NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di bawah perlindungan sang nenek

"Hore! Tante Kinan pulang!"

Daffa berlari kecil menuju pagar rumah kos begitu melihat Kinanti tiba. Wajah bocah itu langsung berbinar, seolah penantiannya sejak siang akhirnya terbayar.

Kinanti tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Daffa.

"Daffa nggak nakal, kan, sama Mbak Dini?"

"Nggak dong!" jawab Daffa bangga.

Kinanti mengalihkan pandangannya kepada Dini yang berdiri tak jauh dari sana.

"Makasih ya, Din. Sudah mau nemenin Daffa."

Dini yang merupakan salah seorang penghuni kos itu membalas dengan senyum hangat.

"Sama-sama. " Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Kalau gitu aku keluar sebentar, ya."

"Hati-hati."

Setelah Dini pergi, Kinanti menggenggam tangan mungil Daffa.

"Ayo, kita masuk."

Baru beberapa langkah memasuki rumah, Daffa kembali bertanya dengan polos.

"Tante dari mana? Kok perginya lama banget?"

Langkah Kinanti terhenti sesaat. Dadanya kembali terasa sesak saat teringat Tiara yang masih terbaring di rumah sakit. Namun, ia tak mungkin menceritakan semua itu kepada Daffa.

"Ehm... Tante tadi ada keperluan."

Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Oh iya, Tante sampai lupa. Tante beli donat."

Kinanti mengeluarkan sekotak donat dari kantong plastik yang dibawanya.

Mata Daffa langsung berbinar.

"Aku mau yang topping meises warna-warni!"

Tanpa menunggu lama, ia mengambil satu donat lalu menggigitnya dengan lahap.

"Hmm... enak banget!"

Melihat tingkah polos bocah itu, senyum tipis akhirnya menghiasi wajah Kinanti.

"Nanti kalau Mbak Dini sudah pulang, anterin buat dia, ya."

Daffa mengangguk cepat sambil terus mengunyah, hingga pipinya tampak menggembung penuh donat.

Sore perlahan berganti petang. Di balik senyumnya di hadapan Daffa, hati Kinanti justru dipenuhi kegelisahan. Bayangan wajah Tiara yang penuh luka terus menghantuinya. Terlebih lagi ucapan gadis itu di rumah sakit masih terngiang jelas di telinganya.

"Aku benci sama Mas Yudha..."

Kalimat itu terasa begitu berat memenuhi pikirannya.

"Tante..."

Lamunan Kinanti seketika buyar.

"Ya, Sayang?"

Daffa menatapnya ragu-ragu.

"Tante bisa ngajarin aku ngaji, nggak?"

Ia menundukkan kepala sejenak.

"Biasanya Ayah atau Ibu yang ngajarin aku habis sholat Magrib."

Mendengar itu, hati Kinanti menghangat.

"Insyaallah bisa. Nanti setelah salat Magrib, Tante ajarin Daffa membaca Al-Qur'an, ya."

Wajah Daffa langsung berseri-seri.

Tanpa diduga, bocah itu memeluk pinggang Kinanti erat-erat.

"Aku senang Ayah nikah sama Tante."

Kinanti menunduk menatapnya.

"Kenapa?"

"Soalnya Tante baik... pintar masak... terus sekarang juga bisa ngajarin aku ngaji."

Daffa tersenyum lebar.

"Persis kayak Ibu."

Kalimat sederhana itu membuat dada Kinanti menghangat sekaligus berkaca-kaca. Meski Daffa belum terbiasa memanggilnya "Ibu", ia sudah merasa sangat bersyukur. Setidaknya, bocah kecil itu telah menerima kehadirannya dengan tulus.

Tak lama kemudian, suara adzan Maghrib berkumandang, menggema memenuhi langit senja.

"Ayo, Tante! Kita wudu, terus salat Magrib berjamaah," ajak Daffa bersemangat.

Kinanti tersenyum.

"Kamu yang jadi imam, ya."

Daffa langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ehm... tapi aku belum hafal semua bacaan salat."

Kinanti mengusap rambutnya lembut. "Kalau begitu, nanti lebih rajin lagi menghafalnya. Biar suatu hari Daffa bisa jadi imam buat Ayah, Tante, dan kakak-kakakmu.

Daffa menegakkan badan sambil memberi hormat.

"Siap, Bos!"

Tingkah polosnya membuat Kinanti tak kuasa menahan tawa. Ia kembali mengusap kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang.

Usai salat Magrib berjamaah, Kinanti menengadahkan kedua tangannya. Do’anya malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Ia memohon agar Allah senantiasa menjaga kesehatan Keenan, melapangkan rezekinya, serta memudahkan setiap urusan yang sedang dihadapi suaminya.

Ia juga berdoa agar Yudha, Tiara, dan Daffa tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah, diberi hati yang lembut, serta selalu berada dalam lindungan-Nya.

Namun, doa yang paling lama ia panjatkan adalah untuk Tiara. Semoga Allah segera mengangkat rasa sakitnya, memulihkan luka di tubuh dan jiwanya, menguatkan hatinya menghadapi cobaan yang begitu berat, serta mengganti setiap air mata yang telah ia tumpahkan dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.

Sementara itu di rumah Keenan,

Yudha berada di rumah seorang diri. Dalam benaknya, Keenan pasti masih sibuk mencari keberadaan Tiara. Saat hendak menghubungi sang ayah, ponselnya lebih dulu berdering.

Nama ‘Ayah’ muncul di layar. Yudha segera mengangkat panggilan itu.

//Halo, Yah. Gimana Tiara? Sudah ketemu belum?//

Suara Keenan terdengar berat.

//Yudha... saat ini adikmu berada di rumah sakit//

Jantung Yudha seketika berdegup lebih cepat.

//Hah?! Tiara di rumah sakit? Dia kecelakaan?//

//Bukan//

Suara di seberang sana terdengar semakin lirih.

//Adikmu diculik//

Tubuh Yudha membeku.

//Diculik? Tapi... siapa yang menculik Tiara//

//Pelakunya adalah pengamen yang kamu ajak bekerja sama untuk menjebak Kinanti//

//Maksud Ayah... Bang Ucok?//

//Iya//

Keheningan menyelimuti beberapa detik berikutnya. Keenan menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.

//Selain menyekap dan menganiaya Tiara, pengamen yang kamu sewa itu juga telah merenggut kehormatannya//

Suara Keenan mulai bergetar.

//Adikmu... berkali-kali menjadi korban pelecehan//

//A-a-apa?!//

Suara Yudha tercekat. Ponsel di tangannya bergetar hebat.

Dunia seakan runtuh tepat di hadapannya.

//Sekarang Tiara mengalami trauma yang sangat berat// Suara Keenan terdengar penuh kepedihan. "Dia menganggap semua yang terjadi adalah akibat kesalahanmu karena menolak membayar upah kepada pengamen itu//

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Yudha.

//Untuk sementara waktu, Ayah ingin kamu tinggal dulu di rumah nenekmu. Ayah tidak ingin kondisi psikologis Tiara semakin terguncang//

Sambungan telepon pun berakhir.

Perlahan, ponsel itu terlepas dari genggaman Yudha. Ia terduduk lemas di sofa. Rasa bersalah menghantam dadanya tanpa ampun. Kalau saja waktu itu ia memenuhi janjinya dan memberikan uang tiga ratus ribu kepada Ucok, mungkin Tiara tidak akan menjadi korban.

"Tiara...Maafkan kakakmu ini …"

Sekitar setengah jam kemudian, Yudha tiba di rumah neneknya.

Bu Salma yang melihat cucunya datang membawa tas sekolah dan sebuah tas berisi pakaian langsung merasa heran.

"Yudha... ada apa? Semua baik-baik saja ‘bukan?"

Setelah keduanya duduk di ruang tamu, pertanyaan itu kembali diulang. Namun, bukannya menjawab, tangis Yudha justru pecah.

"Nek....Hiks... hiks... hiks...."

Bu Salma mengusap lembut punggung cucunya.

"Cerita pelan-pelan sama Nenek. Apa yang sudah terjadi? Kenapa malam-malam begini kamu datang sambil membawa banyak pakaian?"

Yudha menundukkan kepala, tangisnya tak kunjung reda.

"Kamu diusir ayahmu gara-gara perempuan kampungan itu, ya?" gerutu Bu Salma. "Dasar perempuan tidak tahu diri!"

Yudha buru-buru menggeleng.

"Nggak, Nek.... Ayah nggak ngusir aku."

"Lalu?"

Yudha kembali terisak.

"Tiara, Nek...."

"Kenapa dengan adikmu?"

"Dia... dia...."

Tangisnya kembali pecah hingga sulit melanjutkan kalimat.

"Kalila!" panggil Bu Salma.

Tak ada jawaban.

"Kalila!"

Beberapa saat kemudian, Kalila keluar dari kamarnya. Ia masih mengenakan mukena setelah menunaikan sholat Maghrib.

"Ada apa sih, Bu? Aku lagi tadarus."

"Lanjutkan nanti. Buatkan Yudha teh hangat dulu untuk Yudha.

Kalila baru menyadari keberadaan keponakannya.

"Yudha? Kamu ke sini sendiri? Kok bawa tas segala?"

"Tanya-tanyanya nanti saja. Sekarang buatkan dia minum dulu."

Kalila mengangguk. Tak lama kemudian ia kembali dengan segelas teh hangat. Setelah beberapa teguk, napas Yudha mulai lebih teratur.

"Sekarang ceritakan semuanya," ujar Bu Salma lembut.

Yudha mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

"Tiara... sejak kemarin nggak pulang ke rumah." Ia menarik napas panjang.

"Ternyata dia diculik.”

"Hah?!”

Bu Salma dan Kalila sontak terkejut.

"Terus? Tiara sudah ditemukan?" tanya Kalila panik. "Penculiknya minta uang tebusan?"

Yudha mengangguk pelan.

"Tiara sudah ditemukan. Penculiknya juga sudah ditangkap."

"Alhamdulillah...."

Kalila dan Bu Salma mengembuskan napas lega.

Namun, Yudha justru kembali menangis.

"Tapi Tiara...." Isaknya semakin keras.

"Kenapa lagi?" tanya Bu Salma cemas.

"Saat ditemukan..." suara Yudha

bergetar. "Tubuh Tiara penuh luka akibat dipukuli."

Ia menundukkan kepala semakin dalam. "Dan... dia juga berkali-kali dilecehkan oleh penculiknya."

"Astaghfirullahalazim...."

Bu Salma dan Kalila spontan menutup mulut mereka. Air mata langsung menggenang di pelupuk mata keduanya.

"Sekarang Tiara dirawat di rumah sakit. Ayah bilang... dia mengalami trauma yang sangat berat."

"Biadab!" umpat Bu Salma geram.

Yudha menatap Kalila dengan mata sembap.

"Auntie... aku takut Tiara membenciku."

Kalila mengernyit.

"Maksud kamu?"

Yudha menghela napas panjang.

"Penculik itu... Bang Ucok, pengamen yang dulu aku ajak bekerja sama buat menjebak Tante Kinanti."

Ruangan itu mendadak sunyi.

"Dia marah karena aku nggak membayar upah yang sudah aku janjikan. Makanya... dia menculik Tiara buat minta uang tebusan yang lebih besar."

Wajah Kalila yang semula dipenuhi rasa iba kini berubah dingin.

"Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai."

Kalimat itu menghantam hati Yudha.

Tangisnya kembali pecah.

"Kalila, Yudha sedang terpukul. Jangan tambah menyudutkannya,” tegur Bu Salma.

Kalila menggeleng.

"Justru sekarang dia harus sadar, Bu."

Tatapannya tertuju lurus kepada Yudha.

"Usiamu belum genap tujuh belas tahun. Tapi kamu sudah merencanakan fitnah hanya karena membenci Mbak Kinanti. Itu bukan kenakalan biasa."

Bu Salma mendengus.

"Perempuan kampungan itu memang tidak pantas menggantikan Ratih. Dia cuma parasit numpang hidup di istana."

Kalila langsung menoleh.

"Jadi Ibu membenarkan semua yang dilakukan Yudha?"

"Ibu cuma...."

"Karena Ibu terlalu membenci Mbak Kinanti, Ibu jadi buta melihat kesalahan cucu sendiri."

Kalila kembali menatap Yudha.

"Kamu sangat membenci mbak Kinanti. Jadi, jika sekarang Tiara membencimu, itu balasan yang pantas kamu terima!”

Usai berkata demikian, ia berbalik meninggalkan ruang tamu. Tak lama kemudian, suara pintu kamar yang ditutup cukup keras memecah kesunyian rumah.

Bu Salma menghembuskan nafas panjang.

"Sudahlah. Sekarang kamu istirahat di kamar tamu. Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau."

Yudha mengangguk pelan. Malam itu ia memang berada dalam perlindungan neneknya. Namun, perlindungan itu tak mampu meredakan badai penyesalan yang terus menghantam batinnya.

Bukan tak mungkin seumur hidup ia akan membawa beban bahwa kesalahan yang pernah ia lakukan telah menjadi awal dari kehancuran masa depan adik perempuannya sendiri.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!