewawancara tampak sangat terkesan. "CV Anda cukup bagus."
Mendengar itu, hati Dara kembali tumbuh harapan. Namun malamnya, Email pertama datang.
"Maaf, Anda belum memenuhi kualifikasi yang kami butuhkan."
Lalu email kedua.
"Terima kasih atas partisipasi Anda. Kami memilih kandidat lain."
Dara hanya menatap layar laptopnya. Lalu ia menutup laptop perlahan. Dadanya terasa sesak.
Hari ketiga...
Tabungan Dara semakin menipis. Uang pesangon yang ia terima hampir habis untuk biaya rumah sakit ibunya dan kebutuhan sehari-hari.
Pagi itu ia bahkan harus menghitung uang receh di dompetnya. Seratus ribu. Lima puluh ribu. Dua puluh ribu. Tak sampai dua ratus ribu tersisa.
Dara memejamkan mata. "Ya Tuhan..." Suaranya bergetar.
Kini rasa takut benar-benar mulai menguasainya.
Siang harinya, ia kembali menghadiri interview. Kali ini sebuah perusahaan kecil yang menurutnya menjadi harapan terakhir. Interview berlangsung hampir satu jam. Saat keluar dari ruangan, Dara merasa semuanya berjalan sangat baik.
Bahkan manajer HRD sempat berkata,n"Kami suka dengan pengalaman Anda."
Kalimat itu membuat Dara pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Mungkin kali ini berhasil.
Malam hari, Dara duduk di tepi kasur sambil memegang ponsel. Matanya terus menatap layar. Menunggu dan terus menunggu. Hingga akhirnya sekitar pukul sembilan malam telepon itu datang.
Dara langsung mengangkatnya. "Halo?"
"Selamat malam, Nona Dara."
Jantung Dara berdebar kencang.
"Kami dari PT Mandala Jaya."
"Iya, Pak..."
"Ada kabar terkait hasil interview Anda hari ini."
Dara sampai menahan napas. Tangannya berkeringat.
"Kami mengucapkan terima kasih atas ketertarikan Anda bergabung dengan perusahaan kami."
Lalu kalimat berikutnya menghancurkan seluruh harapannya. "Namun setelah pertimbangan lebih lanjut, kami memutuskan untuk memilih kandidat lain."
Dara membeku. "Baik, Pak." Suaranya hampir tidak terdengar.
"Semoga sukses untuk karier Anda ke depannya."
Telepon berakhir.
Ponsel perlahan turun dari telinganya. Dara duduk diam di tepi kasur. Hanya diam menatap lantai, tiga hari. Puluhan lamaran, beberapa interview dan hasilnya... nihil.
Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Pesan dari rumah sakit. Tagihan perawatan ibunya yang harus segera dibayarkan. Mata Dara mulai memanas, ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Namun kali ini air mata tetap jatuh.
Satu Dara menundukkan kepalanya, tangannya menutupi wajah. Tubuhnya bergetar pelan. "Aku harus gimana, Bu..." bisiknya lirih.
Di tengah kamar kecil yang sepi itu, Dara akhirnya menangis. Karena sekuat apa pun ia berusaha bertahan, ia tetap manusia biasa yang mudah lelah.
Keesokan harinya...
Dara kembali keluar sejak pagi. Ia membawa map berisi CV yang kini mulai kusut karena terlalu sering dibuka dan dibawa ke sana kemari.
Matahari siang terasa terik, langkahnya mulai melambat karena kelelahan. Hari ini pun belum ada kabar baik. Beberapa tempat bahkan langsung menolak tanpa memanggilnya interview.
Perut Dara mulai keroncongan. Ia berhenti di sebuah warung bakso sederhana di pinggir jalan. Warung itu tidak besar, hanya beratapkan terpal dengan beberapa meja dan kursi plastik.
Aroma kuah bakso yang gurih langsung menyeruak. Namun Dara hanya bisa menelan ludah. Ia membuka dompetnya perlahan. Lembar uang yang tersisa tidak banyak. Kalau ia membeli bakso sekarang, uangnya tidak akan cukup untuk ongkos pulang.
Dara menghela napas pelan. "Es teh manis satu, Bu..." katanya lirih kepada penjual.
"Baksonya nggak sekalian, Neng?" tanya ibu penjual ramah.
Dara tersenyum tipis. "Nggak dulu, Bu."
Ia lalu duduk di salah satu kursi kosong. Tidak jauh darinya, seorang pria sedang menikmati semangkuk bakso. Kemeja hitamnya digulung hingga siku.
Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya, meski tertutup sebagian oleh lengan kemeja. Pria itu terlihat tampan dan berwibawa, tetapi cara duduknya santai seperti orang biasa.
Pria itu tersenyum sendiri. "Daripada ngurusin bos super rese dan banyak maunya, mending gue makan aja deh."
Ia menyeruput kuah bakso.."Emang bakso di sini nggak ada duanya." Matanya menyapu sekeliling warung. "Lihat tempatnya doang pinggir jalan, tapi rasanya bintang lima." Ia kembali makan dengan lahap.
Namun tak lama kemudian perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang baru duduk di meja sebelah. Dara... gadis itu hanya memesan es teh manis.
Awalnya pria itu tidak terlalu memikirkan. Sampai Dara membuka dompetnya dan tanpa sengaja ia melihat isi dompet itu. Hanya beberapa lembar uang yang tersisa. Bahkan salah satunya selembar sepuluh ribuan yang sudah agak kusut.
Pria itu terdiam, tatapannya tanpa sadar mengikuti Dara. Gadis itu terlihat sangat lelah, matanya sembab. Wajahnya pucat, di pangkuannya terdapat map berisi dokumen dan CV.
Pria itu cukup pintar membaca keadaan. "Kayaknya..." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dia habis ngelamar kerja."
Dara menunduk sambil memegang gelas es teh. Tatapannya kosong ke arah jalan raya. Seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Pria itu memperhatikan beberapa detik lagi. Lalu menghela napas pelan. "Kasihan juga..." gumamnya.
Ia memang sering melihat orang susah. Tapi entah kenapa gadis yang satu ini berbeda. Mungkin karena wajahnya yang jelas sedang berusaha kuat meski hampir menyerah. Atau mungkin karena tatapan kosong itu terasa terlalu menyedihkan.
Pria itu melirik mangkuk baksonya yang masih setengah. Kemudian melirik Dara lagi. "Hm..."
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Coba deh gue deketin." Ia mengambil tisu, mengusap tangannya, lalu berdiri dari kursinya.
Sementara itu Dara masih menatap jalan tanpa sadar bahwa seseorang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Pria berkemeja hitam itu berhenti tepat di depan mejanya.
"Permisi..."
Dara tersentak dan langsung mendongak, kini mata mereka bertemu. Dan entah kenapa, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat Dara langsung terdiam.