Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26 ANGKA YANG BERUBAH
"Kamu terus memelototi tabung ini, apa kamu pikir matamu dapat menembusnya?" ujar Miranda kepada Ivan.
"Cepat tentukan pilihanmu!" sambung Miranda.
"Aku memang bisa menembusnya," balas Ivan dalam hati.
"Aku pilih angka besar," ujar Ivan.
Dengan kekuatan mata dewa yang dapat menembus ke dalam tabung, Ivan dapat mengetahui bahwa dadu di dalamnya bernilai besar.
"Setelah kekalahan sebelumnya, aku tidak boleh lengah dan melakukan kesalahan kali ini," pikir Ivan.
Pandangan Ivan terus tertuju pada tabung di hadapannya. Kedua matanya terus bersinar menandakan kekuatan mata dewanya yang terus aktif.
"Apa kamu yakin angka besar, kamu masih bisa merubahnya sekarang?" ujar Miranda.
"Tidak perlu, aku yakin angka besar, kali ini aku yang menang," balas Ivan.
"Menang... dasar bodoh," pikir Miranda.
Dadu di dalam tabung ini bisa dia kendalikan sesuai dengan keinginannya. Miranda bisa mengaturnya sesuai dengan kemauannya.
"Walaupun tebakanmu benar, apa gunanya, aku bisa merubahnya dengan mudah," ucap Miranda dalam hati.
"Baiklah, sebelum aku membuka penutupnya, aku akan sampaikan sekali lagi dengan jelas kepada semua orang di sini," ujar Miranda dengan suara lantang.
"Aku Miranda dan dia telah bertaruh, jika aku menang, maka aku akan mematahkan kedua tangan dan kakinya, jika dia yang menang, maka aku akan mengembalikan semua uang yang telah aku menangkan, dan dia boleh menamparku," sambung Miranda sambil menunjuk Ivan.
"Oh iya, masih ada satu lagi, aku juga akan menanggalkan pakaianku, dan pergi dari sini," sambung Miranda lagi dengan penuh rasa percaya diri.
Miranda begitu sangat yakin akan memenangkan pertandingan ini, sehingga dirinya tidak ragu kembali mengulangi apa yang mereka telah sepakati di depan semua orang. Tidak pernah terbayangkan oleh Miranda bahwa akan ada kejutan yang sebentar lagi akan terjadi.
Mendengar apa yang di katakan Miranda, semua orang juga sudah sangat jelas sekali. Dengan demikian mereka dapat menjadi saksi yang nyata.
"Nona Miranda tenang saja, jika ada yang tidak menepati janjinya, kami tentu saja tidak akal tinggal diam," ujar salah seorang menanggapi.
"Aku sebelumnya sudah kalah dalam berjudi, kepalaku sedikit pusing, jika pemuda itu kalah, aku akan bantu nona mematahkan kakinya," ujar orang yang lain menanggapi.
Tiba-tiba saja beberapa orang di sana mulai mengambil beberapa pipa baja yang ada di sudut ruangan casino. Mereka begitu yakin bahwa Miranda akan memenangkan pertandingan ini.
Miranda tampak begitu puas sekali, dan mulai meletakkan telapak tangannya di atas tabung penutup.
"Kamu memang benar bahwa di dalamnya adalah angka besar, tapi aku adalah Miranda sang ratu dadu, orang yang bisa mengalahkan ku dalam permainan dadu masih belum lahir di dunia ini," ucap Miranda dalam hati.
Seketika sebuah energi keluar dari dalam tubuh Miranda menuju ke telapak tangan kanannya.
"Teknik telapak hantu!" sambung Miranda dalam hantu.
Miranda mengeluarkan teknik istimewa miliknya yang sama seperti babak sebelumnya yaitu teknik telapak hantu.
Energi yang mengumpul di telapak tangan kanannya juga langsung masuk ke dalam tabung penutup. Dadu di dalamnya juga langsung berputar-putar.
"Ini... bagaimana bisa...?" Ivan dengan mata dewa yang dapat menembus pandang juga langsung terkejut mengetahuinya.
Ketiga dadu di dalamnya telah berputar-putar tanpa menimbulkan suara. Dengan demikian, maka dapat di pastikan bahwa angka di dalamnya juga pasti berubah.
Seutas senyuman terlintas di bibir Miranda yang tipis dan merah merona. Setelah mengeluarkan kekuatan telapak hantu ini, maka kemenangan adalah miliknya, pikirnya.
Ketiga dadu yang berputar-putar juga berhenti mengikuti kemauan dari Miranda. Ketiga dadu yang sebelumnya adalah 2, 6, 4, angka besar, kini berubah menjadi 1, 2, dan 3, angka kecil.
Miranda dapat mengatur dadu di dalamnya tanpa di ketahui oleh siapapun. Tapi yang tidak Miranda ketahui, bahwa Ivan dapat melihatnya dengan jelas.
"Dadunya berubah, pantas saja sebelumnya aku kalah, ternyata dia telah merubahnya, ternyata wanita ini memang punya kemampuan," ucap Ivan dalam hati.
"Jika aku tidak memiliki mata dewa, aku tidak akan tahu dan sudah pasti kalah," sambung Ivan dalam hati.
Miranda juga mengarahkan pandangannya kepada Ivan dengan mengangkat satu alisnya. Miranda seolah mengisyaratkan bahwa semua telah berakhir.
"Wanita ini... kali ini aku tidak akan kalah lagi," pikir Ivan.
Miranda juga mulai bersiap membuka tabung penutupnya. Semuanya pandangan orang juga tertuju ke sana karena penasaran dengan hasilnya.
Dengan rasa penuh percaya diri dan keyakinan kemenangan di depan mata, Miranda juga hendak membuka tabung penutupnya.
Akan tetapi tiba-tiba saja Ivan bangkit dari tempatnya dan langsung meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan kanan Miranda.
"Apa yang kamu lakukan," Miranda terkejut dengan tindakan Ivan ini.
"Aku takut kamu berbuat curang, jadi aku juga mau membukanya bersama, tidak masalah bukan?" balas Ivan.
"Dia ini... apa mungkin dia menyadari sesuatu?" pikir Miranda.
"Seharusnya tidak akan ada yang tahu tentang teknik telapak hantu ini, dia hanya seorang amatiran," pikir Miranda lagi.
"Curang... kamu jangan asal bicara tanpa bukti, mau buka bersama tentu tidak masalah," balas Miranda kepada Ivan.
Seketika kekuatan mata dewa yang sembari tadi aktif mengalirkan energi spiritual pada tangan Ivan.
"Kenapa tangannya tiba-tiba hangat sekali," Miranda merasakan telapak tangan Ivan yang menimpa telapak tangan kanannya.
Energi spiritual di tangan Ivan juga langsung masuk ke dalam tabung penutup. Energi spiritual itu langsung membuat ke tiga dadu di dalamnya bergerak berputar-putar. Ketiga dadu itu berputar-putar tanpa suara sedikitpun.
"Apa..." Miranda langsung kaget.
Miranda memiliki teknik istimewa yang di sebut dengan telapak hantu, jadi dirinya juga dapat merasakan pergerakan dadu di dalam tabung melalui telapak tangannya yang masih menempel.
"Kenapa dadunya berputar, aku sedang tidak mengaktifkan teknik telapak hantu," pikir Miranda bingung.
Miranda masih belum menyadari bahwa ketiga dadu yang berputar adalah karena perbuatan dari Ivan.
Merasa ketiga dadu tersebut bergerak karena teknik miliknya, Miranda juga berusaha untuk menghentikannya. Akan tetapi Miranda mendapati bahwa dirinya tidak bisa menghentikannya.
"Bagaimana bisa... aku tidak dapat mengendalikannya," pikir Miranda tidak dapat mempercayainya.
Ekspresi wajah Miranda juga langsung berubah. Sebelumnya dirinya begitu percaya diri, sekarang tampak kebingungan.
Ketiga dadu di dalam tabung kemudian berhenti dengan sendirinya. Angka kecil yang telah di atur oleh Miranda, kini kembali lagi telah berubah menjadi angka besar.
Walaupun Miranda tidak bisa menembus pandang, tapi dengan kemampuannya, dirinya dapat merasakan bahwa angkanya telah berubah.
"Teknik telapak hantu!" Miranda juga menggunakan teknik istimewa andalan ini sekali lagi untuk merubahnya.
Miranda mengeluarkan seluruh energi di dalam tubuhnya masuk ke dalam tabung. Tampak di kening Miranda keringat yang mulai keluar dan bibir yang memucat.
Miranda mencoba merubah ketiga dadu tersebut, tapi dirinya mendapati ketiga dadu tersebut tidak dapat di gerakan. Miranda juga langsung menjadi panik dengan hal ini.
"Kenapa... aku tidak dapat menggerakkan dadunya," seberapa keras Miranda berusaha, ketiga dadu tersebut tetap tidak bergerak.
Energi spiritual dari kekuatan mata dewa telah mengunci ketiga dadu tersebut. Hal tersebut yang membuat Miranda tidak bisa mengendalikannya lagi.
"Lebih baik kamu hentikan saja, semuanya percuma, kamu terus mengeluarkan energi dari tubuhmu, kamu bisa membahayakan dirimu sendiri," bisik Ivan kepada Miranda.
Miranda langsung kaget mendengarnya. Tiba-tiba saja Ivan berbicara seperti itu kepadanya. Apa mungkin Ivan mengetahui yang dia lakukan, dan ini semua adalah perbuatannya, pikirnya.
"Kamu sudah kalah!" sambung Ivan.
Ivan mulai mengangkat tabung penutupnya, seketika Miranda juga menjadi panik sekali saat ini.