Arizona Debu beterbangan,membawa aroma mesiu dan darah yang belum sempat mengering.Di tengah reruntuhan berdiri dua sosok yang kelak akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang mengenal mereka.
Mereka melangkah keluar dari laboratorium tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Beberapa detik kemudian BOOM
Ledakan dahsyat mengguncang langit, Kobaran api raksasa melahap seluruh laboratorium hingga tak menyisakan apa pun selain puing-puing dan abu Cahaya fajar perlahan muncul di ufuk timur, seolah menghapus semua jejak masa lalu mereka.
"Mereka tidak akan berhenti memburu kita" ucap Nayla sambil memandang jalanan yang membentang.
Angga menggenggam kemudi erat. Tatapannya sedingin es, namun dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan.
"Biarkan mereka datang, kita lihat siapa predator yang sesungguhnya"ucap angga dingin.
mulai hari itu dunia tidak benar-benar aman bagi mereka, namun mereka tidak akan lari lagi, angga dan nayla akan membunuh siapapun yang akan datang menyerang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KSTARIA MALAM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTARUNG BERSAMA
Sirene meraung semakin kencang seperti Tidak Memberi napas, ribuan tentara pemerintah menyisir area laboratorium
didepan panel kendali jari nayla bergerak diatas keyboard cepat, sangat cepat, dia mengaktifkan jebakan yang telah dirinya persiapkan sebelum pertarungan dengan angga pecah.
boom
ledakan membunuh agen pemerintah formasi mereka kacau balau
"akhirnya jebakan yang aku pasang tadi berguna" kata nayla pelan
namun tidak bertahan lama karena agen dan pasukan pemerintah yang tersisa memasuki dalam laboratorium.
Api perlahan merambat di sepanjang lorong Asap hitam memenuhi udara Setiap tarikan napas terasa lebih berat.
Angga melangkah maju Perlahan, Dibelakangnya anak-anak experiment mengikuti dengan langkah kaki gemetar,tidak ada yang bersuara Tak ada yang menangis Hanya diam Tapi raut wajahnya menampilkan ketakutan dan rasa trauma mendalam.
"ke arah kiri" angga memberi perintah kepada nayla dan anak-anak itu
Angga membaca denah dipergelangan tangannya, yang ia lihat hanya Lorong lorong sempit Minim pencahayaan namun Mau Bagaimana lagi itu satu-satunya jalan.
nayla berjalan dengan raut wajah dingin langkahnya sedikit cepat dari biasanya "aku tidak suka ini" gumam nayla.
"Sejak kapan kau menjadi penakut?" angga bertanya kepada nayla
"aku tidak takut aku hanya benci kekalahan" balas nayla tersenyum.
Tiba-tiba dari arah depan terdengar sepatu pasukan pemerintah telah mendekat
tiba tiba Tembakan melaju kencang menembus asap
dorr!
Salah satu anak jatuh, Tubuh kecilnya terhempas kelantai Darah mengalir deras dan tubuh kecil itu mati.
Angga membeku sesaat Matanya berubah Gelap melihat pemandangan itu.
"BERHENTI!" suara teriakan terdengar keras
dari balik asap Bayangan-bayang muncul satu per satu Pasukan elit Lengkap dengan senjata Siap tempur.
didepan pasukan tentara seorang pria berdiri Tenang Seolah semua ini sudah dia rencanakan "Yas Anggara Pratama" teriakan lantang menyebut nama angga
Angga tidak langsung menjawab Namun genggaman tangannya semakin erat.
"jadi kau salah satu dari mereka?" suara angga begitu dingin dan menakutkan
"Ya kau benar dan aku yang telah membuat semua rencana, balas laki-laki itu! "dua kakak beradik bodoh itu, tidak bisa diandalkan mereka mati terlalu cepat" balas laki-laki itu.
Ternyata dia adalah Reka bunanda Guru dan panutan angga yang ternyata masih hidup.
"ku pikir anda telah mati senpai" angga berkata dengan nada mengejek
"Semua karenamu aku hampir mati" reka bunanda membalas perkataan angga
tanpa sadar nayla melangkah maju sedikit Melindungi angga dan anak anak experiment
"Aku benci orang yang terlalu banyak bicara" balas nayla dingin reka
reka tersenyum tipis Memberi isyarat Dalam sekejap puluhan senjata diarahkan, Laser merah seakan menari di tubuh, dikepala bahkan dijantung angga dam nayla.
"Letakkan senjata kalian berhenti melawan, ini akhir hidup kalian" kata reka dingin
Angga melirik ke arah Nayla Sekejap tanpa kata tapi cukup untuk Mereka saling mengerti
"Angga Menurutmu berapa banyak yang bisa kita bunuh sebelum mereka hancur?" tanya nayla kepada angga
perlahan angga menghela napas pendek Matanya dingin Seperti jurang yang terjal "semua yang berdiri di depan kita" balas angga dingin
Nayla tertawa Lepas, tangannya bergerak Liar Menekan detonator kecil di tangannya.
BOOM
Ledakan mengguncang lorong lorong api menyembur panas
Pasukan terpental formasi musuh kacau balau Jeritan pecah di langit laboratorium.
"SEKARANG" nayla berteriak kencang
Angga tidak menunggu Ia melesat Masuk ke dalam kekacauan, Karambitnya menari lebih brutal dari sebelumnya, bukan lagi presisi Tapi pembantaian,
Leher koyak Tulang-tulang patah, Darah menyembur seperti kucuran air
Tidak ada belas kasihan tidak ada keraguan angga terus membantai
di belakang angga anak-anak itu berlari berpencar ke segala arah bersembunyi di pilar-pilar roboh.
reka perlahan mundur melihat pertempuran pecah namun matanya tetap tenang Mengamati Menghitung "Menarik!!" reka bergumam
reka mengangkat jalur komunikasi "aktifkan fase kedua" suara dingin reka berbicara di earpiech.
tiba tiba ledekan terdengar kencang, bunker bergetar hebat Lebih kuat dari sebelumnya Lebih dalam dan Lebih menghancurkan
Layar di pergelangan tangan nayla berkedip dia berhenti Wajahnya berubah Untuk pertama kalinya ia tidak tersenyum
angga ini?"suara nayla tercekat! "dan para manusia experiment di aktifkan para monster dilepaskan" nayla kembali berbicara
Dari balik kegelapan lorong sesuatu bergerak Bukan manusia bukan juga mesin hanya monster yang sudah diperintah bunyi
suara suara tidak mengenakan terdengar, tulang retak, Daging bergeser, Monster itu bergerak cepat Napas mereka berat tidak normal
angga tersenyum tipis "Seharusnya memang begini biar seru"ucap angga bergitu senang!
"berarti nay permainan sebenarnya baru saja dimulai" ucap angga kepada nayla.
Di dalam kehidupan bahkan manusia lebih buruk dari monster, nurani mereka telah mati tidak ada rasa kasihan yang manusia tunjukkan.
BERSAMBUNG…