"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mafia.
Bintang sudah dipindahkan ke ruang rawat, tapi dia belum sadar, banyak alat yang masih terpasang di badan Bintang.
Tak beda dengan Bintang, Black juga sekarang masih belum sadar. Semua keluarganya sudah berkumpul disana, Black juga sekarang berada di ruang VVIP, bersebelahan dengan ruangan Bintang, tapi semua keluarga Bintang tak ada yang tahu jika Black ada di sebelah.
“Vin, gimana ceritanya sampai Black kaya gini? Bukannya tadi lo bilang kalau Black selamat, kok dia juga akhirnya terbaring kaya gini?” Tanya Dirga sambil memegang tangan Black.
“Black merasa bersalah karena nolongin dia, Bintang sampai kritis bahkan sampai di operasi, dia juga kelelahan, dari pagi dia belum istirahat, balik jalan sama lo dia langsung ke butik, belum lagi masih ngurus laporan resto, ditambah belum makan, yang biasanya dia jam segini sudah makan lima kali.”
“Astaga Black, harusnya lo malah seneng kalau dia celaka, dia dulu juga membiarkan Black celaka karena nolongin Bintang, dan saat Black dirawat dia sama sekali gak peduli, Black cuma sama lo, gak ada sama sekali peran dia sebagai suami.”
“Ga, gue tahu lo kesel sama Bintang tapi jangan lupa kalau ingatan Black belum semuanya kembali, dia belum bisa ingat semuanya, dan dia belum mengingat saat dia kecelakaan karena Bintang seperti yang lo katakan barusan. Black memang ingin membalas dendam tapi tidak langsung kelihatan kalau dia mau balas dendam, bertahap.”
“Andai Black gak melarang gue ikut campur, udah gue yang balas dendam Black lebih dulu.”
“Iya paham kok bos.”
“Alvin!” Dirga tampak panik saat Alvin memanggilnya bos.
“Yang penting gue gak nyebut bos apa, udah santai identitas lo aman.”
Kini Dirga menatap ke arah kakek Ares dan Nenek Ayu yang sedang duduk berhadapan dengan tatapan serius. Dirga bertanya pada Alvin dengan kode mata.
Alvin ikut melihat ke arah kakek dan nenek yang masih dengan tatapan serius mereka. “Kek, nek!” Panggil Alvin pelan.
“Apa kita boleh kembali?” Tanya nenek Ayu.
“Kembali? Nenek mau pulang?”
“Kita ingin kembali ke diri kita lima tahun lalu.”
Alvin dan Dirga melotot, mereka tahu persis seperti apa kakek dan nenek lima tahun lalu, dan itu akan sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada Dirga.
“Kek, nek, kalian yakin mau kembali?” tanya Dirga sedikit panik karena ini akan berbahaya, bukan hanya untuk kalian tapi untuk orang yang akan kalian tuju, dan kita tahu siapa orang itu.”
“Kalian gak lihat keadaan Black sekarang, kalian mau terjadi hal buruk lain sama Black kalau kita gak bergerak?” Kakek Ares membuka suara dengan suara dingin dan berat.
“Kita tahu perasaan kalian, kita juga gak ingin terjadi sesuatu pada Black, tapi kita juga gak bisa membiarkan kalian kembali di umur kalian yang sudah semakin menua.” Alvin mencoba meredam amarah dua ketua yang sudah lama vakum.
“Kalian gak tahu, kalau kalian tahu gak mungkin kalian diam dan tidak berbuat lebih, hanya sebatas ini.” Nenek Ayu yang sangat khawatir dengan keadaan Black tidak tahu jika hal lain juga sudah terjadi pada Luna bahkan juga Helena.
“Kakek sama nenek tenang saja, kalau untuk Luna sama Helena, kita berdua sudah membalaskan dendam Black, mereka sekarang sudah ada di markas saya dengan keadaan yang bisa membuat kalian tersenyum.” Kini Dirga dan Alvin yang tersenyum miring, senyum khas dari seorang mafia.
Alvin maju dan menunjukkan dua video dimana itu menunjukkan keadaan Luna dan Helena yang sudah mereka sekap.
“Kenapa kalian gak kasih tahu kita?”
“Kita hanya gak mau menambah beban pikiran kalian berdua, biarkan kita saja yang turun tangan, kalian cukup jagain Black saja.”
“Gaga.”
Mereka berempat menoleh dan melihat Black yang sudah sadar, pikiran mereka kompak sekarang, mereka semua takut jika Black mendengar apa yang mereka bicarakan tadi karena ingatan Black belum sampai ke tahap mengetahui sisi tergelap dari keempat orang yang ada di depannya ini.
Black yang dulu juga hanya tahu jika Alvin dan Dirga yang mafia, dia tidak tahu kalau nenek dan kakek jauh lebih berbahaya dari Alvin dan Dirga saat mereka menjadi mafia, karena Black ketemu kakek dan nenek setelah kecelakaan, setelah ingatannya hilang.
“Gaga.”
“Iya Black, apa yang sekarang lo rasakan? Apa ada yang sakit? Gue panggilkan dokter ya?”
“Gak usah, gue baik-baik saja, baby baik-baik saja kan?”
“Baby kuat, mereka baik-baik saja.”
“Gimana keadaan Bintang?”
“Tadi gue sempat nanya sama suster, katanya kondisi Bintang sudah stabil, tinggal nunggu sadar doang, lo tenang aja, jangan dipikirin, ini bukan salah lo,” Jawab Alvin.
“Dia masih hidup?”
“Ya masih lah, Black. Lo mau dia sebaliknya?”
“Kalau dia masih hidup gue masih bisa balas dendam, kalau sebaliknya enak banget dong dia, udah nyakitin gue segitunya sekarang mau pergi begitu saja, ya rugi dong gue.”
Mereka berempat saling pandang, nyatanya kesedihan Black sampai dia pingsan ini bukan karena dia masih sayang sama Bintang dan takut kehilangan Bintang, tapi karena dia takut gak bisa balas dendam.
“Kita gak akan biarkan dia meninggal sebelum lo puas membalaskan dendam lo.”
“Itu harus dong, oh iya makanan gue mana, gue laper banget.” Alvin memberikan makanan yang Sandra belikan tadi pada Dirga agar Dirga menyuapi Black.
“Laper banget kayaknya?” Tanya Dirga yang melihat Black makan dengan sangat lahap.
“Gimana gak lapar, dari pagi gue gak makan, giliran mau makan sama lo ada pengganggu yang akhirnya gue hanya bisa makan ice cream, rasanya baby sudah demo besar di dalam. Makananya cuma ini doang?”tanya Black sambil melirik Alvin
“Iya Sandra cuma beli satu, gue beliin lagi, mau?”
“Mau, dua porsi lagi, merek belum kenyang,” Jawab Black sambil mengelus perutnya dan Alvin yang gemas mengacak rambut Black lalu keluar menuju kantin.
Saat Alvin berjalan menuju ke kantin, dia melihat pintu kamar Bintang sedikit terbuka dan tanpa dia sadari dia mendengar percakapan di dalam.
“Kak, jujur sama gue, apa hubungan lo sama Rain? Dari pertama Rain dan Bintang menikah pandangan lo sama Rain itu sudah sangat berbeda, bukan hanya kaget tapi ada tatapan lain yang gue lihat, sebenarnya apa hubungan kalian?” Tanya Hexa pada Rio dan di ruangan itu sekarang hanya ada Hexa dan Rio.
“Apa yang harus gue jujur, sebelum Rain masuk ke keluarga kita dengan menjadi istri Bintang, gue sama sekali tak mengenal Rain. Gue ini sama kaya lo yang menjadi orang baru buat Rain dengan status ipar, gak ada hubungan lebih.”
“Lo yang tadi bilang kalau gue akan tahu kalau lo itu bohong atau tidak, dan sekarang gue tau lo lagi bohong, udahlah kak jujur aja sama gue gak ada papa sama mama disini, Bintang juga belum sadar, jadi hanya gue yang akan tahu.”
“Masalahnya gak ada yang gue sembunyikan, gue gak ada hubungan apapun sama Rain, sekarang atau dulu.”
“Kenapa lo sangat suka dengan apa yang Rain sukai, termasuk Naren.”
Rio diam seribu bahasa karena sebelum Rain datang, Rio seolah tak peduli pada Naren karena Naren adalah anak dari Helena dan selingkuhannya.
“Jawab kak!”
BERSAMBUNG.