NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 GELOMBANG PERTAMA PENCARI MANFAAT

Naya menatap abangnya dengan lebih lembut. “Kalau pindah, Naya boleh bawa semua buku?”

Pertanyaan itu kecil.

Namun Arkan merasa sesuatu di dalam dadanya melembut.

“Boleh,” jawabnya. “Semua.”

“Termasuk rak yang sudah miring?”

Arkan melirik rak buku kecil di pojok ruangan. Rak itu memang miring, seperti sedang menyerah pada hidup.

[Sistem merekomendasikan rak tersebut pensiun.]

Arkan menahan senyum.

“Raknya nanti kita ganti.”

Naya mengerucutkan bibir. “Tapi itu rak dari Abang waktu Naya SMP.”

Arkan terdiam.

Ia ingat. Rak itu dibeli dari pasar barang bekas. Warnanya dulu cokelat tua, tapi sekarang sudah kusam. Ia membawa rak itu pulang dengan motor yang sama, mengikatnya seadanya, hampir jatuh dua kali di jalan. Naya senang sekali waktu itu, seolah Arkan baru membelikannya perpustakaan pribadi.

Sistem tidak berkomentar.

Mungkin untuk pertama kalinya, sistem tahu kapan harus diam.

Arkan menatap Naya, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu kita bawa. Tapi nanti abang belikan rak baru juga.”

Naya tersenyum.

Senyum itu kecil, tetapi cukup membuat ruang tamu terasa lebih terang.

Bu Sari memperhatikan mereka dengan mata berkaca-kaca. “Ibu masih takut, Kan.”

Arkan menoleh.

Ibu tidak menyembunyikannya. Suaranya jujur. Wajahnya rapuh. Di hadapan anak-anaknya, ia tidak lagi mencoba terlihat kuat.

“Ibu takut ini terlalu tiba-tiba. Takut ada apa-apa. Takut kamu menyimpan masalah. Tapi…” Ia menatap Naya, lalu kembali pada Arkan. “Ibu juga capek takut terus.”

Kalimat itu membuat Arkan tidak bisa langsung menjawab.

Capek takut terus.

Itulah hidup mereka selama ini.

Takut uang habis.

Takut sakit.

Takut biaya sekolah.

Takut ditagih.

Takut mimpi terlalu tinggi.

Takut dihina.

Takut berharap.

Arkan menunduk, lalu menggenggam tangan ibunya.

“Arkan juga capek, Bu.”

Bu Sari menatapnya.

“Kita pelan-pelan,” ucap Arkan. “Tapi kali ini bukan pelan-pelan karena nggak mampu. Pelan-pelan karena kita mau aman.”

Bu Sari mengangguk perlahan.

Naya mengusap matanya lagi.

Di dalam kepala Arkan, sistem berbicara lebih tenang.

[Strategi transisi keluarga disetujui.]

[Rekomendasi langkah pertama malam ini: pemeriksaan kesehatan Ibu Sari.]

Arkan menegang sedikit.

Kesehatan ibu.

Itu memang masuk daftar prioritas sistem.

Selama ini, ibunya sering bilang hanya masuk angin, hanya lelah, hanya kurang tidur. Tetapi Arkan tahu, ada batuk yang terlalu sering ditahan, ada nyeri yang terlalu sering disembunyikan, ada obat yang kadang dibeli setengah dosis karena uang tidak cukup.

Ia menatap ibunya.

“Bu,” ucapnya hati-hati. “Besok kita periksa kesehatan, ya.”

Bu Sari langsung menggeleng refleks. “Nggak usah. Ibu cuma capek.”

“Periksa saja.”

“Kan, biaya rumah sakit itu—”

“Nggak apa-apa.”

“Jangan buang-buang uang.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Terlalu akrab.

Terlalu menyedihkan.

Arkan menatap ibunya dengan dada berat. Bahkan setelah semua ini, refleks pertama ibunya masih menghemat biaya kesehatan sendiri.

Sistem berbicara datar.

[Gejala standar keluarga berpenghasilan rendah: menganggap kesehatan sebagai pengeluaran, bukan kebutuhan.]

[Rekomendasi: ubah pola ini segera.]

Arkan menarik napas.

“Bu,” katanya pelan, tetapi kali ini tidak memberi ruang untuk dibantah. “Mulai sekarang, kesehatan Ibu bukan tempat kita menghemat.”

Bu Sari terdiam.

Naya mengangguk cepat. “Iya, Bu. Periksa aja. Naya juga mau Ibu sehat.”

Bu Sari melihat kedua anaknya.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas menyerah. “Kalau cuma periksa biasa…”

“Lengkap,” potong Arkan.

“Arkan…”

“Lengkap, Bu.”

Suara Arkan tetap lembut, tetapi tegas.

Bu Sari akhirnya menutup mulutnya, matanya kembali basah.

“Anak ini…” gumamnya pelan, antara kesal dan terharu.

Naya tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak mereka pulang, suara tawa itu terdengar ringan.

Namun suasana hangat itu tidak bertahan lama.

Dari luar rumah, suara langkah mendekat terdengar lagi. Kali ini bukan langkah sandal Bu Lilis. Lebih berat. Lebih cepat. Lalu suara seorang laki-laki terdengar dari depan pintu yang belum sepenuhnya tertutup.

“Kan! Kau di rumah?”

Arkan menoleh.

Naya mengerutkan kening. “Itu Bang Riko?”

Bu Sari tampak tidak nyaman.

Arkan mengenali suara itu.

Riko.

Sepupu jauh dari pihak ayah yang tinggal tidak jauh dari gang mereka. Orang yang sering muncul saat butuh bantuan, tetapi menghilang ketika keluarga Arkan sedang kesulitan. Beberapa bulan lalu, Riko pernah meminjam uang kecil dari Bu Sari dan belum mengembalikannya. Namun setiap kali bertemu, ia selalu bicara seolah paling peduli pada keluarga.

Arkan berdiri perlahan.

Di kepalanya, sistem langsung memberi peringatan.

[Subjek baru terdeteksi.]

[Identitas sosial: kerabat jauh.]

[Riwayat perilaku: oportunis.]

[Potensi risiko: tinggi.]

[Rekomendasi: jangan beri akses informasi finansial.]

Arkan menatap pintu.

Sore ini ternyata belum selesai.

Riko muncul di depan rumah dengan senyum lebar, napas sedikit terengah, seolah baru saja berjalan cepat setelah mendengar kabar yang terlalu menarik untuk ditunda.

“Wah, benar kau di rumah,” katanya sambil melirik ke dalam. Matanya langsung melihat map di tangan Naya, lalu wajah Bu Sari, lalu berhenti pada Arkan. “Aku dengar Naya sudah ambil berkas.”

Arkan tidak bergerak dari tempatnya.

“Baru juga sampai,” jawabnya datar.

Riko tertawa kecil.

“Iya, kabarnya cepat juga sampai warung depan.” Ia melangkah masuk tanpa benar-benar menunggu dipersilakan. “Hebat kau sekarang, Kan. Katanya langsung lunas semua.”

Naya menunduk.

Bu Sari menegang.

Arkan menatap Riko, lalu menyadari satu hal.

Rumor itu sudah mulai bergerak.

Dan kali ini, yang datang bukan hanya tetangga penasaran.

Tapi keluarga yang mencium uang.

Sistem berbicara dingin di kepalanya.

[Prediksi risiko sosial terbukti.]

[Gelombang pertama pencari manfaat telah tiba.]

[Rekomendasi: aktifkan batas keluarga.]

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!