Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya Dia
RS Bhayangkara
"Ada berita apa Suster Mila?" tanya dokter Rahmat yang datang menjelang siang.
"Pak Dean, Dok Wayan dan Mbak Casey datang semalam bawa korban nyaris dirudapaksa," jawab Suster Mila.
"Bagaimana korbannya? Wanita itu baik-baik saja kan?" tanya dokter Rahmat lagi.
"Dok, korbannya cowok," bisik Suster Mila.
"Cowok?" Dokter Rahmat melongo. "Ya Allah ... Astaghfirullah .... sekarang dimana korbannya?"
"Masih diterapi sama Mbak Mura. Kebetulan Mbak Mura mau kemari," jawab Suster Mila.
"Kamar berapa?" tanya dokter Rahmat.
Suster Mila memberitahukan nomor kamarnya dan pria itu pun menuju kamar Guntur.
"Dok, jangan lupa ops jam tiga ya?" seru Suster Mila.
"Iya Mil. Masih ada waktu dua jam." Dokter Rahmat masuk ke dalam lift dan memencet tombol lantai tempat ruang rawat inap Guntur.
Tak lama pria itu datang ke kamar yang dijaga dokter Wayan dan Dean Thomas. Dokter Rahmat tersenyum melihat rekannya yang sudah pensiun tapi sepertinya menolak pensiun.
"Yak opo pensiunan turun gunung?" kekeh dokter Rahmat sambil memeluk satu persatu sahabatnya.
"Anggap saja, pengen menutup kasus sepuluh tahun lalu," jawab Dean Thomas. "Mau ops Dok?"
"Ho oh. Amura di dalam?" tanya dokter Rahmat.
"Iya, sama Yudho. Guntur mau menuntut dan membuat bangkrut PH si Daud," jawab Dean Thomas.
"Bagus! Aku paling benci penyimpangan!" Dokter Rahmat pun mengetuk pintu kamar Guntur dan Iptu membukanya.
"Dokter Rahmat," senyum Iptu Casey. "Tumben hari Minggu ke Bhayangkara."
"Aku mau ops dua jam lagi. Daripada rebutan ruang ops jadi aku lebih suka hari Minggu," senyum dokter Rahmat. "Bagaimana kondisinya?"
"Masih shock tapi sudah mendingan. Mbak Mura masih membangun self esteem nya yang sempat hancur."
Dokter Rahmat mengangguk. "Boleh aku masuk?"
"Boleh Dok," senyum Iptu Cristiano.
Dokter Rahmat pun masuk dan Guntur terkejut melihat wajah lembut pria itu.
"Oom Rahmat," senyum Yudho sambil salim.
"Yudho. Sehat? Shiryu gimana?" sapa dokter Rahmat.
"Sehat. Sedang main ke ruang Nawa dan Aya. Katanya mau bikin Lego bareng," jawab Yudho.
"Itu ... siapa kak Mura?" bisik Guntur yang agak takut.
"Dia dokter Rahmat. Keluarga kami juga. Jangan khawatir, beliau baik kok. Dokter Rahmat adalah dokter bedah di sini," jawab Amura.
Guntur tampak lega tapi dia tetap menggenggam tangan Amura. Matanya masih menatap liar dan ketakutan.
"Jangan takut. Dokter Rahmat baik kok," lanjut Amura.
Dokter Rahmat mengamati kondisi Guntur dan dia bisa merasakan bagaimana traumanya pria muda itu. Setiap orang mau kamu wanita ataupun pria, dirudapaksa itu pastinya akan meninggalkan trauma seumur hidup. Dokter Rahmat adalah orang yang pro kebiri pelaku rudapaksa namun dokter Lucky mengatakan bahwa akan timbul kejahatan lainnya juga.
Tentu jadi pro dan kontra soal hukum kebiri tapi versi dokter Lucky, lebih baik dihukum mati juga karena pelaku rudapaksa kekejiannya lebih parah dari pembunuh. Pembunuh, korbannya tewas. Pelaku rudapaksa, korban masih hidup dengan trauma selamanya. Kalaupun bisa sembuh, tidak sepenuhnya sembuh juga. Jadi hukuman mati adalah yang pantas.
"Perkenalkan aku dokter Rahmat. Boleh saya bertanya sesuatu, Nak Guntur?" tanya dokter Rahmat lembut.
Guntur hanya mengangguk. Amura dan Yudho bisa melihat genggaman tangan Guntur mulai mengendur.
"Apakah ... Anda belum sampai kejadian? Maafkan bahasa aku tapi jujur ... jika kejadian, Anda harus diperiksa secara menyeluruh. Kita tidak tahu apakah si pelaku menderita sakit apa bukan?" lanjut dokter Rahmat.
"Alhamdulillah ... belum kejadian, Dok." Genggaman tangan Guntur mengencang lagi ke tangan Amura. "Hampir. Tapi ... dia sempat mencium bibir saya. Apakah ... saya harus periksa?"
"Sebaiknya iya," jawab dokter Rahmat.
"Apakah ada yang menular dari PMS ( Penyakit Menular S3ksual ) dengan ciuman bibir?" tanya Iptu Casey.
"Ya, sebagian infeksi menular s3ksual ( IMS ) bisa menular lewat ciuman, terutama herpes labialis ( HSV ), sifilis, dan HPV, jika ada luka atau sariawan. Namun, banyak IMS lain seperti HIV, klamidia, dan gonore tidak menular lewat ciuman biasa. Kita tidak tahu bukan?" terang dokter Rahmat.
Guntur semakin panik. "Bagaimana ini kak Mura?"
"Sebaiknya kamu test kesehatan. Kita kan harus menjaga semuanya," jawab Amura.
"Bahkan aku bisa menambahkan tuntutan lagi kalau kamu terkena," timpal Yudho.
"Kalau tidak kena? Tapi si Daud menderita IMS?" tanya Iptu Casey.
"Kita bisa meminta orang-orang yang dipaksa olehnya untuk periksa. Bisa saja kita tuntut karena sudah memberikan sakit berbahaya," jawab Yudho. "Sekalian saja dibuat habis!"
"Aku mau periksa. Aku tidak mau sakit!" ucap Guntur tegas.
"Baik. Aku akan minta suster Mila mengambil darah kamu dan kita periksa lab sekalian. Kamu ada BPJS?" tanya dokter Rahmat.
"Ada Dok."
***
Kediaman keluarga Buwono
Frustrasi mulai terasa di ruang tengah rumah Buwono. Lantai dipenuhi lembaran fotokopi katalog pameran, artikel koran lama, dan daftar nama seniman yang mereka cetak dari internet.
Kenzie mengusap wajahnya berkali-kali, sementara Sheva bersandar di sofa dengan napas panjang. Zane memutar kursinya menghadap laptop yang sejak pagi tak menunjukkan hasil berarti.
"Aku rasa kita sudah cek hampir semua seniman yang punya nama depan huruf A," gerutu Sheva.
"Yang inisialnya A.S. itu banyak banget," sahut Zane. "Ada pelukis, pematung, ilustrator... tapi nggak ada yang cocok."
Kenzie menatap secarik catatan berisi dua huruf yang menjadi petunjuk mereka. "A.S. pasti bukan orang sembarangan. Kalau sampai namanya disembunyikan begini, berarti ada alasan."
Ketiganya kembali terdiam. Yang terdengar hanya bunyi kipas angin dan ketikan keyboard Zane.
"Aku coba satu cara terakhir," gumam Zane. "Cari dosen seni rupa, bukan cuma seniman aktif."
Jarinya menelusuri satu demi satu situs universitas. Beberapa menit berlalu tanpa hasil. Hingga tiba-tiba matanya membesar. "Tunggu... tunggu!"
Kenzie dan Sheva langsung berdiri. "Ada apa?"
Zane memutar layar laptop ke arah mereka. "Ini... lihat."
Di halaman resmi sebuah fakultas seni di sebuah kampus di Jakarta, terpampang daftar tenaga pengajar. Salah satu nama membuat ketiganya membeku.
A. S.
Di bawah namanya tertulis gelar akademik yang panjang, dengan keterangan bahwa ia merupakan dosen Seni Rupa sekaligus seniman yang karyanya pernah dipamerkan di berbagai galeri nasional.
Sheva menelan ludah. "Jangan-jangan... ini orang yang kita cari?"
Kenzie memperhatikan foto profil dosen itu dengan saksama. "Wajahnya... terasa familiar."
"Kalau benar dia," kata Zane pelan, "berarti petunjuk kita selama ini mengarah ke seseorang yang masih aktif mengajar."
Ketiganya saling berpandangan. Rasa frustrasi yang sejak tadi menghimpit perlahan berubah menjadi semangat baru.
Kenzie memegang dagunya yang gayanya mirip dengan ayahnya kalau sedang berpikir. "Nanti kita laporan ke Oom Victor dan Oom Steven."
"Tapi kita nggak bisa asal datang," ujar Sheva. "Kalau dia memang menyembunyikan sesuatu, dia pasti nggak akan mudah bicara."
Zane mengangguk. "Artinya kita dan para bokap harus punya alasan yang masuk akal untuk menemuinya."
"Setuju!"
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
btw....spa jdoh ela sbnrnya???🤔🤔🤔...mau nanya ka hana,pst jwbnya rahasia.... wkwkwk.
takuti si mayjend serakah itu
Dulu ke istrinya, sekarang ke anak
Memang dok Lucky totalitas ke absurdannya
kunti comel emang bisa diandalkan
melayang sna sni smbil ngoceh,untng dia hntu jd yg bs dngerjg ssama hntu....🤣🤣🤣....