NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi Pertama Keluarga Adiguna

Suara detak jam dinding besar bermerek Patek Philippe di ruang tamu utama kediaman keluarga Adiguna terdengar konstan, berat, dan menekan. Rumah yang terletak di kawasan elite Menteng itu dibangun dengan arsitektur kolonial moderen; pilar-pilar betonnya menjulang tinggi, mengekspresikan kekuasaan dan kekayaan yang tak tergoyahkan. Dindingnya dilapisi marmer Italia berwarna putih keabu-abuan, memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang temaram. Udara di dalam ruangan terasa begitu dingin akibat pendingin ruangan yang disetel maksimal, atau mungkin karena ketegangan psikologis yang sedang menyelimuti setiap orang yang ada di sana.

Hutomo Adiguna duduk di sofa kulit premium buatan pengerajin lokal terbaik. Tangan tuanya yang dipenuhi keriput namun tetap memancarkan kekuatan, dengan santai memutar-mutar sebuah gelas kristal berisi cairan amber hangat. Di sampingnya, berdiri Rendra Adiguna, sang Kepala Penasihat Hukum Adiguna Group, yang mengenakan setelan jas kelabu rapi dengan ekspresi wajah sehalus dinding semen. Sementara di seberang mereka, duduk dua orang pria berpakaian sipil dengan lencana kepolisian yang tersemat samar di balik jaket kulit mereka.

Pria yang duduk paling depan adalah Komisaris Polisi (Kompol) Hendrawan, kepala tim investigasi khusus yang ditunjuk langsung oleh Markas Besar Kepolisian setelah menerima laporan darurat dari keluarga Yoora. Di tangannya, terdapat sebuah berkas tebal bersampul cokelat yang memuat logo kepolisian dan cetakan foto-foto beresolusi tinggi dari rekaman CCTV Hotel Grand Luminary tadi pagi.

"Tuan Hutomo," Kompol Hendrawan memulai pembicaraan dengan suara bariton yang tenang namun sarat akan tekanan psikologis khas seorang penyidik senior.

"Kami sangat menghargai waktu Anda yang berharga. Namun, seperti yang sudah Anda ketahui melalui pemberitaan media dan surat pemberitahuan resmi yang dibawa oleh tim kami, situasi ini melibatkan hilangnya seorang pewaris utama dari salah satu pilar ekonomi kuliner nasional, Catalea Yoora. Dan seluruh bukti digital di lapangan mengarah langsung pada putra bungsu Anda, Zahran Adrian Adiguna."

Hutomo Adiguna tidak langsung menjawab. Ia menyesap cairan hangat di gelasnya secara perlahan, membiarkan keheningan yang menyiksa merayap di antara mereka selama beberapa detik. Gerakan yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan dominasi sang interogator.

"Kompol Hendrawan," Hutomo akhirnya bersuara, suaranya parau namun berwibawa, bergaung di langit-langit ruangan yang tinggi.

"Keluarga Adiguna adalah warga negara yang taat hukum. Kami telah menyumbang banyak bagi pembangunan infrastruktur di negeri ini. Namun, saya tidak akan membiarkan nama baik keluarga saya diseret ke dalam drama domestik keluarga Yoora yang tidak becus mendidik anak perempuan mereka."

"Kami tidak sedang membahas drama domestik, Tuan Hutomo," potong Hendrawan sambil menggeser selembar foto berukuran besar ke atas meja kaca di antara mereka. Foto itu menampilkan wajah Zahran yang menatap lurus ke arah kamera CCTV di basement sektor C, tepat sebelum ia membukakan pintu mobil SUV hitam untuk Alea.

"Ini adalah fakta hukum. Putra Anda berada di lokasi kejadian pada menit-menit kritis sebelum hilangnya Nona Catalea. Dan kendaraan yang digunakannya terdaftar di bawah bendera anak perusahaan properti milik Adiguna Group. Berdasarkan Pasal 328 KUHP tentang penculikan, kami memiliki dasar hukum yang kuat untuk menetapkan saudara Zahran sebagai tersangka utama."

Rendra Adiguna segera melangkah maju, meletakkan jemarinya di atas meja dan menatap Hendrawan dengan senyum profesional yang dingin.

"Mari kita luruskan terminologi hukum Anda, Kompol. Pasal 328 mensyaratkan adanya unsur 'membawa pergi dengan paksa atau tipu muslihat'. Jika Anda melihat rekaman video utuhnya secara saksama—bukan sekadar potongan gambar yang sengaja dibocorkan oleh pihak Pratama Logistics—Nona Catalea Yoora berjalan dengan kesadaran penuh, tanpa ada tanda-tanda kekerasan fisik, ancaman senjata, atau paksaan. Di mata hukum, ini adalah tindakan sukarela dari seorang dewasa yang cakap secara hukum. Menuduh klien kami melakukan penculikan tanpa adanya bukti pemaksaan adalah bentuk pencemaran nama baik yang bisa kami tuntut balik besok pagi."

Hendrawan tidak goyah oleh gertakan sang pengacara korporat. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke Hutomo.

"Tuan Hutomo, jika ini bukan penculikan, lalu di mana saudara Zahran sekarang? Mengapa dia mematikan seluruh perangkat GPS di kendaraannya? Mengapa dia tidak bisa dihubungi oleh pihak direksi perusahaan sejak pukul sembilan pagi tadi? Jika dia tidak bersalah, pelarian ini justru memperkuat indikasi adanya motif tersembunyi. Beberapa pihak berspekulasi ini adalah bentuk balas dendam terkait sengketa lahan bisnis kuliner di Jawa Tengah tiga tahun lalu."

Mendengar penyebutan sengketa tiga tahun lalu, rahang Hutomo tampak mengeras. Ingatan tentang bagaimana Baskoro Yoora mempermalukan dan menekan proyek perhotelan Adiguna di Yogyakarta kembali mencuat ke permukaan. Namun, sebagai seorang veteran di dunia bisnis, ia tahu bagaimana cara menyembunyikan emosinya.

"Zahran adalah Direktur Pengembangan Bisnis," kata Hutomo dengan nada dingin.

"Dia sering melakukan perjalanan survei lapangan secara mendadak tanpa perlu melapor pada saya setiap jam. Mengenai masalah GPS dan ponsel yang mati, area-area proyek baru kami di pelosok daerah sering kali mengalami kendala sinyal."

"Apakah pelosok daerah yang Anda maksud termasuk jalur perbatasan provinsi barat yang mengarah ke pelabuhan penyeberangan?" tanya Hendrawan memancing, matanya menyipit untuk menangkap reaksi sekecil apa pun dari wajah Hutomo.

Sebelum Hutomo sempat merespons, pintu ganda ruang tamu terbuka dengan kasar. Gautama Adiguna melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah yang tertahan. Ia melemparkan tablet digitalnya ke atas meja rias dekat sofa, tidak memedulikan keberadaan para petugas kepolisian yang sedang melakukan interogasi resmi.

"Ayah, ini sudah keterlaluan!" seru Gautama, suaranya bergetar oleh rasa frustrasi.

"Saham Adiguna Land turun tiga koma lima persen dalam perdagangan sesi pertama hari ini. Para investor dari konsorsium Singapura terus menelepon saya, menanyakan apakah Direktur Pengembangan Bisnis kita terlibat dalam kasus kriminal nasional. Tindakan nekat Zahran kali ini benar-benar membahayakan kesepakatan bisnis kita!"

"Gautama, jaga sikapmu. Kita sedang menerima tamu," tegur Hutomo dengan suara rendah yang sarat akan ancaman, membuat putra sulungnya itu seketika terdiam dan memundurkan langkahnya, meski dadanya masih naik-turun menahan dongkol.

Kompol Hendrawan tersenyum tipis melihat keretakan internal yang baru saja dipertontonkan. Ia menutup berkas cokelatnya dengan bunyi plak yang cukup keras, lalu berdiri dari kursinya. Rekan penyidiknya ikut berdiri di belakangnya.

"Terima kasih atas informasinya, Tuan Hutomo, Tuan Rendra," ucap Hendrawan sambil merapikan jaket kulitnya.

"Interogasi pertama ini kami anggap cukup untuk sementara. Namun perlu saya tegaskan, pihak kepolisian telah mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh jajaran Polda di wilayah barat untuk melakukan penyekatan jalan raya dan melacak keberadaan SUV hitam tersebut. Kami juga menyarankan agar keluarga Adiguna segera membujuk saudara Zahran untuk menyerahkan diri dalam waktu dua puluh empat jam ke depan sebelum kami mengeluarkan surat daftar pencarian orang (DPO) secara resmi."

Hendrawan menatap Gautama sekilas sebelum mengalihkan pandangan terakhirnya pada Hutomo.

"Karena jika ini berubah menjadi kasus pelarian kriminal berskala nasional, penurunan tiga koma lima persen saham hari ini... mungkin hanya akan terasa seperti percikan air kecil sebelum badai yang sesungguhnya menghancurkan Adiguna Group."

Kedua petugas kepolisian itu kemudian membalikkan badan dan melangkah keluar dari kediaman Adiguna, meninggalkan keheningan yang jauh lebih pekat dan berbahaya di dalam ruangan tersebut.

Begitu pintu depan ditutup rapat oleh penjaga rumah, Hutomo Adiguna langsung membanting gelas kristalnya ke lantai marmer.

Prang!

Serpihan kaca dan sisa cairan amber berserakan di dekat kaki Gautama.

"Rendra!" bentak Hutomo, napasnya memburu dengan mata yang memancarkan kilatan amarah yang mengerikan.

"Gunakan seluruh jaringanmu di kepolisian untuk mencari tahu di mana bajingan kecil itu bersembunyi! Aku tidak peduli dengan urusan percintaannya yang bodoh dengan anak Baskoro Yoora! Tapi jika dia berani merusak stabilitas Adiguna Group yang kubangun dengan darah dan air mata, aku sendiri yang akan mencoret namanya dari silsilah keluarga ini dan menjebloskannya ke dalam penjara!"

Di sudut ruangan, Gautama menyunggingkan senyum tipis yang penuh dengan kepuasan terselubung. Di balik kekacauan saham hari ini, ia melihat jalan yang bersih untuk menyingkirkan Zahran dari struktur kekuasaan Adiguna Group selamanya. Perang di luar sana mungkin baru saja dimulai, namun perang di dalam dinding marmer Adiguna, kini telah menemukan pemenangnya.

1
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!