NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Jam menunjukkan pukul tujuh malam waktu Singapura.

Sari Maheswara baru saja menyelesaikan rangkaian meeting maraton yang menguras energi dan pikirannya seharian penuh.

Rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya saat ia melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite sebuah hotel bintang lima yang mewah.

Tanpa mengganti pakaian kerjanya, Sari langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berbalut seprai sutra yang empuk. Namun, alih-alih memesan makanan mewah dari layanan kamar hotel, jemari lentiknya justru meraih kotak mika sederhana yang ia bawa dari Jakarta subuh tadi.

Sari mengambil sepotong kue basah lainnya yang masih tersisa.

Ia menggigitnya perlahan, lalu bergumam kagum. Ajaibnya, kue basah buatan Arka sama sekali tidak basi atau berbau asam meskipun sudah malam. Rasanya tetap legit dan pas di lidah indolent-nya.

Di tengah kemewahan hotel bintang lima di Singapura dan tekanan rapat Maheswara Group, pikiran Sari Maheswara justru tertahan pada rasa manis kue klepon dan tatapan dingin Arka yang berani menolak Black Card-nya.

Baginya, penolakan Arka adalah "kekalahan" pertama dalam hidupnya yang perfeksionis.

Pria itu tidak bisa dibeli, dan itu justru menyalut jiwa kompetitif dalam diri Sari.

Terbiasa menggunakan kekuasaan finansial untuk menyelesaikan masalah, Sari akhirnya mengambil keputusan gila yang dijamin akan membuat sekretarisnya syok setengah mati.

Sari meraih ponselnya, mencari nama Nanda, lalu menekan tombol panggil.

Begitu panggilan tersambung, ia langsung memberikan perintah mutlak tanpa basa-basi.

"Nanda, besok subuh jam empat, kamu pergi ke Pasar Subuh tempat mobil saya mogok tadi pagi. Cari penjual kue basah bernama Arka."

Di seberang telepon, Nanda terdengar bingung. "Maaf Bu, cari penjual kue? Untuk apa ya, Bu?"

"Borong seluruh kue Arka di pasar subuh itu, sewa kurir kilat khusus, dan terbangkan langsung ke Singapura sebelum jam delapan pagi! Saya mau kue itu sudah ada di meja sarapan hotel saya sebelum meeting kedua dimulai. Tidak ada bantahan, lakukan sekarang!" perintah Sari mutlak, lalu langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

Sari melempar ponselnya ke samping tubuhnya, lalu tersenyum puas dengan tatapan penuh kemenangan.

Jika Arka menolak uangnya secara langsung, maka ia akan menggunakan cara lain.

Ia ingin melihat, sampai kapan duda berkarisma itu bisa menghindar dari jangkauan kekuasaannya.

Subuh keesokan paginya, sekitar pukul empat pagi, suasana di sudut Pasar Subuh yang biasanya hanya riuh oleh tawar-menawar mendadak senyap dan tegang.

Nanda, sekretaris pribadi Sari yang berpenampilan rapi, melangkah membelah beceknya pasar.

Tidak sendiri, di belakangnya mengekor tiga orang pria berbadan tegap dan berjas hitam pekat—orang-orang suruhan Sari—yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar.

Salah satu dari mereka membawa sebuah koper hitam kecil yang digenggam erat.

Langkah mereka terhenti tepat di depan lapak sederhana milik Arka.

Arka yang sedang menata kue-kue basahnya di atas tampah mendongak, alisnya bertaut melihat kedatangan rombongan asing tersebut.

Nanda maju satu langkah, lalu memberi isyarat pada pria berjas di sampingnya.

Koper hitam itu diletakkan di atas meja gerobak kayu, lalu dibuka dengan bunyi klik yang nyaring.

Di dalamnya, berbendel-bendel uang tunai pecahan seratus ribu rupiah tertata sangat rapi.

"Selamat pagi, Mas Arka. Saya Nanda, sekretaris dari Ibu Sari Maheswara," ucap Nanda dengan nada profesional namun formal.

"Atas perintah langsung dari bos saya, kami berniat memborong semua kue Anda pagi ini. Uang ini lebih dari cukup untuk membayar seluruh dagangan Anda, sekaligus biaya kurir kilat untuk menerbangkannya ke Singapura sekarang juga."

Aksi mencolok itu tak pelak mengundang perhatian seisi pasar.

Ibu-ibu yang hendak berbelanja langsung berkerumun, menonton adegan langka itu dengan tatapan tegang sekaligus takjub.

Namun, alih-alih senang atau tergiur melihat tumpukan uang tunai di depannya, rahang Arka justru mengencang.

Sorot matanya yang semula tenang mendadak berubah menjadi dingin dan menusuk.

Aksi pamer kuasa dan uang yang dilakukan secara terang-terangan ini justru memicu trauma masa lalu yang paling dihindarinya.

Bayangan bagaimana Niken menghina kemiskinannya, dan bagaimana Baron—si juragan ayam kaya raya—menginjak-injak harga dirinya dengan tumpukan uang, mendadak berputar hebat di kepala Arka.

Baginya, uang di dalam koper itu tidak ada bedanya dengan racun yang pernah menghancurkan hidupnya.

Arka berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada.

Dengan tatapan mata yang tajam, berwibawa, dan sarat akan karisma yang mengintimidasi, ia menatap Nanda dan para pria berjas itu tanpa rasa takut sedikit pun.

Ia mengulurkan tangan, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, Arka menutup kembali koper hitam tersebut hingga mengunci rapat.

"Bawa kembali uang ini," ujar Arka, suaranya baritonnya terdengar rendah namun bergema di tengah keheningan pasar yang tegang.

Nanda terkejut. "Tapi Mas, ini perintah langsung dari—"

"Saya tidak peduli siapa bos Anda," potong Arka cepat, menolak mentah-mentah tawaran tersebut di hadapan belasan pasang mata yang menonton.

"Sampaikan pada bos Anda, kue saya dibuat dengan keringat untuk dimakan oleh orang yang menghargai makanan, bukan untuk dijadikan alat pamer kekuasaan."

Nanda segera menjauh dari kerumunan pasar yang masih berbisik-bisik, lalu dengan tangan sedikit gemetar, ia menghubungi Sari yang rupanya sudah terjaga di kamar hotelnya di Singapura.

"Bu, maaf, Mas Arka-nya nggak mau," lapor Nanda dengan suara pelan, takut memicu amarah sang bos.

"Dia menolak uangnya dan menutup kopernya, Bu. Dia bahkan bilang kalau kuenya bukan untuk alat pamer kekuasaan."

Di seberang telepon, Sari terdiam sesaat. Ia menerima kabar kegagalan itu dengan perasaan yang campur aduk: marah karena perintahnya didebat, tidak percaya ada orang yang sanggup menolak tumpukan uang tunai, namun di saat yang sama, rasa penasarannya justru makin meroket tajam.

"Begitu ya? Menarik," gumam Sari dengan nada dingin yang sulit ditebak, lalu menutup panggilan tersebut.

Sari berjalan menuju jendela besar yang menampilkan lanskap gedung-gedung pencakar langit Singapura.

Jemarinya bergerak membuka menu kontak di ponsel, menatap satu nama yang kemarin ia simpan dengan nama 'Arka Klepon'.

Barisan angka digital itu seolah memicu jarinya untuk bertindak lebih jauh, mengirimkan pesan atau meneleponnya langsung. Namun, Sari menahan diri. Pria berprinsip seperti Arka tidak akan mempan digertak lewat telepon.

Di saat yang sama, tekanan dari sang nenek tentang warisan, posisi CEO, dan tuntutan pernikahan yang mendesak terus membayangi kepalanya.

Alih-alih pusing mencari pria ekspatriat atau sesama pengusaha di Singapura, Sari justru melihat Arka sebagai tantangan terbesar dalam hidupnya, sekaligus sebuah jawaban tak terduga atas takdir yang sedang mengejarnya.

Sebuah rencana gila mendadak terbentuk di kepala perfeksionisnya.

Sari memutuskan untuk mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Namun, kepulangannya kali ini bukan untuk kembali duduk di kursi empuk kantor Maheswara Group, melainkan untuk turun langsung "berperang" di beceknya pasar subuh demi menaklukkan Arka yang teguh pada prinsipnya.

Jika uang tidak bisa menggerakkan pria itu, maka kehadiran Sari lah yang akan meruntuhkan tembok pertahanannya.

Sari melirik jam dinding. Sayangnya, ia harus menahan diri dan bersabar.

Ia tidak bisa langsung terbang pagi ini karena harus profesional menyelesaikan acara pertemuan penting bersama klien besar di Singapura yang baru akan berakhir sore nanti.

"Tunggu aku, Arka. Kita lihat seberapa lama kamu bisa menolakku," bisik Sari penuh tekad, matanya berkilat penuh ambisi kompetitif.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!