"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirga.
RESTO MADISON.
Black sekarang sedang berada di restaurant tempat Bintang sedang makan bersama asistennya, tapi Black tak sendiri, dia bersama seorang cowok tinggi dan putih, Black tampak sangat mesra dengan cowok itu dan kemesraan mereka membuat Bintang menyadari keberadaan Black. Black juga sengaja duduk di dekat meja Bintang.
“Gaga, boleh makan apapun?” Tanya Black pada cowok didepannya.
“Boleh selama matang dan tidak pedes, satu lagi jangan ice cream.” Jawab Gaga sambil mengelus kepala Black.
“Aku pengen ice cream,” Pinta Black sambil memanyunkan bibirnya.
“Jangan manyun, cium nanti ya,” Ucap Gaga sambil memajukan kepalanya.
“Mau dong dicium,” Jawab Black sambil ikut maju.
“Nanti aja kalau mau cium aku, malu banyak orang. Jadi tetap mau makan ice cream?”
“Iya aku mau ice cream.”
“Pemeriksaan terakhir berat badan baby sudah normal belum?”
“Sudah normal, tapi aku pengen banget makan ice cream.”
“Yasudah boleh tapi jangan banyak-banyak ya, sedikit saja, pesan yang kecil, ok!”
“Ok gak apa-apa yang penting makan ice cream.” Black memesan semua makanan yang dia inginkan termasuk ice cream dengan sumringah.
Di meja Bintang, dia mendengar semua obrolan Black dan Gaga, tangannya mengepal sempurna, wajahnya merah padam menahan emosi.
“Katanya mau berjuang, masa cuma diem doang,” Sindir Gio, asisten Bintang.
“Diem lo ah.”
“Kalau lo tetap diam disini gak menutup kemungkinan jika Black akan direbut sama dia, seandainya Black sudah mengingat siapa cowok di depannya juga gue yakin Black akan memilih dia dari pada lo.”
“Emang dia siapa? Walau jahat gue tetep suami Black, masa iya Black malah memilih orang lain dari pada gue.”
“Lo beneran gak tahu siapa cowok di depan black?” Bintang menggeleng pasti karena sepertinya dia juga belum pernah ketemu sama cowok yang sekarang sedang berada di depan Black.
“Dia Dirga Xavier Lexus, anak dari Yudha Lexus pemilik perusahaan YL GROUP, dia sahabat Black, sama dengan Alvin. Dia orang yang sangat menjaga Rain dan pasti akan membantu Black, tapi berbeda dengan Alvin yang menganggap Black itu adik, Dirga menganggap Black itu selayaknya lawan jenis, andai dulu Black tidak menjadi orang yang kita anggap itu istri pengganti buat lo, mungkin sekarang mereka berdua sudah menikah.”
“Kenapa gue gak pernah lihat dia kalau hubungan mereka dari dulu sedekat itu?”
“Black saja gak pernah lo lihat apa lagi Dirga. Sebulan setelah pernikahan kalian dulu, Dirga baru mengetahui jika Black sudah menikah dan dia yang patah hati memilih untuk pergi ke Jepang dan baru kembali di tahun ke tiga pernikahan kalian dan dia pergi ke Jepang lagi saat mengetahui Black meninggal, tapi untuk kapannya dia balik ke Indo gue gak tahu, mungkin karena dia dengar kalau Black sudah gak mau menerima lo kali.” Sedikit kompor dari Gio membuat Bintang semakin panas.
“Dengan kata lain jika gue mau berjuang mendapatkan Black, dia adalah saingan terberat gue?”
“Iya, betul sekali, itu pinter. Lo masih punya waktu tiga puluh menit sebelum jam istirahat habis kalau lo mau berjuang.”
Bintang bangkit dan berjalan menuju meja Black. “Boleh gabung?” Tanya Bintang tapi dia sudah duduk mepet sama Black.
“Udah duduk baru nanya, lo geseran dikit bisa gak? nempel amat sama gue lo.” Dirga dengan sigap menarik kursi Bintang agar menjauh dari Black.
“Tempat masih luas gak usah nempel sama Black, kasihan anaknya nanti bisa ketularan jahat kalau dekat-dekat sama lo,” Ucap Dirga sambil tersenyum miring.
‘Bagus, gue suka gaya lo Ga,” Batin Black.
“Gitu-gitu dia anak gue, gak akan bisa dipungkiri lagi.”
“Yakin ini anak lo? lo emang pernah nyentuh gue? Bukannya dulu lo sangat jiji sama gue? Lo gak heran juga kenapa perut gue sudah sangat besar?” Rentetan pertanyaan yang membuat Bintang sedikit tersindir.
“Gue yakin kalau itu anak gue, sembilan bulan dan lima bulan lalu gue pernah menyentuh lo saat gue mabuk dan itu sudah bisa dipastikan kalau anak di dalam perut lo itu anak gue, lo boleh membenci gue tapi jangan pisahkan anak dari ayahnya dong.”
“Gue gak ada niat buat menjauhkan anak dari ayahnya, bukannya lo dulu yang pernah bilang kalau sampai gue hamil itu berarti gue hamil anak orang lain, karena lo gak akan sudi menyentuh gue.”
“Ok gue salah pernah ngomong kaya gitu, tapi gue yakin itu anak gue, jangan ditutupi dong, gue gak akan maksa lo buat menerima gue tapi gue akan tetap memaksa lo buat tidak menjauhkan gue dari anak gue.”
“Kalau lo emang laki-laki, harusnya lo bisa bersikap sedikit lebih tenang, mau itu anak lo atau bukan jika lo meyakini itu anak lo, tinggal lo tunjukkan sikap lo sebagai seorang ayah bukan terus menekan Black, wajar jika Black tak mau lo dekat dengan anaknya, harusnya lo gak lupa dengan perilaku lo sama dia dulu.”
“Lo itu orang luar, gak usah ikut campur, ini urusan gue sama Black.”
“Bintang cukup, kemarin gue fikir lo akan berubah tapi nyatanya gue salah, mulai sekarang jangan temui gue lagi, gue gak butuh sosok suami kaya lo dan anak gue gak butuh ayah kaya lo, anak gue sudah cukup punya Gaga yang menganggapnya seperti anak sendiri dari pada lo yang memang ayah kandungnya. Ayo Ga kita pergi, udah males gue makan disini.” Black menggenggam tangan Dirga dan Dirga membantunya berdiri.
“Black, tunggu! Bukan begitu maksud gue.”
“Sudah cukup, jangan pernah lo ganggu Black lagi, dia sudah bahagia sama gue,” Setelah mengucapkan itu, Black dan Dirga pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Bintang lagi.
Gio menghampiri Bintang yang masih berdiri dan menatap kepergian Black. “Duduk dulu!” Bintang menurut dan duduk masih sambil melihat ke luar.
“Gue kan tadi di kantor sudah bilang jangan buru-buru kalau lo mau berjuang mendekati Black, Black itu orang yang pernah lo sakitin cukup lama jadi lo harus pelan-pelan mendekati Black, jangan menekan dia, malah lo tekan dia, ya kabur lah, gue yakin kebencian Black sekarang lebih besar lagi sama lo.”
“Sekarang gue harus gimana kalau sudah kaya gini?”
“Percuma juga gue kasih tahu lo, pada akhirnya lo gak akn mendengarkan gue, lo akan bertindak sesuka hati lo, lo akan tetap menekan dia seperti tadi, semua nasehat gue hanya sia-sia.”
“Ayolah Gio, kalau bukan sama lo mau sama siapa lagi gue minta saran, sedangkan sahabat gue gak ada yang mau kasih saran.”
“Gimana mereka mau kasih saran sama lo, orang saran yang mereka kasih saja sudah pasti tidak akan lo terapkan malah lo berbuat sebaliknya, Lama-lama gue juga muak ngasih saran sama lo.”
“Gue janji kali ini akan diterapkan, gue gak mau kehilangan Black dan anak gue, saingan gue kali ini berat, sama Alvin aja gue pasti kalah apalagi sama dia yang sudah jelas kalau dia menyimpan rasa sama Black.”
“Baru sadar lo kalau istri lo banyak yang mau, gue juga heran, dia punya sahabat kaya Dirga kenapa memilih bertahan sama lelaki jahat kaya lo?”
“Iya gue emang jahat, tapi gue mau berubah, gue mau memperjuangkan Black, jadi kasih gue saran.” Gio membisikkan sesuatu yang membuat wajah Bintang bersinar.
“Sampai yang kali ini juga gak lo lakukan, bukan hanya kehilangan Black tapi lo akan kehilangan gue sebagai asisten lo juga.
BERSAMBUNG.